
"Bagaimana bisa ada wanita yang datang mengancamku menggunakan Jian? Dan dia memintaku untuk menikahimu jika ingin Jian selamat? Apa itu alasan yang masuk akal? Sedangkan kau sendiri tidak tahu apapun mengenai permasalahan ini. Aku yakin wanita ini berada di pihakmu, bukan?"
"Apa? Kenapa kau sampai punya pemikiran yang dangkal seperti itu? Kenapa kau selalu menuduhku? Aku sudah mengatakan semuanya padamu kalau aku tidak mengetahui apapun."
"Tapi bagaimana bisa semua menjadi sekacau ini? Pasti ada yang sudah ikut campur dalam permasalahan kita berdua."
"Mungkin saja."
"Tapi dilihat dari perkataan dan ancamannya padaku, sepertinya dia ada dipihakmu, Demy. Aku yakin itu !!"
"Kau menuduh aku lagi? Apa kau pikir aku akan melakukan hal serendah itu demi mendapatkan cintamu?"
"Bisa saja. Bukankah kau tidak pernah bisa berpikir dewasa dan hanya menuruti keinginanmu sendiri?" ( Tatapan Yuna dengan curiga ).
"Aku tidak pernah punya pemikiran seperti itu. Asal kalian tahu saja."
"Sudahlah! Apa yang sedang kalian ributkan?"
Almira memilih terbangun dari Sofanya karena merasa tidak nyaman dengan pertengkaran mereka berdua.
"Jika memang kau tidak melakukan apapun, mengapa kau terlihat begitu cemas? Aku sudah tahu dia bukan orang bayaranmu. Tapi sudah jelas wanita itu bekerja dengan seseorang yang ada di pihakmu."
"Kali ini aku setuju dengan, Ibu." Yuna mendukung ibunya.
"Apa maksud kalian? Orang di pihakku? Apa maksud kalian dia orang terdekatku?"
"Iya, Demy!! Kenapa kau begitu bodoh? Seharusnya kau bisa mencurigai salah satu orang di sekitarmu!"
"Curiga dengan siapa? Aku pikir semuanya terlihat normal."
"Hei bodoh!! Apa kau tidak pernah berpikir? Bisa saja orang itu pura-pura untuk tidak terjadi apa-apa saat didepanmu." ( Agaknya Almira semakin geram ).
"Entahlah, Ibu! Aku merasa sangat muak pada laki-laki ini."
"Tidak ada yang patut dicurigai di rumahku. Semua terlihat normal dan tidak ada yang aneh. Kalian jangan terus-terusan memojokkan aku disini. Hanya karena kau merasa tidak nyaman dengan pemberitaan dan ancaman, kalian seenaknya saja menuduhku seperti itu."
Yuna mendengus kesal. Tangannya di sembunyikan dalam saku Hoodie merah jambunya. Dia tengah berpikir keras. Namun belum saja ia mulai berpikir, seseorang di balik nomor itu malah memberinya sebuah pesan. Dia tercengang melihat sebuah video yang menampakkan wajah Jian di sana. Bagaimana tidak. Sebuah tangan wanita yang begitu cantik terlihat memegangi pisau yang terlihat begitu tajam. Ia terlihat menggesekkan benda itu tepat di pipi Jian. Lalu tak lama setelah video itu, datang lagi sebuah pesan. Kali ini agak panjang isinya.
'Apa kau pikir aku akan membiarkanmu menolak rencanaku? Pikir saja! Lebih baik kau menikah dan mengiyakan pemberitaan itu pada media, atau laki-laki ini akan mati di tanganku!!'
Dengan cepat Yuna membalas. Tangannya bergetar hebat. Air matanya mulai terlihat menetes. Dia begitu takut. Dua orang di sampingnya hanya menatapnya penasaran. Apa yang sebenarnya wanita itu katakan, mereka sama sekali belum tahu.
Percakapan lewat pesan.
'Katakan padaku, siapa dirimu, dan apa untungnya bagimu jika aku mengiyakan pemberitaan itu pada media?'
'Kau hanya penghalang jalanku, Yuna!!'
'Apa maksudmu penghalang jalanmu?'
'Turuti saja apa yang aku mau, dengan begitu Jian yang terhormat akan selamat.'
__ADS_1
'Apa kau pikir para bodyguard Jian akan diam saja? Mereka pasti akan menghabisimu lebih dulu.'
Wanita itu terlihat mengirim sebuah foto yang sangat mengejutkan.
'Maksud kamu mereka?'
Yuna ternganga. Para bodyguard yang bertubuh kekar itu nyatanya sudah telak di tangan wanita itu. Mereka semua sudah diikat. Dan nampaknya mereka tengah disekap di dalam bangunan terbengkalai. Oh tidak!! Bagaimana ini? Bagaimana nasib Jian dan juga dirinya?
'Kenapa kau melakukan semua ini padaku?'
'Apalagi kalau bukan semua yang kamu miliki. Dan ingat!! Jangan libatkan polisi dalam masalah ini!! Orang suruhanku begitu banyak. Dan mereka tidak segan membunuh polisi yang datang. Jika kau melibatkan mereka, pisau ini akan segera menembus organ dalam Jian.'
Yuna terpuruk di atas lantai. Begitu berat cobaan yang dia hadapi. Rupanya kejadian itu telah mengundang banyak simpati. Tapi juga banyak yang memanfaatkan kejadian itu untuk keuntungannya sendiri. Tunggu!! Apa dia bilang semua yang dia miliki? Apa mungkin orang itu juga menjejaki dunia entertainment seperti dirinya?
Yuna mulai berpikir. Ia mencari tahu dalam beberapa artikel tentang beberapa artis yang terkenal membencinya. Ia terkejut. Rupanya banyak juga yang membencinya karena dia begitu terkenal. Ada beberapa nama yang terlihat dari deretan itu. Dan hal itu membuat dirinya semakin bingung. Apa mungkin orang yang berusaha mengancamnya itu merupakan salah satu dari mereka?
"Apa yang kau cari?"
"Ibu, dia bicara padaku tentang ketenaran. Mungkin saja orang itu menjejaki dunia entertainment sama sepertiku."
" Apa maksud kamu dia sainganmu?"
"Jadi maksudnya, orang itu berusaha mengambil kesempatan ini untuk menjatuhkan dirimu, begitu?"
"Iya, Demy. Dan mungkin saja yang menyebarkan gosip itu adalah dirinya."
"Aku sudah mengerti sekarang. Rupanya dia iri dengan ketenaranmu dan dia berusaha menjatuhkan dirimu dengan menyebarkan gosip itu."
"Iya. Dia mengatakan padaku kalau dia akan membunuh Jian jika aku tidak mengakui kebenaran gosip itu. Hhh."
Sejujurnya hati Demy bertanya-tanya. Jika orang itu memang berasal dari dunia entertainment, lalu siapa orang itu? Seingatnya dalam rumahnya tidak ada yang menjejaki dunia itu. Lalu siapa yang telah mengirim foto-foto Yuna kepadanya? Akh!! Situasi ini tidak ubahnya sebuah teka-teki.
'Cklek!'
Tiba-tiba seseorang datang dari luar. Rupanya Manager Harry yang datang. Orang itu nampaknya sudah sangat cemas akan pemberitaan ini.
"Pak Manager?" Tanya Yuna dengan ekspresi berharap.
"Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi disini?"
Lelaki berusia hampir lebih dari enam puluh tahun itu beralih menatap Demy. Tatapannya berubah menjadi kemarahan dalam sekejap.
"Kau?? Kenapa kau malah datang kesini?? Apa kau belum puas sudah menghancurkan karier Yuna? Dasar tidak tahu malu!!"
"Bukan begitu, Pak!"
Yuna berusaha menenangkan situasi.
"Kau harus tahu! Kami tidak melakukan apapun malam itu. Aku hanya tertidur di sampingnya karena merasa sangat lelah hari itu. Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu kemarin?"
"Menjelaskan apa? Aku tidak paham apa yang sudah kau tulis dipesanmu. Lebih baik kau jelaskan lagi padaku saat ini. Apa yang sebenarnya kalian lakukan malam itu!"
__ADS_1
"Kami tidak melakukan apapun."
"Benar, Pak! Kami tidak melakukan apapun malam itu. Kami bertengkar hebat dan akhirnya saling minta maaf. Kondisi Demy yang sudah tidak tidur di malam-malam sebelumnya membuat dia terasa mengantuk. Dan akupun begitu. Hari-hari yang begitu penat membuat mataku terasa berat, dan akhirnya kita tertidur bersama di sana."
Yuna berusaha panjang lebar menjelaskan semuanya pada Harry. Pria itu akhirnya mengangguk juga. Dia sudah mengerti alurnya. Dan baginya semua itu hanyalah sebuah kesalahpahaman saja.
"Baiklah jika begitu. Aku akan mencoba menjelaskan semuanya pada media."
"Tapi bukan hanya itu masalahnya. Jika kau berusaha menjelaskan semuanya pada media, nyawa Jian akan terancam."
"Apa maksud ucapanmu kali ini? Kenapa kau membawa nama Jian, juga?"
Yuna memberikan ponselnya pada Manager Harry. Dia meminta pria itu membaca sebuah pesan dari orang misterius tadi. Harry pun ikut tercengang.
"Bagaimana bisa ada seseorang yang mengancam dirimu seperti ini?"
"Entahlah. Kami berpikir mungkin saja orang itu adalah seorang artis kenamaan yang merasa tersaingi oleh kehadiranku di dunia entertainment. Itu yang ada dipikiranku."
"Tapi siapa yang kau maksud disini?"
"Aku juga tidak tahu. Aku hanya punya pemikiran seperti itu."
"Hhh. Ini benar-benar situasi yang gawat. Lalu apa keputusan yang akan kau ambil?"
Yuna menggeleng bingung. Bagaimana ia harus mengambil keputusan? Apa dia harus menikah dengan Demy? Tapi ia sama sekali tidak mencintai laki-laki itu. Tapi apa dengan menolak pernikahan itu Jian bisa selamat? Akh!! Tentu saja itu tidak akan mungkin.
"Menikah saja denganku!!!"
"Apa?"
"Menikahlah denganku! Kau akan membebaskan Jian dari ancaman itu. Dan setelah menikah, kau boleh saja jika tidak menganggapku. Ini demi keselamatan Jian, Yuna!!"
"Apa kau sedang menggunakan kesempatan dalam kesempitan ini, Demy?"
Tentu saja Almira bertanya hal demikian. Semua orang disana juga berpikir seperti itu. Mengingat semua masalah ini disebabkan keinginan Demy yang begitu memaksa ingin menikahi Yuna.
"Jangan salah paham, Bibi. Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ingin menyelamatkan sahabatku."
"Tapi bagaimana dengan nama baik Yuna? Jika kalian menikah, itu berarti Yuna harus mengakui gosip miring itu, bukan?"
"Tidak apa-apa, Ibu! Memang itu yang diharapkan mereka bukan ?? Aku tahu. Jian mungkin akan selamat setelah aku menuruti kemauan mereka." Yuna menghentikan ucapan ibunya, " bagiku kehilangan karier bukanlah suatu masalah.." ( Wajah sedih ).
" Tidak !! Jangan lakukan apapun, Yuna.. Ibu mohon.."
" Ibu.. Harus ada yang berkorban disini. Kalau bukan Jian, berarti aku yang harus mengalah.."
" Menikah itu bukan urusan yang mudah. Jangan main-main soal pernikahan Yuna.."
Yuna tidak menjawab. Otaknya berputar-putar berusaha mencari jalan keluar. Tapi rasanya semuanya sudah buntu. Ia tidak sadar kalau kakaknya juga bekerja disana. Seharusnya dia tidak mengambil keputusan secara terburu-buru.
" Ibu... Meskipun aku tidak mengakui semuanya pada media, apa mereka masih akan mempercayai aku ? Aku rasa tidak.. Berita itu sudah terlanjur menyebar. Bagaimanapun aku menepisnya, tanpa bukti apapun aku tidak akan mampu. Malah mungkin saja hal itu akan semakin membahayakan nyawa Jian." ( Menggenggam tangan Daniah ), " sebelum semuanya terlambat, aku harap kau mengizinkan aku untuk berkorban. Untuk kali ini saja.."
__ADS_1
Daniah menangis. Dia tak kuasa menahan kesedihan yang begitu mendalam. Kali ini dia tidak mampu lagi mencegah Yuna. Anak kebanggaannya sudah memutuskan jalannya sendiri. Bagaimana ia bisa menolak kesayangannya itu.
Keputusan Yuna telah disetujui. Dia mencoba untuk mengakhiri penderitaan Demy, juga Jian. Tapi apa mungkin dia akan bahagia dengan keputusan yang dia ambil kali ini? Sejujurnya Yuna terlalu cepat mengambil langkah. Dia terlalu mengkhawatirkan Jian, hingga dia tidak sadar kalau dia sebenarnya masih bisa mengambil jalan pintas lain tanpa harus menikahi Demy.