Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
# Kejutan di Rumah Baru


__ADS_3

Akhirnya satu pekan sudah berlalu. Jian sedang bersiap menuju bandara untuk penerbangannya ke kota M. Dia berjalan menuju mobil beserta dua asistennya. Satu laki-laki, dan satu lagi seorang perempuan.


Drrrtttt Drrrtt


Seseorang mencoba menghubunginya.


" Hallo.."


' Mr.. Kami sudah menyiapkan semuanya disini.. Bisa beri tahu kami kapan anda di perkirakan akan tiba disini ? Supaya kami bisa segera menjemput Mr saat sudah sampai..'


" Tidak perlu, Sanni.. Urus saja apa yang perlu kau urus.. Kerahkan saja sopirmu untuk menjemputku nanti. Akan aku beri tahu perkiraan kami tiba.."


' Baik, Mr..'


Menutup sambungan, lalu masuk ke dalam mobil untuk pergi menuju bandara.


' Apa aku benar-benar bisa menemukan Yuna nanti ?'


.........


" Jangan beritahu apapun pada siapapun tentang semuanya.. Karena kalau kau sampai membuka satu kata saja dari mulutmu, kau akan selesai di tanganku.." ( Bicara melalui telepon ).


Pukul 12.56.


Daniah mondar-mandir di kamarnya, mendengar rintihan Aurel dari seberang yang sangat menakutkan. Wanita itu bilang kepadanya, kalau akhir-akhir ini dia sering diancam dengan potongan rekaman cctv mereka saat di Rumah Sakit, dan saat dia sedang menyuruh seseorang untuk menyebarkan foto Yuna di media sosial..


Gawat !!


Semakin kesini, seluruh rahasianya semakin terbuka. Dia tahu ada campur tangan Jian di balik semua ini. Tapi bagaimana bisa dia yang sudah susah payah kabur dari tempat itu, kini malah mendapat percikan masalah itu lagi. Jangan sampai Yuna dan Demy tahu masalahnya, atau mereka berdua akan segera mengusirnya dari hidup mereka.


Dia akhirnya keluar kamar di rumah barunya. Rumah yang terletak di komplek perumahan para pengusaha yang memang mendirikan perusahaan di area itu. Rumah yang cukup besar, dan tidak lupa juga dengan pemandangan pantai yang begitu menawan. Demy dan Yuna sengaja memilih rumah itu untuk Daniah.. Mengingat wanita itu selalu ingin di tempat yang penuh panorama, dan memanjakan mata. Rasanya rumah ini cukup serasi dengan kepribadiannya yang ingin selalu terlihat menawan.


" Ibu.. Apa kau sedang sibuk ? Bisakah kau membantuku ?" ( Sibuk di dapur ).


" Tidak, sayang.. Ibu sedang tidak sibuk.." ( Menyembunyikan kecemasannya ), " memangnya perlu bantuan apa ?"


" Aku perlu kau mencicipi masakan buatanku, kalau dilidahku, rasanya agak asin.. Coba kalau ibu yang cicipi, apa rasanya juga seperti di lidahku ?"


" Baiklah.. Biasanya kau selalu masak dengan lezat, tidak mungkin juga rasanya akan asin.." ( Mencicipi ), " ummm.. Asin bagaimana ? Ini enak sekali.."


Yuna tersenyum, " benarkah ? Ibu tidak sedang membohongiku bukan ?"


" Untuk apa aku membohongimu ? Rasanya memang sangat enak !" ( Mengambil satu sendok lagi ), " umm.. ini sudah matang, kau boleh mematikan apinya.."


" Iya, terima kasih, ibu.."


" Mau masak apalagi ? Ini sudah sangat banyak. Apa kau ingin membuat perut kami melar nantinya ?"


" Ibu, biasanya kita makan bertiga.. Dan sekarang akan tambah tiga orang lagi, jadi porsinya juga harus nambah.."


" Menantu ibu ini.."


Yuna tidak menggubris mertuanya. Dia semakin sibuk saja. Mengutak-atik seluruh dapur dengan kedua tangannya, demi menciptakan hidangan yang cocok untuk menjamu ayah mertuanya nanti. Maklum saja.. Ini pertemuan pertama mereka sebagai mertua dan anak menantu.. Huff.


" Ibu akan menghubungi ayah Demy kapan mereka akan sampai.."


" Baiklah, ibu.. Tapi jangan sampai lupa, rumah belum selesai dibereskan.. Jika hanya mengandalkan asisten ibu, akan memakan waktu yang lama.. Lebih baik setelah ibu menelfon ayah, pergilah menata rumah.."


" Baiklah, menantu ibu yang cantik..." ( Mencubit pipi Yuna dengan gemas ).


Demy memperhatikan dari balik dinding. Senang sekali melihat keakraban ibu dan istrinya. Andai saja Yuna bisa mencintai dirinya, mungkin saja keluarganya akan lebih harmonis.


" Aww !! Ibu... Ini sakit sekali.." ( Mengelus pipinya ).


" Maaf, sayang.. Kamu semakin manis saat sedang marah.. Ya sudah, ibu akan menghubungi ayah dulu.." ( Berlalu pergi ).


Yuna hanya menggeleng sambil terus melanjutkan memasak. Tidak lama setelah itu, Demy datang menghampirinya. Mencoba mendekati Yuna secara pelan-pelan.


" Ehem."


" Kenapa kau datang ?" ( wajah datar ).


" Aku senang, meskipun kamu bilang kalau kamu sangat membenci aku, tapi perlakuan kamu terhadap ibuku, sangat baik.."


" Itu memang sudah seharusnya. Meskipun aku tidak pernah menganggap kamu suamiku, tapi ibu tetaplah orang tua yang harus dihormati. Jangan terlalu besar kepala, aku hanya menyayangi ibumu.. Bukan kamu..!!" ( Ucapan yang menohok ).


Demy mengangguk dengan perlahan, dia tahu wanita ini memang tidak akan pernah mencintainya.


" Pergi dari sini !! Kau mengganggu waktuku.."


Demy akhirnya berlalu pergi, setelah memastikan kalau dirinya memang tidak ada harganya.


........


Pukul 14.45.


Bandara daerah M bagian selatan.

__ADS_1


Jian sudah sampai. Benar juga ucapan Sanni, sekretaris cantiknya. Dia tiba setengah jam lebih cepat. Ini sangat membantunya mempersingkat waktu. Mengingat betapa padatnya jadwal mereka hari ini, termasuk jadwal mencari tempat tinggal Yuna.


" Mr.. Kami sudah menyiapkan mobil dan tempat tinggal sementara untuk Mr.." ( Sambil terus berjalan ).


" Bagus.. Aku juga ingin punya tim rahasia disini untuk menyelidiki tempat tinggal Yuna."


" Untuk soal itu, kami sudah mencari orang untuk mencari tahu keberadaan Yuna. Kami meminta orang itu untuk bekerja dalam perusahaan yang dibeli Tuan Zumi untuk Yuna. Dengan begitu, dia akan lebih mudah mengetahui semuanya tentang Yuna."


" Kerja bagus.. Antarkan saya ke rumah yang kau sewa.."


" Baik Mr.."


Pembicaraan telah selesai sesaat sebelum mereka akhirnya masuk ke dalam mobil dan melaju begitu kencang.


....


Beberapa jam sebelumnya, seseorang juga telah sampai di bandara. Mereka adalah Tuan Zumi dan Nyonya Tiansha yang baru saja tiba dari Amerika. Mereka berjalan dengan serasi saat keluar dari bandara. Mobil pribadi berwarna perak dengan mengkilat menjemput mereka, dan terlihat membawa mereka pergi ke suatu tempat.


Dan sekitar pukul lima sore, mereka akhirnya sampai di kediaman Daniah.


Ciiittt.


Mobil berhenti dengan gagah. Mulanya Zumi yang turun dari sisi kanan. Lalu setelah itu, Tiansha menyusulnya dari pintu sebelah kiri. Aura kemewahan sangat terlihat kala itu.


Daniah tersenyum di ambang pintu. Dia sangat merasa bangga karena suaminya bisa membawa Nyonya pengusaha untuk berkunjung ke rumah barunya. Sebenarnya, dia tidak tahu petaka apa yang akan menimpanya nanti.


Mereka bertiga melempar senyuman untuk menyambut kehadiran para tamunya.


" Suamiku..??" ( Memeluk Zumi dengan mesra ), " aku sangat merindukan dirimu, sayang.."


Zumi melepas pelukan. Daniah tidak terlalu berpikiran aneh kala itu. Dia tahu kalau suaminya sedang merasa penat karena perjalanan yang memakan waktu cukup lama. Ditambah lagi ada rekan bisnisnya disini. Dia pasti merasa tidak enak hati.


" Halo Nyonya.." ( Yuna juga menyapa Tiansha ).


Namun sayang, sepertinya Tiansha bukanlah orang yang ramah. Dia tidak menjawab sapaan itu sama sekali. Bahkan menatap mata Yuna pun tidak.


" Kau tidak mempersilahkan kami untuk masuk ?" ( Nada cuek ).


" Tentu saja kami menawarkannya. Kau ini.. Mari kita masuk !! Menantuku sudah memasak berbagai olahan lezat hanya untuk menyambut kedatangan kalian.."


" Aku akan menunggu anakku dulu.." ( Nyonya Tiansha ).


Tak lama setelah itu, sebuah mobil mewah dengan harga yang lumayan fantastis terlihat memasuki gerbang rumah.


" Itu anakku.."


Seseorang terlihat turun dari mobil tersebut dengan wajah sombongnya. Itu Nona Alishia.


" Hallo, ibu ."


" Hallo, sayang.. Apa kau senang disini ?"


" Tidak terlalu juga, aku lebih suka tinggal di Amerika.. Tempat ini terlalu kecil untukku.."


' Huhh. Gadis sombong ini lagi.'


" Aaa.. Baiklah.. Kita lanjut bicara nanti saja di dalam.. Benarkan, menantuku ?" ( Menoleh arah Yuna ).


" Benar, ibu.."


" Baiklah.. Mari !! Kita masuk !!" ( Zumi mempersilahkan Tiansha untuk masuk ).


Skip..


Ruang tamu..


" Silahkan nikmati minuman kami.."


Daniah menawarkan mereka minum, usai seorang pelayan terlihat menjamu mereka.


Tiansha menyeruput minumannya.


" Daniah.. Apa ini rumah barumu ?"


" Iya, Nyonya. Saya tahu, rumah ini tidak terlalu besar. Tapi aku rasa ini cukup untuk tinggal berdua dengan suamiku.."


" Daniah, aku datang ingin memberitahu suatu hal.."


Drrrttttt Ddrrrtt ( Ponsel Daniah berbunyi ).


" Tunggu sebentar sayang.. Aku angkat telepon dulu.." ( Mengangkat telepon ), " hallo, apa semuanya sudah beres ?"


' Iya, Nyonya.. Kami sudah berhasil menjual semua aset nyonya disini.. Selanjutnya, uangnya akan kami transfer ke dalam rekening milik Tuan Zumi..'


" Kenapa ? Apa rekeningku sudah penuh ?"


' Tidak Nyonya. Rekening anda sudah tidak bisa lagi dipakai.. Tuan Zumi yang sudah memblokirnya..'

__ADS_1


" Apa ????" ( Daniah terkejut ).


Zumi hanya terdiam membisu. Membiarkan istrinya mengetahui semuanya sendiri.


" Baiklah.. Aku akan menghubungimu nanti.."


Mematikan sambungan telepon.


" Zumi.. Maksud kamu apa ?? Kenapa kamu memblokir kartu ATM milikku ? Lalu, kamu meminta para bawahanku disana untuk mentransfer semua uang hasil penjualan asetku ke dalam rekeningmu.." ( Mulai bingung ).


" Memangnya kenapa kalau Zumi memblokirnya ?" ( Tiansha angkat bicara ).


" Nyonya ??" ( Semakin bingung ).


" Asal kamu tahu saja.. Setiap kali ada uang masuk dalam rekeningmu, semua itu aku yang mengirimnya.. Jadi, aku berhak minta Zumi untuk memblokirnya semauku.."


" Maksud Nyonya ??"


" Aku perkenalkan !! Ini adalah Nyonya Tiansha, istriku, dan Alishia, anak kandung kami.." ( Wohowww ).


" Apa ???" ( Berdiri dari sofa karena terkejut ), " is-istri ??? Dan. Anak kan-kandung katamu ??" ( Wajah tidak percaya ).


" Iya. Mereka adalah keluargaku di Amerika.."


" Keterlaluan kamu, Zumi !!!!!!! Kau sudah mengkhianati aku rupanya.. Ternyata selama ini, kau sudah membohongi kami !!!!!" ( Ekspresi marah ).


Demy dan Yuna yang tidak tahu apapun mengenai ini hanya terdiam dan terlihat begitu terkejut. Apalagi Demy yang posisinya tidak tahu sedikitpun mengenai hali ini.


" Tidak.. Tidak mungkin... Ba-bagaimana kalian.. Bisa melakukan ini padaku ?? Bahkan gadis ini ???"


" Aku sudah bilang.. Namaku Alishia.. Apa kau tidak dengar ???"


" Dasar wanita murahan !!!!!" ( Menjambak rambut Tiansha ).


" Aaawwww.. Aduhhhh.. Mas...??? Tolong.. !!! "


" Ibu !!! Hentikan ini !! Ibu !!!!" ( Demy mencoba melerai ).


" Dasar biadab !!! Wanita murahan !! J****g busuk !!! Kau sudah merebut suamiku !!!!! Makan akibatnya !!!"


" Aww !! Mas sakit !!!"


" Daniah, cukup !!!!!!!" ( Zumi membentaknya ).


Daniah berhenti dari aksi gilanya, lalu beralih menatap Zumi dengan tajam. Zumi melihat sorot mata yang sangat merah itu. Dia tahu, di dalamnya ada rasa kecewa dan amarah yang begitu besar kepadanya.


" Apa kau membela wanita ini ???"


" Iya... Aku membela Tiansha."


Daniah menggelengkan kepalanya. Dia tertawa keras, lalu...


Plakkk !!!


Tamparan keras mendarat dengan sempurna di pipi Zumi.


" Dasar lelaki iblis !!! Biadab !!!!"


" Jangan mengataiku seperti itu.. Apa kau lupa ??? Apa yang sudah kau lakukan beberapa bulan ini ??"


" Apa ???"


" Hal yang sangat memalukan bagiku.. dan kau malah mengatakan kalau aku laki-laki iblis ??? Lalu apa bedanya dengan kamu ?? Hahh ??"


" Apa maksud ucapanmu ??"


Zumi melempar beberapa dokumen keuangan yang dia terima dari seorang karyawan bekas perusahaan yang dia percayakan untuk di pegang Daniah.


" Apa ini ??"


" Kau sudah menggelapkan uang beberapa milyar dari perusahaan kita. Apa kau masih mau menyangkal ? Aku sudah membawa beberapa bukti tuduhan itu.. "


" Apa ?? Ayah.. Jangan menuduh ibu dengan sembarangan. Ibu tidak akan mungkin melakukannya."


' Sial !! Bagaimana Zumi bisa tahu hal ini ? Aku memang sudah menggelapkan uang perusahaan senilai satu milyar untuk membayar orang-orang itu..'


" Ibu.. Katakan padaku, itu tidak benar.." ( Demy memohon ).


" Tentu saja tidak.. Ayahmu ini sedang mengarang cerita.. Bagaimana mungkin ibu akan melakukan semua itu ? Ini hanya rencana ayahmu untuk menutupi aibnya sendiri.. Dia pulang dengan membawa istri baru dan anaknya. Kau pikir dia tidak butuh bumbu untuk mempermudah perceraian kami, Nak ??"


Demy menatap wajah ayahnya dengan murka. Ingin sekali memukul wajah itu dengan tangannya sendiri.


" Ayah keterlaluan !!!"


" Kau boleh percaya padaku atau tidak pun, tidak masalah.. Ayah hanya meluruskan saja.. Ayah memang membawa istri dan anak ayah, tapi bukan berarti mereka yang menjadi alasan ayah untuk menjatuhkan ibumu.. Ini sudah pernah terjadi dalam perusahaan yang lain dari dulu. Hanya saja ayah selalu memaafkan perbuatan ibumu.. Tapi sekarang, ayah tidak mau lagi memaafkannya. Kesabaran ayah sudah habis.."


" Kau memang seorang pendosa !!!! Walau begitu, kau malah dengan mudahnya melempar kesalahan pada orang lain untuk menutup semua dosamu.."

__ADS_1


" Dia tidak berdosa !!! Dia sudah memberi ibumu kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.. Tapi semakin hari, kelakuan ibumu malah semakin menjadi.. Dengan terpaksa kami harus memberi ibumu pelajaran.."


Yuna masih terdiam mematung di samping Daniah. Pertengkaran ini sungguh membuatnya semakin bingung..


__ADS_2