Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Yuna Terjebak


__ADS_3

Hidup memang sulit. Tak bisa ditebak. Hari lalu seperti ini, dan hari esok tidak mungkin akan sama. Yuna melihat keluar jendela apartemennya. Dia melihat begitu banyak wartawan yang menunggu sambil memotret. Gundah sekali rasa hatinya. Ia sungguh tidak menyangka bahwa namanya akan menjadi seburuk itu. Bahkan beberapa produser film yang sudah menawarkan kontrak padanya mendadak membatalkan perjanjian itu tanpa alasan. Katanya tidak mau saja film yang ia garap akan dibintangi seorang pengkhianat seperti dirinya. Jujur saja, hal itu sama sekali tidak masalah.


Tapi Jian? Laki-laki itulah yang selalu membayangi pikirannya. Walaupun dia tidak bermaksud mengkhianati, tapi bagaimana jika nanti dia tahu tentang semua ini? Hufftt.


Bahkan dia sudah tidak bisa lagi keluar Apartemen secara bebas. Sebenarnya dia ingin pergi ke Rumah Sakit dan menengok kekasihnya. Sudah lima hari ini dia tidak datang. Iya. Semenjak kejadian malam itu bersama Demy.


'Aku rindu kamu, Jian.'


"Apa yang sedang kau pikirkan disana, Yuna?"


Yuna menoleh. Dia kaget. Seingatnya tadi di apartemen ini hanya ada dirinya dengan Hani saja. Sedangkan Hani sudah pergi meninggalkannya subuh tadi. Lalu siapa yang berdiri dibelakangnya?


"Ibu? Sejak kapan ibu ada disini?"


"Sudah lama. Sejak kamu pergi dan melihat keluar."


Almira duduk di atas sofa.


"Katakan padaku, Yuna! Apa kau sudah mengkhianati Jian dengan tidur bersama Demy atau itu hanya sekedar fitnah?"


"Aku sudah lelah mengatakannya, ibu. Aku tidak ingin membahasnya lagi."


"Tapi kau tidak menjelaskan apapun pada ibu. Ibu hanya khawatir namamu akan redup karena pemberitaan ini. Jika berita itu tidak benar ibu bisa membelamu dengan Manager Harry di depan media."


"Tidak perlu ibu! Aku memang sudah mengkhianati Jian."


"Apa katamu?"


"Aku sudah mengatakannya, bukan! Aku sudah mengkhianati pria itu!"


Dia menyeka air matanya. Lalu melihat para wartawan yang masih di bawah sana.


"Kenapa kau tidak bisa mengendalikan dirimu?"


"Aku sudah berusaha sekuat tenagaku. Tapi rasa lelah itu seakan membius seluruh tubuhku ibu."


"Apa kalian berdua sudah melakukan.."


"Tidak seperti itu, Ibu!"


Dengan cepat Yuna menghentikan ucapan Almira.


"Aku tidak serendah itu. Dia memang begitu menggodaku, tapi aku masih ingat Jian kala itu."


"Lalu apa yang kau maksud sudah mengkhianati Jian? Jika kalian tidak melakukan apapun, itu tidak akan jadi masalah bagimu."


"Demy sudah melamarku hari itu."


"Apa?"


"Dia memang menjadi gila karena aku berusaha menolaknya. Tapi justru dia malah semakin kehilangan akal. Dia malah semakin mengancam ku."

__ADS_1


"Mengancam bagaimana?"


Yuna hanya diam. Dia melempar ponselnya ke arah sofa. Almira yang begitu penasaran langsung saja membuka pesan yang di maksud oleh anaknya. Ia pun sangat terkejut. Tangannya bergetar hebat melihat pemandangan tak lazim dari putrinya itu.


"Kenapa dia punya fotomu yang seperti ini?"


"Aku tidak tahu. Yang jelas dia sudah mengancam ku dengan foto itu."


"Tapi ini bukan nomor ponsel Demy, Yuna!"


"Tapi siapa lagi yang melihatku waktu itu, Ibu? Aku ingat hanya ada dua orang di sana. Yaitu aku dan Demy. Sudah pasti itu ancaman dari Demy. Mungkin saja ia menyuruh seseorang untuk memasang kamera dan memotretku diam-diam. Lalu ia akan gunakan itu untuk mengancam ku. Dan setelah itu dia bisa memiliki aku seutuhnya."


"Jadi begitu. Lalu apa yang dia mau?"


"Aku sudah bisa menebaknya. Aku pikir dia akan memintaku untuk menjadi istrinya."


"Apa? Apa dia sudah benar-benar tidak waras? Kenapa kau tidak memanggil pihak RSJ saja agar mereka segera membawanya pergi dari sini? Dengan begitu dia akan segera sadar dari kegilaannya. Dia sungguh membuatku kesal saja."


"Sudahlah, Ibu! Tak ada gunanya kau terus marah seperti ini."


"Lalu apa yang akan kau lakukan jika di benar akan melamarmu lagi?"


"Entahlah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Ini menyangkut harga diri dan perasaan cintaku yang sudah aku pertahankan selama ini, Ibu."


Almira terlihat begitu kesal. Raut mukanya mendadak merah padam. Ia begitu marah melihat anak yang dia banggakan selama ini terkena gosip yang sungguh menjatuhkan harga dirinya. Awas saja Demy!!


Yuna melirik jam tangannya. Sudah jam sepuluh lewat enam belas menit. Dia mengurungkan niatnya untuk pergi menemui Jian. Mendadak hatinya merasa malu. Ia pun akhirnya terduduk dan menyandarkan kepalanya di sofa. Penat sekali.


"Aku merasa sangat malu menemui Jian. Walaupun dia koma, tapi bagiku dia bisa mendengar semuanya. Apa Ibu pikir akan semudah itu menemuinya dengan masalah seperti ini?"


"Hhh. Apa masalahnya? Dia kan hanya sendirian di sana. Tidak ada keluarga atau siapapun yang menunggunya. Kupikir jika kau datang sekarang masih belum terlambat."


"Aku tidak mau. Itu sangat memalukan, ibu."


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau akan terus berdiam diri seperti ini?"


"Tidak ada pilihan lain selain hal itu bukan? Hh."


"Baiklah. Terserah kau saja."


Tiba-tiba ponselnya berdering. Seseorang tengah berusaha menghubunginya. Yuna mengambil ponselnya dan melihat siapa yang berusaha menghubungi. Ternyata Demy. Dia acuh. Ditekanlah tombol berwarna merah di layar ponselnya.


Tak lama sebuah pesan muncul. Dari Demy lagi. Apa pria itu belum puas menghancurkan hidupnya?


'Yuna, kenapa kau tidak mengangkat panggilan dariku? Cepat bukakan pintu untukku! Aku sudah berada di depan Apartemenmu!'


"Apa? Rupanya aku sudah salah tidak memasukkan mu ke Rumah Sakit Jiwa! Kau sungguh menyebalkan!!"


"Apa? Siapa yang kau maksud?"


"Demy, Ibu. Dia sudah di depan pintu."

__ADS_1


"Apa? Apalagi yang dia inginkan darimu?"


"Entahlah." Yuna mengacak-acak rambutnya sambil berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Rasanya geram sekali.


"Kalau begitu cepat bukakan pintu untuknya! Sebelum ada seseorang yang menyadari keberadaannya."


"Baiklah!"


Bergegas Yuna membuka pintu dan menarik laki-laki itu masuk. Tapi sayang. Di balik dinding Apartemen yang kokoh, terlihat seseorang dengan masker hitamnya diam-diam sedang berusaha mengambil potret mereka berdua. Dan setelah usahanya berhasil, pria itu berlalu pergi. Hh. Ini pasti akan menimbulkan masalah yang baru.


Yuna yang terlihat gugup itupun menutup pintu dengan tergesa-gesa. Lalu setelah itu, matanya terlihat tajam menatap dua mata milik Demy. Ada kemarahan yang amat bergejolak di dalam sana.


"Kau sungguh kurang ajar!!"


"Apa maksud ucapanmu? Aku baru saja datang dan kau sudah menyambutku dengan kemarahanmu itu."


"Apa aku harus menjamu dirimu? Kau pikir aku bodoh? Berani sekali kau mencoba mengancam ku dengan nomor barumu. Kau sengaja memotret fotoku dengan pakaian seperti itu saat aku tidur bersamamu. Kau sungguh sangat jahat!!"


"Apa yang sedang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti."


Demy terlihat seperti orang bodoh. Apa perkataan yang keluar dari mulutnya itu memang benar? Apa dia sama sekali tidak mengerti apapun? Ayolah Demy!! Mengaku saja! Kau sudah terlalu jahat untuk menyakiti sahabatmu itu! Jangan pura-pura lagi.


"Apa kau sudah lupa! Kau sangat menjijikkan!! Kau sudah tidak waras lagi!! Biadab!!"


"Apa maksud kamu? Lupa akan apa? Aku sama sekali tidak mengerti."


Tiba-tiba ponsel Yuna berdering kembali. Nomor itu kembali mengirim sebuah pesan kepadanya. Kali ini sebuah foto tangan seorang perempuan. Tapi yang membuatnya terkejut adalah dengan siapa tangan wanita itu berpose. Iya. Jian. Tangan wanita itu terlihat berpose bersama Jian di Rumah Sakit. Tangan itu terlihat sangat manja dengan mengusap bagian leher dari Jian. Dan yang lebih mengejutkan lagi saat ia membuka lagi pesan di bawahnya. Akhirnya terbukti sudah bahwa nomor itu bukanlah milik Demy.


'Menikahlah dengan selingkuhanmu, atau dia akan mati di tangan cantikku!!'


Langsung saja mulutnya terbuka lebar. Dia terkejut bukan main. Ternyata ancaman itu tidak hanya isapan jempol belaka. Rupanya wanita itu sudah mengincar Jian sedari dulu. Tapi ia sama sekali tidak berpikir. Apa hubungannya jika dia menikah dengan Demy dan ancaman yang ia terima dari wanita itu? Hhh. Ayolah, Yuna!! Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Bisa saja itu ancaman dari Demy lewat orang lain supaya kau mau menikah dengannya. Lagipula alasan wanita itu ingin membunuh Jian sama sekali tidak masuk akal.


"Kau lihat, Demy?"


Yuna menunjukkan ponselnya tepat di depan wajah Demy. Lelaki itu sontak saja terkejut.


"Apa? Apa ini Jian?"


"Jangan pura-pura tidak tahu. Kaulah yang sudah menyuruhnya untuk mengancamku dengan menggunakan Jian, bukan?"


"Apa maksudmu? Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku tidak tahu apapun soal ancaman ini."


"Kau masih mengelak rupanya. Kau pikir aku akan percaya padamu?"


"Tapi aku sungguh tidak mengetahui apapun tentang pesan dan wanita itu."


Dari ekspresi wajahnya memang seperti tidak tahu apapun tentang pesan di ponsel Yuna. Tapi jika bukan Demy, siapa lagi? Hanya dia satu-satunya orang yang patut dicurigai. Hh.


Demy pun sebenarnya menebak-nebak. Siapa yang telah ikut campur dalam urusan pribadinya sampai sejauh ini? Rasanya ia tidak meminta bantuan siapapun untuk masalah ini. Dan wanita itu, iapun sama sekali tidak mengenalinya. Lalu siapa yang telah memintanya melakukan ancaman di ponsel Yuna?


Rupanya permasalahan mereka semakin pelik. Anggap saja sudah jatuh tertimpa tangga. Belum lagi satu urusan selesai, kini malah muncul lagi masalah baru yang semakin membingungkan. Jian. Kuharap kau segera bangun dan bisa membawa lari Yuna menjauh dari masalah ini.

__ADS_1


__ADS_2