
Jian sedang berusaha untuk memejamkan matanya malam ini. Otaknya selalu saja terbayang wajah Yuna yang semakin terlihat menderita saat ditemuinya tadi di bandara. Dia bahkan tidak tahu kalau kalau sebenarnya masalah Yuna belum usai.
Jian memutuskan untuk bangun saja. Dilihatnya ponsel di atas meja, dan melihat sebuah pesan yang datang dari Sanni.
' Mr.. Perusahaan Nona Yuna sudah menyetujui kerja sama kita..'
' Taruh saham kita 20% !!'
' Baik !'
Jian kembali termenung. Kali ini dia putuskan untuk berjalan ke arah jendela tempat favoritnya saat sedang merasa rindu sosok Yuna. Sebenarnya, ia juga masih belum bisa melupakan Yuna dari segi manapun. Dia bahkan merasa wanita itu sudah sangat membuatnya terikat. Dan itu sangat menyusahkan.
..........
Di rumah Almira, Yuna juga tidak bisa tidur sama sekali. Ruangan yang tidak terlalu terbuka di kamar lamanya, memang agak membuatnya merasa pengap. Dia membuang selimutnya jauh, lalu mencoba membaca buku dimeja. Dia menyalakan televisi di kamarnya, dan kemudian berbaring sambil membaca buku cerita.
Tapi hatinya tetaplah gundah. Dia sadar pikirannya sudah terbagi menjadi dua. Yaitu Jian dan Demy. Dia memikirkan bagaimana keadaan Demy sekarang, dan dia juga memikirkan alasan Jian terlihat baik-baik saja di bandara tadi.
' Apa Jian memang sudah bisa melupakan aku ?'
Dia menutup matanya. Perlahan mencoba menghilangkan dua wajah pria yang selalu asik menari-nari diotaknya. Tapi gagal. Ia bahkan semakin dalam memikirkannya. Dia tahu pemikiran tentang Demy hanya sebuah kecemasan. Tapi kalau Jian... Arkh !! Dia bahkan tidak pernah bisa lupa sedalam apa cintanya untuk Jian, yang sama sekali tidak bisa diungkapkan. Kacau !!
Berulang kali mencoba untuk tidur, rupanya dia menyerah. Matanya memang sesekali terpejam. Tapi otaknya tidak mau. Dia bahkan hampir gila dibuatnya. Dua laki-laki tampan itu sangat mengganggu hidupnya.
Dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan membuat secangkir kopi untuk diri sendiri. Setidaknya jika tidak bisa tidur, maka harus ada yang dia kerjakan. Dia juga ingin melupakan dua laki-laki itu walau hanya satu malam bukan ??
' Tap! Tap!'
Langkah kakinya terdengar jelas menuruni tangga menuju dapur. Seluruh ruangan sudah sepi dan agak gelap karena semua orang sudah tertidur. Dia menyalakan lampu di ruang tengah dan dapur, lalu beralih membuat kopi.
Beberapa menit kemudian, kegiatannya usai. Dia membawa secangkir kopi dan camilan ke depan tv. Dia meletakkan kopinya di atas meja, dan beralih menyambar remote untuk menyalakan televisi. Duduk !
Dia ingat sudah meninggalkan pesan pada Alson sebelum dia pergi siang tadi. Dia akhirnya membuka laptop di atas mejanya untuk memastikan apakah Alson sudah melakukan apa yang dia suruh.
Dia melihat laki-laki muda itu memang sudah memberinya pesan singkat satu jam yang lalu.
' Nona, kami sudah menyetujui kerja sama dengan J Company.. Apa ada lagi yang perlu kita lakukan ?'
' Bagus !! Tolong awasi suami saya. Saya merasa cemas dengan keadaannya..'
Pesan terkirim, tapi belum sempat dibaca. Semoga ada jawaban dari sana. Cemas sekali meninggalkan Demy saat suasana semacam ini.
Hanya cemas saja memang. Tidak lebih dari itu. Dia hanya takut Demy berani melakukan hal-hal aneh saat dia sendirian tanpa pengawasan. Semoga saja jangan.
Pukul 01.34.
Yuna masih saja duduk dan mengerjakan pekerjaannya di laptop. Televisi yang sedari tadi menyala sama sekali tidak dihiraukan oleh Yuna. Dia terus saja menatap layar dan mengerjakan pekerjaannya. Lebih baik baginya lembur bekerja seperti ini daripada harus pusing memikirkan kedua laki-laki itu.
Hani terbangun. Dilihatnya layar ponsel diatas meja, dan melihat jam disana. Dia menutup ponsel saat dia sadari malam masih agak panjang. Cukup baginya untuk istirahat mengganti waktu istirahatnya yang selama ini berkurang.
Tapi dari kejauhan, dia mendengar suara televisi yang menyala. Dia memutuskan untuk bangun dan melihat siapa yang belum juga tidur jam segini.
Hani berjalan menuruni tangga, dan melihat sahabat yang sekaligus adik iparnya itu tengah serius mengerjakan sesuatu. Dia jadi penasaran.
Hani mendekat ke arah Yuna, dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh sahabat karibnya itu.
Brukk !! ( Duduk ).
Yuna menoleh karena terkejut mendengar kedatangan Hani disana.
" Kamu ini kenapa ? Buat aku kaget saja.."
" Memangnya kamu sedang mengerjakan apa ? Sepertinya hal penting.."
" Um.. Maaf Hani.. Aku belum terus terang sama kamu tadi.."
" Kenapa ?"
" Beberapa bulan lalu, ayah Demy pulang dari Amerika untuk mengunjungi rumah baru ibu Daniah.."
" Kamu, setelah apa yang dilakukan Daniah sama kamu, kamu masih bisa panggil dia ibu.." Tersenyum.
" Itu karena memang sudah jadi kebiasaan.. Bagaimanapun, dia masih ibu mertuaku."
" Baiklah.."
__ADS_1
" Tuan Zumi datang untuk memberiku hadiah pernikahan katanya.."
" Apa hadiahnya ?"
" Perusahaan.."
" Apa kamu serius ?"
" Serius.. Karena itu, sekarang aku mencoba beralih ke dalam dunia bisnis.. Ya.. Hitung-hitung, untuk menjaga dan mengembangkan usaha pemberian ayah mertua.."
" Apa kau menyukai Demy sekarang ??"
Yuna terkekeh, " apa katamu ? Sejak kapan aku menyukai dia ?"
" Terus, kenapa kamu bertahan seperti ini ?", ( pertanyaan menohok ), " Apa kau tidak berniat untuk kembali dengan Jian ?"
Tangan Yuna berhenti bermain di tombol keyboard. Dia mendadak kembali memikirkan Jian dan perasaannya.
" Yuna ?"
" Eee.. Soal itu, aku sudah pernah membicarakannya dengan Jian.."
" Apa katanya ?"
" Dia.. Dia tidak pernah memaksaku. Bagaimanapun, aku sudah menjadi istri sahnya Demy. Dia tidak bisa membawaku bersamanya bukan...."
" Terus ?"
" Dan aku.."
" Kamu kenapa ?"
" Aku, sepertinya, aku harus menyelamatkan pernikahanku.."
Hani memalingkan muka. Dia melihat betapa sakitnya hati Yuna sekarang. Bahkan wajah itu tidak bisa membohonginya meski dalam keadaan tersenyum.
" Bagaimanapun juga, pernikahan bukan hal yang bisa dipermainkan.. Jadi aku pikir, lebih baik aku menikah satu kali seumur hidup, daripada harus bersikap egois.."
Hani mengangguk. Keputusan Yuna memang sangat dewasa. Rupanya gadis kecilnya itu sudah tumbuh semakin baik dari sebelumnya.
Yuna bingung harus menjawab apa. Terus terang saja, dia tidak mau membebani pikiran keluarganya dengan menceritakan situasi pernikahannya sekarang. Lebih baik jika dia pendam sendiri masalahnya. Setiap orang juga memikirkan masalah. Jadi dia tidak perlu mengumbar aib keluarganya meski pada Hani sekalipun.
" Dia agak sibuk akhir-akhir ini.." ( Yuna kembali mengetik ), " kau tahu ?! Kau belum mendengar cerita tentang pernikahan ibu Daniah dengan Tuan Zumi yang akhirnya bercerai beberapa waktu lalu.."
" Apa ?? Apa kau serius ??"
" Iya, aku serius.. Sebenarnya tidak sopan juga membicarakan rumah tangga mertuaku di depan orang lain.."
" Katakan saja padaku. Memangnya kamu anggap aku siapa ? Ayo katakan !!"
" Jadi, Tuan Zumi memang selalu berada di luar negeri dengan waktu yang lumayan lama. Dia jarang pulang untuk sekedar menemui ibu.. Kau juga lihat sendiri, kan, sewaktu aku menikah, dia bahkan tidak hadir dalam acara kami waktu itu.."
" Terus, terus ?? Apa maksudnya Tuan Zumi selingkuh begitu ?"
" Hhh.. Laki-laki mana yang bisa dipercaya ? Dia bahkan mengakui kalau dia sudah menikahi selingkuhannya selama dua puluh tahun lebih."
" Apa ? Perselingkuhan selama itu ?? Yang benar saja !!"
" Dan kamu tahu, siapa yang sudah menjadi selingkuhannya itu ?"
" Namanya Tiansha.. Pengusaha kosmetik yang terkenal di Amerika itu.."
" Aku tidak kenal.."
" Kau mana tahu.. Mereka sudah punya anak dari pernikahan itu.. Namanya Alishia.. Sepertinya dia akan menuruni sifat pelakor dari ibunya.."
Hani mengangguk saja mendengar fakta-fakta yang terlontar dari mulut Yuna. Tapi tiba-tiba...
Uekkk !! Uekkkk !!
" Hani ??" ( Menutup laptop ), " Hani ?? Ada apa denganmu ?"
" Uekk !! Aku tidak tahu, tapi sepertinya.. Uekk !!"
Hani berlari ke kamar mandi, dan mengeluarkan seluruh isi perutnya di dalam wastafel. Berkali-kali dia mencoba merilekskan badannya yang terasa sakit setelah memuntahkan makanannya.
__ADS_1
Yuna mencoba menghampiri kakak iparnya, dan bertanya apa yang terjadi pada Hani tersebut.
" Kau baik-baik saja ?" ( Wajah cemas ).
Hani hanya mengangguk. Pikirannya mulai melayang-layang, membayangkan suatu hal yang membuat jantungnya berdetak kencang.
" Yuna, sepertinya aku harus melakukan sesuatu.."
" Apa ?" ( Bingung ).
" Keluarlah dari sini!!"
Yuna menurut saja. ditinggalkanlah Hani sendirian di kamar mandi.
Kreb !!
Pintu ditutup dan dikunci oleh Hani. Dia memang merasa curiga. Sudah dua Minggu lamanya dia telat datang bulan. Meski pernikahannya baru seumur jagung, tapi sejujurnya, dia telah melewati banyak malam dengan romantis bersama Azof sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Dan.. Mungkin saja, apa yang dia pikirkan memang benar.
Dia mengambil sebuah benda dari tempat penyimpanan barang di dinding kamar mandi. Dia memang tidak sengaja membelinya waktu itu dengan Azof. Dia tidak menyangka kalau sekarang dia akan menggunakannya.
Skip..
Lima belas menit Kemudian..
" Yuna.."
Hani keluar dari kamar mandi, dan langsung memanggil adiknya. Dia terlihat begitu gugup ingin memperlihatkan hasil testnya pada Yuna.
" Sudah selesai ? Bagaimana hasilnya ?"
Hani berjalan mendekat. Dengan gemetar, dia mencoba memberikan hasil testnya kepada Yuna. Dengan senang hati Yuna menerimanya, lalu melihat hasilnya.
Positif !!
Deg !!
" Hani, kau.. Kau hamil ??" ( wajah senang ).
Hani mengangguk saja. Dia juga tidak mampu berkata apapun. Lebih baik Yuna yang menilainya sendiri.
Yuna tersenyum dan tertawa gembira. Langsung saja dia memeluk Hani di sampingnya dengan erat tanpa ampun.
" Yuna, lepas !! Kamu ini, ishh... lepas !!"
Yuna terpaksa melepas pelukan tanda ucapan selamat darinya.
" Kenapa ? Aku sedang senang karena akhirnya aku akan punya keponakan."
" Iya, aku tahu.. Tapi jangan terlalu berlebihan begitu, aku bahkan sudah merasa sesak nafas."
" Hhhh. Kamu memang selalu seperti itu.."
Hani terdiam saja. Berbeda dengan Yuna yang terlihat senang mendengar kabar gembira ini.. Dia tidak berbinar sama sekali. Bahkan dia terlihat sangat muram.
" Kamu kenapa ?" ( Menyadari kesedihan Hani ), " apa kamu tidak merasa senang ?"
Hani menggeleng. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Haruskah dia merasa senang dengan kehamilannya ini ? Sementara dengan kondisi suaminya yang berada dalam penjara, lalu bagaimana dia bisa menghidupi anak ini ??
" Apa kau merasa sedih karena kak Azof sedang berada dalam penjara ? Sedangkan kau malah sedang hamil anaknya sekarang.."
" Yuna.. Apapun yang terjadi, aku akan menjaga anak ini, meski aku harus banting tulang tanpa kehadiran Azof disampingku.." ( Menitihkan air mata ).
Yuna mengusap pundak Hani, berharap dengan sentuhannya itu, bisa membuat Hani merasa lebih baik.
" Kau tidak perlu khawatir. Aku masih ada disini, aku akan menjagamu selama aku bersamamu.. Lagipula, masih ada Ibuku yang akan menemanimu bukan ?"
Hani mengangguk saja. Benar juga.. Mengapa harus bersedih ? Lagipula dia punya banyak teman untuk menemaninya sekarang..
Drrrtt Drrrtt
Ponsel Yuna berbunyi. Sebuah pesan datang dari sekretarisnya, Alson. Yuna mengambil ponsel diatas meja, dan mencoba membaca pesan tersebut.
' Nona, kami sudah berada di rumah Nona Yuna dan Tuan Demy.. Tapi kami tidak melihat Tuan Demy disana.. Kami juga tidak menjumpai mobil Tuan Demy di rumah.. Kami sedang berusaha mencarinya ke seluruh kota dan menemukannya..'
' Cari dia sampai dapat, dan pastikan Demy dalam keadaan baik !'
__ADS_1
' Baik Nona..'