Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Demy yang Licik


__ADS_3

Azof yang sedang terduduk dengan lemas di kamarnya mendadak harus di alihkan oleh panggilan dalam ponselnya. Dia menatap ke layar ponsel dan melihat nama Jian di sana. Syukurlah anak ini menghubungi. Dia bisa mengadukan semuanya sekarang.


Bip !?


" Hallo, Jian.."


' Maaf, tuan Azof, ini saya Shizin..'


" Oh ?? Kamu.. kenapa bisa kamu ?? Di mana Jian ?? Aku ingin bicara dengan dia.."


Di seberang Shizin terlihat bingung. Dia memilih untuk diam dulu, tidak bicara mengenai kejadian tentang Jian semalam, dan memutuskan untuk menyembunyikan semuanya dulu.


' Dia sedang istirahat, jika ingin menyampaikan sesuatu, katakan saja, aku akan menyampaikannya pada tuan..'


" Yuna semalam mengalami kecelakaan.."


' Apa ?? Nyonya kecelakaan ??'


" Iya, dan sopirnya, pak Harry tewas seketika di tempat kejadian, sekarang Yuna sedang dalam keadaan kritis, dan dia butuh kehadiran Jian di sisinya, katakan pada tuan kamu, sesibuk apapun dia, cepatlah kembali, Yuna membutuhkannya.."


' Baik, tuan Azof, aku akan bicara nanti, selamat siang..'


Klik !?


Azof membuang ponselnya kembali usai mendengar Shizin memutuskan panggilan. Setidaknya ada yang bisa membantunya melalui semua ini sekarang.


...****************...


" Pak Kim.." ( berlari dengan tergesa ).


" Ada apa ??"


" Nyonya, nyonya Yuna mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang melalui masa kritisnya.."


" Apa ???" ( sangat terkejut ).


Semua orang terdiam mendengar perkataan dari Shizin. Pria itu membawa kabar yang lebih mengejutkan lagi, padahal masalah Jian bahkan belum selesai.


" Bawa beberapa personel untuk terbang kembali ke kota, nyonya tidak mendapat perlindungan apapun, dia hanya bersama Harry, sopirnya.."


" Sopir itu, pak Harry tewas di tempat itu seketika, mereka mengalami kecelakaan yang sangat fatal.."


" Apa ??"


" Lebih baik tanyakan lebih jelas nanti saat sudah sampai di sana.."


" Kamu dengar ??" ( membentak salah seorang pengawalnya ), " bawa beberapa orang untuk kembali, dan jangan sampai terjadi sesuatu pada nyonya.."


" Baik, tuan !!!"

__ADS_1


Semua yang di sana terlihat bersiap, dan beberapa orang lainnya memutuskan pergi untuk menjaga nyonya mereka. Keadaan benar-benar kacau dalam satu malam.


" Aku merasa ada yang mengendalikan situasi ini.."


Shizin menatap wajah Pak Kim dengan tatapan penuh tanda tanya.


Sementara, Kim memberi kode pada seorang pengawal lainnya untuk maju.


" Iya tuan..."


" Selidiki tuan Demy, aku rasa dia punya peran dalam hal ini.."


" Baik, tuan.."


Orang itu kembali pergi.


Pak Kim dan Shizin masuk ke dalam ruangan Jian dan melihat sebuah berita di televisi. Dalam berita itu jelas menyorot beberapa kejadian semalam. Mulai dari kejadian tewasnya Fu Xuelan yang terkena tembakan Jian, dan kemudian berita tentang kecelakaan yang di alami oleh Yuna. Untuk sementara, yang mereka tahu adalah, Yuna dan Pak Harry mengalami kecelakaan karena rem mobil yang blong dan kemudian mobil jatuh ke dalam jurang yang membuat pak Harry tewas seketika.


" Huhh.. entah sampai kapan masalah tuan akan segera selesai.."


...****************...


Pria itu mematikan siaran televisi, dan kemudian beralih meminum bir di atas meja.


Gluk !?


Tak.


" Rencanaku berhasil.."


...****************...


Kejadian sebelumnya..


" Aku ingin kamu mencampurkan racun ini ke dalam makanan nyonya Almira yang lumpuh itu !!" ( memegang pipi perawat ).


" Tapi, tuan, aku tidak mau melakukannya, aku tidak mau.." ( ketakutan ).


" Lakukan saja, tidak perlu takut, aku akan ada di sini untuk menolongmu, segera setelah kamu mendengar kabar kematian nyonya Almira, datanglah lagi padaku, dan kita akan segera keluar dari kota ini, akan aku pastikan kedepannya kamu akan aman dan hidup dengan berkecukupan.."


Perawat Almira saat itu sedang berjalan menuju rumah Azof. Dia memang perawat yang memilih untuk bolak-balik pulang, mengingat dia hanya seorang ibu sekaligus seorang ayah bagi anak balitanya. Dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit, dan mendapat tawaran pekerjaan di rumah Azof oleh dokter itu sendiri. Tentu saja dia lebih memilih untuk bekerja di rumah Azof. Selain gaji yang lebih besar, tentu saja karena jarak antara rumahnya dengan dokter itu tidak terlalu jauh, jadi bisa bolak-balik dengan leluasa.


Dia berjalan seperti biasa dan menuju jalan pintas yang lebih dekat dengan rumah Azof. Tapi dia tidak menyangka kalau saat itu adalah menjadi saat yang paling buruk dalam hidupnya.


Dia tidak menyadari ada beberapa orang yang sedang memperhatikan dan bahkan mengikutinya. Sampai akhirnya, dia berhasil di bekap oleh beberapa orang tersebut.


Setelah dia sadar, dia melihat sekeliling dan menyadari kalau dia sedang dalam keadaan terikat.


" Tidak, aku tetap tidak mau, aku tidak mau melakukan semua itu.."

__ADS_1


" Lalu apa jadinya dengan anak kamu ??"


Pria di depannya menunjukkan sebuah rekaman singkat saat bayi dan ibunya menjadi tawanan mereka, dengan pist*l yang siap menemb*k mereka kapanpun mereka mau. Dia terperangah. Wajahnya di penuhi gejolak kecemasan dan ketakutan yang tidak ada bandingannya. Anaknya, dan ibunya, mereka dalam bahaya, sedangkan, dia tidak mau mengotori tangannya untuk membunuh orang. Bagaimana ini ??


" Masih mau mereka hidup atau sudah bosan hidup dengan mereka ??"


" Tuan, jangan sentuh keluargaku, aku mohon.."


" Kami bahkan bisa membuat mereka lebih sengsara dari pada yang kamu bayangkan.."


Dia tersujud, dan memohon belas kasihan.


" Tuan, aku mohon, jangan sakiti anak dan ibuku.."


Sementara itu, pria di depannya, beralih menunjukkan racun di depan wajah wanita itu.


" Maka berikan ini pada makanan nyonya Almira, dengan begitu, aku akan jamin mereka berdua bisa selamat.."


Dengan sangat terpaksa, wanita itu mengiyakan. Dengan tangan yang terus menerus gemetar dan perasaan campur aduk yang tidak bisa di jelaskan, dia akhirnya mengambil racun di dalam botol kecil itu, dan menerima permintaan mereka.."


" Bagus, lakukan sesuai perintahku, setelah berhasil melakukannya, bawa anak dan ibumu pergi, setelah itu kamu bisa selamat.."


" Ba-baik.."


Setelah mendapat ancaman itu, sang perawat mulai terlihat gelisah. Wajahnya tidak seperti biasanya yang selalu ceria saat masuk ke dalam rumah Azof. Dia mulai melihat keadaan, dan kemudian menemukan sang nyonya Hani sedang menyiapkan sarapan untuk nyonya Almira. Dia menyembunyikan benda kecil itu di dalam saku bajunya.


" Eh, suster, kenapa baru datang ?? Biasanya selalu datang tepat waktu.."


" Ehh.. Nyonya, maaf, aku sedikit terlambat, anakku rewel dan tidak mau di tinggal, jadi terpaksa menenangkan dia dulu.."


" Oo, begitu ya.. tidak masalah, aku sudah membuat buburnya, " ( masih dengan senyuman terbaiknya ), " anakku juga agak rewel dan maunya di gendong terus, jadi tolong angkat buburnya, ya, ini sudah matang.." ( Hani begitu percaya ).


' Bagaimana aku bisa melakukannya ?? Sedangkan nyonya Hani dan pak Azof begitu mempercayai aku.. bagaimana ini ??"


" Suster ?? Sus ??"


" Ah ?? Iya, nyonya.. ada apa ??"


" Kamu kenapa hari ini ?? Apa kamu sedang tidak enak badan ??"


" Tidak nyonya, aku baik-baik saja.."


" Kalau begitu, tolong bantu aku, ya.."


" Baik.."


Hani segera keluar dari dapur dan membiarkan sang suster mengurus makanan. Entah ini jalan yang di permudah atau bagaimana, karena mendadak, nyonya menyerahkan tugas ini padanya. Iya, biasanya Hani akan membuat makanan sendiri untuk ibunya, tapi kali ini, seperti sedang di beri jalan, dia bahkan diizinkan untuk menyentuh makanan itu. Ini adalah kesempatan.


Dia kemudian menuangkan racun itu ke dalam makanan nyonya Almira dan menyuapkannya secara perlahan.

__ADS_1


Sampai habis !!


__ADS_2