
Vano mengendarai mobilnya ke arah rumahnya. Rara diam saja
memandang kedepan, dia tampak bingung harus mulai bagaimana mebicarakan perihal
tentang perjalanan ke Medan yang direncanakan oleh Vano.
“Heiii. Kenapa diam aja ra? Giliran tadi kamu narik-narik
tanganku ngga sabaran mau berduaan” vano menggoda rara untuk memecah keheningan
diantara mereka. Entah apa yang sedang difikirkan kekasihnya itu. Vano berfikir
kalau rara akan senang dengan surprise darinya itu. Tapi yang didapatkannya
sekarang rara kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.
Rara hanya melirik vano sekilas dan kembali memandang
kedepan.
“Ra, ada apa? Aku fikir kamu akan senang pulang ke medan
libur ini, makanya aku buat surprise untuk kamu.”
“kenapa mendadak mas?”
“Perusahaan yang di Medan itu sedang proses pengembangan ra,
kemarin Damar bilang ada investor mau ketemu denganku. Jadi aku fikir bisa ajak
kamu sekalian. Aku belum pernah ke Medan, kalau kamu ikut kan ada yang nemanin
aku jalan-jalan disana.”
“Tapi sebenarnya aku sekalian pengen kenal dengan keluarga
kamu ra, masa aku kerumah kamu dan kamu ga ada disana.” “Kamu mau kan nemanin
aku?” Vano menggenggam erat tangan rara dengan sebelah tangannya yang masih
konsentrasi mengemudi.
Rara mengangguk pelan, ditatapnya tangan vano yang
menggenggam jemarinya. Hatinya terasa hangat.
*****
Jam enam pagi Vano dan Rara sudah ada di bandara untuk
penerbangan ke Medan. Setelah check in mereka berdua duduk diruang tunggu
keberangkatan. Masih satu jam lagi sebelum boarding. Vano sengaja mengambil
__ADS_1
penerbangan pagi, karena pertemuannya diadakan sekalian makan siang. Rara duduk
disebelah Vano dan menyandarkan kepalanya dibahu kekasihnya itu. Dia memejamkan
matanya, rara masih kelihatan mengantuk karena sudah terbangun sejak subuh.
Vano merangkul rara dan sesekali membelai rambut gadisnya.
Memandangi wajah manis dan mungil gadis yang sekarang menjadi kekasihnya itu.
Tatapannya mengalir dari mata, hidung sampai bibir gadisnya. Jika saja mereka
sedang berdua pasti dia tidak akan melewatkan untuk mencium bibir tipis yang
mungil itu.
“hmmm..hmmm”
Vano spontan memandang kebelakang melihat kearah orang yang
berdehem barusan. Matanya menatap masam melihat Damar yang datang entah dari
mana datangnya.
“Dari mana saja jam segini baru sampai” tanya vano sengit.
“kalau aku datangnya cepat ntar malah jadi nyamuk disini”
damar mendelik menggoda.
“Ra. Bangun sayang, sudah waktunya boarding” vano menepuk
tangan rara pelan untuk membangunkan gadis itu yang dapat tertidur ditempat
seperti itu.
Rara mengerjap-ngerjapkan matanya. “hmm maaf rara tertidur”
“ehh. Mas Damar sejak kapan disini? Ikut jugakah? Kok kak
Dita ngga diajak mas?” rara memberondong pertanyaan pada Damar.
Vano segera menepuk pundak Damar yang sudah siap-siap hendak
menggoda rara.
“Dita Sudah hamil tua ngga baik bepergian jauh ra. Bulan
depan sudah waktunya melahirkan.”
Mereka bertiga berjalan menuju kabin pesawat. Damar mendelik
jutek pada vano, melihat vano yang selalu menggandeng tangan gadisnya seakan
__ADS_1
ada yang mau mengambil gadis itu darinya. “Vano.. vano.. begini rupa asli mu
setelah menemukan tambatan hatimu” batin damar.
*****
Mereka tiba di bandara kualanamu medan. Mobil perusahaan
sudah menunggu mereka dan segera mengantarkan mereka ke sebuah hotel yang
terbilang cukup besar di kota Medan.
Mereka disambut seseorang yang sangat rapi dan terbilang
tampan. Dia adalah pemilik hotel tersebut. Hotel itu adalah milik Randy teman
kuliah Vano dan Damar, yang tentu saja sudah menyiapkan kamar terbaik untuk
Mereka. Damar sebelumnya sudah memesan dua kamar untuk mereka.
“Hi.. apa kabar brooo?” sapa randy
“hmm. Seperti yang kau lihat” jawab Damar.
Mereka bertiga bersalaman dan berpelukan, Mereka bertiga
dulu adalah teman baik, dan sama-sama kuliah di Jerman.
“Kenalkan ini rara” vano memperkenalkan rara dengan randy
Rara dan randi berjabat tangan sambil tersenyum ramah.
“tumben nih” kata randy melirik vano.
“sabar bro.. tinggal nunggu undangan. Udah ketemu tuh tulang
rusuknya yang hilang” Sela Damar.
Wajah rara merona merah karena omongan dari dua orang teman
vano itu.
“Sudah.. kalian membuat rara malu. Ayo randy tunjukkan kamar
kami.” Vano kemudian merangkul gadisnya dan berjalan ke arah lift.
*****
Trimakasih para pembaca yang sudah
__ADS_1
setia mengikuti karya saya.. Jangan lupa, like, favorite dan support komennya
ya. Trimakasih