
" Ini sudah sangat malam, apa kamu tidak mau pulang ??"
Ucap Yuna yang saat itu sedang asik mencuci piring. Sementara Jian masih saja terus menerus mengikuti dan menimbrung semua yang Yuna lakukan. Dia seperti anak kecil yang membuntuti ibunya bekerja. Manis sekali..
Sebenarnya membicarakan soal anak kecil hanya sebatas membual. Bagaimana bisa pria seperti itu dianggap seperti anak kecil ?? Ya.. Tapi disisi lain, dia memang sangat manja..
" Apa kamu sedang mengusirku ??" ( sambil mengelap meja makan ).
" Iya, aku sedang berusaha mengusir kamu, apa kamu tidak tahu ??"
" Aku pura-pura tidak tahu saja.."
" Jianan..." ( berteriak dari luar ).
( Tiba-tiba datang ).
" Iya Bibi.. Ada apa ??"
" Sopirmu sudah lebih dulu pulang tadi, katanya mobilmu harus segera dibawa ke bengkel, ada yang rusak katanya.."
" Oo, jadi begitu ya.."
" Kamu tidak bisa pulang malam ini, bagaimana kalau kamu menginap satu malam ?"
" Apa ?? Maksud ibu, dia tidur disini, begitu ??"
" Memangnya kenapa ?? Tidak boleh ??"
" Tapi, kan, ada mobil kak Azof juga diluar, dia bisa pulang dengan mobil itu, bukan.."
" Mobil Azof remnya blong, kalau sampai terjadi sesuatu dengan Jianan, bagaimana ?? Kamu mau tanggung jawab ??"
" Ya sudah, tidur di kamar tamu.." ( terus mencuci ).
" Kamu lupa, ya ?? Kamar tamu sekarang sudah jadi gudang cadangan, gudang di belakang sudah penuh dengan barang-barang kamu yang dulu kamu tinggal.."
" Apa ??"
" Tidak perlu terkejut begitu ?? Kamarmu, kan paling luas disini, bolehlah, berbagi kamar dengan kekasihmu sendiri.." ( tersenyum ).
' Apa bibi sedang meledek kami ?? Untung kita satu pemikiran ??'
" Bagaimana Jian ?? Kamu setuju, kan.."
" Apa ?? Ibu, ini tidak mungkin, bagaimana aku bisa berbagi kamar dengan dia ??"
' Hehh,,,. wanita ini, padahal beberapa hari ini dia juga sangat senang berbagi kamar denganku, lihat saja nanti..'
" Lalu bagaimana ? Mau dibiarkan Jian tidur di gudang ?? Sudah, kamu langsung tidur saja sana, lagipula, mendengar ocehan anak bibi ini memang terlalu memusingkan, bibi tahu kamu sudah sangat penat untuk hari ini, jadi beristirahatlah dengan nyenyak.."
" Baiklah, bibi, terima kasih.."
Almira pergi meninggalkan mereka berdua dengan tawa diam-diam. Dia berhasil membuat rencana bagus, dan mungkin saja, sebentar lagi, dia bisa punya cucu.
Sementara di dapur dan meja makan, Yuna dan Jianan saling bertatapan. Jian tahu wanita ini punya kepribadian ganda. Bisa saja menjadi sehangat api, bisa juga sedingin es. Dia tahu, mungkin wanita itu sedang ingin sendiri, tapi bukannya mencoba mengerti Yuna, dia malah ingin tambah menggoda.
" Huaaaa... Aku ingin tidur sekarang, aku masuk dulu, ya.."
Jian meninggalkan Yuna sendiri di sana, dan beralih masuk ke dalam kamar Yuna. Dia tidak menutup pintunya, dan membiarkannya setengah terbuka.
Yuna memiringkan senyuman..
__ADS_1
Skip..
Beberapa saat kemudian..
Cklek..
Setelah sekian lama Jian menunggu, akhirnya Yuna masuk juga ke dalam kamar. Dia ternyata juga sudah mandi dan membersihkan diri di kamar mandi luar. Dia datang dengan mengenakan handuk sebatas paha, dan memperlihatkan sebagian tubuhnya yang putih mulus nan mempesona.
Jian yang tengah membaca majalah di atas tempat tidur, mendadak melirik tubuh itu dengan tidak sengaja. Hihihi.. Dia mulai tidak tahan.. Jianan mencoba acuh, dan kembali membaca majalah. Tapi matanya begitu nakal, dan tidak bisa sinkron dengan hatinya. Niat hati ingin berusaha acuh, tapi matanya malah bermain sendirian.
" Kamu sengaja menggodaku, ya.."
" Apa ?? Kenapa ?? Memangnya salah, ya memakai handuk setelah mandi ??"
" Bukan masalah handuknya, tapi kamu sendiri.." ( matanya membulat ).
Yuna melepaskan handuknya dan berbalik menatap Jian dengan tubuh yang begitu polos. Majalah di tangan Jian terjatuh. Dia membelalakkan matanya saat melihat godaan birahi yang begitu membius otaknya.
" Kenapa diam ?? Bukankah ini keuntungannya bisa tidur di kamarku ??"
Yuna mengunci pintu, dan berjalan mendekati Jian di atas kasur. Tubuhnya dia kungkungkan condong ke arah Jian, dan akhirnya dua wajah itu beradu sangatlah dekat.
" Hemm.. Yunaku memang sengaja menggoda, bukankah tadi kamu keberatan saat mendengar aku akan tidur di kamarmu ??" ( wajah mulai merah ).
Yang di bawah sana tidak bisa lagi dikendalikan. Jian semakin kewalahan.
Tahan dulu.. Hihihi..
" Saat bicara di depan orang lain, kamu harus tampil beda.. Kamu tahu, kan, saat aku sedang berusaha melawan, itu artinya aku hanya sedang pura-pura.."
" Jadi begitu, ya.. Maksud kamu, di depan ibumu tadi hanya sebuah topeng ??"
" Menyelamatkan harga diri memang lebih penting, tapi bagaimana kalau bisa mendapatkan keduanya, berpura-pura punya harga diri, dan bisa mendapat bonus besar ?? Masa iya, aku akan menyia-nyiakan itu.."
" Terserah, mau dengan cara apa ?? Mungkin butuh gaya baru untuk melakukannya. Apa kamu tidak mau melihat semua sisi milikku ??" ( menggoda ).
' Hemm.. Yunaku terlihat lebih berani.. Untung saja aku sudah meminta sopir pulang dengan alasan mobilku rusak, dengan begitu, bonus besar akan segera menjadi milikku...'
" Kenapa melamun ?? Masih tidak mau mulai rupanya.."
" Mau yang bagaimana ??"
" Yang pasti, aku mau yang lebih.." ( menggigit bibir ).
Emmuachh..
..........
Pagi hari..
Pukul 08.45.
Jian sedang memakai kemejanya dan berkaca diri di depan cermin. Pergulatan semalam membuatnya harus bangun siang, dan tidak sempat untuk melakukan yang kedua. Malam itu saja hampir satu malam penuh, bagaimana bisa dia akan melakukannya lagi..
Jian hendak mengancing kemejanya dengan kedua tangan, tapi mendadak Yuna datang dari luar dan membawa sebuah berita..
" Hai, sayangku.." ( sangat bahagia ).
Wanita itu berlari kecil menghampiri Jianan yang masih belum sempat mengancing bajunya. Yuna langsung memeluk tubuh ala atletis itu dengan senang.
" Yunaku, apa yang sedang kamu rayakan pagi ini ?? Kelihatannya senang sekali.."
__ADS_1
Yuna melepas pelukan, dan tersenyum ke arah Jian.
" Aku mendapat undangan kerja di sebuah perusahaan.." ( memberikan sebuah surat ).
" Hemm.." ( membaca ), " jadi begitu, ya.. Kalau begitu, kamu tidak jadi bekerja di tempatku.."
" Kenapa sedih ?? Bukankah kita bisa bertemu setelah selesai bekerja ??"
" Humm.. Aku perlu memikirkannya.."
" Ayolah, Jian.. Aku sudah lama menganggur, dan aku butuh uang untuk hidupku, bagaimana bisa kamu membiarkan aku kesusahan begini.."
" Siapa yang memberimu pekerjaan ini ??"
" Kakak ipar, dia diam-diam mengirimkan formulir pendaftaran lewat internet tadi malam, dan katanya mereka bilang kalau aku memenuhi syarat, mereka juga berpesan hari ini aku harus wawancara ke perusahaan itu.." ( sambil mengancingkan kemeja Jian ).
Sebenarnya itu kemeja Kak Azof, Jian hanya meminjamnya..
" Hemm.." ( menatap surat lagi ).
" Bagiamana ?? Boleh, ya.." ( memohon ).
" Mau aku izinkan ??"
Yuna mengangguk..
" Kalau begitu, buat aku puas pagi ini.."
Cup !?
" Ummhhh..."
Dan pagi itu akhirnya terjadi lagi..
Yang masih jomblo harap bersabar. Hihihi....
.......
" Nona, sepertinya sekarang kita punya teman baru.."
" Ah ?? Siapa dia ??" ( menoleh ).
" Dia adalah seorang ibu yang kehilangan anaknya, dan kemarin, dia baru saja membantu pembunuh itu bebas hanya karena hutang yang terlalu besar.."
" Benarkah ??"
' Hemm,, sepertinya menarik juga.. Aku sudah rela mengikuti dia sampai kesini, bagaimana mungkin aku bisa melepas Jian begitu saja.. Aku rasa menyingkirkan Yuna juga bukan masalah besar..'
.........
Pada saat yang bersamaan, terlihat juga seorang wanita yang baru saja turun dari pesawat. Dengan dua bodyguard yang kekar disampingnya, dia terlihat begitu angkuh dan selalu saja berjalan congkak..
Iya.. Sudah pasti Alishia. Bukankah kalian juga lihat di bab sebelumnya kalau dia akan turun langsung menjalankan rencana. Dia punya untung, perusahaan juga lebih untung.. Hihihi... Tapi apa mungkin usahanya akan berhasil ?? Apa dia juga akan menuruni nasib baik ibunya, yang menjadi orang ketiga, tapi hidupnya malah terjamin sekarang...
" Sudah pesan tempat tinggal ??"
" Sesuai perintah, Nona.."
" Ingat, yang dekat, dan kalau perlu kita harus menjadi tetangga.."
" Sudah kamu atur.."
__ADS_1
" Bagus.."