
Suara gemuruh petir terdengar begitu memekakkan telinga. Dia orang itu kemudian terlihat sedang menyusuri jalanan di tengah-tengah badai petir. Mereka dengan seekor anjing yang terpaksa harus menyerang dinginnya malam, mendadak terjatuh akibat jalanan yang licin, dan setelah itu, sebuah bayangan hitam muncul dari arah belakang.
Anjing terus menggonggong, memberi mereka tanda bahaya.. namun belum juga dua orang itu bangun dan menyadari sesuatu yang ganjil itu, bayangan itu semakin terlihat mendekat, dan kemudian..
Groarrrr !!!!!????
" Aaaaaaa....." ( menutup mata dengan rapat ).
" Ibu, aku takut..." ( bersembunyi ).
" Jadi laki-laki tidak boleh takut, ini hanya film saja bukan.."
" Ah ?! Iya juga..."
Mereka berdua sedang asik menonton film vampire di ruang keluarga sambil menyantap camilan dengan lezat. Sementara, Jian belum juga pulang dari kantor, membuat Yuna juga harus menunggu suaminya pulang..
" Tidur sana !! Ini sudah malam, kamu harus istirahat.."
" Baiklah, tapi temani aku tidur ya ibu.. aku takut.."
" Laki-laki tidak boleh takut, nanti kalau sudah besar, kamu akan menghadapi suatu hal yang lebih menakutkan daripada film vampire, jadi tidurlah sekarang, ibu akan sesekali melihat kamu nanti.."
" Janji, ya.."
" Iya, ibu janji.."
Shi Yuan bangun dari sofa, dan bergegas mencium ibunya. Itu ritual rutin setiap malam sebelum tidur, jadi sudah termasuk wajib.
" Selamat malam ibu.."
" Selamat malam Shi Yuan yang paling ibu sayang.." ( tersenyum ).
Usai saling bertukar ciuman, Shi Yuan akhirnya naik ke lantai atas untuk tidur, di buntuti beberapa pelayan yang siap menjaga tuan muda sepanjang malam.
Sementara, Yuna kembali asik menonton televisi sambil makan beberapa camilan di atas meja. Sesekali dia melihat ponselnya, untuk memastikan apakah ada kabar dari suaminya atau tidak. Namun semuanya nihil !? Pria itu bahkan tidak menjawab panggilan Yuna sama sekali.
Sebenarnya kemana dia sekarang ???
" Jian, kenapa kamu belum juga pulang ??"
Merasa sangat cemas, Yuna akhirnya memutuskan untuk bangun dan mematikan siaran televisinya. Dia menyambar ponsel dan mencoba menghubungi suaminya lagi untuk yang kesekian kalinya.
" Jian, kenapa tidak mengangkat panggilan dariku ??"
Dia mencoba beberapa kali, namun hasilnya tetaplah sama.
Sekian lama dia menunggu, mendadak terlintaslah dalam otaknya untuk menghubungi Sanni. Wanita itu pasti tahu sesuatu tentang Jian hari ini. Iya.. demi mendapat jawaban atas semua teka-teki di dalam benaknya, dia harus bertanya langsung pada wanita itu.
Yuna mencari kontak Sanni dalam ponselnya, dan kemudian mencoba menghubungi..
Tersambung..
Diangkat..
" Halo, Sanni.."
__ADS_1
" Iya, nyonya.. ada apa ya ??"
" Apa Jian masih belum pulang juga ??"
" Tidak, tuan Jian sudah pulang sejak sore tadi, apa dia belum juga sampai ??"
" Entahlah, Sanni.. Ini sudah pukul sepuluh lebih, dan biasanya dia akan pulang sekitar jam delapan, tapi malam ini kenapa dia begitu larut belum pulang juga ya.."
" Coba hubungi Nona Alishia, mungkin dia tahu sesuatu.."
" Benar juga, ya sudah, aku tutup dulu ya.."
" Baik nyonya.."
Tut !!
Sambungan dimatikan. Yuna akhirnya beralih menghubungi adik iparnya, Alishia.. Iya, sejak ayah dan ibunya memilih bercerai beberapa tahun yang lalu, Alishia tinggal menetap di samping rumah Jian dan bekerja juga di perusahaan Yuna. Dia di percaya menjadi wakil CEO oleh Yuna, dan hasilnya.. benar-benar sangat memuaskan. Wanita yang dulu terkenal jahat dan licik itu, telah berubah menjadi wanita dewasa yang mandiri dan bisa menghasilkan uang banyak. Tentu saja semua itu karena bantuan dari Yuna dan Jian juga.
Yuna berusaha menghubungi Alishia yang mungkin saja sudah tertidur di jam segini. Anak itu memang tidak mau menyia-nyiakan malamnya dengan hal-hal yang tidak berguna. Dia lebih memilih untuk tidur jika tidak ada suatu hal yang mendesak.
Dan akhirnya, setelah sekian lama Yuna menunggu..
" Halo, Alishia.."
" Iya, kakak ipar..."
Suaranya terdengar begitu serak. Mungkin benar kalau dia sudah tertidur tadi.
" Alishia, apa kamu tahu dimana kakak kamu pergi ??"
" Memangnya dia ada dimana ?? Apa kamu tahu sesuatu ??"
" Umm... dia sedang.. Arkh !! Aku mendengar mobil kakak lewat di depan rumahku, sepertinya dia sudah pulang.."
" Benarkah ??" ( keluar ).
Yuna yang begitu cemas akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah. Dia ingin memastikan kalau yang dikatakan Alishia memang benar.
" Bagaimana ?? Apa kakak ipar sudah lihat ??"
Yuna mendapati mobil Jian yang dengan santainya masuk ke dalam rumah. Senyuman mengembang dengan lebar di bibirnya.
Perasaannya sudah kembali lega karena akhirnya suaminya pulang juga..
" Iya, dia sudah pulang.. kalau begitu, terima kasih ya Alishia.."
" No problem.. ya sudah ya kakak, kalau sudah tidak ada masalah lagi, aku akan tutup sambungannya dan kembali tidur.."
" Baiklah, terima kasih Alishia.."
Yuna berlari ke teras, dan tersenyum begitu senang. Di saat yang sama, Jian juga keluar dari dalam mobil dengan wajah yang begitu bahagia. Seakan membawa segenggam cinta yang wangi dan menyegarkan, bagai tersulut api asmara yang begitu menggelora. Tangannya di sembunyikan di belakang, dan senyumnya terlihat begitu alami karena rasa bahagia yang tiada duanya..
" Jian ?? Kenapa sampai larut begini baru pulang ?? Apa kamu sedang mengencani gadis cantik selain aku ?? Sanni bilang kamu sudah keluar dari kantor sejak sore, dan waktu lima jam kamu gunakan untuk apa ?? Hahh ??" ( marah tapi senang ).
" Sssttt... jangan marah-marah begitu, nanti cepat tua.."
__ADS_1
" Ishh.. kamu ini, kenapa selalu menggodaku seperti itu ?? Apa kamu kira aku akan tergoda ??" ( memeluk leher Jian ).
" Katakan saja kalau rindu, tidak perlu jual mahal begitu padaku.."
" Terserah saja, yang pasti, kita sudah lama tidak bisa tidur tenang, maukah kamu membuat aku tidur dengan tenang malam ini ??"
" Baik, aku bersedia.. tapi sebelum tidur, ada suatu hal yang ingin aku beritahu padamu lebih dulu.." ( tidak sabar ).
Yuna melepas pelukannya, dan beralih menatap dengan penasaran..
" Apa yang ingin kamu beritahu ??"
Jian mengeluarkan sebuah benda yang sedari tadi dia sembunyikan dibelakang, dan menunjukkannya pada Yuna..
" Apa ini ??"
Menerima..
Lalu membuka..
" Jian, ini permata yang aku minta kemarin saat belanja.. kenapa kamu malah membelinya ?! Permata ini sangat mahal, harusnya jangan membuang uang seperti itu.."
" Kalau untuk Yunaku, apapun tidak akan terasa mahal.."
Cup !?
Yuna tersenyum..
" Apa kamu senang ??"
" Tentu saja, aku sangat senang, terima kasih telah membelikan ini untukku.." ( tersenyum ).
Jian mengusap pipi istrinya dengan sangat lembut.
" Aku ingin kamu memakainya saat menghadiri acara besar perusahaan besok.."
" Hemm, baiklah.. tapi jangan lupakan sesuatu..."
" Ah ?? Hehe.. apa Yunaku pikir aku sudah lupa ??" ( meledek ).
Cup !?
" Tapi jangan disini juga, ini kan masih diluar.."
" Baiklah, aku akan membawa kamu ke dalam, bagaimana kalau di sofa ??"
" Terserah kamu saja.. yang penting jangan diluar ya.."
" Baiklah, aku juga tidak mau ada yang melihat pose menggodamu itu.."
Mereka berjalan masuk..
...****************...
Wanita itu sedang menangis termenung di dalam kamarnya. Dia terus menunduk sambil menahan supaya tangisannya tidak sampai terdengar dari luar. Bagai disambar petir di siang bolong, pada akhirnya semua rahasia yang tidak dia ketahui dari dulu, akhirnya mulai terbongkar satu demi satu..
__ADS_1
" Aku tidak menyangka kalau kalian masih saja gila harta..."