
Vano pov.
Drt… drt.. ada pesan masuk ke handphone ku
Mama : “Van, ntar pulang kamu sekalian jemput rara ya. Katanya pulang jam lima, rara ada tambahan jam kerja karena harus ikut mendampingi pasiennya yang operasi jam tiga nanti.”
Vano : “Vano kan jam 3 sudah pulang ma.”
Mama : “yah mama tau, kamu tunggulah sebentar disana nak. Dirumah sakit rara ada kantinnya dan kamu bisa menunggu disitu. Mama sudah kasitau rara, kalau nanti kamu yang jemput.”
Vano : “baik ma”
Kalau sudah perintah mama, pasti Vano tak akan bisa menolak. Tapi ada sedikit rasa senang juga, ada alasan kalau yang menyuruh jemput itu mama.
Jam setengah empat aku mengemudikan mobilku meninggalkan kantor menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Sebenarnya aku mempunyai supir pribadi, tapi hanya kuperg unakan untuk urusan kantor saja. Untuk urusan pribadi aku lebih senang mengemudi sendiri. Hanya lima belas menit diperjalanan aku sudah sampai ditempat itu.
Karena jalanan agak sedikit lancar tadi.
Kalau menunggu dikantin aku bingung harus ngapain, karena aku masih kenyang. Aku teringat tempat mama dirawat, disitu ada ruang tunggunya dan lebih nyaman menunggu disitu, aku bisa membaca majalah atau Koran. Lagipun suster itu mungkin berada disitu juga.
Aku mengambil sebuah majalah dan kemudian duduk di salah satu sofa ruang tunggu rawat inap VIP. Namun aku hanya melihat satu orang perawat yang ada disitu dan aku belum pernah melihatnya. Kuputuskan menunggu saja tanpa bertanya.
Sekarang masih jam empat, mungkin dia masih ada di ruang operasi. Seperti kata mama tadi kalau dia terlambat pulang karena ikut operasi.
Tiga puluh menit menunggu kulihat dari sudut mataku ada dua orang perawat mendorong pasien yang berada pada brankar. Meraka kembali setelah memindahkan pasiennya ketempat tidur pasien itu. Kedua perawat tadi langsung menuju meja tempat mereka bekerja, tanpa melihat sekeliling.
“Nah.. itu dia” batinku, tapi dia tidak melihatku, karena wajahku tertutup majalah yang sedang kubaca tadi. Konsentrasi membacaku hilang.
Apa yang sedang dikerjakannya ya, sepertinya dia berkutat dengan catatan-catatannya.
Tak berapa lama keluarga pasien tadi datang tergesa-gesa dan kemudian memarahi perawat-perawat yang ada di situ.
__ADS_1
“Mana suster yang ikut operasi tadi?” Tanyanya dengan kasar.
“Saya pak.” Tampak suster rara yang menjawab pasien itu.
“Tadi kan sudah saya bilang sama kamu, kalau istri saya kedinginan katanya, tapi apa yang kamu lakukan. Sekarang istri saya malah semakin menggigil. Kalau terjadi apa-apa kamu yang tanggung jawab ya.” Bentak orang itu, yang ternyata dia adalah suami pasien yang baru selesai operasi tadi.
“Bapak, kejadian seperti ini bisa saja terjadi pada pasien setelah operasi. Satu sampai dua jam akan kembali normal, saya akan melihat istri bapak dan membawakan selimut penghangat untuk mengurangi menggigilnya ya pak.” Jawab suster rara dengan tenang, kemudian mengambil sesuatu dan berjalan bersama suami pasien tadi menuju kamar istrinya.
Saat melewatiku tampak suster rara sedikit terkejut karena melihatku sudah ada duduk di sofa. Namun dia melanjutkan melangkah memasuki kamar pasien itu.
Aku sangat geram dengan reaksi orang tadi, hampir saja aku menonjoknya. Berani-beraninya dia memarahi perempuan seperti itu, apa tidak bisa bicara baik-baik. Dasar tidak punya etika. Rutukku dalam hati.
*****
“Minum dulu mas,”
Aku terkejut karena tiba-tiba rara sudah berada didepanku dengan membawa segelas teh.
“Trimakasih, masih lama kah?”
“Hmmm.” Jawabku singkat.
Tak berapa lama dia kembali dan sudah tidak mengenakan seragamnya lagi.
“Mas Vano, mari pulang.” Ajaknya. Dan kamipun berjalan bersisian menuju lift untuk turun ke parkir mobil.
“Masuklah.” Kataku sedikit ketus, sambil membukakan pintu mobil untuknya.
“Trimaksih.”
Wah… kenapa aku jadi sok romantic gitu padanya. Dan sekarang pembicaraan apa yang harus kubahas dengannya. Masa iya sih kami harus saling diam lagi selama perjalanan sampai rumah…
__ADS_1
“Huff…” aku mendenguskan nafas seperti orang kesal, padahal aku hanya bingung harus bagaimana.
“Mas Vano, maaf ya tadi rara buat mas Vano nunggu lama.” Kata rara pelan sambil menundukkan wajahnya. Mungkin dia kira aku marah karena menunggunya.
Drt…drt… ada panggilan diteleponnya tapi diabaikan olehnya.
“Sekali lagi rara minta maaf jadi buat vas Vano menunggu..” lirihnya.
“Hey.. suster rara, aku tidak marah pada mu, aku marah pada orang yang memarahi kamu tadi, sudah hampir kutonjok tadi wajah orang itu.” Kataku sambil melihat kearahnya sebentar.
“Oh..” katanya kelihatan sedikit lega. “Panggil saya rara aja mas Vano. Nama saya Larasati Fransiska, biasa dipanggil rara. Saya merasa tua dan malu jika dipanggil suster rara jika tidak dilingkungan rumah sakit.” Tambahnya sambil tersipu malu
“Ha…ha.. ha..” tiba-tiba aku tertawa mendengar alasannya yang sangat polos dan lucu menurutku. “Saya Valino Adrian Kusuma dipanggil Vano,” jawab ku. Perkenalan yang tertunda batinku dalam hati, padahal kami sudah beberapa kali jalan berdua, tapi seperti seorang penumpang dan supirnya.
“Tapi kenapa kamu tidak pelototin saja bapak-bapak yang marah-marah tadi.” Kataku melanjutkan pembahasan orang yang marah-marah dirumah sakit tadi.
“Rara sudah biasa menghadapi hal yang seperti itu mas, bahkan kadang-kadang ada yang lebih kasar dari itu. Disaat seperti itu kita diuji kesabarannya mas. Dan kita harus bisa memahami posisi bapak itu, dia pasti sedang panic dengan keadaan istri tercintanya yang sedang sakit seperti itu.”
“Kami sudah terbiasa dengan beragam perangai pasien ataupun keluarganya.. Ada yang ramah, sopan, baik namun ada juga yang kaku, sombong dan kasar.”
“Kita harus berusaha berfikir bagaimana jika kita yang berada dalam posisi mereka sebagai keluarga atau sebagai pasien mas.”
“Degh….” Apakah aku termasuk salah satu yang disebutkannya itu pikirku. Tak kupungkiri dia terlihat dewasa saat memberikan penjelasannya tadi, dan akhirnya dia bisa berkata-kata panjang lebar.
“Serius amat dengar ocehan saya mas. Sampai wajah ditekuk begitu. Lagipun kalau pasien komplainin perawatnya saya bisa dipecat mas,” kata rara sambil tersenyum-senyum.
“Ha..ha.. ha..” aku tertawa mendengar candaannya. Dan ada benarnya juga.
Kami masih melanjutkan pembicaraan kami tentang pasiennya rara tadi. Suasana kaku diantara kami akhirnya bisa sedikit melunak. Dan kami sudah bisa lebih akrab.
****
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa vote ya. Trimakasih