Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Trik Hebat Mr Jianan..


__ADS_3

" Um ??"


Yuna terkejut tatkala tangan Jian bisa menggapainya meski dari dalam balutan selimut. Dia lebih terkejut lagi saat Jian berusaha menarik kedua tangannya dan membuatnya terjatuh tepat di atas tubuh Jian. Sekarang mereka hanya punya satu lembar selimut yang bisa digunakan sebagai penyeka..


" Aaaa....."


" Kamu pikir bisa membodohi aku, ya.." ( berbisik ).


Yuna sudah terlanjur jatuh, dan sepertinya tidak ada yang bisa dia lakukan selain menurut saja. Bergerak pun percuma saja, laki-laki itu telah menggenggam dan memenjarakan tubuhnya dengan sangat erat..


" Jian.. Lepaskan aku.."


Bukannya mendengar perkataan Yuna, Jian malah lebih memilih untuk berbalik dan semakin mengunci Yuna dalam dekapannya. Yuna tidak bisa berkata apapun. Trik laki-lakinya ini bukan karena pandai, tapi memang karena cara Yuna masih terlalu enteng. Dia bahkan lupa kalau Jian seratus kali lebih pintar dari yang dia bayangkan. Sekarang akhirnya di sendiri, kan yang terjebak.


" Mau bagaimana lagi ?? Apa seperti ini penolakanmu dulu saat bersama suamimu ??"


" Jangan meracau ?! Kamu ini !! Ini masih pagi, bagaimana bisa pagi-pagi begini sudah bertanya hal seperti itu.."


" Aku juga penasaran, sepertinya trik kamu yang dulu lebih canggih dari sekarang.. Buktinya Demy benar-benar tidak bisa menyentuh kamu sedikitpun.."


Yuna tersenyum. Dia memandangi dua mata Jian yang memang sejak awal sudah berhasil membius seluruh tubuh dan perasaannya. Mata itu menyorotkan beribu-ribu pertanyaan dengan nada cemburu dan menelisik. Rupanya dia masih ingin mendengar cerita dalam pernikahan waktu itu dengan seksama..


" Kamu mau tahu, ya.. Atau jangan-jangan kamu sedang cemburu .."


" Apa salah jika aku merasa cemburu ?? Wanita yang sudah aku ikat dengan cincin, dan aku janjikan hanya akan menjadi milikku seorang, tapi ditinggal aku koma, kamu malah menikah dengan laki-laki lain, apa kamu pikir aku tidak cemburu ?? Meskipun kamu menikahi dia bukan karena cinta, tapi kamu sudah berhasil membuat hatiku kacau.."


" Jian.." ( menatap dalam ), " kamu hanya laki-laki satu-satunya dalam hidupku, meskipun aku pernah menikahi orang lain, tapi bukan berarti dia bisa memiliki aku sepenuhnya, bukankah kamu juga sadar, saat pertama kali kita melakukannya, kamu sendiri yang melihat bukti atas kesetiaanku.. Jadi mengapa masih saja cemburu, bukankah itu artinya aku tidak pernah disentuh sedikitpun oleh Demy ??"


" Hhh.. Aku tahu, aku salah.. apa kamu pernah mengingat aku disaat dia Menggodamu ??"


" Kamu memang selalu ada dalam hatiku, bagaimana aku bisa lupa meski dalam satu detik ?? Aku pernah mencoba melupakan kamu, aku pikir menjalankan Prinsipku jauh lebih baik dari pada terus hidup dalam bayang-bayang kamu, tapi aku juga tidak tahu mengapa semakin hari, jauh darimu malah membuat perasaanku jauh lebih dalam, bahkan melebihi yang aku perkirakan.."


Jian tersenyum. Sebenarnya dia tidak mencurigai kesetiaan kekasihnya ini, dia hanya ingin mendengar saja, bagaimana dia bisa menjauh saat anggur yang memabukkan saja tidak mampu menembus birahinya saat bersama dengan Demy, sedangkan dengannya, dia bahkan tidak perlu menambahkan minuman untuk membuat Yuna tergoda. Rupanya Yuna tidak mementingkan nafsu, dia hanya akan bercinta dengan orang yang paling dia cintai, bukan berarti orang yang telah resmi menjadi suaminya bisa menyentuhnya dengan bebas. Ternyata Demy benar-benar kalah dalam pertempuran ini..


" Kalau begitu, aku butuh penyesalan dan permintaan maafmu.."


" Um ??"


Jian mulai menyingkirkan selimut yang dari tadi sempat menghalanginya. Dengan perlahan, dia mulai membuka satu demi satu kancing baju Yuna yang pada mulanya masih terlihat rapi.


" Bagaimanapun aku menolak, kamu tetap saja tidak mau mundur.. Sepertinya nyali orang yang aku cintai ini lebih besar daripada yang pernah aku nikahi, apa kamu merasa bangga diri bisa menguasai seluruh hidupku ??"


" Lebih dari memuaskan.."

__ADS_1


Cup !?


" Umh..."


........


" Ibu, hari ini Hani bisa keluar dari rumah sakit, keadaannya sudah mulai membaik, jadi kita bisa pulang sekarang.."


" Syukurlah, tuhan sudah menyelamatkan kamu, nak.. Sekarang mari kita pulang, ibu ingin kita kembali lagi seperti dulu.."


" Iya, ibu.. Terima kasih sudah bersedia menunggu dan menemaniku selama Azof di penjara.."


" Jangan sungkan, nak.. Kamu ini menantu perempuan ibu, bagaimana bisa ibu tega membiarkan kamu melalui semua ini sendirian.."


" Baiklah, aku akan mengurus administrasi dulu di depan, sementara ibu kemasi dulu barang-barang kita dan kemudian bersiaplah untuk pulang.."


" Aku sudah mengerti, sekarang cepatlah kamu keluar dan mengurus semuanya dulu, ibu akan kemasi barang-barang dan setelah itu mengajak Hani untuk pulang.." ( tersenyum ).


" Baik.."


Azof terlihat pergi dari sana, dan berusaha untuk mengurus semua biaya rumah sakit di kasir. Sementara Hani dan Almira sudah terlihat keluar dari ruangan dan berjalan tertitah-titah.


Drrrtt Drrrtt


' Hallo, kakak ipar.. Bagaimana keadaan kamu ?'


" Aku sudah lebih baik, Yuna. Kamu tidak perlu cemas.."


' Baguslah, apa kalian akan segera pulang ??'


" Iya, dokter sudah mengizinkan aku pulang hari ini.."


' Begitu, ya.. Maaf kakak ipar, aku tidak bisa membantumu pulang, aku juga harus berkemas dan bersiap pulang ke rumah..'


" Begitu rupanya, ya sudah, terserah kamu saja, jangan cemaskan aku disini, ada ibu yang terus menjagaku.."


' Baiklah, sudah dulu, ya.. Aku hampir selesai berkemas..'


" Iya.."


Yuna terdengar menutup sambungan terlebih dulu.


" Mau makan sesuatu dulu ??"

__ADS_1


" Tidak perlu.. Kita makan di rumah saja nanti, Yuna juga akan pulang, dia akan tinggal dengan kita.."


" Pulang ?? Kenapa ?? Bukankah lebih bagus jika tinggal dengan Jian ?? Selain berharap cucu dari kalian, ibu juga berharap segera mendapat menantu seperti Jian.. Kamu tahu itu, bukan.."


Hani tersenyum, " meskipun mereka tidak tinggal satu rumah, tapi pernikahan juga pasti akan dilakukan, kenapa ibu begitu cemas ??"


" Iya juga, ya.. Tapi menurut ibu akan lebih mudah menikahkan mereka kalau mereka tinggal satu rumah.."


" Tidak pasti juga, tergantung mereka berdua.."


Mereka akhirnya sampai di pintu lift. Almira terus memapah menantu perempuannya itu sampai masuk ke dalam sana.


Tring..


Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai ke bawah. Azof terlihat sudah selesai membayar semua biayanya dan kali ini, dia sedang berbincang dengan seorang kepala rumah sakit.


" Kami ingin anda bekerja disini lagi, sangat sulit menemukan dokter handal seperti anda, Azof.."


" Tapi dalam keadaan seperti sekarang, dan status baru yang aku dapat, apa kalian masih mau menerimaku bekerja disini ??"


" Bagi kami status mantan narapidana yang tidak berniat membunuh bukanlah alasan yang masuk akal untuk menolak kamu kembali. Kamu tidak punya niat untuk melukai seseorang pada saat itu, dan kejahatan yang kamu lakukan juga bukan sepenuhnya perbuatan kamu, lagipula pekerjaan ini membutuhkan dokter yang sangat handal, dan tidak ada yang melebihi kamu.."


" Baiklah, pak.. Akan saya pertimbangkan lagi.."


" Iya, pikirkan baik-baik, kamu juga butuh pekerjaan ini.."


" Iya, terima kasih, pak.."


" Baik, saya harus pergi.."


Azof menunduk tatkala kepala rumah sakit itu pergi meninggalkan dia disana. Huhh.. Setidaknya dia tidak terlihat buruk di mata rumah sakit ini. Dengan begitu, dia bisa saja kembali kesini nantinya..


" Azof, apa sudah selesai ??"


" Sudah, Bu.. Ayo kita pulang.."


" Mr.. Saya bisa pulang sekarang, tugas kita sudah selesai.."


' Bagus sekali, kalau begitu, bawa berita gembira saat pulang nanti..'


" Sudah pasti.."


" Aku tidak bisa bertindak apapun, dengan uang Sepuluh milyar ini seharusnya aku bisa hidup enak dan melupakan kejadian naas anakku, tapi nyatanya kasih sayang tidak bisa dibeli dengan uang.. Aku bisa hidup enak dengan uang hasil pembelian nyawa anakku sendiri. Aku tidak bisa.. Aku harus membayar nyawa anakku, uang ini, harus dibayar dua kali lipat dengan kehancuranmu.."

__ADS_1


__ADS_2