Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Menyingkap Tabir


__ADS_3

Jian sungguh berpikir keras. Sudah satu minggu berlalu dan dia sama sekali tidak menjumpai Yuna disana. Dia sudah sangat was-was karena semua orang di sekitarnya tidak mengatakan apapun mengenai wanita itu.


Jian berjalan dengan lemah menyusuri lorong Rumah Sakit. Ditemani sang sekretaris cantiknya yang selalu memapah kemanapun laki-laki itu pergi. Dia tidak berkata satu patah kata pun. Dia hanya diam dan merasa bingung sendiri. Dia tahu ada hal yang tidak beres di belakangnya. Tapi bagaimana dia bisa mengetahui hal tersebut jika tidak ada satu orangpun yang memberitahu kepadanya ?


Skip...


Ruangan Azof....


Hani terlihat sedang duduk di sana. Dia juga sedang merasa bingung dengan kejadian kemarin. Bagaimana mereka bisa mendapat fakta jika saksi kunci mereka sudah tewas. Hal ini semakin menyulitkan saja.


"Aku benar-benar bingung saat ini. Kita menangkap lelaki itu bahkan sampai dia tewas. Tapi dia tidak memberikan penjelasan apapun. Dia hanya bicara soal musuh yang tidak ada sebandingnya dengan kita.. Hhhh. Rasanya kesal sekali. Jika tahu akan begini, sedari awal aku akan berusaha menangkap Aldi beserta musuh yang dia maksud itu juga."


"Apa boleh buat. Sekarang yang terpenting adalah, bagaimana kita menjelaskan pada Jian tentang permasalahan Yuna selama ini."


Diluar Jian terhenti. Dia mendengar dua sahabatnya sedang bercakap-cakap dan hal itu juga terdengar membawa namanya. Dia sontak penasaran dan memilih untuk mendengarkan percakapan mereka dari luar.


Sanni yang masih sedikit cemas pun, berusaha membujuk Jian untuk kembali ke ruangan inapnya. Bukan apa-apa. Dia hanya kasihan jika melihat Tuannya menderita. Padahal selama ini dia sudah cukup tersiksa dalam masa koma yang begitu lama. Dia hanya berpikir untuk mengatakan semuanya nanti kalau keadaan Jian sudah benar-benar pulih.


"Mr? Kenapa kau berhenti ?"


"Sssttt !!! Diam !!!" ( Berbisik ).


"Kenapa, Mr ? Apa ada hal penting ?" ( Mencoba menutupi padahal dia sendiri juga mendengar percakapan itu dengan jelas ).


"Kamu diam disana !!"


"Baik, Mr."


Sanni mundur satu langkah. Dia sudah pasrah. Daripada dia harus mengambil resiko yang lebih besar, maka akan lebih baik jika Jian mendengar sendiri dari orang lain.


Di dalam...


"Aku masih belum tega padanya, Hani."


Hani menatap wajah Azof yang semakin terlihat gusar.


"Aku kasihan melihatnya seperti ini.. Aku ingin menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu semuanya pada Jian. Aku khawatir pikirannya akan terguncang jika aku beritahu semuanya sekarang."


"Lalu apa menurut kamu dia tidak terguncang saat ini, Azof ?" ( Menatap mata laki-laki itu dengan mantap ).


Azof memalingkan muka.


"Aku yakin sekarang Jian juga tertekan karena tidak mengetahui apapun yang terjadi pada Yuna. Pikirkan juga dia !! Dia juga berhak tahu kenyataan ini."


"Tapi, Han..."


"Aku ingin kamu buka semuanya pada Jian lalu setelah itu kita bisa mencari jalan keluar ini bersama-sama."


Brakk !!


( Pintu dibuka paksa )


Azof dan Hani terlihat kaget. Rupanya Jian yang mendobraknya hingga terbuka. Dasar laki-laki ini. Padahal dia sedang dalam kondisi lemah. Tapi mendengar pernyataan tentang Yuna sungguh membuatnya lupa kondisinya yang sedang sakit.


Dia bergegas masuk. Sanni yang berada dibelakang Jian buru-buru menutup pintu setelah memastikan keadaan di luar aman.


Krebb.


Pintu ditutup dan dikunci dengan rapat. Kini rasanya Azof sedang dalam ruangan interogasi yang menakutkan. Dia tidak punya daya lagi untuk menutupi semuanya dari pria ini. Rupanya Jian sudah mendengar semua perkataan mereka berdua. Bagaimanapun sudah tidak ada lagi alasan untuk terus bersembunyi.


"Apa yang kau maksud kenyataan tentang Yuna ?"


Kedua mata itu menatap tajam ke arah sahabatnya, Azof. Sorot mata yang menandakan kekhawatiran dan kemarahan yang bercampur menjadi satu. Azof belum pernah melihat mata itu menatapnya sebegitu marahnya. Maaf Jian.. Dia tidak bermaksud untuk mengecewakanmu.


"Katakan padaku, Azof !! Sejak kapan kau mulai menyembunyikan rahasia dariku ?? Dimana Yuna !!"


Tangannya mencengkram kerah kemeja Azof. Begitu kuat tenaganya bahkan saat dia sedang sakit sekalipun.


"Jian.. Kami bukan ingin menyembunyikan apapun darimu.. Kami hanya menunggu waktu untuk membicarakannya. Jangan salah paham !! Aku hanya takut kau akan merasa tertekan !! Lepaskan aku !!"

__ADS_1


Jian melepas cengkeraman tangannya. Siapapun yang berani menyembunyikan Yuna dari dirinya, dialah musuhnya. Tidak peduli apakah dia sahabat atau bukan.! Jika sudah berbicara tentang Yuna, maka mereka akan langsung berhadapan dengan dirinya.


"Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Tapi sebelum itu kau harus berjanji untuk bersikap tenang."


"Cepat katakan !!"


"Oke.. Dia sudah menikah..."


"Apa ??"


Hancur sudah hatinya mendengar tiga kata itu keluar dari mulut Azof. Hancur berkeping-keping bahkan rasanya kata-kata itu membuat jiwanya mati. Apa benar Yuna Setega itu meninggalkan dirinya saat ia terbaring koma ? Apa ini sebuah pengkhiantan ?


"Dengarkan aku dulu !!"


"Dengan siapa dia menikah ??"


"....... Demy..!!"


Dan satu nama itu lagi-lagi telah berhasil meluluh lantakkan perasaannya. Begitu terkejut dirinya saat mendengar fakta mencengangkan dari mulut sahabatnya ini.


'Apa memang kau setega itu untuk mengkhianati aku, Yuna ?'


"Demy ??"


"Iya.."


"Dimana mereka sekarang ? Aku butuh penjelasan dari mulut mereka !!"


Marah, kecewa, dan sakit bercampur menjadi satu. Tidak disangka air matanya mulai menetes. Rintikkan itu semakin lama semakin besar dan akhirnya banjir sudah di pipi Jian. Lelaki itu terduduk lemas. Sekian lama dia menunggu untuk bisa kembali dengan cinta pertamanya, menata kembali hidup yang baru, mewujudkan impian-impian yang dulu sempat mereka rangkai.. Akh !! Jahat sekali kau, Yuna !! Kau sungguh sangat jahat.


Azof menyusul pria itu duduk di lantai. Dia juga sebenarnya tidak begitu tega. Tak apa !! Lebih baik jika Jian tahu lebih awal. Setidaknya semuanya belum terlambat.


"Hhh. Aku belum menjelaskan detailnya bukan ?"


Jian mendongak. Menatap sepasang mata milik Azof dengan sorot mata iba. Dia sungguh tidak mengerti apa maksud ucapan sahabatnya itu.


"Dia sudah dijebak !"


Kali ini wajahnya berubah. Sorot matanya mulai kembali tajam. Dia masih belum mengerti sepenuhnya tentang perkataan Azof.


"Biar aku jelaskan padamu. Sekarang duduklah dan bicara dengan tenang !"


Jian menurut saja. Dia bangun dengan bantuan Sanni. Dia lalu beranjak duduk di sofa dan berusaha menenangkan diri.Belum juga dia tenang, Azof melempar sebuah berkas di atas meja. Jian tidak mengerti apa isi di dalamnya. Hingga akhirnya dia punya inisiatif sendiri untuk membukanya. Matanya langsung membulat melihat sebuah foto dan artikel yang sudah dicetak dalam sebuah kertas. Apa ini sebuah barang bukti ?


"Itu foto Yuna yang tidur bersama dengan Demy !"


Jian masih saja memelototi foto kasihnya, yang terlihat begitu mesra dengan sahabat laki-lakinya itu. Mengejutkan !!


"Tapi kau tak perlu merasa kau sudah dikhianati oleh adikku. Ini hanya sebuah jebakan !"


"Jebakan ? Jebakan apa yang kau maksud disini, Azof ?"


"Lihat saja artikelnya ! Mereka menjatuhkan nama adikku dengan bermodal foto ini."


"Jadi ?"


"Tentu saja kau sudah tahu. Ada seseorang yang sengaja membuat fitnah ini untuk keuntungan mereka."


Dia kemudian duduk berhadapan dengan Jian.


"Lalu apa yang terjadi setelah itu ?"


"Andai kau tahu betapa setianya dia dalam penantian ini."


Azof mendengus kesal.


"Baginya untuk lari dari masalah ini sangatlah mudah. Tapi sayang.. Mereka mulai menggunakan dirimu untuk mengancamnya !"


"Menggunakan aku untuk mengancamnya ?"

__ADS_1


"Kau benar. Wanita itu mengirim sebuah video saat sedang menyentuhmu dengan pisau tajam. Dia sangat ketakutan.. Dia sungguh berpikir dangkal kala itu karena ancaman itu membahayakan nyawamu."


Azof membenarkan posisi duduknya.


"Dia mengambil langkah cepat tanpa berpikir resikonya. Dia segera menyetujui untuk menikah dengan Demy untuk menyelamatkan nyawamu !"


Jian menatap mata sahabatnya tanpa berkedip. Hancur sekali rasanya. Rupanya kau sudah melewati masa-masa sulit seperti ini Yuna.


"Dia akhirnya menikah dan mengakui perbuatan yang sama sekali tidak benar itu dihadapan publik. Dia mengakui semua tuduhan kepadanya adalah benar !"


"Apa ??"


"Dan aku yang sudah bersalah."


Azof menunduk. Pria itu memang selalu merasa bersalah setiap kali mengungkit masa-masa itu. Bagaimana bodohnya dia yang hanya diam dan sama sekali tidak mengetahui apapun tentang permasalahan adiknya.


"Aku bahkan menyadari adikku menikah dengan terpaksa belum lama ini. Aku sama sekali tidak tahu apapun tentang permasalahannya. Aku hanya memikirkan masalahku sendiri saat itu hingga aku tidak peduli pada orang lain. Aku sudah gagal menjaga Yuna untukmu.. Maaf !!"


Kali ini Jian yang membuang nafasnya kasar. Dia sudah mengerti alur ceritanya. Sekarang tinggal menentukan siapa pelaku dalam permasalahan ini.


"Siapa yang melakukan ini ?"


Azof kembali bangkit dari duduknya. Dia mencoba membenarkan kerah Jaz dinasnya lalu beralih menuju sebuah catatan. Dia melihat beberapa sosok yang dia yakini sudah ikut terlibat dalam peristiwa ini.


"Aku sudah sempat menangkap satu pelaku saat itu.."


Melempar beberapa kertas di atas meja. Lagi-lagi Jian berusaha menggapainya. Sementara, dua wanita yang sedari tadi diam pun mulai mencoba untuk menimbrung.


Jian melihat beberapa foto yang diyakini oleh Azof sebagai pelakunya.


"Lalu dimana kau menyembunyikan tangkapanmu ?"


"Itulah yang sangat disayangkan.. Dia tewas sebelum waktunya."


"Tewas ?"


"Aku memang tidak ahli dalam hal seperti ini. Berbeda denganmu yang bisa mengatasi hal sekecil ini dengan sigap dan tidak menimbulkan celah."


Jian masih memandangi beberapa foto ditangannya. Dia masih menebak-nebak siapa yang sudah berani mengusik hidupnya.


"Aku mengerahkan beberapa bawahan kamu untuk ikut partisipasi dalam rencanaku.. Tapi aku terlalu emosi. Aku menyiksanya sebelum mendapat jawaban dari mulutnya. Hingga akhirnya aku mendengar kabar bahwa pria itu sudah tewas !!"


"Aldi ??" ( Membaca nama di catatan tersebut ).


"Iya. Namanya Aldi. Ajudan dari Nyonya Daniah,Ibu kandung Demy. Dia bekerja disana sudah hampir sepuluh tahun dan menjadi pengawal setia Nyonya Daniah."


"Aku sudah tahu sekarang. Mereka hanya sedang memanfaatkan situasi saat itu untuk mengambil sebuah peruntungan."


"Apa maksudmu ?"


"Aku yakin Yuna dan Demy tidak akan tidur bersama jika tidak memiliki alasan. Dan alasan itu seharusnya bukanlah hal yang patut dicurigai. Aku paham siapa kekasihku itu.. Bahkan saat bersamaku pun dia tidak pernah mau untuk sekedar rebahan bersama. Apa mungkin Yuna akan semudah itu terkecoh ?"


"Kau benar juga. Jika alasan Yuna saat itu adalah kelelahan, mungkin ada seseorang yang membuatnya merasa tidak berdaya.."


"Aku juga belum pasti."


"Ehemm !!" ( Hani mendekat ).


Azof dan Jian menoleh menatap wanita itu.


"Coba kau lihat ini, Jian ! Dia adalah aktris terkenal baru-baru ini. Dia mendadak menjadi artis papan atas usai terpuruknya Yuna dari dunia hiburan.. Lalu saat kami hendak menangkap Aldi pun kami melihat mereka berdua sempat bertemu di Taman. Mereka berbicara dengan lirih. Tapi aku yakin.. Wanita ini juga mengincar posisi yang dimiliki Yuna saat itu.. Mengingat dia juga berperan saat mengancam dirimu di Rumah Sakit dengan pisau.. Aku rasa jika alasannya hanya untuk menaikkan popularitas, itu tidak akan masuk akal."


"Lalu ??"


"Mungkin saja ada motif lain yang mereka sembunyikan. Sayang sekali Aldi tidak mengatakan apapun padaku hari itu. Aldi hanya mengatakan bahwa kami tidak akan sanggup melawan musuh yang sesungguhnya. Itulah yang belum sempat kami pecahkan sampai sekarang." Azof menyambung.


"Jadi maksud kalian.. Ada dalang yang besar dibalik kejadian ini ?"


"Iya. Dan kami sama sekali tidak menemukan apapun tentang orang ini."

__ADS_1


Semuanya terdiam. Pembicaraan selesai. Masing-masing tengah berpikir dan mencoba menguak satu persatu fakta dan menemukan seseorang yang berperan besar dalam jebakan itu. Tapi mereka belum bisa mendapatkan jawabannya. Perjalanan akan dimulai dari sekarang..


__ADS_2