Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Masalah Perasaan


__ADS_3

Wajah cantik itu pulang dalam keadaan yang kacau. Gaun merah dengan sepatu mahal yang dibelikan Demy untuknya ia buang begitu saja di atas kasur. Dia kini hanya mengenakan kaus tipis dan celana sebatas dengkul. Dia tak lagi memikirkan pernyataan cinta dari Demy untuknya. Baginya hal itu sama sekali tidak penting.


Dia hendak tertidur. Matanya terpejam. Belum juga ia melayang ke alam mimpi, seseorang mengejutkan dirinya dengan ketukan pintu yang begitu keras.


"Siapa sih jam segini datang?"


Wanita itu bangkit dan mengikat rambutnya dengan sederhana saja. Tidak ada persiapan darinya kala itu. Ia pikir orang itu bukanlah orang penting.


'Cklek.'


Pintu di buka. Ternyata itu Hani.


"Hani? Apa kau datang sendiri?"


"Kenapa memangnya?"


"Berani sekali kau ini. Ayo masuk!"


Dua wanita itu langsung saja masuk tanpa basa-basi. Hani memang sudah berniat untuk menginap di Apartemen Yuna malam ini. Hanya saja ia terkendala dengan kabar dari Demy.


"Bagaimana acaramu hari ini?"


Tanya Hani usai duduk di sofa ruang tengah.


"Acara apa yang kau maksud?"


"Bukankah Demy bilang padaku kalau.."


"Akh! Sudahlah! Jika kau berinisiatif membicarakan laki-laki itu lebih baik kau pulang saja."


"Jahat sekali kau ini. Aku Hanya memastikan apa kau menerima Demy atau tidak."


"Kau sudah tahu jawabannya bukan? Kenapa harus bertanya."


Yuna mengambil makanan di toples dan mengunyahnya.


"Dasar pria gila!! Dia berani sekali melamarku di Restoran dengan nuansa yang seperti itu. Rasanya aku mual sekali melihatnya."


"Aku sudah tahu kau pasti akan menolaknya. Lagipula aku sudah susah payah memperingatkan dia. Dia tetap saja tidak mau mengerti."


"Sejujurnya aku begitu malu. Bagaimana tidak? Dia sudah menyewa tempat itu khusus untuk melamarku."


"Itu masih bagus. Kau akan lebih malu lagi saat ada banyak pelanggan yang datang kesana. Bagaimana kau akan menaruh mukamu. Sedangkan semua orang sudah tahu kau telah menerima lamaran Jian dulu sewaktu Jian belum koma."


"Aku bingung dengan pria itu. Apa dia sudah lupa dengan cincin di jari manisku ini? Mana mungkin aku akan menerima dua cincin dari dua laki-laki yang berbeda? Apa aku sudah tidak waras?"


"Setahuku kau memang tidak waras."


Hani tertawa melihat gadis kecilnya itu.


Iya. Baginya Yuna tak lain adalah gadis kecil yang masih butuh bimbingan dari kakaknya. Seringkali wanita itu tertawa melihat tingkah laku Yuna yang masih kekanak-kanakan. Walaupun itu memang terlihat lucu bagi Hani.


"Bagaimana soal hubunganmu dengan kakakku?"


"Kenapa kau bertanya hal itu padaku?"


"Lalu aku harus bertanya pada siapa? Apakah aku harus bertanya pada Manager Harry? Tentu saja itu tidak ada hubungannya."

__ADS_1


"Aku sungguh tidak tahu apapun tentang itu."


Dia membenarkan posisi duduknya.


"Jujur saja, dia telah menyatakan perasaannya padaku untuk yang kesekian kalinya kemarin."


"Lalu apa masalah kalian?"


"Apa kau bodoh? Kenapa kau bertanya? Tentu saja karena kalian sudah menjadi saudara tiriku. Apa kau sama sekali tidak mengerti?"


"Bukan itu maksudku. Yang aku tahu tidak ada masalah apapun jika harus menikahi saudara tiri. Kau kan tidak ada hubungan darah dengan kami."


"Apa itu benar?"


Yuna hanya mengangguk saja. Sementara wanita di sampingnya terlihat bingung dan berpikir matang-matang. Apa ia harus mengambil keputusan yang Yuna pilihkan untuknya?


Tunggu dulu! Apa sudah jelas jika Yuna menyetujui hubungan mereka berdua?


"Apa maksud kamu, kau telah menyetujui hubungan kami begitu?"


"Jangan salah paham! Aku hanya kasihan melihat hubungan kalian yang begitu miris. Aku hanya berusaha membuka kesempatan untuk kalian berdua."


"Kau benar-benar setuju?"


"Apa kau kira aku sedang bercanda?" Nadanya sedikit lebih tinggi. Mungkin saja ia mulai kesal.


"Maafkan aku. Aku hanya memastikan saja."


Mereka berdua terdiam. Tapi tidak begitu lama. Sebuah pemikiran tiba-tiba saja melintas di otak Hani. Sejujurnya hal inilah yang akan ia tanyakan pada Yuna. Tapi memang sifatnya manusia yang pelupa. Dia pun malah melupakannya begitu saja.


"Oh iya. Apa mungkin orang tua kita akan setuju dengan hubungan kami?"


"Huff. Kau kan tahu sendiri ibumu tidak pernah menyetujui hubungan kami berdua."


"Kau sendiri sudah tahu. Kenapa kau malah bertanya padaku."


"Apa kau tahu? Semenjak mereka bertiga akur waktu itu, banyak perubahan yang mereka alami sampai sekarang."


"Apa maksudmu?"


"Iya. Ibumu dan ibuku lebih akur daripada waktu lalu. Mereka malah lebih sering menghabiskan waktu bersama geng mereka berdua."


"Apa itu benar? Aneh sekali kurasa."


"Aku juga berpikir seperti itu."


"Bagaimana kalau kau menggunakan kesempatan itu untuk mengambil hati ibuku? Itu ide yang sangat bagus menurutku."


"Apa menurutmu begitu?"


"Apa salahnya kalau dicoba? Mungkin saja kau bisa mendapatkan jalan lewat cara itu."


"Apa itu akan berhasil?"


"Tidak ada salahnya bukan?"


Hani terlihat begitu bingung. Apa mungkin cara dari Yuna akan berhasil? Hani agak ragu. Terlihat dari raut mukanya yang bimbang. Ia tahu sendiri biasanya saran dari Yuna tidak memberikan jalan yang baik, tapi malah sebaliknya. Apa kali ini dia berkata benar?

__ADS_1


.......


Pagi Harinya!!


Yuna hendak beranjak keluar dari Apartemen. Dia menutup dan mengunci pintunya. Dipandanginya Apartemen Jian yang sepi tiada berpenghuni. Terkadang ia masuk sebentar hanya untuk menyalakan lampunya saja. Tapi belakangan ini ia hampir sering melupakan hal itu. Entahlah. Semakin sering ia mendatangi tempat itu, semakin besar pula luka dihatinya. Rindu yang terpendam seakan membara begitu masuk ke dalam sana. Tidak begitu aneh. Setiap sudut ruangan itu memang memiliki ceritanya sendiri.


"Yuna!"


Seseorang mengejutkan lamunannya. Ia menoleh. Rupanya ada Demy di sana. Agak muak sebenarnya. Apa itu salah? Rasanya ia amat menyesal tidak berlalu bersama Hani pagi tadi. Ia memilih keluar sendiri tanpa Hani. Rupanya pria itu malah mendatangi dirinya lagi.


"Kau lagi?"


"Tunggu dulu! Jangan menjauh lagi Yuna."


"Sebenarnya apa yang kau mau dariku, Demy?"


"Kau sudah tahu apa yang ku mau. Hanya kau yang yang masih berpura-pura padaku."


"Apa yang kau maksud dengan pura-pura? Apa kau pikir aku akan mengkhianati Jian kekasihku? Apa kau sudah gila?"


"Yuna, kau boleh saja berpikir aku gila. Tapi yang jelas, aku tulus mencintai kamu. Pikirkan itu!"


"Demy, aku tidak mau kehilangan sahabat terbaik seperti dirimu. Kau sudah membuatku muak sejak kemarin. Jadi tolong! Berhenti melakukan hal-hal aneh seperti ini."


Demy terdiam sebentar. Ia berpikir keras. Kali ini dia memilih untuk mengalah. Tapi apakah dia memang benar-benar mengalah?


"Baiklah jika kau merasa begitu. Apalagi yang harus aku katakan."


Demy mengangkat bahunya. Dia terlihat tegar dengan perkataan Yuna yang sangat menusuk itu.


"Maaf jika aku telah mengganggumu! Aku akan menjauh darimu agar kau tidak merasa muak lagi denganku."


Demy berbalik dan melangkah pergi. Tapi Yuna malah mencegatnya. Ia merasa bersalah. Ia sadar ucapannya terlalu menyakitkan. Dia meraih lengan Demy dan menyuruh laki-laki itu untuk berhenti melangkah.


"Demy, tunggu!!"


Demy memberhentikan langkahnya.


"Aku minta maaf."


"Kau tidak salah. Aku yang salah."


"Aku tahu ucapanku sedikit kasar. Tapi bukan seperti itu maksudku. Aku hanya takut kehilangan dirimu sebagai sahabatku."


"Aku pergi."


Rupanya Demy sama sekali tidak menggubris ucapan Yuna. Dia melenggang saja menjauh dari posisi Yuna. Hatinya begitu sakit. Tapi karena rasa sakit itulah ia belajar bahwa apa yang sudah di depan matanya harus dia genggam! Mungkinkah otaknya masih bisa berpikir jernih?


.......


"Jian! Ada yang ingin aku katakan padamu."


Ucapnya sambil mengelus tangan Jian dengan lembut. Dia juga tidak melupakan senyumnya yang begitu manis. Bahkan Jian pernah berkata dalam hatinya jika ia tidak mampu makan ataupun minum sesuatu yang manis di depan Yuna. Ia takut rasanya akan bertambah. Begitulah pikir pria itu. Sungguh hal itu semakin membuat Yuna jatuh dalam kerinduan.


"Demy melamarku kemarin. Hhh. Begitu bodoh dirinya hingga dia tidak sadar aku sudah memakai cincin pemberian darimu. Mungkin dia berpikir aku bisa semudah itu berpaling darimu. Tapi kau tenang saja. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Kau tahu jika kau adalah cinta pertamaku. Dan kau juga akan mendapat bukti dariku bahwa kau akan menjadi cinta pertama dan terakhirku. Ku harap kau segera bangun untuk menyelamatkanku dari dia yang hendak merebut posisimu."


Yuna tersenyum dan mencium pipi Jian begitu perlahan. Ingin sekali Yuna memeluk tubuh itu. Tapi rasanya tidak memungkinkan. Hhh.

__ADS_1


Semoga saja Jian segera terbangun dari komanya. Ingin sekali melihat mereka bersama lagi seperti saat-saat dulu. Saat mereka selalu bertengkar tanpa alasan di setiap waktu.


'Aku merindukanmu, Jian.'


__ADS_2