Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
Pulang


__ADS_3

Vano mengendarai mobilnya ke arah rumahnya. Rara diam saja


memandang kedepan, dia tampak bingung harus mulai bagaimana mebicarakan perihal


tentang perjalanan ke Medan yang direncanakan oleh Vano.


“Heiii. Kenapa diam aja ra? Giliran tadi kamu narik-narik


tanganku ngga sabaran mau berduaan” vano menggoda rara untuk memecah keheningan


diantara mereka. Entah apa yang sedang difikirkan kekasihnya itu. Vano berfikir


kalau rara akan senang dengan surprise darinya itu. Tapi yang didapatkannya


sekarang rara kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.


Rara hanya melirik vano sekilas dan kembali memandang


kedepan.


“Ra, ada apa? Aku fikir kamu akan senang pulang ke medan


libur ini, makanya aku buat surprise untuk kamu.”


“kenapa mendadak mas?”


“Perusahaan yang di Medan itu sedang proses pengembangan ra,


kemarin Damar bilang ada investor mau ketemu denganku. Jadi aku fikir bisa ajak


kamu sekalian. Aku belum pernah ke Medan, kalau kamu ikut kan ada yang nemanin


aku jalan-jalan disana.”


“Tapi sebenarnya aku sekalian pengen kenal dengan keluarga


kamu ra, masa aku kerumah kamu dan kamu ga ada disana.” “Kamu mau kan nemanin


aku?” Vano menggenggam erat tangan rara dengan sebelah tangannya yang masih


konsentrasi mengemudi.


Rara mengangguk pelan, ditatapnya tangan vano yang


menggenggam jemarinya. Hatinya terasa hangat.


*****


Jam enam pagi Vano dan Rara sudah ada di bandara untuk


penerbangan ke Medan. Setelah check in mereka berdua duduk diruang tunggu


keberangkatan. Masih satu jam lagi sebelum boarding. Vano sengaja mengambil

__ADS_1


penerbangan pagi, karena pertemuannya diadakan sekalian makan siang. Rara duduk


disebelah Vano dan menyandarkan kepalanya dibahu kekasihnya itu. Dia memejamkan


matanya, rara masih kelihatan mengantuk karena sudah terbangun sejak subuh.


Vano merangkul rara dan sesekali membelai rambut gadisnya.


Memandangi wajah manis dan mungil gadis yang sekarang menjadi kekasihnya itu.


Tatapannya mengalir dari mata, hidung sampai bibir gadisnya. Jika saja mereka


sedang berdua pasti dia tidak akan melewatkan untuk mencium bibir tipis yang


mungil itu.


“hmmm..hmmm”


Vano spontan memandang kebelakang melihat kearah orang yang


berdehem barusan. Matanya menatap masam melihat Damar yang datang entah dari


mana datangnya.


“Dari mana saja jam segini baru sampai” tanya vano sengit.


“kalau aku datangnya cepat ntar malah jadi nyamuk disini”


damar mendelik menggoda.


“Ra. Bangun sayang, sudah waktunya boarding” vano menepuk


tangan rara pelan untuk membangunkan gadis itu yang dapat tertidur ditempat


seperti itu.


Rara mengerjap-ngerjapkan matanya. “hmm maaf rara tertidur”


“ehh. Mas Damar sejak kapan disini? Ikut jugakah? Kok kak


Dita ngga diajak mas?” rara memberondong pertanyaan pada Damar.


Vano segera menepuk pundak Damar yang sudah siap-siap hendak


menggoda rara.


“Dita Sudah hamil tua ngga baik bepergian jauh ra. Bulan


depan sudah waktunya melahirkan.”


Mereka bertiga berjalan menuju kabin pesawat. Damar mendelik


jutek pada vano, melihat vano yang selalu menggandeng tangan gadisnya seakan

__ADS_1


ada yang mau mengambil gadis itu darinya. “Vano.. vano.. begini rupa asli mu


setelah menemukan tambatan hatimu” batin damar.


 


 


*****


Mereka tiba di bandara kualanamu medan. Mobil perusahaan


sudah menunggu mereka dan segera mengantarkan mereka ke sebuah hotel yang


terbilang cukup besar di kota Medan.


Mereka disambut seseorang yang sangat rapi dan terbilang


tampan. Dia adalah pemilik hotel tersebut. Hotel itu adalah milik Randy teman


kuliah Vano dan Damar, yang tentu saja sudah menyiapkan kamar terbaik untuk


Mereka. Damar sebelumnya sudah memesan dua kamar untuk mereka.


“Hi.. apa kabar brooo?”  sapa randy


“hmm. Seperti yang kau lihat” jawab Damar.


Mereka bertiga bersalaman dan berpelukan, Mereka bertiga


dulu adalah teman baik, dan sama-sama kuliah di Jerman.


“Kenalkan ini rara” vano memperkenalkan rara dengan randy


Rara dan randi berjabat tangan sambil tersenyum ramah.


“tumben nih” kata randy melirik vano.


“sabar bro.. tinggal nunggu undangan. Udah ketemu tuh tulang


rusuknya yang hilang” Sela Damar.


Wajah rara merona merah karena omongan dari dua orang teman


vano itu.


“Sudah.. kalian membuat rara malu. Ayo randy tunjukkan kamar


kami.” Vano kemudian merangkul gadisnya dan berjalan ke arah lift.


*****


Trimakasih para pembaca yang sudah

__ADS_1


setia mengikuti karya saya.. Jangan lupa, like, favorite dan support komennya


ya.  Trimakasih


__ADS_2