
Rara pov
Aku berlari kecil ke sebuah café kecil disebelah rumah
sakit. Ada Lydia dan Reno disana. Tadi Lydia telepon kalau dia mau ketemuan di
café itu. Entah apa yang akan dibicarakannya harus ditempat itu.
Aku tersenyum melihat mereka berdua yang melambaikan tangan
kearahku dan sudah duduk dipojok ruangan. Aku kemudian duduk dihadapan mereka.
“Mau pesan apa ra” tanya Reno.
“aku pesan capucino saja ren, thanks ya” jawabku
“Ra, yang jemput kamu sabtu kemaren pulang dari kampus itu
siapa? Apa benar gossip-gosip di rumah sakit kalau kamu pacaran dengan pasien
VIP yang kecelakaan waktu itu? Dengar-dengar dia anak orang kaya di Jakarta
ini, dia jemput kamu saja pakai mobil mewah, apa kamu yakin kalau dia nanti ga
akan mainin kamu ra?” wajahku memerah dengan pertanyaan bertubi-tubi dari Lydia
“satu-satu sayang pertanyaannya.” Sela reno. “Maaf ra
maksudnya Lydia bertanya seperti itu karena dia khawatir sama kamu”
“ayo dong cerita ra, masa aku harus dengar-dengar dari
orang-orang. Apa kamu sudah tidak menganggap aku sahabatmu” Lydia terlihat
sedikit sedih.
Aku menggapai tangan Lydia dan menggenggamnya. “bukan begitu
Lydia.” “aku tadinya aku akan cerita ke kamu tapi setelah aku benar-benar
yakin. Ditambah lagi sekarang aku jarang punya waktu keluar karena pekerjaan
dan tugas-tugas kuliah.” “kamu sendiri tau kalau kita harus mengejar skripsi
agar tahun depan kita harus menyelesaikan kuliah kita”
“Lalu” Lydia masih memandangku dengan segudang pertanyaannya
tadi
“Namanya Vano, dia anak bu Maria pasien kita waktu itu.
Setelah bu Maria boleh pulang kerumah, beliau memintaku untuk merawatnya
dirumah. Sampai akhirnya aku diminta untuk tinggal dirumah mereka. Karena
tempat kerja mas vano searah dan melewati rumah sakit, bu Maria meminta kami
__ADS_1
untuk pulang dan pergi bersama. Mungkin karena seiring kebersamaan itu timbul
rasa dihati kami. Tadinya aku berfikir kalau hanya aku yang menyukainya. Tapi
ternyata mas Vano mengakui perasaannya padaku lebih dulu” jelasku pada Lydia
yang menyimak dengan seksama.
Mereka memang orang kaya lyd, dari yang pernah kudengar
mereka meiliki beberapa perusahaan. Rumahnya juga sangat bagus. Tapi kurasa
dibandingkan kekayaan mereka yang ada, mereka tidak menunjukkan semuanya dalam
kehidupan mereka sehari-hari. Mereka tidak suka berfoya-foya dan sikap mereka
juga sangat tulus.” Lanjutku menjelaskan.
“lalu apa semua keluarganya bisa menerima kamu ra?”
“Bu Maria dan kak Rara selalu menerimaku apa adanya. Ayah
mereka sudah tidak ada. Hanya bu Maria dan kak Rara keluarganya mas Vano.”
“Trus bagaimana dengan ayah dan ibumu ra, apa mereka sudah
tau”
“aku sich belum cerita ke ayah dan ibu, kupikir nanti saja
sekalian desember pas natalan aku pulang ke Medan.”
drttt..drttt.. “sebentar aku terima telepon dulu ya lyd, mas
vano yang telepon.”
“ya mas, café yang disebelah rumah sakit, ntar masuk aja,
kami sudah disini” aku menutup telepon dari mas vano.
“Vano mau kesini ra?” tanya reno padaku
“hmmm. Ngga apa-apa kan?” tanya ku sembari melihat ke arah
Lydia dan reno bergantian.
“ngga apa-apa lah, lagian kita juga belum kenalan kan sama
pacar kamu itu ra.” Jawab Lydia.
Baru lima menit setelah telepon dari mas vano, mas vano
sudah berada di pintu café tempat kami nongkrong bertiga. Setelah melihat kami
kemudian mas vano menghampiri kami.
“kok udah sampai mas, perasaan barusan aja teleponnya?”
__ADS_1
tanyaku pada mas vano.
“tadi aku udah diparkiran waktu telpon kamu”. Jawab mas
vano, kemudian melihat kearah kedua orang temanku.
“oh.. iya. Kenalin mas, ini Lydia teman rara. Dan ini Reno
pacarnya Lydia.”
Mas Vano tersenyum sambil menjabat tangan kedua temanku
bergantian. “Aku Vano” ucapnya singkat. Lalu duduk dibangku kosong disebelahku.
Kami ngobrol-ngobrol hampir satu jam lamanya, dibalik
sifatnya yang terlihat selama ini, sebenarnya mas vano cepat bisa cepat akrab
dengan kedua temanku ini. Tapi mungkin karena itu juga dia bisa bekerjasama
dengan orang lain sampai sekarang bisa memegang beberapa perusahaan yang
diwariskan orang tuanya untuknya.
“Btw minggu depan aku ke Medan selama tiga hari, ada pertemuan
dengan investor untuk perusahaan papa yang di Medan, kamu ikut ya ra? Aku udah
belikan tiket untuk kita berdua” ucap mas vano disela-sela percakapan kami.
Deg…deg… perasaanku jadi tidak enak, apa maksud mas vano
dengan keadaan yang tiba-tiba ini?
Lydia tampak memandangiku dengan pertanyaan yang kelihatan
jelas dimatanya. Akupun mengedikkan mataku, menjawab lewat tatapanku kalau aku
tak tau apa-apa.
“ehhh, kalau kalian berdua mau ikutan sekalian boleh juga
tuh. Hitung-hitung kita bisa liburan sama-sama” celetuk mas vano disaat aku dan
Lydia masih bingung.
“Lydia, reno kami balik duluan ya. Ayo mas kita pulang.” Aku
menarik tangan mas vano untuk mengajaknya berlalu dari tempat itu. Aku ingin
mendapatkan penjelasan darinya.
******
Trimakasih sudah setia membaca karya saya..
Jangan lupa, like dan supportnya ya. Trimakasih
__ADS_1