
Tiansha sedang duduk termenung menatapi setumpukan alat make up di meja riasnya. Sungguh, dia tidak bisa berbohong, pandangannya sebenarnya sedang kosong. Dia bahkan tidak bisa mengelak kalau laki-laki itu selalu membayangi pikirannya.
Tek Tek.
Suara jemarinya yang terus mengetuk muka nakas di kamar itu. Entah kenapa dia merasa sangat bimbang..
Flashback on !!
" Tuan, meskipun kami sudah mengetahui latar belakang anda, tapi kami sama sekali belum tahu pasti tentang anda lebih dalam.."
" Untuk apa ingin tahu.." ( minum teh ).
" Tidak, bukan apa-apa, kami hanya ingin mengenal tuan lebih jauh saja.." ( mencoba lebih dekat ).
" Hhh.." ( meletakkan cangkir di meja ), " aku punya latar belakang keluarga yang begitu buruk, dan tidak ada yang bisa aku ceritakan."
" Mm ?? Maksud Tuan ??" ( Alishia penasaran ).
" Aku punya seorang ibu yang tidak bisa aku banggakan.. Hanya itu saja, selain itu, aku tidak punya cerita.."
' Lagipula tidak ada gunanya bicara, kamu sudah aku lupakan dalam otakku..'
" Begitu, ya. Maaf kami tidak sengaja menyinggung perasaan kamu.."
" Ya sudah, bicara yang lain saja.." ( Zumi mencairkan suasana ).
" Emm.. Bagaimana kalau soal teman hidup ??" ( Tiansha begitu terburu-buru ), " apa kamu sudah punya..."
" Aku sudah punya calon istri.. Dan kami akan segera menikah.."
" Ah ? Wahh.. sayang sekali tadinya, kami berniat membuat tuan dengan anak kami lebih dekat, bagaimana kalau kalian saling mengenal dulu ?? Sepertinya tidak ada salahnya, lagipula wanita itu barulah calon istri, belum sah menjadi istri tuan Jianan.. Siapa tahu tuan berubah pikiran.." ( Zumi sangat berani ).
' Menawarkan anak pada laki-laki kaya ?? Apa anak ini tidak laku ??'
" Hemm.. Sayang sekali tuan Zumi, saya tidak tertarik dengan wanita lain.."
Kreakk..
Bangun dari kursi..
" Tuan mau kemana ?? Acara makan malam kita bahkan belum selesai.."
" Menurutku sudah, jika kalian ingin menawarkan putri kalian lagi, maka jangan harap masih ada acara makan malam seperti ini lagi.."
Tap tap tap..
Suara langkah itu terdengar sangat jelas keluar dari ruangan, membuat semua orang yang berada di sana merasa kesal.
" Menawarkan putri kami ?? Apa itu salah ??" ( Kesal ).
" Tidak punya sopan santun begitu, mana bisa diangkat sebagai menantu.."
Zumi beranjak juga dari sana usai mengungkapkan pendapat.
' Hhh.. ini tidak boleh terjadi, bagaimanapun juga, Jian harus bisa menjadi milikku..'
Menyatukan gigi.
Sekarang mendadak tidak ingin lagi mengangkat Jian sebagai menantu. Tapi sebaliknya, laki-laki itu sudah mengingatkannya tentang anak sembilan tahun yang berpuluh-puluh tahun lalu dia tinggalkan di sisi rel. Apa dia masih hidup ??
Hhh..
Jika dipikirkan, tentu saja membuat Tiansha tidak nafsu makan. Sepertinya dia memang harus mencari tahu kebenarannya..
" Hallo.. Cari data pribadi tentang Tuan Jianan, gali juga informasi mengenai masa lalu ibunya.."
...
" Mau mengajak aku kemana pagi-pagi begini sudah dijemput ??"
Pukul 08.13.
Jian sudah berada di depan rumah Azof sedari tadi. Bahkan dia berinisiatif mengajak Yuna berjalan-jalan sejak kemarin. Sebenarnya ingin bercerita banyak tentang makan malam tadi.
" Apa tidak mempersilahkan aku masuk ??"
" Ini rumah kakakku, bukan rumahku, masuk atau tidaknya, ya, terserah kakak saja.."
" Hemm, kalau begitu, aku tunggu diluar saja.."
" Tidak, tidak, aku hanya bercanda.. Masuklah, dan tunggu aku di dalam, kebetulan kak Azof belum berangkat kerja.."
" Baiklah.."
Mereka berdua masuk ke dalam sana..
" Jianan, ya ?? Wah.. Calon menantu keduaku sudah datang.. senangnya, ayo duduk dulu.."
Entah darimana ibu cerewet ini datang..
__ADS_1
" Azof.. ada calon adik ipar datang ?!!!!"
" Hhh.. Ibu ini sungguh berlebihan.." ( mengalihkan pandangan ), " mau minum apa ?? Apa kau aku buatkan teh ??"
" Apapun yang Yunaku buat.." ( tersenyum ).
" Ayolah, jangan bertingkah seperti itu kalau sedang bersama ibu, rasanya sedih sekali.."
" Baiklah, akan aku buatkan.." ( menuju dapur ).
Tap tap tap tap..
" Calon adik ipar rupanya ." ( meledek ).
" Cihh.. Yang baru keluar dari penjara rupanya sudah semakin banyak tingkah.."
" Sedang meledek, ya.." ( duduk ).
" Bagaimana lagi ?? Tanpa Jian kamu memang belum bisa bebas.."
" Begitulah tugas adik ipar, selalu ada disaat kakaknya sedang dalam masalah.."
" Apa sudah mulai bekerja ??"
Menyulut rokok dan menghisapnya..
" Ssshhh.. Sudah.."
Woshh..
" Maaf merokok di depan kamu, aku tahu kamu menghindarinya, tapi apa boleh buat, aku tetap seorang pria.."
" Jangan sungkan, aku tidak merasa terganggu.."
" Ini tehnya.. Kakak mau kopi ??"
" Kopi dengan camilan yang manis akan sangat menyegarkan pagiku, ambilkan.."
" Baiklah, tunggu sebentar.." ( kembali lagi ke dapur ).
" Jian, kapan kamu menikahi Yuna ?? Ibu sudah ingin punya dua menantu.."
" Secepatnya ibu, untuk apa menunda lagi, kita akan segera memberitahu ibu kalau sudah menemukan tanggal yang baik.."
" Baguslah, ingat, ya.. Kalau bisa di gedung yang mewah dan berkelas, anak ibu sudah pernah menikah satu kali di gedung mewah, dan kali ini kamu harus menandingi kekuatan si Demy itu.."
" Tapi tidak bisa begitu, Yuna.. Menikah dengan pria pilihan kamu, bukankah harus lebih baik dari pernikahan terpaksa dulu.."
" Aku tidak mau yang mewah, cukup untuk keluarga kita saja, aku sudah sangat senang.. Yang penting, kan, Yuna menikah dengan orang yang tepat.."
' Hemm.. Aku merasa senang..'
" Kenapa menatap aku seperti itu ??"
Menyadari ada tatapan aneh dari Jian..
" Tidak, siapa yang sedang menatap kamu ??"
" Hhh.. Bilang saja kalau kalian malu bertatapan di depan kami.."
" Ibu ini terlalu cerewet. Dimana Hani ??"
" Dia sudah pergi pagi-pagi sekali, katanya ada masalah perusahaan, jadi dia belum sempat berpamitan dengan kamu.."
" Begitu, ya.. Apa dia sudah sarapan ??"
" Dia hanya membawa sepotong roti saja dan memakannya sambil berjalan.."
" Kalau terus mendengar perbincangan keluarga besar ini, aku jadi tidak bisa keluar dengan calon suamiku.. Ya sudah, Jian, aku akan mengganti bajuku dulu, tunggulah sebentar ya.."
" Baik, aku akan menunggu kamu.."
Yuna dengan santai mulai berjalan menuju lantai atas untuk bersiap-siap. Maklum saja, acara jalan-jalan kali ini tidak dirancang sebelumnya, jadi dia belum melakukan persiapan apapun pagi ini.
.....
" Kita akan kemana ??"
Pertanyaan pertama kali usai masuk ke dalam mobil.
" Kamu sudah bilang bersedia menikah denganku meski belum mendapat pekerjaan.."
" Lalu ??"
" Kita harus bersiap mulai sekarang.."
" Mau mulai darimana dulu ??"
" Aku sudah bicara banyak dengan bibi Almira, dan dia sudah menetapkan tanggal yang baik untuk kita berdua.."
__ADS_1
Memegang tangan.
" Oh ya ? Kapan waktunya ??"
" Satu bulan lagi.."
" Apa ?? Apa tidak terlalu cepat ??"
" Memangnya mau yang lebih lambat.."
" Bukan, maksudku, kan, menikah juga harus mengurus banyak hal.. Apa satu bulan tidak terlalu tergesa-gesa ??"
" Aku punya banyak tangan untuk membantu kita mengurusnya, jangan khawatir.."
" Hemm, baiklah.."
" Aku akan mengajak kamu memilih gaun pernikahan kita nanti.."
" Baiklah, berikan aku gaun yang agak sedikit terbuka, ya.."
" Apa ?? Tidak !! Aku tidak setuju.." ( menjalankan mobil ), " meskipun hari itu akan sangat membahagiakan, tapi tetap saja kamu tidak boleh terlihat seksi di depan para tamu undangan.."
" Kamu ini begitu cemburu.. Kenapa aneh sekali setiap melihat CEO arogan yang sedang cemburu ini ?? Rasanya begitu lucu.. hehe.." ( terkekeh ).
" Lucu apanya ?? Jelas-jelas aku sedang menyelamatkan kamu supaya tidak terlihat menggoda di depan laki-laki lain.."
" Iya, aku tahu.."
Jian terlihat fokus ke depan..
" Hari ini kamu aneh.."
" Aneh kenapa ??" ( tetap memandang ke depan ).
" Ada yang ingin kamu bicarakan padaku.. iya kan ??"
" Iya.. Semalam aku makan malam dengan keluarga besar.."
" Apa ??" ( terkejut ), " dengan ibumu ??"
" Iya.."
" Apa mereka sudah tahu siapa kamu ??"
" Belum, lucunya lagi, Tuan Zumi melamar aku untuk menjadi suami anaknya.."
" Apa ??" ( tertawa ).
" Jangan berlebihan.." ( mengusap kepala Yuna ).
" Lucu sekali.. Lalu apa jawaban kamu ??"
" Tentu saja tidak !! Apalagi jawaban selain itu.."
" Hemm.. Apa nyonya Tiansha benar tidak curiga atau mengingat kamu sama sekali ??"
" Entahlah, suasana hatiku sedang buruk, jadi kita bahas hal lain saja hari ini.."
" Baiklah, aku mengerti.."
Drrrttt Drrtttt
Ponsel Yuna berbunyi.
Mengambil ponsel..
Membaca..
'Nomor tidak dikenal..'
" Dari siapa ??"
" Aku tidak tahu, nomor tidak dikenal.."
" Angkat saja dulu, tenanglah, aku bersamamu.."
" Baik.."
Mengangkat..
" Hallo.."
' Hallo..'
" Dengan siapa ini ??"
' Nyonya Tiansha..!!'
Deg !!!
__ADS_1