
“Vano, kamu kan ke kantor lewat rumah sakit tempat rara kerja. Kamu antar rara sekalin ya nak.” Kata mama saat Vano pamit pada mamanya sebelum berangkat kerja.
Terlihat rara juga akan pamit berangkat kerja. Dan mereka pun saling menatap akibat perkataan bu Maria barusan.
"Rara naik gojek aja bu." rara ngkat bicara
“Sudah..sudah. tidak usah membantah, kalian berdua berangkatlah, nanti telat kerjanya.”
"huhh. Kalau udah maunya nyonya besar, pasti ga bisa dibantah." "Baik mamaku tersayang" Jawab Vano
Keduanya akhirnya menurut dan berangkat bersama.
“Masuk suster rara. pakai seat belt nya ya"
“Baik mas.”
Vano kemudian menjalankan mobilnya menuju ke tempat kerja rara dulu. Jalanan pagi di Jakarta sudah cukup ramai. “Memang mama benar juga kata mamaku, sebenarnya kami memang searah kerjanya kalau dari rumah.” Batin Vano
Tapi suasana seperti ini tak bisa mereka berdua hindari. Mereka berdua disibukkan dengan fikiran mereka
__ADS_1
masing-masing. Ditambah lagi kejadian yang tadi pagi mereka alami. Suasana semakin canggung dan tak ada yang memulai pembicaraan. Vano menatap kedepan, namun sesekali ujung matanya melirik kearah Rara, dan Rara memandang langit-langit kota jakarta dari dalam mobil itu
“Drtt.. drttt.” Suara sepertinya ada panggilan masuk ke handphone rara. Rara bergegas menerima panggilan itu.
“Syalom bunda.”
“Rara sehat kok bunda, ayah bunda dan Dito sehat juga kan??”
“Ya sekarang sedang dijalan mau berangkat kerja, hari ini Rara masuk pagi.”
“Nanti rara telepon lagi pulang kerja ya bun, karena kalau ditempat kerja sepertinya rara akan sibuk karena sedang banyak pasien.”
“Da. Bunda.”
Karena Vano yang sedikit melamun, dan sedikit menambah kecepatan mobilnya disaat jalanan agak sepi. Vano kaget saat tiba-tiba melihat ada motor yang nyalip ke depan mobilnya segera Vano menginjak rem agar pengemudi motor di depannya itu tidak tertabrak. Dan secara reflek tangannya, disilangkan didepan tubuh rara, agar tubuhnya tidak terjerembab ke depan.
Pengemudi di depan langsung kabur karena mungkin menyadari kesalahan yang sudah dilakukannya
“Ckkk.” Vano mendengus dan mengumpat dalam hati.
__ADS_1
Kemudian Vano menyadari kalau tadi tangannya yang silangkan didepan rara sedikit menyentuh dada perempuan itu.
“Maaf ya…” kata Vano segera dengan wajahnya yang memerah.
Perempuan itu hanya mengangguk sambil tertunduk. Dapat dilihat kalau dia pun pasti merasa malu.
“Huhhh. Ada-ada saja kejadian hari ini” batin vano. “Tadi di rumah sudah ada tragedy, muncul lagi tragedy kedua.” kali ini pasti suster Rara akan berfikir mavam-macam tentangku, bahkan bisa aja dia berfikir aku mesum, kekanakan, dan ahhhhh entahlah.
Setelah tigapuluh menit perjalanan mereka yang terasa cukup panjang, akhirnya sampai juga ditempat kerja rara.
“Mau saya turunkan dimana?” tanya Vano
“Di loby samping saja mas, biasanya karyawan masuk dari situ.” Jawab rara
Vano menghentikan mobilnya sesuai dengan petunjuk dari rara, dan dia pun turun dari mobil Vano.
“Trimakasih mas.”
“Ya sama-sama.” Jawab Vano sambil mengangguk.
__ADS_1
Vano kembali mengemudikan mobilnya ke tempat kerjanya. Sambil sesekali mengusak rambutnya karena mengingat kejadian-kejadian beruntun sejak pagi hari ini.
Tbc