
Mereka sampai di Rumah Sakit terbaik di Kota K. Jian menurunkan Yuna dari mobilnya, dan kemudian membawanya masuk ke dalam. Raut wajahnya terlihat jelas sedang merasa cemas, tapi dia masih bersikap seperti biasa, tenang dan tidak mau terlalu larut dalam kecemasannya.
Seorang dokter tampan berambut pirang terlihat menghampiri dari dalam. Dia mengenakan jas putih khas kedokteran, dengan kemeja polos abu-abu didalamnya. Rupanya dia dokter tampan yang pernah menolong pelayan Yuna saat di dalam pesawat.
" Maaf, apa yang terjadi dengan pasien ini.."
" Dia terkena pukulan. Dan sekarang dia tidak sadarkan diri.."
Dokter Alta melihat dengan seksama wajah itu..
" Yuna ??"
" Anda kenal Yuna ??"
" Saya mengenalnya, silahkan bawa dia ke ruangan.. Saya akan membantunya.."
" Baiklah.."
Jian berlari menuju ruangan di bagian paling ujung. Dibaringkan lah Yuna di ranjang rumah sakit yang sangat familiar itu. Iya.. Sepertinya baru kemarin dia berurusan dengan Rumah Sakit, dan sekarang dia mencium aroma yang sama lagi. Hhh. Apa dia mengalami trauma ??
" Pastikan kau menanganinya dengan baik.."
" Percayalah padaku.."
Dokter Alta menutup pintu ruangan itu rapat-rapat, memaksa Jian untuk keluar dari sana. Meski rasanya sangat cemas. Dia melihat sendiri betapa keras pukulan yang didaratkan oleh Demy pada cintanya itu.
" Aku akan memastikan hidupmu hancur Demy.."
Tiba-tiba Sanni datang menyusulnya..
" Mr, apa Nona Yuna baik-baik saja ?"
" Dokter sedang berusaha menanganinya. Kita hanya harus menunggu saja disini.."
" Semoga saja Nona Yuna tidak apa-apa. Aku agak khawatir karena pukulan itu mengenai wajah Nona.. Semoga lukanya tidak parah.."
Jian duduk di kursi tunggu. Sementara Sanni masih setia berdiri di samping Jian.
" Bagaimana dengan tugas yang aku berikan.."
" Saya sudah melakukan perintah Mr.. Selanjutnya, kita tunggu saja perkembangannya.."
" Berikan dia balasan yang setimpal. Aku tidak mau orang seperti dia bisa hidup bebas di negara ini.. Dia pikir siapa, bisa memukul wanitaku seenaknya saja. Kalau perlu buat dia tidak punya pekerjaan lagi.."
" Tapi Mr.. Bagaimana jika kabar ini sampai di telinga Nyonya Tiansha, apakah Mr tidak takut kerja sama ini akan dibatalkan ?"
" Hehh. Apa uang begitu penting bagiku ?? Yuna tidak bisa dibeli dengan uang.."
Sanni terdiam mematung. Sepertinya atasan yang satu ini sudah sangat meresahkan. Jika untuk Yuna, bahkan melawan dunia pun dia tidak akan menolak.
" Aku ingin seluruh dunia tahu, kalau keluarga Demy tidak layak diberi kehormatan."
Cklek.
Dokter Alta terdengar membuka pintu, setelah menyita beberapa menit untuk memeriksa kondisi Yuna..
Sontak saja Jian berdiri menyambutnya. Cihh. Laki-laki yang dulu tidak pernah mengenal cinta, bahkan merasa acuh dengan makhluk bernama wanita, kini sepertinya dia malah diperbudak oleh wanita. Hhh. Sepertinya takdir ingin menyadarkan pria ini betapa berharganya wanita di muka bumi ?? Benar tidak ??
" Bagaimana dokter ??"
Dokter berparas tampan dengan usia sekitar tiga puluh tahunan ini membenarkan jas putih khas kedokterannya, membuat hati Sanni mendadak terasa luntur dan meleleh.. Tampannya.. Dengan sikap yang sangat tenang dan memancarkan aura kewibawaan, memang tokoh seperti inilah yang menjadi idaman para wanita. Arkh ?! Kenapa jadi pindah ke topik yang lain..
Mari kita kembali pada permasalahan utama..
Sanni mundur ke belakang Jian, memberi Jian ruang untuk bicara secara leluasa dengan si dokter ini.
" Dia baik-baik saja, hanya perlu perawatan beberapa hari saja untuk sembuh.."
" Bagaimana dengan bekas operasi dikepalanya dulu ??"
" Saya sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dan tidak mendapatkan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.."
" Bagaimana dengan kondisi psikisnya ?"
" Dia harus konsultasi dengan dokter Widya untuk mengetahui apakah dia mengalami trauma atau tidak.."
" Baiklah.. Terima kasih sudah menyelamatkan Yuna.."
" Tidak masalah.. Itu adalah tugas kami.." ( Berlalu pergi ).
__ADS_1
" Aku harus melihat kondisinya sekarang.." ( Sanni mendahului Jian ).
Kreb !!
Pintu ditutup begitu saja oleh Sanni.
Jian memandang wanita itu dengan kesal. Seharusnya dia yang lebih dulu masuk ke dalam, bukan Sanni. Terlebih lagi, dia juga ingin berduaan dengan Yuna.. Hh. Wanita itu sungguh pengacau..
Jian akhirnya memilih untuk kembali duduk di kursi tunggu.
Drrtttt Drrtttt
Dia menoleh, mendapati ponsel Sanni yang tergeletak begitu saja di atas kursi. Hhhh. Wanita ini !!
Jian mengambil ponsel itu, dan ingin mengangkatnya. Tapi belum juga dia menggesek layar, dia malah terdiam. Dia mulai berpikir jernih. Bagaimanapun, Sanni juga punya privasi. Tidak pantas rasanya jika dia sembarangan mengangkat panggilan di ponsel wanita itu. Dia akhirnya berinisiatif untuk memberikannya pada Sanni.
Dia membangunkan tubuhnya dengan terpaksa, dan kemudian berlalu membuka pintu.
Cklek.
" Aaaaaaaa !!!!!!!!!"
" Ada apa ???" ( Terkejut ).
Mendengar teriakan dari dua wanita itu membuat Jian terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi di dalam sana..
" Jangan lihat kemari !!! Keluar !!!!!"
"??????"
Jian sekilas menatap mereka berdua, melihat secara samar tubuh Yuna yang begitu polos. Arkh !! Bodoh sekali !! Seharusnya dia mengetuk pintu dulu sebelum masuk !! Hihihi.. Maaf Yuna..
" Dasar pria mesum !!!!"
Jian langsung memalingkan wajahnya, dan berusaha untuk tidak melihat apapun. Tapi dia belum juga pergi dari sana, menambah amarah dua wanita itu semakin memuncak.
" Kenapa kau belum juga keluar Mr ??? Apa kau tidak mendengar kami ??? Keluar !!!"
" Tunggu dulu !!!" ( Menutup matanya dengan satu tangan ), " ada yang berusaha menghubungimu, jadi aku hanya berniat memberi ponselmu saja. Tidak ada maksud lain.."
Sanni dan Yuna bertatap muka begitu lama. Mereka hanya terdiam bingung sambil terus menutupi tubuh Yuna yang setengah tidak berbusana. Sanni memang sedang berusaha mengganti pakaian Yuna dengan pakaian Rumah Sakit. Tapi pria itu malah masuk ke dalam ruangan tanpa permisi..
Yuna hanya menurut saja dengan perintah dari Sanni. Wajahnya yang terlihat lebam, dengan rambutnya yang urak-urakan membuat Yuna terlihat begitu menyedihkan. Sanni memang belum selesai membereskan kekacauan pada Yuna, tapi Jian malah datang tiba-tiba.
Sanni berlalu mengambil ponsel dari tangan Jian dengan cepat, lalu mendorong lelaki itu keluar ruangan. Setelah itu, dia menutup pintu, dan memastikan pintunya terkunci dengan rapat.
Fiuhh.
" Pria itu memang sudah semakin kacau !!"
Sanni kembali mendekat ke arah Yuna. Dia melanjutkan kembali aktifitas memakaikan pakaian yang tadi sempat tersendat.
" Apa anda sudah lebih baik Nona ?"
" Sudah.. Aku sudah lebih baik.. Oh ya.. Setelah ini, kau jangan memanggilku Nona lagi, panggil saja aku Yuna.. Bagaimanapun, kau sudah aku anggap sahabatku sendiri.."
" Tapi, Mr Jian.."
" Jangan terlalu menurut dengan lelaki itu.. Kau juga punya kehidupan sendiri bukan ?? Ngomong-ngomong, tadi katanya ada yang ingin menghubungimu ? Kenapa kau tidak menghubungi orang itu kembali, siapa tahu ada hal penting yang harus dibicarakan.."
Sanni dan Yuna selesai menutup seluruh pakaian Yuna dengan kancing.
" Tunggu aku sebentar ya.."
" Baiklah.."
Sanni berbalik meninggalkan Yuna ke sudut ruangan. Dia melihat ayahnya memanggilnya beberapa kali. Pasti ada hal mendesak yang tidak bisa dia undur.
Sanni menghubungi ayahnya kembali.
Percakapan lewat telepon..
" Hallo, ayah.. Ada apa memanggilku ?? Apa ada hal penting ??"
' Sanni, ibumu terkena serangan jantung.. Katanya harus dioperasi segera, tapi uang ayah tidak cukup..'
" Apa ?"
' Biayanya sekitar 500 juta.. Bagaimana ayah akan melunasinya ?'
__ADS_1
Mendengar ayahnya disana menangis kebingungan, Sanni hanya bisa terpuruk tak berdaya. Dia tidak menyangka akan menghadapi permasalahan baru sebelum menyelesaikan permasalahan atasannya.
Sanni menutup pembicaraan. Mau berkata pada ayahnya lagi pun, rasanya tidak mungkin. Dia sedang tidak memegang uang banyak saat ini. Bahkan jika harus mengambil seluruh tabungannya, untuk uang 500 juta sudah pasti tidak akan cukup. Bagaimana ini ??
" Sanni, ada apa denganmu ?? Apa ada masalah ??"
Sanni berbalik menatap Yuna. Dia memilih untuk mendekat, dan duduk di samping Yuna..
" Bagaimana aku bisa menjelaskannya ?! Aku tidak mau menambah bebanmu.. Tenang saja, ini masalah pribadiku, kau tidak perlu cemas.."
" Masalah pribadi ? Kau terlihat begitu sedih, aku harus tahu meski itu masalah pribadimu.."
" Tidak, Nona.. Emm.. Maksudku, Yuna.. Kau hanya harus mengurus masalahmu saja, jangan memikirkan aku ! Aku akan baik-baik saja.."
" Apa kau yakin ?"
Sanni hanya mengangguk saja.
" Sepertinya aku tidak bisa menemanimu terlalu lama. Aku harus menyelesaikan permasalah ini segera.."
" Apa kamu yakin tidak mau menceritakannya padaku ??"
" Tenang saja, Yuna.. Kau hanya harus menjaga dirimu supaya kau cepat pulih.."
" Baiklah.. Aku tidak akan memaksa. Tapi saranku, sebaiknya ceritakanlah masalahmu pada Jian.. Dia harus tahu masalahmu itu.."
" Baiklah, akan aku usahakan.."
Yuna hanya diam saja.
" Kalau begitu, aku pergi dulu.."
" Hati-hati.."
Sanni terlihat keluar dari ruangan, meninggalkan Yuna sendirian di atas ranjang.
" Kenapa kau keluar ? Apa sudah selesai ?"
Sebenarnya perasaan Jian masih campur aduk di dalam sana. Bahkan dia juga belum bisa mengontrol denyut jantungnya.
" Mr.. Sepertinya saya harus segera mengambil cuti.."
" Kenapa ? Apa ada masalah ?"
" Begini Mr.. Saya bukan berniat menambah beban pikiran Mr. Tapi mendadak ayah saya menghubungi, dan dia bilang kalau ibu saya harus operasi cangkok jantung.. Dan saya harus pulang sekarang."
" Apa kamu sudah punya biayanya ?"
Sanni menunduk. Dengan perlahan dia menggelengkan kepalanya dengan sedih. Lama kelamaan, air matanya mulai menetes. Pertanda suasana hatinya sedang gusar.
" Kenapa kamu tidak bicara padaku ?"
" Maaf Mr.. Saya hanya tidak mau menambah beban anda.."
" Apa bagiku kesedihan kamu bukanlah beban ? Pergilah !! Ambil uang yang kau butuhkan, dan selamatkan nyawa ibumu.." ( Memberikan sebuah kartu ).
" ????"
" Kenapa diam ??"
" Tapi Mr.. Bagaimana saya harus melunasinya ??"
" Pikirkan dulu kondisi ibumu, kedepannya kalau kinerja kamu semakin bagus, aku tidak akan pernah menagih uang itu lagi.."
" Apa anda serius ?" ( Mata berbinar ).
" Aku serius.. Pergilah.."
" Terima kasih, Mr Jianan.. Anda sangat baik." ( Memeluk ).
" I-iya.." ( Dada sesak ).
" Maaf !! Saya tidak sengaja !!" ( Melepas pelukannya ), " kalau begitu saya permisi, terima kasih atas bantuannya Mr.."
" Pergilah.."
Sanni berjalan dengan perasaan yang sangat lega. Sementara Jian terus memandangi wanita itu. Wanita yang selalu menemaninya dalam berkarier dan selalu membantunya dalam keadaan apapun. Wanita itu sungguh tangguh selama ini, tapi saat dihadapkan oleh masalah keluarganya, dia terlihat begitu terpuruk.
" Anggap saja uang itu sebagai bonus karena kau telah banyak membantuku.."
__ADS_1