Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
Bingung


__ADS_3

Rara pov


Aku berlari kecil ke sebuah café kecil disebelah rumah


sakit. Ada Lydia dan Reno disana. Tadi Lydia telepon kalau dia mau ketemuan di


café itu. Entah apa yang akan dibicarakannya harus ditempat itu.


Aku tersenyum melihat mereka berdua yang melambaikan tangan


kearahku dan sudah duduk dipojok ruangan. Aku kemudian duduk dihadapan mereka.


“Mau pesan apa ra” tanya Reno.


“aku pesan capucino saja ren, thanks ya” jawabku


“Ra, yang jemput kamu sabtu kemaren pulang dari kampus itu


siapa? Apa benar gossip-gosip di rumah sakit kalau kamu pacaran dengan pasien


VIP yang kecelakaan waktu itu? Dengar-dengar dia anak orang kaya di Jakarta


ini, dia jemput kamu saja pakai mobil mewah, apa kamu yakin kalau dia nanti ga


akan mainin kamu ra?” wajahku memerah dengan pertanyaan bertubi-tubi dari Lydia


“satu-satu sayang pertanyaannya.” Sela reno. “Maaf ra


maksudnya Lydia bertanya seperti itu karena dia khawatir sama kamu”


“ayo dong cerita ra, masa aku harus dengar-dengar dari


orang-orang. Apa kamu sudah tidak menganggap aku sahabatmu” Lydia terlihat


sedikit sedih.


Aku menggapai tangan Lydia dan menggenggamnya. “bukan begitu


Lydia.” “aku tadinya aku akan cerita ke kamu tapi setelah aku benar-benar


yakin. Ditambah lagi sekarang aku jarang punya waktu keluar karena pekerjaan


dan tugas-tugas kuliah.” “kamu sendiri tau kalau kita harus mengejar skripsi


agar tahun depan kita harus menyelesaikan kuliah kita”


“Lalu” Lydia masih memandangku dengan segudang pertanyaannya


tadi


“Namanya Vano, dia anak bu Maria pasien kita waktu itu.


Setelah bu Maria boleh pulang kerumah, beliau memintaku untuk merawatnya


dirumah. Sampai akhirnya aku diminta untuk tinggal dirumah mereka. Karena


tempat kerja mas vano searah dan melewati rumah sakit, bu Maria meminta kami

__ADS_1


untuk pulang dan pergi bersama. Mungkin karena seiring kebersamaan itu timbul


rasa dihati kami. Tadinya aku berfikir kalau hanya aku yang menyukainya. Tapi


ternyata mas Vano mengakui perasaannya padaku lebih dulu” jelasku pada Lydia


yang menyimak dengan seksama.


Mereka memang orang kaya lyd, dari yang pernah kudengar


mereka meiliki beberapa perusahaan. Rumahnya juga sangat bagus. Tapi kurasa


dibandingkan kekayaan mereka yang ada, mereka tidak menunjukkan semuanya dalam


kehidupan mereka sehari-hari. Mereka tidak suka berfoya-foya dan sikap mereka


juga sangat tulus.” Lanjutku menjelaskan.


“lalu apa semua keluarganya bisa menerima kamu ra?”


“Bu Maria dan kak Rara selalu menerimaku apa adanya. Ayah


mereka sudah tidak ada. Hanya bu Maria dan kak Rara keluarganya mas Vano.”


“Trus bagaimana dengan ayah dan ibumu ra, apa mereka sudah


tau”


“aku sich belum cerita ke ayah dan ibu, kupikir nanti saja


sekalian desember pas natalan aku pulang ke Medan.”


drttt..drttt.. “sebentar aku terima telepon dulu ya lyd, mas


vano yang telepon.”


“ya mas, café yang disebelah rumah sakit, ntar masuk aja,


kami sudah disini” aku menutup telepon dari mas vano.


“Vano mau kesini ra?” tanya reno padaku


“hmmm. Ngga apa-apa kan?” tanya ku sembari melihat ke arah


Lydia dan reno bergantian.


“ngga apa-apa lah, lagian kita juga belum kenalan kan sama


pacar kamu itu ra.” Jawab Lydia.


Baru lima menit setelah telepon dari mas vano, mas vano


sudah berada di pintu café tempat kami nongkrong bertiga. Setelah melihat kami


kemudian mas vano menghampiri kami.


“kok udah sampai mas, perasaan barusan aja teleponnya?”

__ADS_1


tanyaku pada mas vano.


“tadi aku udah diparkiran waktu telpon kamu”. Jawab mas


vano, kemudian melihat kearah kedua orang temanku.


“oh.. iya. Kenalin mas, ini Lydia teman rara. Dan ini Reno


pacarnya Lydia.”


Mas Vano tersenyum sambil menjabat tangan kedua temanku


bergantian. “Aku Vano” ucapnya singkat. Lalu duduk dibangku kosong disebelahku.


Kami ngobrol-ngobrol hampir satu jam lamanya, dibalik


sifatnya yang terlihat selama ini, sebenarnya mas vano cepat bisa cepat akrab


dengan kedua temanku ini. Tapi mungkin karena itu juga dia bisa bekerjasama


dengan orang lain sampai sekarang bisa memegang beberapa perusahaan yang


diwariskan orang tuanya untuknya.


“Btw minggu depan aku ke Medan selama tiga hari, ada pertemuan


dengan investor untuk perusahaan papa yang di Medan, kamu ikut ya ra? Aku udah


belikan tiket untuk kita berdua” ucap mas vano disela-sela percakapan kami.


Deg…deg… perasaanku jadi tidak enak, apa maksud mas vano


dengan keadaan yang tiba-tiba ini?


Lydia tampak memandangiku dengan pertanyaan yang kelihatan


jelas dimatanya. Akupun mengedikkan mataku, menjawab lewat tatapanku kalau aku


tak tau apa-apa.


“ehhh, kalau kalian berdua mau ikutan sekalian boleh juga


tuh. Hitung-hitung kita bisa liburan sama-sama” celetuk mas vano disaat aku dan


Lydia masih bingung.


“Lydia, reno kami balik duluan ya. Ayo mas kita pulang.” Aku


menarik tangan mas vano untuk mengajaknya berlalu dari tempat itu. Aku ingin


mendapatkan penjelasan darinya.


******


Trimakasih sudah setia membaca karya saya..


Jangan lupa, like dan supportnya ya.  Trimakasih

__ADS_1


__ADS_2