
“Rara, vano udah mau berangkat ini. Kamu udah rapi belum??” Panggil bu Maria yang sedang duduk di ruang tengah dan melihat Vano yang sudah bersiap akan berangkat.
“ya rara segera ke situ bu” jawab rara masih dari dalam kamarnya.
“Vano berangkat ya ma” Pamit vano sambil berjalan keluar menuju mobil yang dikendarai damar. Jalannya masih tertatih-tatih.
“kamu dijemput damar kan van?”
Hmm. Jawab vano singkat sambil berlalu.
Bu Maria bingung dengan sikap anaknya itu. “ada apa dengannya? Kenapa berbeda sekali dari kemarin. Wajah ditekuk, jawab singkat. Huhhhh anak lanangku ini” batin bu Maria
Rara Pov.
“ohhh Tuhan, apa yang harus kulakukan? Apa itu tadi ungkapan perasaan mas vano benar-benar tulus? Bagaimana mungkin? Sejak kapan??
“Rara, vano udah mau berangkat ini. Kamu udah rapi belum??”. Bu Maria memanggilku.
“Mas vano akan berangkat, kalau kami tidak berangkat pasti sangat kentara dan bu Maria pasti bertanya ada apa dengan kami. Apa aku berangkat sendiri, atau tetap bersamanya?” berbagai pertimbangan berkecamuk di dalam kepalaku.
“Sudahlah. Hadapi saja apa yang terjadi.” Bagaimanapun cepat atau lambat pasti kami masih harus dihadapkan pada situasi yang tidak mengenakkan ini.
“Rara pamit berangkat kerja dulu ya bu” pamitku pada bu Maria. Aku melangkahkan kakiku menuju ke mobil yang sudah menungguku.
“Pagi mas.” Sapaku pada mas damar setelah membuka pintu depan. Kulihat mas damar yang berada di kursi driver.
__ADS_1
“Pagi ra” jawab mas Damar.
“Kamu dibelakang saja ra, biar damar saja di depan.” Perintah mas Vano padaku.
Deg..deg…deg… aku hanya bisa menurut. Kututup pintu depan dan aku membuka pintu belakang. Aku masuk dan kemudian duduk disebelah mas Vano.
“Jalan Mar”
“Sipp bos”
Aku duduk dalam diam menghadap jendela, menatap suasana pagi di setiap jalan yang kami lalui. Aku mencoba mengatur nafasku yang terasa sesak. Sebagian jiwaku terasa bersorak kegirangan. Ternyata aku tak bertepuk sebelah tangan. Namun kembali aku merasa bersalah pada bu Maria. Aku takut dikira memanfaatkan kebaikan beliau. Kebaikan dari orang yang sudah kuanggap seperti ibuku.
****
Author
“Ohh. Ok “ Damar menghentikan mobil yang dikemudikannya.
“Boleh tinggalkan kami sebentar” minta vano pada damar.
Damar mengikuti kemauan bosnya yang juga sahabatnya itu. Dia keluar dan duduk di bangku taman di depan taman itu.
“ada apa mas? Tanya rara pada vano dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti ini.
“Rara. Aku minta maaf pada kamu, aku benar-benar sudah salah tadi.” Vano mulai berbicara sambil menatap rara dengan tatapan mata yang sayu. “Tadi kamu tiba-tiba pergi tak berkata akupun. Aku takut ra, kalau kamu nanti pergi dari rumah karena aku.” Vano tiba-tiba menggenggam tangan rara dengan lembut. “Jangan pergi ra, aku membutuhkan kamu, maafkan aku yang menyukaimu” katanya lirih. Tampak ketulusan dimata pemuda itu dan rara dapat melihat ketulusannya itu.
__ADS_1
“Mas, rara takut” kata rara masih tetap menatap pada mata vano yang sangat menyejukkan hati nya.
“Hahhh. Takut kenapa”
“Rara takut, karena rara bukan siapa-siapa. Rara takut mengecewakan bu Maria. Rara ngga mau mengecewakan kepercayaan yang sudah diberikan bu Maria ke rara.” Terang rara pada vano dan rara mulai menundukkan
wajahnya. Jawaban itu keluar begitu saja dari mulut Rara, dia tak bisa lagi membendung perasaannya.
Vano yang mendengar itu merasa terharu dan hatinya bersorak kegirangan. Kedua tangannya ditangkupkannya pada pipi gadis itu. Diangkatnya dagu rara, sehingga rara melihat kembali padanya, sehingga dia dapat melihat
dengan jelas wajah gadis itu, seakan-akan vano sedang membaca jawaban yang ada dari wajah gadis itu.
“Rara… kamu
membuat mama kembali ceria, kamu membuat hari-hariku dan mama berwarna. Kamu sangat berarti buat kami. Mama sangat menyayangi kamu. Mama lebih dulu menyayangi kamu sebelum aku. Jadi kamu ga perlu takut.” “Cukup kamu perlakukan kami dengan ketulusan dan kehangatan hatimu.” Apakah kamu bisa membuka hatimu untukku ra?”
Rara hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Vano mendekatkan wajahnya, diciumnya dengan lembut lembut bibir gadisnya itu. Rara menutup matanya dan membalas ciuman itu. Hatinya bergetar penuh kehangatan. Dua insan yang sedang dilanda asmara. “Trimakasih
ra.” Kata vano setelah perlahan melepaskan ciumannya. Ditatapnya dalam-dalam mata gadis itu. “I Love You honey.”
Tbc.
Jangan lupa, Like, Vote dan Komen ya guys. Trimakasih
__ADS_1
Vano yang kegirangan, bagaimana ekspresi berikutnya ya.