
Pagi harinya..
Brakk..
Menyingkap selimut..
Pada akhirnya, Yuna terjebak di rumah itu lagi..
Yuna memandangi langit-langit kamar yang begitu besar dan mewah ini, dan kemudian, beralihlah kepada seorang pria yang masih polos tanpa busana di sampingnya. Dia baru ingat kalau semalam, pergulatan lagi.. Huhh.. untunglah kalau Jian adalah laki-laki yang paling dia cintai, jadi tidak terlalu terasa ruginya juga, meskipun badan harus bersiap remuk setiap bangun pagi.
Yuna memandangi wajah yang sangat damai dan memberikan ketenangan tersendiri itu. Wajah itu memang masih terlihat tidur dan begitu tenang. Sepertinya tidak masalah juga jika merabanya sedikit saja.
Perlahan dia menjulurkan jemarinya menyentuh hidung. Ternyata Jian memiliki hidung yang begitu menawan. Kalau dilihat secara seksama juga wajahnya halus dan mempesona. Bak kulit wanita, atau mungkin lebih tepatnya kulit bayi. Kenyal sekali. Apalagi bulu mata itu.. Kalian tahu ?? Jujur saja, bulu matanya jauh lebih panjang dari perkiraan Yuna. Dan bibirnya.. Kenapa warnanya bisa merah dan terlihat manis seperti itu ?? Entahlah.. Ternyata pria ini memang begitu tampan..
Apalagi yang menjadi kelebihannya, ya ??
Oh.. Satu lagi yang hampir tertinggal. Dia punya pesona yang sangat memukau setiap saat bergulat. Keringat yang menetes, suara dalamnya yang begitu khas, dan tahulah kalau di part akhir, bagaimana wajah manis itu menikmati akhir cerita.. Arkh !! Memang sangat manis..
Plak !!
Um ??
Apa itu ??
Ternyata itu pukulan tangan Jian yang di arahkan dengan sedikit lembut ke kaki Yuna. Laki-laki ini benar-benar membuat Yuna terkejut. Apa dari tadi dia memang tidak tidur ?? Wahh.. selamat tuan Jianan, akting anda benar-benar bagus..
" Sedang memujiku di dalam hati, ya.."
" Apa ??"
" Aku tahu, kamu pasti sedang memuji ketampanan kekasihmu ini, kan.."
" Tampan ya memang.. Sayang, kamu terlalu bucin.."
" Memangnya Yunaku tidak mau ??" ( memeluk ).
" Kenapa memangnya kalau tidak ??"
" Maka kamu akan segera mendapat hukumannya.."
Cup !?
" Umh.. Jian.. Arkh.. Ini sudah pagi..."
" Diamlah.."
" Tapi semalam sudah beberapa kali.."
Cup !?
" Mmm..."
Srett !!!
Menarik selimut..
Lagi ??
Tidak tahu malu !!
.......
Kreeekkk..
Yuna membuka pintu kamar, dan melihat senyum manis Jian yang sedang membuatkan dirinya sarapan.
" Pagi, nona Yuna... Sarapan hampir selesai.." ( tersenyum tanpa dosa ).
" Ssshhhh..." ( memegang perut ).
" Ada apa dengan nona Yunaku ??"
" Diam !! Ini gara-gara kamu !!"
Jian terkekeh melihatnya.. Bahkan wanita itu terlihat ingin menonjok pipinya sampai lebam. Lucu sekali. Dia tidak berpikir bagaimana sakitnya kaum wanita saat harus bertempur beberapa kali dalam satu malam. Sakit tahu.. Tapi pernahkah dia peduli ?? Yang dia tahu hanya.. Ingin lagi..
Cssshh..
Telur dimasukkan ke tempat penggorengan dan seketika membuat Jian harus mengacuhkan dan mengabaikan kekasihnya..
Terus memperhatikan telur.
__ADS_1
Jangan sampai gosong.
Yuna berjalan di belakang Jian sambil mencoba meraih gelas dan air minum. Ternyata melakukan sampai beberapa kali rasanya sama seperti saat melakukan untuk pertama kalinya. Sakit, tapi juga mau lagi. Hihihi...
" Yunaku ."
" M ??" ( minum ).
" Duduklah, aku sudah selesai membuat sarapan, jangan pergi kemanapun, tinggal duduk saja dan makan.."
" Aneh sekali, banyak pembantu di tempatmu ini, tapi kamu rela bangun pagi dan masak sendiri.."
" Aku memberi mereka tugas apapun di rumah ini, kecuali memasak untukku.."
" Hh.. Rupanya kamu masih sama seperti dulu.. tidak mau makanan dari hasil masakan orang lain.."
" Kecuali itu masakan kamu.." ( tersenyum ).
Kreket..
Menarik kursi.
" Duduk !"
Yuna menurut saja. Rasanya senang juga diperhatikan bak ratu oleh pria semacam Jian. Kenapa memangnya jika merasa senang ?! Toh.. Dia kan calon suaminya..
Jian mengambil semua masakan hasil olahannya dan menghidangkannya di atas meja.
" Sudah siap.. Makanlah.."
Mendorong piring ke arah Yuna..
" Terima kasih.." ( makan ).
" Bagaimana rasanya ??"
" Um.. Enak sekali.. masakan kamu memang sangat enak.." ( sambil mengunyah ).
Jian tersenyum. Tingkah laku Yuna memang selalu menggemaskan dan berhasil membuatnya ingin melahap sampai habis.
" Ayo duduk.. Kamu harus makan juga.."
" Buka mulut kamu.. Aaaa.."
Jian membuka mulutnya, dan.. Hap !! Makanan berhasil masuk ke dalam sana..
" Bagaimana ??"
Mengunyah..
" Um.. Rasanya memang sangat enak.."
" Cih.. memuji masakan sendiri.." ( makan lagi ).
Jian kembali tersenyum, " suapi lagi.."
" Baiklah.."
Satu suapan lagi berhasil masuk..
" Umm. Jian, setelah kejadian semalam, aku rasa sepertinya aku tidak punya efek khusus karena obat perangsang itu.."
" Darimana kamu tahu ??"
Menyuapi lagi..
" Entahlah, sepertinya hal yang aku lakukan wajar-wajar saja, dan aku merasa normal seperti biasanya.. bukankah kamu juga merasa begitu ??"
" Mmm.. kamu lebih agresif.." ( tersenyum ).
" Begitu, ya.. Sepertinya kamu salah, bukannya kamu yang sangat berambisi, ya.. Aku bahkan tidak bisa tidur sepanjang malam.. Dan pagi ini, kamu telah menerobosnya lagi tanpa izinku.." ( mengunyah ).
" Memang iya, Yunaku tidak suka ??"
" Kapan mau menikahiku ??"
Uhukk uhukk.
" Jian ?? Kamu kenapa ??" ( cemas ), " minum dulu.." ( memberi minum ).
Gluk gluk gluk .
__ADS_1
Hahhh...
" Tidak perlu sampai terkejut begitu, kan ?! Memangnya kamu tidak mau berhubungan lebih serius ??"
" Bukan itu maksud aku, tapi Yunaku, bukankah selama ini kamu mau menikah setelah mendapat pekerjaan lebih dulu, ya.."
" Lalu, apa maksud kamu aku tidak serius berkata-kata.."
" Bukan, tapi apa kamu yakin ingin segera menikah ??"
" Hhh.. Setelah dipikirkan, rasanya terus menunggu mendapatkan pekerjaan agak sulit juga.." ( sedih ).
" Jangan sedih begitu.."
" Entahlah, Jian.. Aku sejujurnya memang belum siap menikah dan punya kehidupan rumah tangga, tapi apa kamu tahu, kalau selama ini aku juga sudah menjadi ibu rumah tangga, kan.. Jadi apa gunanya terus menunda waktu untuk menikah, lagipula aku bisa mencari pekerjaan setelah menikah.."
" Kamu yakin ??" ( tersenyum ).
Yuna mengangguk. Rasanya memang kasihan terus menggantung Jian selama ini..
" Apalagi yang kita tunggu, kita akan mengurusnya hari ini juga.."
" Iya, kamu benar. Lebih cepat lebih baik.." ( membalas senyuman Jian dengan mantap ).
Drrrtt Drrrtt..
Ponsel Jian berbunyi. Ada orang yang ingin bicara dengan dirinya.
" Hallo.."
' Hallo, tuan Jianan..'
" Wah.. Tuan Lu Yuzeff rupanya, ada hal menarik apa sampai pagi-pagi begini sudah berusaha menghubungiku.."
' Iya, maaf sekali, sudah mengganggu pagi anda.. Mm.. Aku punya hal yang harus dibicarakan dengan anda dan nona kecil anda soal tadi malam..'
" Begitu, ya.. bisa bertemu dimana ??"
' Nanti aku kabari tempatnya, kalau begitu terima kasih, maaf telah mengganggu anda..'
Tut Tut
Panggilan terputus.
" Siapa ??"
" Tuan Lu Yuzeff.." ( membereskan piring ), " apa kamu sudah selesai ??"
" Sudah.. Kenapa dia menghubungi kamu ?? Apa karena urusan tadi malam ??"
" Katanya begitu.. Dia juga ingin menemui kamu.."
Pergi ke dapur..
Woshhh..
Mencuci piring yang kotor.
Kalian bisa bayangkan betapa lelaki idaman ini melelehkan hati setiap wanita bukan ? Apa posisi kalian saat ini juga seperti Yuna ?? Jika iya, maka Anda sungguh sangat beruntung..
" Aku punya panggilan besar rupanya.. Kapan waktunya ??"
" Sebentar lagi.. Mandi dulu sana !! Aku tahu kamu belum sempat mandi karena terus mengeluh dengan rasa di perut kamu.."
" Ya seharusnya kamu juga tahu kalau aku seperti ini gara-gara kamu.." ( bangun dari duduknya ).
" Iya, maaf saja.." ( sambil terus mencuci ), " atau mau aku bertanggung jawab ??"
" Kalau niat tidak usah menawar lagi.." ( mulai jalan ).
Rasanya sudah lumayan lebih baik.
" Benarkah ??" ( berbalik ).
" Tidak , tidak perlu.." ( menolak dengan tersenyum ), " aku tidak butuh pertanggung jawabanmu.." ( pergi dengan lebih cepat ).
' Tanggung jawab kamu selalu yang itu, bagaimana aku bisa membiarkannya lagi..'
Apa yang dipikirkan wanita itu ??
Jian terkekeh. Dia tidak tahu mengapa pikiran Yuna selalu saja hal seperti itu. Padahal maksudnya, dia ingin membawa Yuna ke rumah sakit. Ya... untuk memeriksa keadaan perutnya yang sakit, sehabis melakukan hubungan secara berulang. Itu saja.. Jika lebih juga, tidak apa-apa.. Hihihi..
__ADS_1