
" Demy. Mana mungkin aku lupa. Sejak awal, aku sudah mencium bau busukmu itu, aku tidak mungkin salah mengira.."
" Hemm.. kamu memang seseorang yang pandai dan ambisius. Yang berhasil membawa kabur istri orang dengan mudah.."
" Bukankah kamu sendiri yang mencurinya dariku, dan kemudian membuangnya bagai sampah yang tidak berguna ?? Bisa-bisanya menuduhku sebagai perusak rumah tangga kamu, hehh.. kalau aku ada di posisi kamu, mungkin aku akan bunuh diri saja dan menghilang dari dunia ini.."
" Oh ya ?? Bagaimana kalau memang aku ingin membunuhmu.."
" Untuk apa ?? Membalas dendam ?? Rasanya dulu kamu yang sudah menyerahkan semuanya padaku dengan suka rela, jika ingin balas dendam, maka jelaskan dulu untuk motif yang mana.."
" Sejak kamu pergi membawa Yuna, aku tersadar kalau aku begitu bodoh, hingga dengan rela menyia-nyiakan wanita polos seperti itu. Bahkan saat itu, anda aku tidak terlalu naif, mungkin dia akan memilih bertahan di sisiku dan menjadi wanitaku seumur hidup.."
" Tapi cintanya tetaplah untukku.."
" Cinta mungkin tidak bisa aku miliki, tapi setidaknya, aku pernah mencicipi tubuhnya.."
" Kalian tidak pernah saling mencicipi, Yuna berkata seperti itu padaku.."
" Hehh.. wanita mana ada yang bisa di percaya.." ( mendekat ), " aku telah melucuti dia diam-diam.." ( berbisik ).
" Br*ngs*k kamu !!!"
Bam !?
Puft.
Dengan kesal Jian menonjok wajah Demy yang menjijikan itu dan membuat Demy akhirnya mengeluarkan darah kental dari mulutnya.
Ssshhhh..
" Bagaimana rasanya ?? Apa masih kurang membuat jera ??"
Mengusap darah di ujung bibir.
" Asal kamu tahu saja, aku lebih percaya Yuna dari pada pria baj*ngan seperti kamu !!!"
" Oh ?? Benarkah ?? Lalu apa kamu meyakini tidak akan terjadi sesuatu pada sepasang suami istri meski mereka tidak saling mencintai ??"
Jian terdiam. Jujur saja, kalau soal itu sebenarnya dia tidak yakin, tapi untuk Yuna, dia percaya seutuhnya pada wanita itu. Karena pada saat itu, pertama kali mereka melakukannya, darah itu, noda itu, sudah pasti dia yang pertama untuk Yuna.
" Cuihh !! Kamu pikir aku mudah di bodohi ?? Jangan harap !! Kamu bahkan tidak ada bandingannya dengan ku!!"
" Bagaimana kalau kita buktikan ??" ( berjalan mundur ), " jika kamu memang pria yang jantan, maka taklukkan aku dengan tangan kosongmu itu !!!"
" Siapa takut !!"
__ADS_1
Jian membuang pist*l di tangannya ke lantai, dan beralih maju melawan Demy dengan tangan kosong. Iya, semoga saja dia tidak apa-apa.
Keduanya mengambil ancang-ancang dan kemudian mulai bergerak saling melawan. Sesekali Jian tumbang, karena dia sudah lama tidak melatih dirinya untuk hal semacam ini. Dia memang agak lemah sekarang di banding beberapa tahun yang lalu, saat keadaan tubuhnya masih bugar. Tapi dalam menit-menit terakhir, entah kenapa ada kekuatan besar yang mendorong dirinya untuk melawan pria di depannya kini. Dia beberapa kali bisa menjatuhkan Demy dan membanting tubuh itu habis-habisan.
Dan akhirnya !!
Bam !!??
Tubuh itu tidak bisa melawan lagi. Jian menang dalam pertarungan.
Hosh Hosh Hosh.
Dengan nafas terengah, Jian kembali mengambil senj*ta miliknya di lantai, dan memandang Demy penuh kepuasan.
" Sudah sadar kalau kita bukanlah lawan yang seimbang ??"
Demy terduduk dan mencoba berdiri dengan bantuan dua pengawalnya..
" Sekarang biarkan kami pergi, yang kalah harus menerima kekalahan, dan yang menang akan menemui kebebasan.."
Jian memberi kode pada pengawalnya untuk membawa nona Alishia keluar dari tempat jahannam itu, dan kemudian dia pergi menyusul.
Di belakang, beberapa pengawal Jian juga bersiap siaga, siapa tahu ada pergerakan mencurigakan dari para musuh. Tapi nihil !! Mereka sama sekali tidak bergerak menyergap. Sejujurnya.. ini terlalu aneh.
" Ada yang mengawasi !! Lindungi nona !!"
Berlari ?!
Melempar senjata !??
Semua orang terlihat terkejut. Dan beberapa saat kemudian, dia berhasil menghalangi Alishia. Tapi..
Dorrrr !!!
Peluru berhasil menembus punggung kirinya dan membuatnya tersungkur.
" Tuan !!!!!" ( Shizin berteriak ).
" Kakak !!!"
Suara itu dengan seketika keluar bersamaan dengan tumbangnya Jian dari depannya.
" Cepat bawa tuan ke dalam mobil !!?? Segera mundur dari tempat ini !!!!" ( teriak Kim dengan lantang ).
Semua rombongan Jian mendengar arahan dari Kim dan membawa mobil mereka dengan cepat menuju rumah sakit.
__ADS_1
...****************...
Area Pemakaman kota K.
Saat itu entah kenapa langit pun ikut mendung dan seakan menangis melihat betapa malangnya nasib yang sedang Azof alami sekarang. Ibunya meninggal, dan adiknya mengalami kecelakaan. Dia tidak bisa memungkiri kalau perjalanan hidupnya terasa melelahkan.
Dia menangis di depan pusara ibunya dan tidak bisa berdiri dengan tegak. Dia terduduk lemas tak berdaya. Dengan kesedihan yang begitu mendalam, bercampur kecurigaan dan juga kecemasan yang bergejolak, dia akhirnya memilih untuk terdiam di depan pusara dengan berurai air mata.
" Ibu.. apa ini sudah selesai ?? Apa ini artinya perjalanan dan perjuangan Azof sudah selesai ??"
...****************...
Dia memarkirkan mobilnya dengan perlahan, dan kemudian turun dari sana dengan berbagai macam perasaan yang tidak bisa di jelaskan. Sementara, istri dan anak angkatnya terlihat sedang menanti kedatangannya dengan cemas.
Dia menggendong Zio, si pria kecil yang akhir-akhir ini membuat hidup mereka lebih berwarna, dan tatapannya benar-benar layu. Dia terlihat begitu terpukul.
" Azof.."
Azof mengangkat tangan. Yang ada di wajahnya bukan lukisan kasih sayang atau kegembiraan yang biasa dilihat oleh Hani, melainkan ada amarah yang bergejolak memenuhi hatinya.
" Kamu kenapa ??"
Azof menoleh. Dilihatnya lagi dengan seksama wajah istrinya itu. Benar-benar wajah yang sangat menipu. Itulah yang dia pikirkan saat itu.
" Sudah membunuh ibuku, apa lagi yang kamu mau ??"
" Apa ??"
Mendengar kata-kata itu, tentu saja Hani begitu terkejut, tidak menyangka kalau suaminya akan melontarkan kalimat yang begitu mengejutkan.
" Apa maksud kamu ??"
" Maksud aku ?? Kamu masih tanya apa maksud aku ???" ( wajah di penuhi iblis ).
Melihat amarah suaminya yang terlihat tidak bisa di kendalikan, Hani memilih untuk mundur. Dia dengan takut mendekap dengan erat anak angkatnya itu dan berusaha melindungi diri sebisa mungkin.
" Hasil pemeriksaan, ibu aku meninggal karena racun yang di masukkan ke dalam makanan, setahu aku, selama ini, kamu yang selalu membuat makanan untuk ibu, meskipun ada perawat, tapi kamu selalu berinisiatif sendiri membuatkan makanan untuknya.."
" Kamu menuduh aku ?? Kamu menuduh aku yang telah berusaha membunuh ibu kamu Azof ??" ( air mata menetes ).
" Kalau bukan kamu siapa lagi ???!!!" ( nada tinggi ).
" Aku memang tidak pernah mengizinkan perawat membuatkan makanan untuk ibu kamu, karena aku tidak sepenuhnya mempercayakan ibu pada orang lain, tapi aku tidak pernah berpikir bodoh seperti itu, aku tidak pernah berniat membunuh ibu kamu seperti yang kamu bicarakan.."
" Dasar penipu !!!!"
__ADS_1