
Matahari pagi akhirnya memunculkan jati dirinya usai lelah menanti dua belas jam demi melihat wajah terang itu menyapa. Tiupan angin pagi yang berhembus perlahan terasa menusukkan aura dingin yang agak teramat. Sekarang, dua insan itu hanya sedang berpeluk mesra di balik selimut putih polos yang begitu tebal.
Iya .
Hanya sekedar berpelukan, dan tidak bisa lebih dari itu. Mengingat ada bayi kecil yang sedang berusaha tumbuh di perut Yuna, jadi sudah pasti Jian tidak akan tega menerobos masuk pagi ini. Karena itulah dia hanya mengeratkan pelukan tangannya saja. Rasanya takut sekali. Sepertinya bermimpi menjadi seorang ayah membuat dirinya merasa cemas jika ingin melakukannya..
" Ugh..." ( bangun ), " Huaaaa.." ( merentangkan kedua tangan ).
Beberapa detik kemudian..
Yuna menarik kembali kedua tangannya yang kemudian dia simpan ke dalam selimut kembali.
Dia lalu beralih ke wajah Jian dan beberapa saat kemudian, dia begitu terkejut..
" Ah ?? Kamu ?? Jadi kamu sudah bangun ??"
" Dari satu jam yang lalu.." ( tersenyum ).
" Kenapa tidak beranjak dan pergi mandi ??"
" Kamu menindih tanganku, dan aku tidak bisa mengganggu kamu saat tidur nyenyak.."
" Oh ??" ( sadar ), " begitu ya.." ( wajah tanpa dosa ).
Dengan segera Yuna menyingkir dari tangan Jian, namun buru-buru Jian tangkap.
" Eh ??"
" Mau kemana kamu ??"
" Bukankah kamu sudah mau kerja ?? Kita harus cepat bangun dari sini.."
" Selama kamu masih berada dalam pelukanku, maka kamu tidak boleh pergi tanpa izin.."
" Jian, ini sudah siang, lagipula untuk apa kita terus berpelukan seperti ini ?? Kalau tidak bisa melakukan apapun.."
" Memangnya memandang matamu saja tidak boleh ??"
" Hh.. baiklah, tapi jangan sampai siang ya, kita juga harus mulai bekerja bukan ??"
" Aku sudah menghubungi tuan Lu Yuzeff dan minta padanya untuk memberi kamu jadwal kerja pagi saja, meskipun kamu harus dipotong gaji dua puluh lima persen, tapi setidaknya kamu bisa lebih leluasa di rumah untuk bersantai.."
" Apa ?? Dipotong dua puluh lima persen ?? Jian.... kamu ini.. kenapa tidak bilang padaku dulu ?? dua puluh lima persen juga termasuk besar.."
" Tidak kalau untuk anakku..."
" Hemm... baiklah, terserah kamu saja.."
" Jangan begitu, Yunaku sayang.. ini demi kebaikan kalian berdua, aku juga harus bertanggung jawab untuk kesehatan kamu.."
" Apa tuan Lu Yuzeff bertanya apa alasannya ??"
" Tentu saja..."
" Lalu apa yang kamu jawab ??"
" Aku jawab, kamu sedang hamil anakku, dan aku juga menyuruh dia untuk memberitahu tuan muda Lu atas keberhasilan usaha kita berdua.."
__ADS_1
" Gila !!!"
" Apanya yang gila ??"
" Kamu sadar tidak, kalau perkataan kamu akan langsung didengar dan menjadi pembicaraan orang luar, bagaimana kamu bisa tidak berpikir ??"
" Aku sudah memberi mereka kompensasi seperempat sahamku yang aku jual dengan harga murah hanya untuk mereka saja.."
" Apa ??" ( terkejut lagi ), " itu bahkan jauh lebih gila dari yang sebelumnya.. Apa tujuan kamu berbuat seperti itu ??"
" Hanya untuk memberi peringatan pada tuan muda Lu kalau kamu sekarang tidak bisa lagi diganggu olehnya.." ( tersenyum tanpa dosa ).
" Hhh.. kamu ini..."
" Kenapa ?? Tadi sepertinya kamu sedang marah-marah, tapi sekarang, mendadak kamu mereda.."
" Tidak ada salahnya juga si kalau hanya ingin memberi peringatan tuan muda Lu, tapi kenapa harus menjual saham dengan harga murah hanya untuk hal kecil seperti itu ??"
" Itu juga termasuk kompensasi untuk tutup mulut, dan untuk memastikan kalau tidak ada yang bisa mengganggu kamu saat bekerja.."
" Huaaa... kalau begitu, terserah kamu saja, itu saham kamu, dan aku seharusnya tidak ikut campur untuk urusan itu, bagaimanapun yang akan rugi itu kamu, bukan aku.."
" Hemm... iya, tenang saja, bagiku, kalau untuk urusan anak, tidak ada ruginya sama sekali.."
" Kalau begitu, ayo bangun !!"
" Mau kemana ??"
" Jian, ini sudah siang, Jian...."
Plak !!!
Kali ini tangan itu mengincar bibir.
" Itu ciuman orang yang malas !!" ( beranjak dari tempat tidur ).
........
" Ibu, katakan padaku apa yang akan ibu lakukan setelah ini..."
" Kenapa masih bertanya ??"
Mereka sedang berdebat dengan asik di dalam kamar ibunya. Wanita yang menjadi ibunya kini hanya sedang menikmati waktu merias wajahnya yang sudah semakin menua.
Sementara anaknya sedang berusaha terus menerus mengajak ibunya untuk berdebat pagi hari. Hhh... menyebalkan sekali harus terus seperti ini dengan ibu sendiri..
" Ibu, jangan berpikir untuk meninggalkan aku, biarkan aku selalu berada di samping ibu untuk menggantikan posisi dia.."
" Kamu memang anak ibu, tapi selama kamu belum bisa memberi ibu uang dan kemewahan, dan kamu masih harus bergantung pada ibu, itu artinya kamu belum jadi anak yang menguntungkan, sementara Jian, dia adalah anak yang ibu buang karena penyakitan dan dokter sudah mengatakan kalau Jian tidak akan selamat karena penyakit itu..."
Tiansha mengenakan anting terakhir, lalu setelah selesai, dia akhirnya memutuskan untuk berbalik dan menatap intens putrinya itu.
" Karena itulah aku bersikeras meninggalkan dia, dan ayah kamu yang sudah menyelamatkan ibu dari anak itu..."
" Ah ??"
" Ibu ini hanya ingin kembali dan membuat dia takluk pada ibu, dengan cara berpura-pura minta maaf dengan tulus, bisa saja dia merasa kasihan pada hidup ibu yang sudah dia hancurkan seperti ini, aku ingin membuat dia mengganti kerugianku itu. Kenapa dia bisa membalas dendam padaku, sedangkan aku hanya diam saja diinjak seperti ini.."
__ADS_1
" Tapi ibu.."
" Jangan terus mengekang ibu, Alishia.. jika kamu tidak mau diacuhkan olehku, maka buatlah kamu berharga melebihi kakak kamu itu..."
" Berusaha menandingi tuan Jianan itu ?? Ibu, apa yang ada dipikiran ibu hanya soal uang ??"
" Tentu saja hanya itu, apa lagi ?? Alishia, sekarang ayah kamu sudah membuang ibu karena telah menghabiskan uangnya, dan dia tidak mengizinkan kita kembali jika belum bisa membayar lunas hutang itu... tujuh ratus triliyun.. bayangkan, darimana ibu bisa mendapat uang sebesar itu dalam waktu singkat, kalau bukan memanfaatkan Jian sebagai bahan pancingan.."
" Kenapa ibu ini terus saja berlaku curang pada orang lain, padahal Jian juga anak ibu, dan dia juga hendak ibu manfaatkan seperti halnya aku yang ibu manfaatkan untuk mengeruk semua kekayaan Jian pada mulanya ??"
" Apa maksud ucapan kamu ??"
" Ibu, aku tahu semua yang ibu lakukan padaku, rencana perjodohan itu, bahkan hanya untuk uang bukan ?? bukan demi aku, bukan demi kebahagiaan anak kamu.."
" Memang iya, apa kamu tidak terima ?? kamu ini belum berguna kalau belum bisa menghasilkan ibu uang, bodohnya aku kenapa bisa punya anak seperti ini.."
" Ibu jahat, semua yang ibu lakukan hanya demi uang, dan sekarang masih mau berbuat demikian pada anak laki-laki ibu ??"
" Sudah diam ??!!!!? Jika kamu tidak mau satu pemikiran dengan ibu, maka pergi saja kamu dari sini !! Kamu sudah tidak ada gunanya disisi ibu..." ( emosi ).
Mendengar pernyataan mengecewakan dari ibunya membuat dia bagai tertusuk duri-duri tajam. Dia bahkan tidak mampu menahan kesedihan dan amarah dihatinya. Kedua kakinya akhirnya menuntunnya dengan keras supaya bisa keluar dari tempat itu, tempat neraka yang sudah membuatnya seakan terpanggang habis di dalamnya.
Alishia memang tahu ini akan terjadi..
Iya..
Jika dahulu kala seorang ibu pernah membuang anaknya hanya demi uang, dan merasa anak itu tidak ada gunanya, maka jika punya anak kedua yang sama-sama tidak berguna pun pasti dia akan melakukan hal yang sama seperti dulu. Membuangnya...
' Wanita yang disebut ibu pun bisa juga berubah jadi iblis yang menyeramkan....'
...****************...
Pukul 06.54.
Bergerak menuju kantor..
Dia berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan Jian untuk mengantarnya. Beserta pak Harry juga disana. Dia bergegas masuk ke dalam mobil dan meminta pak Harry untuk segera berangkat.
Yuna bermain ponsel sebentar, dan kemudian melihat-lihat berita, siapa tahu ada trending topik hari ini. Iya... sebenarnya dia sedang mencari namanya sendiri, siapa tahu ada pemberitaan soal kehamilannya.
" Fiuh..."
Untung saja tidak ada. Artinya, informasi kehamilannya masih belum terkuak ke media, dan masih aman. Meskipun berita soal pernikahan sudah tersebar, dan itu sama sekali tidak menjadi masalah buatnya.
Toh semua orang juga akan tahu..
Tapi untuk sementara waktu ini, dia tidak mau ada yang tahu pasal kehamilan itu. Dan saat dia sedang asik bermain ponsel, mendadak..
Ciiitttt..
Rem dipijak secara mendadak oleh pak Harry membuat kepala Yuna terbentur..
" Aduh !!"
" Nona, apa nona baik-baik saja ??" ( cemas ).
" Iya, pak.." ( mengusap dahi ), " memangnya ada apa pak ??"
__ADS_1