Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Telur Gosong


__ADS_3

Dengan perlahan, Hani membuka kedua matanya. Dia melihat dengan samar cahaya lampu yang menyorot di atas sana, walaupun matanya sudah terbuka begitu lebar.


" Kenapa mata saya tidak jelas ??"


Hani mengucek kedua matanya. Dia ingin memperjelas penglihatannya setelah memutuskan untuk bangun dari tidurnya.


" Dimana aku ??" ( melihat sekeliling ).


" Hani, kamu sudah bangun rupanya ??"


Almira bergegas lari ke arah Hani. Dia membawakan beberapa makanan yang sengaja dia belikan untuk menantu cantiknya itu..


" Ibu ?? Kenapa dengan Hani, Bu ??"


" Hani, kamu keguguran, nak.."


" Apa ??" ( terkejut ), " kamu bahkan tidak sadarkan diri dari semalam karena tekanan darah yang terlalu rendah. Kamu mengalami pendarahan.."


" Apa ?? Aku pendarahan ??" ( wajah tidak percaya namun terlihat sedih ).


Almira hanya mengangguk saja. Dia mengusap pundak Hani sebagai tanda kalau dia juga merasa sedih atas kejadian ini..


" Bagaimana bisa Bu ??"


" Semalam kamu sedang tidur, tapi kamu mendadak bangun dan berkata pada ibu kalau perut kamu sakit. Saat kamu keluar dari kamar, ibu melihat darah sudah keluar begitu banyak.. Maafkan ibu, nak.. Ibu sudah terlambat.."


Tidak terasa air mata Hani menetes membasahi pipi. Sesak sekali rasanya saat mengalami kehilangan seperti ini. Terlebih lagi, dia harus kehilangan anaknya, anak pertama buah cintanya dengan Azof..


Hani mengusap perutnya yang sudah dalam keadaan kosong, tak ada lagi cinta. Maaf, nak.. Ibumu gagal merawat kamu..


Tapi mengapa rasanya sangat aneh ?? Hani bahkan tidak ingat apapun soal kejadian semalam.. Apa mungkin karena tekanan darah yang terlalu rendah penyebabnya ??


" Sudahlah, nak... Jangan sedih !! Bagaimana pun juga, kamu harus tetap semangat.. Iya, kan.."


Tapi di sela-sela tangisan mereka, Hani mendapat sebuah dukungan yang sangat dia butuhkan dari seorang ibu.. Ibu yang dulu sangat membenci dan begitu menolak hubungannya dengan Azof, dan sekarang, dia malah seperti malaikat. Bahkan sebaliknya, sepertinya dia hampir lupa akan sosok ibu kandungnya.. Apakah Syiana masih ingat dirinya dengan baik-baik setelah keputusan Syiana untuk pergi berkarir di luar negeri ??


" Terima kasih, ibu.. Jika tidak ada ibu, mungkin saya sudah tidak punya tempat bersandar lagi sekarang.."


Hani memeluk ibu mertuanya dengan erat, ingin menumpahkan segala keluh kesahnya dengan wanita ini..


.....


Yuna membuka matanya dengan perlahan.


" A ??"


Tapi rasanya sulit sekali terbuka. Dia bahkan tidak bisa membuka matanya sepenuhnya..


" Jian.. Dimana dia ??"


" Selamat pagi, Nona Ji.."


" Apa ??"


Yuna melihat Jian yang sedang bersandar di tembok, sambil membawa alat penggorengan. Wajahnya persis seperti bapak rumah tangga. Hihihi..


" Nona Ji ??"


Jian mendekati Yuna dan mengajak kekasihnya itu untuk bangun dari tempat tidur..


" Kenapa terkejut seperti itu ??"

__ADS_1


Yuna membalas ajakan Jian kepadanya..


" Bukankah sebentar lagi kamu akan resmi menjadi Nona Ji ??"


" Ck... Aku baru saja bangun tidur, tapi kamu sudah mengejutkan aku dengan berbagai hal.." ( sambil mengenakan piyama ).


" Apa kamu tidak mau ??"


" A ?" ( memasang tali di pinggang ).


" Aku bertanya, apa kamu tidak mau mendapat gelar sebagai Nona Ji ??"


" Sepertinya aku tidak pernah mengatakan hal itu.."


" Kalau begitu, katakan keputusan kamu sekarang.."


Mendadak Jian merasakan sesuatu di hidungnya. Aroma yang khas dengan ciri yang sangat menusuk hidung. Mendadak dia ingat akan suatu hal.


" Telurnya... Gosong !!!"


Jian akhirnya berlari meninggalkan Yuna sendirian di kamar Villa milik Jian. Yuna yang geli melihat tingkah laku kekasihnya itu pun hanya terkekeh saja.


Ck.


Telur gosong diletakkan di atas meja makan. Jian memandang hasil kerjanya tersebut dengan wajah kecewa. Niat ingin memberikan sarapan istimewa untuk sang kekasih ternyata malah berakhir gosong. Kenapa tidak menggoreng telur yang baru lagi ?? Apa orang sekaya Jian hanya punya satu cadangan telur di dapur ?? Entahlah !!


" Kenapa wajah kamu masam ??"


" Hhhhh..." ( sepertinya dia sangat lelah ).


Yuna kembali terkekeh. Dia melihat betapa kerasnya usaha Jian membuatkan sarapan untuknya. Tapi ternyata hasilnya malah sangat mengecewakan.


" Jangan !! Jangan dimakan ?!"


" Kenapa ??" ( terlanjur makan ).


( Mengunyah ).


" Kenapa kamu makan telur yang gosong itu ??"


Yuna tidak menjawab. Dia hanya memberi isyarat kepada Jian untuk duduk berhadapan dengan dirinya saja.


" Buka mulut kamu !!"


" Tapi.."


Yuna memintanya untuk buka mulut, bagaimana Jian bisa menolak. Yuna mulai menyuapi satu suap telur kepada Jian..


" Bagaimana rasanya ??" ( menunggu jawaban ).


Jian bingung harus mengatakan apa, bagaimanapun rasanya masih persis seperti telur yang gosong.


" Aneh.."


Yuna terkekeh. Dia melihat ekspresi Jian yang sangat menggemaskan.


" Suapi aku.." ( memberi garpu ).


Jian juga akhirnya menjadi lelaki yang penurut. Dia menerima garpu dari Yuna dan mulai menyuapi kekasihnya..


Satu demi satu suapan mereka lakukan, dan akhirnya telur gosong itu habis tanpa tersisa..

__ADS_1


" Bagaimana rasanya ?" ( sekali lagi Yuna mencoba bertanya ).


" Entahlah.. Semakin lama, rasanya semakin enak.."


" Makan itu tidak perlu mewah dan tidak perlu mahal, telur gosong juga enak kalau kita makan dengan perasaan..."


Jian tertawa. Dia melihat kekasihnya itu semakin hari semakin kembali konyol. Dia merasa sangat senang.


" Sebenarnya aku tidak mau turun bukit hanya untuk membeli satu butir telur pagi ini. Awalnya memang ada dua butir, tapi sayang yang satunya aku tidak sengaja menjatuhkannya.." ( tersenyum bahagia ).


Yuna menanggapi cerita Jian pagi ini. Senang sekali saat melihat lelaki ini kembali tersenyum setelah sekian lama.


" Oh iya.. Mengenai uang, tolong, ya, Jian... Mulai sekarang berhentilah memberiku uang.."


" Kenapa ??" ( ekspresi seketika berubah ).


" Jangan berpikir aneh-aneh.. Aku hanya ingin membuat namaku kembali bersih, jadi aku tidak mau mendapat bantuan dari kamu soal uang.. Aku akan berusaha sendiri untuk memulai karirku, aku tidak mau dicap orang-orang kalau aku menikah dengan dirimu hanya karena uang.."


" Jadi begitu, ya... Baiklah jika itu mau Yunaku," ( mengecup tangan Yuna ), " semuanya terserah Yunaku saja, apapun keputusan Yuna, aku akan selalu mendukungnya.."


" Terima kasih Jian.."


........


Jam setengah sepuluh, Yuna sudah berada di rumah sakit. Dengan didampingi oleh Jian, dia terlihat sedang duduk dan menyuapi Hani, kakak iparnya.. Dia mencoba untuk tetap membaut Hani tenang, meski dia sendiri sejujurnya masih merasa sedih.


" Kau harus makan lebih banyak, bagaimanapun, harus menyimpan tenaga untuk masa depanmu.."


" Yuna, aku sudah kenyang.. Letakkan saja dulu makanannya.."


" Benarkah ?? Bukankah baru dua suap saja kamu makan ?? Kenapa mendadak sudah kenyang ??"


" Aku tidak punya selera makan untuk sekarang, mari coba lagi nanti.."


" Baiklah, aku tidak akan memaksa.."


Yuna meletakkan semangkuk bubur di tangannya ke atas meja.


" Yuna, sepertinya aku tidak bisa menghadiri persidangan kedua Azof.."


" Jangan dulu memikirkan hal lain, pikirkan dulu kesehatanmu.. Lelaki itu masih bisa mengurus dirinya sendiri, lagipula hanya keajaiban yang akan menolongnya, kita tidak bisa apa-apa.."


" Kamu benar, kita tidak punya wewenang untuk membebaskan dia.. Apalagi dengan kondisi keuanganku sekarang yang sedang menurun.."


" Sudahlah, jangan banyak pikiran.."


" Yuna, bagaimana kalau sementara kamu menggantikan aku dulu bekerja.."


" Kenapa ?"


" Aku tidak bisa terus bekerja untuk sementara waktu ini, aku ingin beristirahat sejenak.."


" Kalau kamu lelah, istirahat saja dulu, urusan pekerjaan biar nanti aku pikirkan tawaran kamu.."


" Terima kasih, Yuna.. Hanya kamu yang menjadi penyemangat ku sekarang. Aku tidak punya orang lain lagi selain kamu.."


" Bahkan kalau kamu mencari ke seluruh penjuru, tetap hanya aku saja orang terbaik yang akan selalu mendukung kamu.." ( tersenyum ).


Mereka berdua terus berbincang sampai melupakan adanya Jian disana.


Di sudut ruangan, Jian terlihat sedang asik bergelut dengan pikirannya. Sepertinya dia sedang dihadapkan sebuah permasalahan.

__ADS_1


__ADS_2