
Rara terbangun saat perawat jaga malam masuk ke ruangan untuk membawakan obat dan petugas gizi mengantarkan sarapan pagi pasien. Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.
“Ra, kamu tidur disini dari malam?” tanya perawat itu.
Hmm. Ya” jawab rara yang masih bermalasan karena baru terbangun.
“Apa mas ini pacar kamu Ra?” tanya perawat itu lagi, yang membuat rara sontak terduduk.
Sssst… Bukan… sudah sana, tinggalin aja obatnya, ntar rara yang kasi. Wjah rara pasti merona batin vano.
“Ok ra. Ntar kalau masnya udah bangun tolong kasi tau ya, kami mau tawarkan untuk dimandikan atau dilap sebelum jam kami berakhir.” Kata perawat itu lagi.
Hmmmm. Rara hanya menggumam menjawabnya.
Vano sebenarnya sudah terbangun saat perawat tadi membuka pintu. Tapi Vano pura-pura tidur saat mendengarkan pembicaraan dua orang suster itu. Antara suster yang bertugas dengan suster yang setia
menjagaku sejak kemaren.
*****
Vano menggerakkan badannya miring ke kanan sehingga menghadap ke sofa tempat rara sedang duduk. Rara sedang merapikan rambut, dan sepertinya akan beranjak pergi.
“Mau kemana ra?” Tanya Vano yang melihat rara akan pergi.
“eh.. mas vano udah bangun, rara ke kamar mandi mas, mau bersih-bersih dulu.” Jawab rara sambil berjalan menuju kamar mandi di ruangan itu.
__ADS_1
Vano memandanginya, wanita yang sedikit demi sedikit mulai menarik perhatiannya.
Tak berapa lama rara keluar dari kamar mandi. Dan kembali duduk di sofa.
“Ra, badan kamu pasti pegal-pegal tidur di sofa itu kan?” tanya vano membuka pertanyaan.
“Ga apa-apa mas vano, kita udah biasa kok. Tiduran sambil duduk aja kita bisa. Udah biasa ma tugas jaga malam mas. Ini beruntung aja rara ga dapat jaga malam karena masih sambil kuliah.” Rara kelihatan semangat menjelaskan lia liku pekerjaannya.
“0hhh. Begitu ya” jawab vano singkat.
“Mas Vano mau sarapan dulu, atau mandi dulu?” tanya rara
“Mandinya bagaimana ra? Kan ini tangan saya masih diperban, kaki saya juga” tanya vano kebingungan.
“Ga ah, saya ngga mau, ntar porno” kata vano yang masih kebingungan.
“Sudah, biar Rara saja yang mandikan, ga ada penolakan ya mas. Saya ambil peralatannya dulu.”
Vano mengikuti kemana arah bergeraknya rara, sampai rara meninggalkan ruangannya. Kemudian rara kembali sudah membawa Waskom besar berisi air, washlap dan sabun. Dan mendekat ke arah Vano.
“Mas, saya mulai ya” kemudian rara mulai membuka pakaian bagian atas Vano. Saat ini vano memakai pakaian khusus pasien.
“Kamu mau ngapain ra?” tanya vano sedikit panic dan merasa malu dan spontan tangannya menangkap tangan rara yang hendak membuka pakaiannya.
__ADS_1
Wajah Vano yang kebingungan terlihat lucu sehingga membuat rara tertawa. Dan kemudian rara menjelaskan detailnya.
“hahaha. Mas vano saya jelasin ya. Rara mau buka pakaian bagian atas mas vano, lalu ntar di sabunin pakai sabun yang ditaro di washlap ini. Trus rara bersihin dengan washlap basah yang bersih. Pertama dibersihin bagian wajah, lengan, badan dan yang terakhir bagian kaki.”
“di rumah sakit kami menyebutnya memandikan pasien. Tapi bukan diguyur seperti mandi di kamar mandi” rara menjelaskan sembari masih tersenyum.”
“oh. Baiklah” jawab vano singkat.
Rara mulai membersihkan wajah vano, kedua tangan dan bagian badannya. Vano memandangi rara yang memperlakukannya dengan lembut. Tubuh rara begitu dekat dengannya saat membersihkan dadanya yang kekar dan perutnya yang berotot, sampai-sampai vano dapat menghirup aroma tubuh rara. “Hmmmm. Wangi juga gadis ini.” Batin vano
Deg.deg.deg. detak jantung vano terasa lebih cepat dari biasanya. Saat tubuhnya diperlakukan seperti itu nalurinya sebagai pria seperti sedang dibangunkan.
Pipi rara merona merah karena menyadari kalau vano memandanginya. Padahal baginya sudah menjadi hal biasa melakukan hal itu ke pasien-pasiennya.
“Bagian atas sudah mas, sekarang bagian bawah ya.” Kata rara yang tiba-tiba memandang ke arah vano, sambil memakaikan baju vano. Saat wajah rara berada di dekat wajahnya, ingin rasanya vano mencium gadis itu.
Rara berjalan ke kamar mandi untuk mengganti air yang sudah digunakannya tadi dengan air bersih.
“Ra, bagian bawah tidak usah ya. Yang penting badan saya udah agak segar ini. Udah ga lengket kayak tadi.” “ besok-besok kalau saya udah bisa ke kamar mandi biar saya bersihkan sendiri.”
Rara menyadari kalau vano pasti merasa malu. Sehingga dia tidak meneruskan, dan mengikuti kemauan pemuda itu.
Tbc.
__ADS_1