Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Aku Tidak Mau Menjadi Perusak Rumah Tangga Orang


__ADS_3

Malam itu Demy memutuskan untuk bersenang-senang dengan para rekan kerjanya di sebuah klub pribadi miliknya. Dia ingin melupakan berbagai permasalahan yang membebani pikirannya saat ini. Minum dan minum lagi, sampai akhirnya lupa waktu.


" Sudahlah, Demy.. Kau tidak bisa terus minum seperti ini.. Kau bisa mabuk nantinya.." ( Lucky, sahabat baik Demy ).


Brak !!


" Jangan pernah melarangku minum di klub pribadiku ini !!"


Lucky hanya diam. Ingin sekali dia pergi dan menjauh dari pria ini. Dia sudah tahu karakter Demy yang temperamen sejak dulu. Rasanya takut juga jika berhadapan dengan Demy saat ada masalah seperti ini. Laki-laki itu tidak segan menghabisinya walau dia tidak bersalah.


" Demy, pulanglah ! Aku yakin kau butuh istirahat sekarang.." ( Wajah cemas ).


" Pulang untuk siapa ?? Istriku pasti sudah pergi dengan laki-laki b******n itu !!" ( Menenggak minuman lagi ).


" Jika kau masih mencintai Yuna, kenapa kau malah menyerahkan dia untuk orang lain ? Aku sungguh tidak mengerti pemikiranmu.." ( Menebak-nebak ).


" Aku hanya ingin hidupku tenang.. Kau pikir dengan menikah kita bisa hidup bahagia ?? Aku tidak pernah melihat Yuna tersenyum saat bersamaku. Satu-satunya orang yang membuatnya tersenyum saat dia masih bersamaku hanya ibu. Tapi wanita itu juga telah mengecewakan Yuna. Bagaimana aku bisa mempertahankan pernikahan semacam ini ?"


" Apa sedari awal kalian memang tidak saling mencintai ?"


" Lebih tepatnya cinta sepihak !"


" Lalu kenapa kalian memutuskan untuk menikah ?" ( Maklum, dia tidak tahu permasalahan sebelum mereka pindah ke kota M ).


" Dia mau menikahiku untuk menyelamatkan Jian.."


" Maksudnya ??"


Brak !!! ( Memukul meja ).


" Apa kau tidak bisa berhenti bertanya ? Aku sangat muak mendengar ocehanmu !! Aku akan pulang saja sekarang !!!"


"......."


Demy pergi meninggalkan tempat itu dengan sempoyongan. Untung saja ada sopir yang setia menunggunya.


...........


Cklek.


Demy membuka pintu rumahnya. Tidak terkunci. Lampu sudah mati. Dia berpikir mungkin Yuna sudah pergi dengan laki-laki itu sebelumnya.


Dia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Menatap langit-langit rumah yang gelap, dan kemudian hendak memejamkan mata.


'Tap! Tap!'


Tapi tiba-tiba Demy mendengar suara langkah kaki seseorang. Membuat matanya akhirnya terbuka kembali.


Dia terkejut. Setahunya tidak ada orang lagi yang tinggal dirumahnya selain dia dan Yuna. Jika Yuna sudah pergi, maka langkah siapa yang dia dengar barusan.

__ADS_1


Setengah sadar dia mencoba bangun dari rebahannya. Dia melihat sekeliling dan tertuju pada seseorang yang berdiri di atas tangga. Samar-samar dia mencoba melihat orang itu. Keadaannya yang mabuk berat semakin membuat pandangannya kabur.


" Siapa itu ??"


Orang itu terlihat suram mendekatinya di atas sofa. Demy masih mencoba melihatnya dengan jelas. Orang itu semakin mendekat, dan berdirilah tepat di depannya.


" Kau minum terlalu banyak.."


Deg !! Suara itu....


" Yuna ?? Kau...."


Iya. Wanita itu adalah Yuna. Dia belum pergi rupanya. Apa yang dipikirkan wanita ini ??


" Kenapa kau belum pergi ??"


Yuna duduk di samping Demy. Dia memandang Demy yang terlihat kacau.


" Apa yang kau lakukan ?? Kau minum lebih banyak saat kau mendapat masalah.."


Demy menundukkan kepalanya.


" Apa laki-laki itu tidak menjemputmu ?"


" Dia datang petang ini... Dia hanya mengatakan padaku tidak akan mengganggu pernikahan kita.." ( wajah sedih ), " dia akan terbang kembali tiga hari lagi.."


Demy tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Dia juga bingung dengan dirinya sendiri.


Demy hanya terdiam saja. Namun dibalik diamnya itu, ia juga sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia tidak tahu cara mengatasi wanita ini.


" Lalu apa keputusanmu ??"


Yuna terdiam menanggapi pertanyaan dari Demy..


" Apa kau masih ingin bertahan denganku ? Atau kau hanya merasa iba saja padaku ?"


Yuna bangun dari duduknya. Ia juga bimbang. Hidup diantara dua pilihan. Dia sudah sangat beruntung memiliki suami yang menyayanginya dan menerimanya walau dia tidak pernah merasakan dicintai oleh Yuna. Tapi disisi lain, dia juga sangat mencintai Jian.. Dia tidak mampu mengkhianati Jian untuk kedua kalinya. Lagipula pernikahan ini memang tidak didasari rasa cinta.


" Aku tahu, kau pasti akan memilih Jian daripada aku.. Hehh.. Kenapa aku masih bertanya ? Bodoh sekali aku..."


" Lalu bagaimana jika aku memilih untuk hidup denganmu ? Walau hanya ingin menyelamatkan pernikahan kita saja.."


Demy terdiam sejenak. Memikirkan pertanyaan dari Yuna yang ditujukan padanya. Tapi dia tidak mementingkan dirinya sendiri. Dia juga harus memastikan Yuna akan bahagia dengan pernikahan mereka, atau tidak.


" Aku tahu kau sudah terlalu banyak memberiku kesempatan. Nyatanya pernikahan selama delapan bulan ini, tidak ada yang perlu kita bicarakan.."


Yuna menatap Demy penuh tanda tanya.


" Aku tahu kau hanya mementingkan pernikahan, dan juga rasa kasihan terhadap diriku.." ( berbalik menatap Yuna ), " dan aku tidak mau hidup dalam pernikahan yang seperti itu.. Aku tidak ingin mengikat orang lain hanya karena rasa iba.."

__ADS_1


Yuna hanya terdiam saja. Dia tahu lelaki ini sedang mabuk berat, jadi mungkin perkataan Demy juga tidak sepenuhnya sadar. Dia hendak pergi. Mungkin akan lebih baik jika membicarakannya besok saat dia sudah kembali bugar.


" Aku harus tidur.."


Yuna melangkah meninggalkan Demy di sofa sendirian. Dia membiarkan Demy untuk tenang sebelum mengajaknya berdiskusi soal perceraian besok. Jujur saja, rasanya memang tidak tega jika harus meninggalkan Demy saat terkena masalah seperti ini. Dia juga masih punya harga diri. Mana mungkin dia akan meninggalkan Demy saat dia terpuruk. Jahat sekali rasanya..


..........


Disisi lain, Jian sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia memilih duduk manis dengan secangkir kopi favoritnya di beranda belakang rumah sewaannya. Sejujurnya rumah itu sebentar lagi akan berpindah menjadi namanya. Pengusaha kaya akan menguasai segalanya. Orang lain hanya akan menuruti semua keinginannya. Termasuk sang pemilik rumah.


Mendengar tawaran dari pihak Jian ingin membelinya dengan harga fantastis, tentu membuat orang itu merasa senang. Jian memang tertarik dengan pemandangan di area rumah itu. Rumah yang menghadap langsung ke area pantai dan berjarak tidak jauh dari pusat kota membuatnya merasa nyaman tinggal disana. Apalagi dengan kesejukan yang khas itu. Dia ingin menghabiskan liburannya disini saat liburan tahun depan.


" Mr.." ( datang dari dalam ).


" Kenapa ?"


Sanni langsung bicara pada intinya. Dia tidak mau bertele-tele saat berhadapan dengan atasannya ini.


" Maaf jika saya sudah terlalu ikut campur dalam urusan pribadi anda.. Tapi saya ingin tahu kenapa anda tidak langsung membawa Nona Yuna kesini ? Apa dia sendiri yang tidak mau ?"


Jian menutup koran ditangannya. Dia menyeruput kopinya, dan berdiri membelakangi Sanni. Wanita itu sudah seperti adiknya sendiri yang bisa diajak berdiskusi kapanpun dia mau. Karena itulah mereka tidak merasa canggung sama sekali saat menceritakan urusan pribadi mereka.


" Aku tidak mau terlibat dalam urusan pernikahan mereka.. Aku juga masih punya harga diri."


" Tapi, kau sudah mencintainya begitu lama, lagipula Nona Yuna juga lebih memilih anda dari pada Demy. Maaf, Mr.. Aku hanya merasa kasihan dengan anda.."


" Aku tahu.. Tapi aku tidak ingin mereka bercerai karena aku. Biarkan Yuna sendiri yang memilih dan mempertimbangkannya. Aku tidak mau di cap sebagai perusak rumah tangga orang .."


" Sebenarnya, Mr.. Anda tidak bersalah jika merebut Nona Yuna darinya.. Lagipula lelaki itu juga sudah menghancurkan hidup Nona Yuna sampai seperti ini.."


" Tapi dia masih punya hak atas Yuna sebelum mereka bercerai. Seburuk apapun keluarga Demy terhadap Yuna, pernikahan tetaplah sebuah ikatan. Tidak sembarangan mempermainkannya.. Aku rasa aku tidak bisa memutuskan semua ini secara sepihak.. Demy juga butuh seseorang yang menguatkannya untuk saat ini."


" Iya.. Anda memang orang yang sangat baik.."


" Bagaimana dengan permasalahan di kota K ? Kau sudah mengatasinya ??"


" Mengenai Annie, kami sudah berhasil menyerahkannya pada pihak yang berwajib untuk mengupas tuntas permasalahannya. Tapi sebelum dia ditahan, pihak kita sudah mengizinkan Annie untuk menemui ibunya terlebih dahulu.."


" Apa dia menurut ?"


" Iya.. Menurut laporan, dia sama sekali tidak melawan. Dia bahkan tidak memberitahu ibunya soal peledak itu, dia hanya meminta ibunya untuk menyingkirkan benda itu saja.."


" Lalu soal Nyonya Tiansha yang ingin menjengukku di Rumah Sakit ??"


" Mereka membatalkan jadwalnya.. Katanya ada pekerjaan yang mendesak mereka untuk pulang ke Amerika.."


" Bagus sekali.. Aku akan menemuinya nanti setelah aku berhasil menyelesaikan urusan disini.. aku ingin mengurus masalah pribadiku dulu.."


Sanni memandang lelaki itu penuh rasa iba. Lelaki yang terkenal angkuh dan tidak banyak bergaul dengan wanita, nyatanya sudah dilumpuhkan begitu saja oleh seorang Yuna. Wanita yang kacau dan hidupnya dipenuhi oleh masalah.

__ADS_1


Dia sangat lega karena Jian lebih memilih untuk berpikir jernih daripada harus mementingkan dirinya sendiri. Apa hidup seperti mereka terlalu sulit ??


__ADS_2