
Jian mengajak Yuna datang ke rumah barunya.. Dia memang sudah resmi membeli rumah mewah di daerah pantai saat itu. Rumah yang megah, dengan pemandangan yang langsung menuju ke laut biru, adalah rumah yang menjadi idaman sebagian orang, termasuk Jian sendiri.
Yuna sedang berdiri di atas balkon lantai dua. Ia hanya mengenakan kaus tipis berwarna merah muda dan celana pendek sebatas paha. Dia terlihat begitu anggun dan menawan. Dengan rambut berwarna agak kepirangan terhempas oleh angin malam yang sangat menusuk, membuat siapa saja yang memandangnya tak mampu berkedip.
Angin malam berhembus kencang, membuat suasana agak terasa dingin. Apalagi dengan kaus tipis yang dipakainya, membuat tubuhnya terasa bergidik. Dia melihat Jian sedang duduk menikmati dinginnya malam bersama dengan secangkir kopi di atas meja. Matanya juga tidak lepas dari sang kekasih yang terus saja tersenyum ke arahnya.
" Pakai jaketku !! Kamu terlihat kedinginan.."
" Jarang sekali menikmati malam-malam seperti ini saat di kota."
Jian bangun dari duduknya, dan mulai mendekati Yuna. Dia melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang Yuna, sementara dagunya dia sandarkan di pundak wanita itu.
" Karena itulah kamu bisa sakit.." ( Tersenyum ).
" Aku tidak pernah merasa sebahagia ini meski Demy memberikan kebebasan untukku.. Dia bahkan memintaku untuk berkarir di dunia bisnis. Tapi sayang, baru saja aku memulainya, sekarang malah harus berhenti.."
" Apa perusahaan yang Tuan Zumi belikan untukmu itu ? Yang katanya sebagai hadiah pernikahan kalian ??"
" Iya... Kamu benar.. Tapi jujur saja, aku ingin sekali mengembalikan perusahaan itu padanya. Aku merasa tidak pantas jika harus menikmati hasil pemberian dari mantan mertuaku.. Kamu tahu maksud aku bukan ??"
" Iya, aku tahu.. Kamu memang paling tidak bisa kalau menikmati hasil pemberian orang lain, kecuali jika makanan yang aku bayar.." ( Tersenyum meledek ).
" Ish.... Itu hal yang wajar bagi sepasang kekasih.."
" Iya, Yunaku sayang... Lagipula, saat aku makan dan tidak ada kamu yang meminta, rasanya hambar sekali. Bahkan bisa membuat aku kehilangan nafsu makan..."
" Kamu ini, sangat berlebihan.."
Melepas pelukannya, " siapa yang berlebihan ?? Aku tidak berlebihan, memangnya kamu tidak seperti itu, ya ??"
' Siapa bilang, mungkin aku lebih lagi daripada kamu..'
" Sayangku, kita akan kembali besok setelah mengunjungi Demy untuk yang terakhir kali, aku mohon... Setelah ini, lupakan semua kenangan pahit yang pernah terjadi di kota ini.. Aku tidak akan membawamu terbang kembali kesini, setelah kita pulang nanti.. Aku harap kamu tidak kecewa dengan keputusanku..."
" Berjanjilah padaku, kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan aku seperti dulu lagi, lalu setelah itu, aku tidak akan merasa kecewa..."
" Aku berjanji.."
Cup !!
Kali ini hanya punggung tangan saja yang dia kecup. Jangan berpikiran kotor !!
.........
Keesokan harinya...
Yuna sedang berjalan membuntuti Jian menuju mobil. Dia akan pergi mengunjungi Demy setelah kemarin sempat mereka tunda. Pipinya sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya, meski bekasnya masih terlihat dengan sangat jelas.
Cklek.
Jian membukakan pintu untuk Yuna. Kali ini dia berinisiatif untuk menyetir sendiri. Sementara, Pak Harry mendapat tugas darinya untuk menjemput Kalina di sebuah hotel atas permintaan Yuna. Jika bukan karena kekasihnya yang bersikeras menginginkan Kalina kembali, dia juga tidak sudi meminta sopirnya untuk menjemput. Semuanya memang demi Yuna.
" Terima kasih..." ( Melempar senyuman manis ).
Aaarrrkkhhhh !!! Seperti ditembak mati oleh pistol paling mematikan di dunia..
Tapi itu hanya sebuah ungkapan saja, sepertinya mati ditembak bukanlah cara kematian yang baik.
" Kamu sangat manis.."
Cup !!
Mencium bibir Yuna sekilas, lalu membiarkan wanitanya masuk ke dalam mobil.
Pintu mobil segera dia tutup, dan beralihlah ke arah yang lain. Dia juga masuk ke dalam, dan menyalakan mesin. Beberapa detik kemudian, mobil itu pergi menjauh dari sana.
__ADS_1
Skip..
Beberapa jam kemudian..
" Saudara Demy, ada yang ingin menemui anda.."
" Baik.." ( Sambil bangkit dari duduknya ).
Suara langkah kaki Demy terdengar keluar ruangan menuju tempat Yuna dan Jian tengah menunggu.
" Silahkan.."
Seorang petugas mengarahkan Demy untuk duduk berhadapan dengan mereka berdua, membuat jantungnya terasa berdegup tidak menentu.
" Yuna ??"
Wanita ini terlihat begitu kacau akibat perbuatannya. Bekas luka dipipi itu masih terlihat merah padam. Malah sepertinya agak membiru. Demy memandanginya dengan perasaan bersalah.
Matanya beralih menatap Jian yang terlihat menyorotkan hawa kebencian kepada dirinya. Mata itu sungguh terlihat sangat menakutkan baginya.
" Jian.."
" Demy, duduklah !!" ( Yuna masih saja lembut ).
Demy menurut saja.
" Kenapa kamu datang ? Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau kamu tidak perlu menjengukku disini.."
" Lalu apa salahnya kalau aku menolak ?? Lagipula itu hak aku untuk datang.."
" Lalu apa yang membawa kamu kesini ?? Bersama laki-laki ini ??"
" Laki-laki siapa maksud kamu ?? Laki-laki yang sudah direbut kekasihnya dan kamu nikahi dibelakang begitu ?? Sayang sekali, pada akhirnya cinta tetaplah mengarahkan kepada yang benar, dan yang salah harus ditinggalkan.."
" Jian, kamu sudah berjanji padaku.."
" Aku ingin bertanya padamu Demy.. Sejujurnya yang memaksa aku datang juga Jian.. Dia memaksa aku untuk menjenguk kamu dan minta penjelasan dari kamu.."
" Penjelasan apa ??"
" Tentang pemukulan itu ?? Juga tentang semua perlakuan kamu terhadap aku selama kita masih dalam pernikahan.."
" Semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.."
" Tidak !!! Kamu akan membuat aku merasa tidak tenang kalau kamu tidak memberikan penjelasan apapun padaku.."
" Seharusnya kamu merasa tenang karena sudah lepas dari pernikahan kita.."
" Tapi aku tidak akan merasa lega kalau kamu belum menjelaskan hal itu padaku. Semoga saja kamu tidak melakukannya dengan sengaja hanya untuk mengusirku.."
" Aku memang sengaja melakukannya.."
" Hehh.. Sudah aku duga !! Tangan kamu itu memang tangan kotor. Beraninya memukul kekasihku dengan tangan kotormu itu.."
" Terserah kamu mau berkata apa. Yang pasti, aku merasa benci saat mengingat apa yang sudah terjadi karena ulah kamu.."
" Kenapa menuduh Yuna ?? Jelas-jelas kamu yang salah !!" ( Mulai emosi ).
" Jian,, Tenanglah.." ( Mencoba menenangkan ).
" Tidak masalah, Yuna.. Laki-laki seperti ini memang tidak bisa disalahkan !!"
" Diam kamu !! Kami datang bukan untuk mencari keributan !!"
" Harap tenang !!" ( Seorang petugas mengagetkan mereka ).
__ADS_1
Jian kembali membenarkan posisi duduknya.
" Kalau begitu jelaskan lagi lebih dalam !!"
" Aku memang mencintai kamu dari awal Yuna.. Tapi semenjak keluargaku hancur, aku merasa semua itu adalah kesalahan kamu.."
Yuna mengangguk saja, " aku mengerti. Kamu tidak salah, akulah yang menjadi penyebab kisruh rumah tangga keluarga kamu.."
" Kalau begitu, seharusnya kamu sudah tahu mengapa aku menceraikan kamu.."
" Yang jadi masalah bukanlah perceraian itu, tapi alasan kamu yang menceraikan aku. Aku tahu kamu hanya sedang pura-pura saja membenci aku, karena ingin membebaskan aku dari jerat pernikahan itu bukan ??"
" Jadi, kamu pikir begitu, ya ?? Maaf saja Yuna, kamu sudah sangat salah.."
" Jujur saja padaku, Demy. Aku sudah mengenalmu sekian lama, dan aku tahu saat kamu berbohong. Kamu tidak akan mungkin melakukannya karena membenci aku, tapi memang karena ingin melepaskan aku kan ??"
" Iya, memang aku ingin melepaskan kamu dariku. Tapi jika kamu bilang melakukannya bukan karena benci, kamu sudah salah !! Sepertinya kamu tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan terhadap keluargaku."
" Jadi begitu, ya ?? Kalau begitu, aku hanya bisa meminta maaf !! Aku harap kamu bisa memaafkan aku atas semua kesalahan aku. Sedari awal, kamu tahu aku tidak ingin bercerai, tapi jika kamu yang memaksa, maka aku bisa apa ??"
" Aku tidak bisa memaafkan kamu untuk saat ini, tidak tahu nanti atau besok.."
" Sudahlah, lupakan saja !! Lelaki seperti dia tidak pantas mendapat permintaan maaf darimu, sayang.. Sebaiknya kita pulang sekarang.."
" Soal perusahaan itu, aku akan meminta pihak Jian untuk mengembalikannya atas nama kamu.. Aku tidak berhak menerima hadiah itu karena semua yang sudah aku lakukan terhadap keluarga kamu..."
Demy terkekeh, " apa kamu pikir aku peduli soal perusahaan ?? Aku rasa aku tidak lagi peduli. Apa yang sudah menjadi punyamu, maka aku tidaklah berhak menerimanya.."
" Tidak !! Aku sudah menyuruh seseorang untuk mengurusnya. Kamu tidak bisa melarangku.."
" Lagipula, Yuna harus pergi dari sini tanpa meninggalkan apapun. Perusahaan seperti itu, aku juga mampu memberikannya berlipat-lipat untuk Yuna.."
Yuna memberi isyarat kepada Jian untuk diam. Tapi laki-laki itu malah terlihat semakin kesal.
" Aku akan terbang sore ini kembali ke kota M. Aku harap sebelum aku kembali, kamu sudah bisa memaafkan aku. Aku ingin kembali dengan tenang tanpa beban.."
Demy hanya diam saja. Mulutnya seperti dikunci rapat-rapat dan tidak mau keluar satu patah katapun untuk membalas kata perpisahan dari mantan istrinya, Yuna...
" Satu hal lagi !! Setelah kami pulang, kami tidak akan menjejaki kota ini lagi !! Sudah cukup bagi kami mendapat perlakuan buruk dari keluarga kamu !! Bahkan sekarang, kami mendapat hukuman atas masalah yang bukan jadi tanggungan kami !!! Cepatlah sadar Demy, dengan begitu kamu segera tahu siapa sebenarnya yang salah disini.."
" Sudahlah, Jian.. Kita harus pergi sekarang.." ( Hendak bangun ).
" Yuna..." ( Mendongak ).
Yuna berhenti. Dipandanginya seorang laki-laki yang beberapa hari lalu masih menjadi suami sahnya.
" Maafkan aku... Aku sudah memukul kamu dan menyakiti kamu dengan perkataan-perkataan yang menyakitkan.."
" Lelaki seperti kamu tidak pantas mendapat maaf dari Yuna !!"
" Jian, sudah !! Masalah tidak akan selesai kalau kita masih saling menyalahkan.."
Jian terlihat kesal. Sejujurnya dia sangat cemburu melihat Yuna yang masih saja perhatian dengan mantan suaminya ini.
" Aku sudah memaafkan kamu.."
Hanya satu kalimat itu yang akhirnya menjadi penutup pembicaraan. Karena pada akhirnya, Yuna pergi dari sana masih dengan perasaan bersalah.
Selepas Yuna pergi...
" Kembali ke ruangan !!"
Si petugas terlihat membawanya kembali ke dalam ruangan. Demy menurut saja setelah petugas itu dengan paksa memasukkannya kembali ke dalam ruangan di balik jeruji besi.
Dia terduduk di atas lantai tanpa alas. Kedua lututnya di tekuk, menjadi sejajar dengan dadanya. Dia memeluk dua lututnya itu dengan perasaan amarah yang bergejolak. Salah siapa terlahir dari keluarga pengacau.
__ADS_1
Maaf saja Yuna, kali ini Demy memang sudah membohongi kamu. Sahabat yang setia dan kamu kenal sebagai orang yang jujur, nyatanya sekarang tidak lebih dari seorang pengecut !!
' Tidak ada kesempatan selain hari ini.. Tapi hanya dengan cara itulah kamu bisa membenci aku.. Aku hanya ingin melihat kamu bahagia, bukan dengan caraku, tapi dengan Jian.. Aku masih mencintai kamu, Yuna...'