Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Teka-Teki Baru


__ADS_3

"Arkh!!!!"


Lelaki itu membuang semua benda di atas meja kerjanya. Dia menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Sepertinya dia begitu stress.


"Kenapa kau begitu bodoh, Azof?? Kau bahkan tidak menyadari adikmu punya masalah seberat ini.. Bahkan semua permasalahan ini disebabkan oleh kecerobohannya sendiri.."


Dia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Bagaimana tidak? Dia sudah tahu hari itu ada yang tidak beres dengan Yuna. Tapi mengapa dia tidak pernah berpikir sedalam ini? Dia bahkan sama sekali tidak mengetahui ada hal buruk yang menimpa pasien yang tengah dia jaga.


"Pantas saja kau memintaku untuk menjaga Jian."


Dia baru sadar sekarang. Pernikahan itu terjadi karena ancaman dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Bodoh sekali kau Azof! Sampai hal seperti ini pun kau sama sekali tidak tahu.


Maklum saja. Yuna menikahi Demy pada tanggal lima belas Juli. Sedangkan dia baru mengetahui permasalahan itu sekarang, setelah pernikahan Yuna sudah lebih dari satu minggu. Ia baru tahu saat Hani menjelaskan rincian masalahnya. Dasar bodoh !!


Yuna memang mendadak melakukan pernikahan itu. Hanya pihak Demy dan ibunya saja yang tahu rencana pernikahan itu. Bahkan Azof belum sempat bertanya mengapa adiknya bisa mengambil keputusan secepat itu. Kau memang bodoh!!


Kau tidak sadar seberapa besar masalah yang adikmu hadapi saat ini. Seharusnya saat itu kau menanyakannya pada Yuna mengapa dia bisa menerima lamaran Demy. Tapi kau pun hanya berpikir dangkal. Kau pikir Yuna juga butuh kebahagiaan. Kau pikir dia sudah lelah menanti terbangunnya Jian dari koma. Itu saja. Kau tidak berpikir lebih jauh dari itu.


'Cklek.'


Seseorang terlihat membuka pintu.


"Azof?? Ada apa denganmu??"


Rupanya Hani yang datang. Dia terkejut melihat Azof yang terduduk di lantai. Dia tahu Azof sedang merasa stres. Dia berlari menggapai tubuh laki-laki itu dan membangunkannya.


"Duduklah!!"


Hani memberikan sebotol air minum padanya. Laki-laki itupun meminumnya. Dia baru bisa merasa lebih tenang.


"Katakan padaku apa yang sudah terjadi padamu.."


"Aku memang bodoh, Hani! Bagaimana bisa aku tidak menyadari ucapan adikku saat itu.."


"Apa maksud perkataanmu?"


"Dia sempat mengisyaratkan padaku untuk menjaga Jian.Tapi aku pikir dia tidak mempunyai masalah yang serius.."


"Apa yang dia katakan?"


"Dia mengatakan padaku.. Kau harus menjaga Jian untukku.. Begitulah katanya.. tapi aku bahkan tidak menyadari satu katapun yang keluar dari mulutnya .."


Hani hanya terdiam. Ia pikir Azof sudah tahu tentang ini. Rupanya dia sama sekali tidak mengetahui apapun.


"Aku terlalu bodoh, Hani. Aku hanya memikirkan masalahku sendiri waktu itu. Hingga saat adikku mencoba memberitahu padaku tentang masalahnya, aku sampai tidak tahu akan hal itu."


"Apa yang sebenarnya kau pikirkan saat itu, Azof?"


Azof terdiam. Dia sudah berbicara terlalu jauh. Dia tidak sadar dengan siapa dia tengah berbicara. Lelaki itu memandang Hani agak lama. Dia baru sadar wanita itu tengah mencemaskannya. Dan dia bahkan sedang setia menanti jawaban darinya. Kau memang bodoh, Azof!!


"Tidak Hani!! Aku tidak memikirkan apapun."


Dia berusaha menutupi semuanya dari Hani.


"Apa? Bukankah kau baru saja mengatakan padaku jika saat itu kau sedang mengurus masalahmu sendiri?"


"Kau tidak perlu tahu soal itu.."


Azof memalingkan muka. Dia menutupi wajahnya yang terlihat tidak karuan. Andai saja kau tahu Hani, kaulah yang menjadi masalah dipikirannya kala itu. Kau bahkan selalu menghantui otaknya hingga dia tidak bisa berpikir jernih.


"Kenapa aku tidak perlu tahu?"


Azof tidak menjawab.


"Bicaralah padaku!!"


Dia masih sama. Tidak ada jawaban sedikitpun.

__ADS_1


"Kenapa kau diam?"


"Aku tidak ingin kau tahu.. Lupakan saja! Anggap aku tidak pernah bicara apapun padamu.."


"Hh.Menyebalkan sekali! Lalu bagaimana kau akan mengatasi masalah ini?"


Azof teringat akan suatu hal. Dia meminta Hani untuk memperhatikan wajah tiga orang yang dia lihat dalam rekaman cctv. Dia mengajaknya masuk ke dalam ruangan itu. Para petugas memutarnya kembali. Mereka patuh saja pada atasan mereka.


"Tunjukkan padaku rekaman itu lagi!"


"Baiklah, Dokter."


Rekaman diputar. Mereka memandang penuh keseriusan. Bahkan tanpa berkedip. Awalnya Hani biasa saja. Dia tidak melihat sesuatu yang aneh.


"Percepat lagi saat mereka datang."


Para petugas itu menurut lagi. Rekaman dipercepat dan kemudian berhenti saat sesosok wajah seorang wanita mulai tertangkap kamera dengan jelas.


"Tunggu!!"


Hani mencegatnya. Dia kenal siapa wanita itu. Dia paham betul siapa dia.


"Apa kau kenal wanita itu, Hani?"


"Aku sudah tahu dia! Biarkan aku melihat dua orang lagi. Mungkin saja itu sesuai dengan pemikiranku."


"Baiklah! Lanjutkan lagi!"


Dua petugas itu terlihat melanjutkan pemutaran. Satu wajah lagi tertangkap. Dia laki-laki yang memakai topi hitam seperti saat dia melihatnya di Apartemen Yuna.


"Aku ingat laki-laki itu! Dia yang sudah mengintai Yuna saat Demy mendatanginya. Benar. Aku tidak salah lagi."


"Apa maksud kamu?"


"Dia orang yang sama seperti laki-laki yang memotret Yuna saat itu."


"Kenapa kau tidak bicara itu padaku?"


"Apa kau ingat kapan laki-laki itu mengintai Yuna di Apartemen?"


"Sejujurnya aku tidak yakin. Aku melihatnya tepat saat Yuna berkata padaku bahwa dia menerima ancaman dari seseorang. Aku pikir jika laki-laki itu berada di Rumah Sakit saat ancaman itu datang, bagaimana aku bisa melihatnya di Apartemen Yuna?"


"Baiklah. Kita akan memecahkannya nanti. Sekarang wanita yang tadi kau bilang sudah mengetahuinya."


"Kita bicara di ruanganmu."


Skip..


Ruangan Azof..


Hani beralih pada ponsel yang dia simpan dalam tasnya. Dia memuat sebuah artikel beserta video didalamnya. Lalu ia tunjukkan hal itu pada Azof.


"Coba kau lihat ini!"


Azof mengambilnya. Dia melihat seorang wanita dengan ciri-ciri yang sama persis dengan wanita dalam rekaman. Dia terkejut. Rupanya dia juga seorang aktris. Apa mungkin dia mengancam Yuna hanya untuk ketenaran? Begitulah pikirannya.


"Apa kau sudah paham maksudku?"


"Aku sudah tahu."


"Belakangan ini namanya menjadi naik usai jatuhnya karier Yuna dari dunia hiburan karena gosip itu."


"Gosip apa maksud kamu?"


"Apa kau bercanda?"


"Tunggu dulu! Apa adikku terkena masalah lain?"

__ADS_1


"Kau pikir kenapa masalahnya menjadi serumit ini, Azof? Apa kau sama sekali tidak tahu apapun mengenai Yuna?"


"Aku.. Benar-benar tidak mengetahui apapun."


"Kenapa kau begitu bodoh? Apa Bibi tidak pernah memberitahu padamu?"


"Sejujurnya aku selalu menyendiri di dalam kamarku. Aku hanya keluar saat punya jadwal di Rumah Sakit."


"HH. Aku sudah mengatakan padamu kemarin. Apa kau tidak menyerap perkataanmu ? Ternyata kau belum mengerti apapun. Apa kau pikir Yuna menikahi Demy karena cinta?"


"Aku pikir dia ingin bahagia dengan menerima lamaran Demy. Itu saja.."


"Kau sudah tertinggal jauh, Azof."


Hani merebut ponsel di tangan Azof dan mencari artikel yang lain. Maklum saja. Azof saat itupun tengah memikirkan masalahnya hingga dia sama sekali tidak peduli pada orang lain.


"Lihatlah ini!!"


Hani menunjukkan sebuah artikel lagi. Kali ini ada foto Yuna saat dia tertidur bersama Demy.


"Apa? Apa dia memang melakukan ini?"


"Tentu saja tidak. Aku sudah mencecarnya untuk mengakui, tapi dia sama sekali tidak melakukannya. Begitulah katanya."


"Apa kau berpikir hal yang sama denganku Hani?"


"Apa memangnya?"


"Kau pikir saja! Kau melihat pria itu membuntuti Yuna saat dia sedang bertemu dengan Demy di dalam Apartemen. Mungkin saja dia melakukannya juga saat dia sedang tertidur dengan Demy."


"Apa begitu? Jika itu benar seharusnya orang itu ada di rumah Demy."


"Apa mungkin dia orang yang bekerja di sana?"


"Itu mungkin saja.."


"Coba kau ceritakan padaku saat kau melihatnya di Apartemen."


"Itulah mengapa aku suruh pada petugas tadi untuk memutar video itu lebih lanjut."


"Apa yang kau lihat?"


"Pertama kali aku melihat wanita itu, aku jadi ingat saat melihat pria itu. Aku hendak menghampiri Yuna karena aku pikir Yuna sedang membutuhkan seorang teman. Aku mengunjungi Apartemennya beberapa saat setelah Yuna memberiku kabar bahwa dia mendapatkan ancaman. Aku lihat ada seorang pria dengan topi hitamnya sedang bersembunyi di balik dinding. Aku diam saat aku tahu ada siapa di depan pintu. Rupanya ada Demy di sana. Aku hampir melarak ponsel yang ia gunakan untuk memotret mereka. Tapi belum juga aku melakukannya, pria itu buru-buru pergi. Aku berusaha mengikutinya, dan dia berhenti di Taman. Dan disana aku juga melihat wanita itu."


"Apa maksud kamu mereka bersekongkol?"


"Aku rasa begitu."


"Tapi bagaimana mungkin jika dia mengancam Yuna dengan video itu, sementara kau melihatnya di Apartemen bersama wanita itu?"


"Mungkin saja video itu diambil sehari sebelum kejadian ancaman itu."


"Oh. Aku tahu sekarang. Rupanya dia sedang memperalat Yuna untuk mendapatkan keuntungannya sendiri."


"Aku juga berpikir seperti itu."


"Tapi ada hal yang mengganjal dalam benakku, Hani."


Hani menoleh bingung.


"Bagaimana bisa laki-laki itu memotret Demy dan Yuna saat mereka tengah tidur bersama di Rumah Demy? Apa mungkin dia orang suruhan keluarganya?"


"Aku pikir Demy merasa sangat marah kala itu karena Yuna sudah menolak lamarannya. Itu yang Yuna ceritakan padaku."


"Jadi seperti itu?"


"Dia berkata padaku jika Bibi Daniah sangat senang saat dia datang ke rumahnya. Dia hanya mengira bahwa Bibi berharap Yuna bisa membujuk Demy untuk keluar dan tidak menyiksa diri. Dia tidak berpikir aneh kala itu."

__ADS_1


"Apa mungkin permasalahan ini berasal dari keluarga Demy.."


Keduanya saling menatap, juga saling menebak. Mereka mencoba membuka teka-teki yang begitu rumit ini. Mungkinkah mereka bisa menemukan jawabannya?


__ADS_2