Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Aku Hanya Sedang Diam


__ADS_3

" Kita sudah membuang waktu setengah hari hanya untuk memilih gaun yang kamu suka.." ( lelah ), " sekarang mau ajak aku kemana lagi ??"


" Ayo kita makan !! Bukankah kamu wanita kecil yang selalu lapar.."


" Jangan meledek. Aku sangat lelah karena terus mencari gaun yang sesuai selera kamu.. jadi jangan buat aku marah, ya.."


" Baik, baik.. Kalau begitu, kita harus makan yang banyak dan tentunya sesuai selera kamu, kamu harus kembali normal.."


" Jangan buat aku luluh, Jian.."


" Siapa yang buat kamu luluh ?? Aku hanya sedang bicara.." ( terus menyetir ).


" Mau ajak aku makan dimana ??"


" Restoran kamu.."


" Restoran ku ??" ( bingung ).


" Iya.."


" Jangan bercanda Jian, aku sedang kesal sekarang.."


" Apa Yunaku sedang berpikir kalau aku tengah berbohong ??"


" Tentu saja !! Restoran dari mana ?? Hahh ?? Kamu ini selalu bisa menggoda.."


" Kamu memang punya.. Nanti aku tunjukkan.."


" Hahh.. membual lagi.. terserah kamu saja, yang pasti aku ingin perutku kenyang.." ( memejamkan mata ).


Jian memandangi wanita itu dengan raut wajah iba. Kasihan sekali Yuna harus menuruti semua keinginannya tadi. Jujur saja, sebenarnya Jian hanya ingin wanitanya tampil tertutup dan jauh dari pandangan laki-laki.. Bukankah dia sudah pernah kehilangan satu kali, dan dia tidak ingin kejadian yang sama kembali terulang.. Maaf ya Yuna.. Dia hanya ingin membuat kamu jauh dari pandangan buruk para pria saja.. Tidak lebih dari itu..


Zzzzzz..


' Apa ?? Wanita ini tidur ?? hhh.. Belum juga makan, dia sudah tidur sepulas itu.. kasihan sekali si mungil ini..'


.......


Prang !!!!


Suara gelas yang dibanting ke lantai.


Membuat Hannuri terkejut setengah mati.


Munnia..


Seorang wanita yang berapi-api, dan tidak lain adalah ibu kandung Aldi.. Sepertinya dia sedang meluapkan emosinya..


" Dasar jal*ng tidak berguna !!!"


" Apa katamu ?!"


" Sudah beberapa hari menginap di rumahku, kamu pikir kamu ini siapa ?? Bertingkah seperti nyonya, dan tidak melakukan apapun untukku.. Kamu ini hanya datang sebagai bebanku saja !!"


Hannuri mematikan siaran televisi.. Wajah itu dengan angkuhnya menatap balik dua mata milik Munnia dengan sorot yang arogan..


" Aku akan berusaha mengambil uangku yang sekarang masih berada di tangan tuan Rashis.. Tapi dalam keadaan ini, aku juga butuh seseorang sebagai penopang hidup aku !! Tenang saja, setelah aku selesai merebut kembali hartaku dan membalas dendam, maka kamu juga akan mendapat balasan atas kemurahan hatimu.."


" Kamu ini memang sudah menjanjikan aku banyak hal sejak awal ! Tapi nyatanya, kamu hanya meludah saja.. Kamu pikir bisa menipuku ??"


" Aku tidak sedang menipu Anda nyonya Munnia.. Aku hanya sedang diam dan menyusun rencana.."


" Rencana apa ?? Rencana kamu itu semuanya sudah gagal !! Dasar bodoh !!"


Hannuri mulai terdiam kesal. Ditatapi wajah itu kembali, tapi kali ini lebih dari tatapan tajam, sepertinya mata itu siap membunuh Munnia sampai mati..


" Jaga bicara kamu !! Kalau kamu masih mau merendahkan aku, aku akan bungkam mulut kamu selamanya.."


" Hhh.. Kalau bukan karena sudah terlanjur mengenal kamu, lebih baik aku menyelesaikan dendamku sendiri.."

__ADS_1


" Tenanglah, aku juga bisa menyelesaikan tugasku yang selanjutnya.. Oh.. Sebenarnya, ini tugas kamu.. Iya.. Ini giliran kamu.."


" Kapan ??"


Hannuri bangkit dari duduknya..


" Aku dengar, Jian akan segera melangsungkan pernikahan.. Entah kapan si, dia akan menikah.. Tapi selama itu, aku bisa merancang suatu rencana untuk menggagalkan pernikahan mereka.. Dan tugas kamu masih sama, menjatuhkan Jian.. Hanya itu saja.."


" Hanya itu saja, tapi aku bahkan selalu tidak punya kesempatan.."


" Aku punya kesempatan bagus untuk bagian kamu.."


" Kapan.."


" Aku dengar, dari tuan Rashis, kalau tuan Jianan sudah menarik kembali sahamnya dari perusahaan kita.."


" Tunggu !! Bukannya kalian sedang bertengkar, ya !? Bagaimana bisa kamu tahu kalau..."


" Aku belum selesai bicara.."


" Hh..."


" Aku mendengar dari mata-mata yang aku kirim untuk menyelidiki perusahaan terbesar tuan Rashis, dan dia secara tidak sengaja mendengar pernyataan tersebut. Kabarnya, perusahaan tuan Rashis terancam bangkrut secara besar-besaran, dan tuan Jian sedang mencari investor asing yang baru.."


" Jadi.."


" Pertemuan mereka besok pagi, di cafe Maria.. Kamu bisa datang kesana untuk menyelesaikan misi kamu.."


" Bagus juga, bisa mempermalukan Jianan di depan investor asing.."


Mobil sudah berhenti tepat di depan restoran. Tapi sekali lagi Jian melirik, kekasihnya masih tidur dengan pulas. Tidak tega juga kalau membangunkan Yuna..


Dia berinisiatif untuk memanggil pelayan melalui ponselnya..


" Hallo.."


" Antarkan empat porsi bakmi spesial untuk nona ke mobil.. kami tidak bisa turun.."


' Baik Mr..'


Tut Tut Tut..


Panggilan diakhiri.. Sebenarnya, Jian bisa saja keluar dari mobil dan meninggalkan Yuna disana, tapi dia tidak tega. Arkh !! Biarlah.. Lagipula masih ada pelayan yang mau mengantar, kenapa harus diambil pusing..


Jain menatapi wanita yang sedang tidur itu dengan seksama.


Cantik juga...


Hehehehe....


Beberapa saat kemudian, saat Jian sedang asik membaca laporan di ponselnya..


tok tok tok..


Kaca mobil diketuk. Ternyata pesanan miliknya sudah sampai..


Jian membuka kaca mobil, dan menerima pesanannya..


" Silahkan Mr.."


" Iya, terima kasih.."


Kaca kembali ditutup.


Jian menatap wajah Yuna lagi.. Tapi wanita itu masih saja tertidur pulas.. Dia sungguh tidak tega..


Tapi...


Kruuukkkk..

__ADS_1


Bahkan saat tertidur juga perut Yuna berbunyi teramat keras, jadi..


Arkh !!


Aku punya cara..


Meletakkan makanan di jok belakang..


Lalu..


Cup !?


Ummhhh.....


Dengan sekejap, akhirnya cara Jian berhasil juga..


Yuna terbangun..


" Umh ??" ( terkejut ), " umh.." ( mendorong ).


Jian mundur..


" Jian... Apa yang kamu lakukan ??"


" Tidak ada.. Hanya mencium bibir kamu saja, tidak lebih.."


" Aku tahu.." ( wajah malas ), " maksud aku kenapa kamu mencium aku ?! Aku jadi terkejut.."


" Aku bahkan sudah menunggu kamu lebih dari satu jam hanya untuk makan, sampai-sampai aku lebih memilih memesan makanan dan diantar ke mobil saja sambil menunggu kamu bangun.."


" Begitu, ya.." ( merentangkan kedua tangan )," Huaaa......"


" Sudah.. Makan dulu, kita masih punya jadwal bertemu dengan Nyonya Tiansha sore ini.."


" Bukankah hanya aku saja yang menemui dia ??"


" Tidak, aku akan ikut, ya.. mengawasi dari jauh.."


" Ya sudah, terserah kamu saja.."


" Kalau begitu, makanlah dulu !! Lalu kita harus segera bergegas.. Ini sudah sangat sore.."


Akhirnya mereka makan juga..


Rasanya kelaparan ini seperti sudah lebih dari satu Minggu saja..


Jain bahkan hanya kebagian satu porsi saja, tidak lebih. Iya.. Karena Yuna sudah menghabiskan tiga porsi sekaligus..


" Rasanya aku sudah sangat kenyang.."


Tentu saja kenyang, perbandingan antara kita kan satu banding tiga..


...****************...


" Ibu, pokoknya aku mau kali ini ibu berhasil !! Alishia tidak mau tuan Jian menikah dengan orang lain.. Lagipula, nanti sore ibu harus segera pulang, jadi buat sesuatu yang berkesan dulu untuk Alishia disini.."


" Anak ibu ini memang cerewet. Apa kamu tidak percaya dengan ibu ?? Bisa-bisanya meremehkan ibumu ini.."


" Hehe.. iya, ibu.. Alishia percaya.. Ibu yang terbaik.."


" Ya sudah.. ibu akan pergi menemui wanita itu sekarang.."


" Baiklah, ibu hati-hati, ya.. bawa kabar baik saat pulang nanti, ya, ibu.."


Tap tap tap tap


Tiansha terdengar berjalan keluar dari rumah...


Hehh.. tentu saja aku akan berusaha, kalau bukan kamu yang menjadi jalanku, lalu siapa lagi yang bisa aku jadikan umpan..

__ADS_1


__ADS_2