Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
Persetujuan Mama


__ADS_3

Rara pov.


Deg.. deg… deg… aku terjatuh tepat berada diatas tubuh mas vano.. “huahhhhhhh, apa yang harus kulakukan? Kenapa juga tadi aku harus bengong melihat kamarnya ini. Kalau aku ngga ngelamunin dan selalu  merhatiin kegiatanku pasti ga bakalan begini. Dia anggap apa aku ini nantinya." Batinku berkecamuk tak karuan


Memang baru pertama kali ini aku masuk ke kamar mas vano, walaupun aku bekerja dan tinggal di rumah mereka sudah cukup lama dan dikarenakan kamarnya yang berada di lantai atas, sehingga tidak ada alasan untukku ke kamar ini.


Lalu keadaanku sekarang, posisi kami berhadap-hadapan, alisnya bertaut, matanya memandangku tajam, entah apa arti tatapannya itu. Jangan-jangan pria ini sudah marah besar.


Aku menyukai pria ini setelah aku sering bersamanya, karena perhatian yang diberikannya. Ahhhhh. Kuabaikan itu semua, bagaimana mungkin aku memikirkan bersama dengan pria tampan ini, kami sangat jauh berbeda, baik dari pendidikan ataupun kehidupan keluarga kami. Pasti kami bukan siapa-siapa kalau dibanding dengan mereka. Dan juga statusku hanya berkerja dengan mereka. Syukur-syukur karena mereka memperlakukanku dengan baik


seperti seorang keluarga.


“Ehem..ehemm…” suara bu Maria menyadarkan kami  berdua. Dan spontan aku langsung berdiri dan menjauh darinya, memilin bajuku. Aku sangat malu, apalagi sampai terlihat bu Maria kami dalam keadaan seperti tadi. Wajahku memanas, pasti sudah seperti tomat matang yang terlihat saat itu.


“maaf mas” kataku singkat.


“ya.. makanya hati-hati, jawab mas vano

__ADS_1


”Eh… maaf mama mengganggu ya, mama tadi hanya mau liat keadaan vano, mama udah kangen.” Walaupun setiap hari video call, bu Maria rindu menggoda anak kesayangannya itu.


“mmmm, jangan salah paham ma, tadi rara tak sengaja terjatuh, saat vano mau berbaring ke tempat tidur. Habisan dianya bengong ma.” Jelas vano pada mamanya.


Bu Maria tampak tersenyum sambil menghampiri putra tersayangnya itu. “ya. Mama ngerti” jawab bu Maria sambil sesekali melirikku.


Aku yang sangat malu dan tak tau harus bagaimana akhirnya permisi kembali ke kamarku.


Kutinggalkan bu Maria dan mas vano disana. Jantungku masih berdebar keras. Beberapa kali aku menarik nafas panjang untuk menenangkan debaran di jantungku. Aaku merasa tak enak pada bu Maria, pasti beliau berfikir yang kurang baik tentangku.


*****


Vano bercerita juga bagaimana rara memperlakukannya dengan baik saat dirawat dirumah sakit, bagaimana lucunya rara saat sedang tertidur pulas di atas sofa.


“Jadi mama ga salah pilih kan nak?” tanya bu Maria yang sudah semakin yakin dengan perasaan anaknya ke rara, apalagi seteleh mendengar cerita-cerita tentang mereka langsung dari mulut vano. Melihat bagaimana ekspresi anaknya itu saat bercerita, bu Maria sangat senang karena akhirnya anknya itu menemukan tambatan hatinya.


“maksud mama?” tanya vano bingung.

__ADS_1


“kamu senang saat bersamanya nak, kamu tersenyum saat menceritakannya. Ekspresi wajahmu tidak bisa menutupi perasaanmu. Kamu menyukai rara kan nak? Jangan ragu-ragu nak. Mama selalu mendukung vano. Karena mama sudah melihat kebaikan dan ketulusan gadis itu. Itu semua tidak dia buat-buat nak”. Bu Maria mencoba meyakinkan anak tersayangnya itu.


“Tapi apa nanti rara ga menolak vano ma? Sepertinya rara memperlakukan vano seperti pasien-pasiennya yang lain.” Jawab vano.


“kamu itu ya umur udah , kok belum mengerti juga nak. Mama udah melihat ekspresi Rara, walupun dia berusaha menutupinya.” Bu Maria jengkel melihat keluguan anaknya itu.


“Vano kepikiran kalau ntar ditolak, kita jadi bakal saling ga enak ma, dan waktu itu vano ngga sengaja dengar seperti ada cowok gitu yang dekatin rara dan cowok itu kayaknya udah dekat ma keluarga rara ma”. Vano masih mencoba berargumen dengan mamanya


“Makanya vano, kamu harus berjiwa besar apapun keputusan rara nanti. Kamu harus menunjukkan kalau kamu tulus. Dan masalah cowok lain itu vano ngga usah khawatir. Sebelum janur kuning berkembang, teruskan perjuangannmu nak.” Bu Maria memberi semangat vano sambil tersenyum, lalu meninggalkan kamar anaknya itu.


*****


Tbc.


Hahahaha. Sosok Vano yang lugu dan kaku, bagaimana mereka berdua jadinya nanti ya? Ikutin terus ya kisahnya.


Jangan lupa, Like, Vote dan Komen ya guys. Trimakasih

__ADS_1


__ADS_2