
Annie terus memegangi dadanya yang semakin terasa sakit. Nafasnya mulai terpenggal-penggal. Ia tahu sedikit saja dia mengulur waktu, maka nyawanya sendiri yang akan melayang.
"Sa.. Sakit.. Sekali.."
"Sakitkah? Apa mau kuberi obat ini ?"
"Jian.. Aku.. Akan.. Beritahu.. Semuanya.. Jangan bunuh.. Ibuku.."
Jian mengangkat tangannya memberi tanda kepada para bodyguardnya untuk menonaktifkan bahan peledak dengan kendali jarak jauh. Dan mereka pun mengerti.
"Kalau begitu katakan padaku..!!"
"Aku.. Butuh obat itu.. Nafasku mulai pendek.." ( Semakin terlihat lemah ).
Jian yang merasa iba itu akhirnya mengalah. Dia memberikan sedikit obat dengan sendok dan meminumkannya pada Annie.
"Dosis sekecil ini tidak akan mampu menyelamatkanmu dari kematian.. Tapi setidaknya bisa mengulur sedikit waktu.. Aku akan memberikannya lagi setelah kau selesai bicara.."
Annie mengangguk sembari memegangi dadanya yang agak membaik.
"Kalau begitu cepat jelaskan!!"
"Aku.. Aku hanya orang suruhan saja !"
"Jadi kau bukan pelaku utamanya disini ?"
Annie menggeleng.
"Kalau begitu siapa dalang dibalik semua ini ?"
"Aku akan katakan dari awal.."
"Pastikan kau tidak membohongi aku! Karena jika kau mencobanya, maka peledak itu akan meledak tepat setelah kau selesai bicara.."
"Baik.." ( Mendongak ), "aku menerima sebuah perintah bersama dengan Aldi dan aktris bernama Aurel itu.. sejujurnya aku tidak terlalu mengenal juga siapa Aurel.. Dan.. mengapa dia bisa satu kelompok dengan kami.."
Jian hanya berekspresi bingung.
"Dia hanya bilang padaku.. Gunakan foto itu untuk menghancurkan mereka.. Dan dia memberiku sebuah foto Yuna dan Tuan Demy saat mereka tengah tidur bersama.."
"Lalu apa peran Aldi dan Aurel disana ?"
"Aldi.. Hanya bertugas memotret kebersamaan Yuna dan Tuan Demy.. Sementara Aurel bertugas menyebarkan foto-foto itu kepada media.."
Jian mengangguk tanda dia sudah mengerti alur cerita itu.
"Dan apa tugasmu ?"
"Dia memintaku untuk memberikan obat itu kepadamu supaya kamu bisa koma lebih lama lagi.. Dengan begitu rencananya akan berhasil.."
Jian mengangguk lagi.
"Siapa yang mengendalikan kalian ?"
Annie begitu ragu. Jika dia memilih diam dan tidak membuka identitas orang itu, maka Jian dengan sigap akan membunuhnya saat itu juga. Tapi jika dia memilih untuk bicara, sudah pasti dia akan mati di tangan orang yang mengendalikannya. Tapi setidaknya dia bisa lebih dulu menyelamatkan ibunya dan minta perlindungan pada Jian.
"Katakan !!"
Annie terkejut mendengar Jian yang semakin emosi didepannya. Dan hal itu berhasil membuatnya terbangun dari lamunan.
"Ba-baik. Aku akan.. Membuka identitas itu.." ( Menatap Jian dengan berharap ), "aku sudah tahu aku akan mati jika diam ataupun bicara. Tapi setidaknya aku minta kau untuk melindungi ibuku jika aku mati.."
"Jika kau mau bicara padaku, aku akan berusaha melindungi mu dan ibumu.. Setidaknya kau hanya akan merasakan tinggal dalam jeruji besi saja.."
"Berjanjilah !!"
Jian mengangguk pertanda dia sudah menyetujui perjanjian itu.
"Orang itu.. Adalah.. Daniah.."
Mata Jian membulat sempurna. Dia terkejut bukan main saat itu. Emosinya mendadak menutupi relung hatinya. Wanita yang dia kira orang yang baik itu rupanya bermuka dua. Dasar wanita tua tidak tahu malu !!!
"Tuan.. Tolong jangan.. Katakan aku yang membongkarnya.." Annie semakin terlihat lemah. Tersungkurlah dia di lantai.
Jian bangun dari duduknya dan melempar obat di tangannya pada si bodyguard. Dia meminta pria kekar disana untuk memberikan obat itu pada Annie. Mereka menurut saja. Jian lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Duduklah dia di kursi kerja dalam Rumah besarnya. Dia memang memutuskan untuk meninggalkan Apartemen itu.
Dia terlihat menghubungi seseorang. Sanni yang baru saja datang hendak memberikan beberapa berkas dari kantor pun hanya terdiam menunggu Tuan nya selesai bicara.
"Hallo! Kita harus bertemu sekarang."
Panggilan dia akhiri setelah di seberang menyetujui ajakannya.
"Mr. Saya membawa berkas dari kantor.."
"Letakkan saja disana dan ikutlah bersamaku.."
Sanni mengangguk. Dia meletakkan beberapa berkas penting di dalam laci milik Jian. Setelah itu ikut berlalu mengikuti Jian di belakang.
.......
"Hallo, Demy, Ibu akan datang kesana beberapa jam lagi. Tapi kau tenang saja.. Kau tidak perlu menjemput ibu di bandara !"
Demy terdengar bertanya tapi hal itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Daniah. Sial !! Wanita itu sepertinya sudah tahu identitasnya sudah terungkap. Dia mondar-mandir di ruang tengah sambil menunggu barang-barang nya selesai dikemas. Sementara di depan rumahnya, seorang supir dan ajudannya terlihat sedang menyiapkan mobil untuk mengantarnya ke bandara.
"Sial !! Wanita itu sudah membuka semuanya pada Jian !! Sekarang aku terancam !!"
Dia memang tahu karena dia sudah memasang sebuah kamera tersembunyi di baju Annie secara diam-diam, sebelum wanita itu berpamitan padanya. Dia tahu kepergian Annie saat itu sangat tidak wajar. Jadi dia berusaha menyelidiki Annie menggunakan kamera kecil itu.
"Kenapa aku tidak tahu kalau Jian sudah bangun dari koma ?? Huhhh. Aku harus pergi dari sini ke kota M tempat Demy tinggal. Aku rasa disana adalah tempat paling aman untuk bersembunyi. Lagipula tidak ada yang tahu kemana Demy dan Yuna pindah setelah mereka menikah.. Hanya aku dan Demy saja yang tahu.."
Barang-barang sudah terkemas rapi dan siap untuk dimasukkan kedalam mobil. Itu artinya dia sudah bisa pergi dari sini. Para asisten terlihat memasukkan beberapa koper dan menutup bagasi mobil dengan cepat. Daniah masuk kedalam mobilnya lalu melaju kencang menuju bandara.
Hufff !! Akhirnya wanita itu berhasil lolos !!
.....
"Apa yang ingin kau bicarakan ?"
Mereka berempat terlihat duduk berhadapan di sebuah Restoran. Jian memang memanggil Azof dan Hani untuk bertemu karena dia tidak sabar untuk memberikan kabar perkembangan selanjutnya dari kasus ini.
"Dia sudah mau bicara setelah aku memberikan racun padanya."
Azof menatap dengan serius. Begitu juga dua wanita di sampingnya.
"Apa kau serius ?" ( Hani sangat penasaran ).
"Dia sudah mengakui semuanya padaku, bahkan tentang aktris itu dan tugasnya.."
"Lalu? Bicaralah dengan cepat !!" ( Azof semakin tidak sabar ).
"Rupanya Annie bukan pelaku utamanya dalam kasus ini."
"Apa? Jadi setelah semua yang dia perankan sebagai pelaku, tapi ternyata selama ini dia bukan pelaku utamanya ?" Hani terlihat tidak percaya sedikitpun.
"Iya.. Rupanya dia hanya sebagai kaki tangan saja.. Aku sudah tahu siapa pelakunya.. Yang mengendalikan mereka bertiga selama ini."
"Siapa yang kau maksud ?" Azof mulai terlihat kesal.
Jian menatap mata mereka dengan tajam. Dia juga sebenarnya tidak menyangka jawaban pertanyaan mereka adalah wanita itu. Sandiwara yang mengesankan.
"...... Daniah.."
"Apa ??" Azof pun sama. Terkejut bukan main mendengar pernyataan Jian.
"Apa katamu ?" Bahkan Hani merasa sedang di bohongi oleh Jian.
Sanni yang duduk di sebelah Jian ikut menoleh. Dia sungguh tidak mempercayai fakta tersebut. Melihat kala pernikahan Yuna, Daniah terlihat sama sekali tidak mencurigakan bahkan wanita itu terlihat bersedih dan prihatin. Apa itu hanya topeng saja? Rupanya akting wanita itu sungguh hebat.
"Jangan main-main, Jian !! Jangan membohongi kami !!" Hani masih saja tidak percaya.
"Apa kau kira aku sedang bercanda? Annie sendiri yang mengatakannya padaku !! Bagaimana mungkin dia akan berbohong sedangkan aku sudah menggunakan ibunya untuk mengancamnya."
"Jadi.. Selama ini.. Rupanya Daniah yang telah menjatuhkan adikku ?" Azof sama sekali tidak menyangka akan itu.
"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan ?"
"Kita harus menangkap Aurel dan memasukkannya ke dalam penjara juga bukan ?" Tanya Azof begitu yakin.
"Tidak !! Jangan lakukan itu !!" Jian menolaknya dengan cepat.
__ADS_1
"Kenapa ?? Memang seharusnya mereka berdua masuk penjara bukan? Itu hukuman yang pantas untuk mereka.. Buat mereka mengakui perbuatannya pada media dan kemudian penjarakan mereka. Itu yang seharusnya kita lakukan !!"
"Aku rasa saat ini belum waktunya kita melakukan hal itu.. Jika kita memasukkannya ke dalam penjara sekarang, ada kemungkinan Daniah akan kabur karena mengetahui identitasnya sudah terancam. Kita harus menunggu waktu untuk menangkap Daniah dan memenjarakan mereka bertiga secara bersamaan."
"Itu terlalu lama.. Kenapa kita tidak menangkap Daniah sekarang juga ?"
"Jangan terlalu kesal sebelum mendengar penjelasan dariku. Aku sudah mengirim beberapa orang untuk menuju kediaman Daniah barusan. Kita tunggu saja hasilnya.."
Tak lama setelah itu, ponsel Jian bergetar. Rupanya dari bawahannya yang dia beri tugas untuk menangkap Daniah.
Percakapan lewat telepon...
'Mr. Kami datang terlambat! Mereka sudah pergi sebelum kami datang. Rumah ini sudah kosong tanpa penghuni lagi !'
"Apa ?? Apa kalian sudah memastikan ke seluruh ruangan ?"
"Sudah Mr. Tapi kami tidak menemukan satu orang pun disini. Barang-barang mereka juga sudah tidak ada. Sepertinya mereka kabur karena mengetahui kedatangan kami, Mr."
"Huhhh !! Cari tahu kemana perginya mereka !!"
'Baik Mr.!'
Sambungan dimatikan. Setelah itu dia terlihat menghubungi kaki tangannya yang berada di tempat Annie.
Percakapan lewat telepon...
'Hallo, Mr.'
"Periksa apakah ada barang mencurigakan di tubuh wanita itu !"
'Baik, Mr !'
Sambungan kembali lagi dimatikan. Jian memang memiliki insting yang cukup tajam. Dia tahu tidak akan semudah itu Daniah mengetahui rencananya. Dan wanita itu tidak akan kabur begitu saja jika dia tidak mengetahui apapun.
"Apa yang terjadi ?" Azof mencoba bertanya. Melihat raut wajah Jian yang sepertinya tidak senang saat menerima panggilan itu.
"Daniah sudah kabur !"
"Apa ?"
"Orang-orangku rupanya datang terlambat. Mereka bahkan tidak tahu kemana perginya wanita itu."
Brakkk !!
Azof memukul keras meja Restoran itu hingga menimbulkan perhatian dari orang sekitar.
"Kurang ajar !!"
Geram sekali rasanya. Bahkan wanita itu tidak terlihat mencurigakan sama sekali di mata Azof. Sungguh sandiwara yang memuaskan. Malam yang semakin larut pun rasanya ikut kesal menghadapi masalah ini.
"Dasar wanita j****g !!! Akan aku bunuh wanita itu jika dia tertangkap nanti."
Hani mengusap pundak laki-laki itu. Dia mencoba menenangkan Azof dengan kelembutannya. Dan tentu saja itu berhasil.
"Kau jangan cemas. Jian sudah bangun dan berada disini bersama kita sekarang.. Apalagi yang perlu kau khawatirkan ?"
Azof mengangguk saja.
"Aku akan mengatasi semuanya.. Kita akan menangkap wanita itu dan memasukkannya ke dalam penjara !!"
Drrrtt Drrrtt
Ponsel Jian kembali berbunyi. Pasti ada kabar penting lagi disana.
Percakapan lewat telepon lagi..
'Hallo, Mr. Kami sudah menemukan benda yang anda maksud!'
"Apa itu ?"
'Sebuah kamera kecil yang di pasang di baju wanita ini! Kami sudah menanyakan padanya! Dan dia sepertinya tidak tahu apapun !'
"Bagus !! Periksa dimana kendali jarak jauhnya !!"
'Baik Mr !'
__ADS_1
Sambungan dimatikan. Jian sudah menduganya. Hal itulah yang menjadi penyebab Daniah kabur. Mungkin saja Daniah memasangkan kamera itu karena merasa curiga dengan kepergian Annie waktu itu.
Huhh!! Rasanya lelah juga terus membahas masalah ini.