Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Kejutan dari Kakak Ipar


__ADS_3

'Tok! Tok! Tok!'


Yuna mengetuk pintu rumah beberapa kali, tapi tidak ada satu jawaban apapun yang dia dapat.


Waktu sudah sangat malam. Dia memang tidak memberitahu keluarganya kalau malam ini dia akan pulang. Sebenarnya dia ingin memberikan kejutan untuk mereka.


Tapi keheningan di dalam rumah sangat sukses membuatnya penasaran. Dia tahu kalau ibu dan kakak iparnya pasti akan mendengar ketukan pintu darinya. Tapi aneh sekali, kali ini bahkan tidak ada suara berisik dari dalam.


" Bagaimana ??"


Jian yang baru datang menyusul dari mobilnya terlihat merangkul pundak Yuna.


" Sepi. Apa mungkin mereka sudah tidur ??"


" Sepertinya ini terlalu sepi. Apa ini tidak terlalu mencurigakan ??"


" Lalu kita harus bagaimana ??"


Jian mencoba membuka pintunya. Tapi terkunci.


" Pintunya terkunci.."


" Apa mereka baik-baik saja ??"


" Aku akan mencoba menghubungi Hani.."


Jian mengambil ponsel di saku jaket hitamnya, dan mencoba menghubungi Hani.


" Hallo.."


' Hallo, Jian..'


" Bibi ?? Kalian dimana ?"


' Kami sedang berada di rumah sakit.' ( Sambil terisak ).


" Memangnya apa yang terjadi ??"


' Hani... Keguguran..'


" Tunggu kami !! Kami akan segera datang.."


Jian menutup pembicaraan. Raut wajah yang begitu cemas membuat Yuna semakin merasa tidak karuan. Ada yang tidak beres disini.


" Kenapa Jian ??"


" Mereka sedang berada di rumah sakit. Hani kehilangan janinnya.."


" Apa ?? Bagiamana bisa ??"


" Tenang Yunaku sayang, dia akan baik-baik saja.. Jangan terlalu cemas begitu, bagaimanapun, kamu harus mementingkan kondisimu juga.." ( mengelus pipi ).


" Baiklah, sekarang kita harus kesana.."


" Ayo ?!"


Jian dan Yuna kembali bergegas meninggalkan rumah dan pergi menuju Rumah sakit yang di maksud Almira.


........


Tap tap tap tap tap..


Derap langkah kaki Yuna yang terdengar semakin cepat. Mereka sudah sampai di Rumah Sakit setelah menempuh perjalanan hampir satu jam. Itupun karena Jian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kalau tidak, bagaimana dia bisa sampai dengan begitu cepat ??


" Hallo, ibu.. dimana ruangannya ??"


Kali ini Yuna yang mencoba menghubungi Almira lewat ponsel Jian. Dia segera mematikan sambungannya usai mendapat jawaban singkat dari sang ibu.


" Sepertinya ini.."


" Ayo kita masuk.."


Jian dan Yuna mulai membuka pintu dan terlihat masuk kedalam sana.


" Yuna, Jian.."


Almira terlihat begitu cemas. Dia masih merasa terkejut dengan kejadian ini.


" Apa dia sudah baik-baik saja ??"

__ADS_1


" HB nya rendah,, dia juga kekurangan darah.. Sekarang dia sedang melakukan transfusi darah.."


" Apa dia sedang tidur ??"


" Entahlah... Sedari tadi ibu memanggilnya, tapi dia bahkan tidak pernah menjawab ibu."


" Ibu tenang saja.. Jangan terlalu cemas begitu, bagaimanapun, kita harus tetap tenang.."


" Apa sudah ada dokter yang menangani ??"


Almira hanya menggeleng menanggapi pertanyaan dari Jian. Memang sudah hampir satu jam disini, Almira memang belum menemui satu dokter pun yang datang. Hanya segelintir perawat yang datang bergiliran. Mulai dari yang memasang jarum infus, kemudian ada juga yang datang mengecek HB, lalu setelah itu, memberikan transfusi darah. Sebelumnya memang belum ada yang datang selain para perawat. Hanya itu saja.


" Apa ?"


Jian yang melihat isyarat dari Almira, sontak saja terkejut. Bagaimana mungkin seorang pasien yang tidak sadarkan diri malah dibiarkan begitu saja. Apalagi saat melihat betapa banyaknya darah yang keluar dan menetes ke seluruh permukaan kasur, melihat hal tersebut, Jian menjadi semakin geram.


Jian memberi isyarat kepada salah seorang bawahannya untuk mendekat.


" Urus permasalahan ini. Aku tidak bisa membiarkan sahabatku sama sekali tidak terurus seperti ini.."


" Baik, Mr.." ( menunduk ).


Sebenarnya Jian agak susah juga. Biasanya dia mendapat bantuan dari sekertaris cantiknya selama berhadapan dengan permasalahan seperti ini. Tapi semenjak Sanni izin untuk mengambil cuti, Jian akhirnya menjadi kewalahan sendiri. Belum lagi urusan pekerjaan. Hhh.. Sungguh memusingkan..


" Tenanglah, bibi.. Saya akan berusaha menyelesaikan permasalahan ini.."


" Jian, sebaiknya kamu jangan terlalu gegabah. Kita tidak boleh terlalu mempermasalahkan hal ini dengan rumah sakit.."


" Yang cari masalah itu mereka, bisa-bisanya membiarkan orang dalam keadaan darurat seperti ini."


Tok tok tok


" Permisi, Mr..." ( memberi isyarat kepada Jian ).


" Maaf, pak.. Permisi, ada keperluan apa memanggil kami.." ( seorang dokter nampak menunduk ).


" Keperluan apa ?? Apa mata kalian buta ?? Disini sedang ada keadaan darurat. Bisa-bisanya membiarkan pasien yang sedang mengalami pendarahan..."


" Maaf, pak !! Kami akan segera melakukan tindakan..." ( menunduk lagi ).


.......


" Hahaahaa.. Lagipula wanita itu terlalu seksi. Tidak mungkin juga aku berani menatapnya, kalau sampai berani, maka aku sendiri yang akan habis di malam itu.."


Semua orang tertawa di dalam sana, sambil menikmati beberapa cangkir kopi hitam dan beberapa bungkus rokok yang tergeletak di atas meja.


Brak !!


Seorang pria membuka pintu dengan paksa. Semua dokter yang berada di dalam ruangan itu terlihat begitu gugup mendapati seorang pria bertubuh kekar dengan didampingi beberapa orang di belakangnya.


" Apa ini tugas para dokter ?? Membiarkan pasien dalam keadaan darurat ?? Cihh. Dokter seperti kalian seharusnya sudah tidak lagi mendapat pekerjaan ini.."


" Maaf, Tuan !! Kami tidak bermaksud.."


" Jelaskan pada atasanku, sepertinya permasalahan ini harus melibatkan atasanku dan atasan kalian.."


" Tidak !! Aku mohon !! Kami akan segera mengurus pasien.."


" Iya, benar, jangan mempersulit kami.." ( salah satunya menimbali ).


Sementara empat dokter lainnya, yang salah satunya adalah seorang wanita terlihat bingung ketakutan. Bagaimana tidak, jabatannya yang akan menjadi taruhan disini.


........


" Sepertinya kalian baru saja bersenang-senang.."


" Ah ? Tuan !? Tuan, maafkan aku !! Jangan membuat kami terkena masalah.."


" Bahkan kamu sendiri membuat pasien dalam masalah besar.."


" Maaf permisi.."


Seseorang dengan usia lima puluh tahunan terlihat ikut masuk ke dalam ruangan. Dia mendapat kabar bahwa beberapa bawahannya sedang mengalami masalah.


" Ada apa ini ?? Kenapa ribut seperti ini ?"


" Apa anda atasan disini ?"


" Iya, betul. Apa ada masalah ?"

__ADS_1


" Tentu saja ! Para dokter ini sudah membiarkan pasien dalam bahaya. Bahkan mereka membuat seorang wanita yang sedang mengalami pendarahan dibiarkan begitu saja disini. Apa ini hal yang benar ?"


" Tunggu dulu, memangnya saat kalian tidak mengurus wanita ini, dimana kalian sedang berada ?"


" Maaf, pak !! Saya melihat mereka sedang asik berkumpul dan membicarakan hal yang sama sekali tidak penting.." ( pengakuan bawahan Jian ).


" Maaf, pak.. Kami.. Ka-kami.."


" Alasan !!? Mulai sekarang, tidak ada lagi pekerjaan untuk kalian disini !?"


" Ta-tapi, pak !?"


" Tidak ada penolakan setelah mendapat keputusan dari saya ?! Orang-orang seperti kalian tidak pantas melayani mereka ?!"


" Tunggu dulu, pak !!? Kami jelaskan dulu.."


" Tidak ada bantahan. Sekali tidak, tetap saja tidak !! Satpam, urus mereka semua !!"


Beberapa orang yang disinyalir sebagai satpam di rumah sakit itu terlihat menggiring enam orang itu untuk keluar dari rumah sakit.


" Tunggu, bukankah kalian sedang membutuhkan dokter kandungan ??" ( dokter wanita itu terlihat menawarkan diri ), " saya bisa menolongnya, saya akan berusaha menolong wanita ini.. Tapi mohon lepaskan saya dulu !!"


" Hemm.." Jian melihat mata wanita itu yang penuh dengan ketakutan.


" Kami tidak butuh dokter seperti kamu !! Lebih baik saya hubungi dokter kandungan yang lebih baik daripada kamu.."


" Apa anda yakin, pak ? Dokter kandungan yang lain akan datang besok pagi, ini adalah tugas jaga saya.."


" Sudah tahu tugas kamu berjaga, tapi saat ada pasien yang datang, kamu malah bersenang-senang dengan mereka.."


" Maaf, pak !! Saya benar-benar bersalah dalam kasus ini ?!"


" Hemm, kalau begitu, tangani kakak ipar saya dulu.."


" Tapi, Nona.. Lebih baik kita tunggu dokter yang lain saja.."


" Lalu akan sampai kapan kakak ipar saya dibiarkan ? Mungkin kalau terlambat ditangani, malah bukan bawahan Anda saja yang saya tuntut, tapi juga rumah sakit ini bisa saya tuntut.."


' Dasar para dokter ini !! Berani sekali bermain-main dengan Tuan Jianan..'


" Ya sudah, terserah saja pada Nona.. Kalau begitu, lepaskan dokter ini.."


Seorang satpam terlihat melepaskan jeratan tangannya pada tangan si dokter cantik itu, sementara beberapa dokter yang lainnya terlihat diseret keluar paksa oleh para petugas keamanan disana.


" Biarkan dia menangani pasien dulu, baru setelah itu kita urus lebih lanjut tentang permasalahan ini.."


Dokter cantik itu berusaha melewati beberapa orang disana, dan mulai melakukan tindakan medis.


......


Lima belas menit kemudian..


Yuna yang masih setia di dalam ruangan tengah menanti dokter itu selesai melakukan tindakan.


" Bagaimana dokter ?"


" Dari awal memang kondisi janinnya terlalu lemah. Ini terjadi karena kondisi ibunya yang terlalu banyak pikiran, dan sepertinya agak kelelahan juga.. Jadi janinnya sudah tidak bisa lagi kami selamatkan.."


" Tapi, dokter.. apa janinnya sudah tidak ada atau bagaimana ?"


" Kondisi kehamilan pada trimester pertama memang belum terlihat dengan jelas. Bisa jadi janinnya jatuh bersamaan dengan darah yang keluar sedari tadi.."


" Jadi sudah bisa dipastikan kalau janin kakak ipar saya memang sudah tidak ada ?"


" Iya.."


" Yuna, bagaimana ini ?" ( cemas ).


" Tidak apa-apa, ibu tenang saja, tenangkan pikiranmu dulu.."


" Baiklah, Nona.. Saya akan memberitahu perawat untuk memberikan transfusi darah pada pasien.. Tekanan darahnya begitu rendah, karena itulah dia tidak sadarkan diri.."


" Baik, dokter.."


Dokter cantik itu keluar dari ruangan. Tapi dari luar, beberapa orang terlihat sudah menjemputnya.


" Bawa dia ke kantor polisi ?!"


" Baik, pak.."

__ADS_1


" Fiuhh.. Aku akan ikut.."


__ADS_2