
" Kenapa ibu tidak bisa menghubungi Yuna.."
" Ibu, tenanglah.. Mungkin saja dia sedang istirahat. Lebih baik kita tunggu dia yang menghubungi kita saja.."
" Hhh.. Ibu sangat cemas, Hani.. Apa dia baik-baik saja ??"
" Entahlah, tapi ibu tenang saja. Yuna pasti pintar menjaga diri.."
.......
Yuna sampai di ruangannya kembali. Dia berjalan dengan sehat, karena memang sejak awal dia tidak apa-apa. Hanya lebam saja dipipi, apa itu sangat parah ?? Sepertinya Jian yang terlalu mengkhawatirkan Yuna, sampai-sampai melihat Yuna tidak sadarkan diri saja sudah cemas setengah mati.
" Ihh ?!!"
" Kenapa ?? Apa kamu tidak bisa naik ??"
" Apa ?? Untuk naik ke ranjang ini ?? kamu pikir aku sependek itu ?? Aku bisa kok.." ( Berusaha naik ).
Ya ampun.. Ranjang serendah itu saja Yuna tidak bisa menaikinya.
' Apa aku begitu pendek ??'
Jian terkekeh melihat kelakuan Yuna.
" Hhh.. Kamu bahkan tidak bisa menaiki ranjang. Sepertinya saat kita menikah nanti, aku harus membeli kasur dengan tinggi dua puluh senti, biar kamu bisa naik.."
" Apa kamu sedang mengejekku ??"
" Dasar lucu !!!" ( Terbahak ).
" Apa harus sampai seperti itu ?? Berlebihan sekali.."
' Bagaimana caranya aku naik ?'
" Haaaahh sudahlah, lagipula aku masih bisa duduk di sofa.."
Yuna berbalik, berniat untuk mendudukkan dirinya di sofa saja.
Srettt !!
" Ehhh.."
Tapi Jian lebih dulu mengangkat tubuh kecil dan mungil itu. Dia melakukannya tanpa izin sang pemilik tubuh tentunya.
" Jian ??"
" Kenapa ?? Kau terlalu pendek jika harus menaiki ranjang, jadi tidak ada cara lain selain mengangkatmu ke atas.."
" Tapi ini sungguh tidak perlu.."
" Menurutku ini perlu.."
Jian membaringkan tubuh Yuna ke kasur. Dalam sekejap, dua mata itu bertatapan begitu dekat. Wajah mereka saling berhadapan, dan saling menatap penuh kasih sayang..
" Yuna, aku rindu kamu.."
' Andai kamu tahu Jian.. Rasa rinduku jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan..'
" Terima kasih.." ( Sambil membenarkan posisi duduknya ).
" Itu bukan caraku berterima kasih Yuna."
" A ??"
__ADS_1
" Apa kamu tidak dengar ?? Itu bukan caraku berterima kasih.."
Jian yang baru saja mengangkat badannya agak tegak, kini malah mendekat lagi. Entahlah.. Rasanya dia ingin sekali memakan sampai habis wanita ini.. Huhhh.. Lihat saja Yuna, kamu akan menjadi santapan favorit Jian nantinya..
" Jian..."
" Diamlah. Jangan berisik, Yunaku tidak boleh berbicara terlalu keras, nanti kita akan ketahuan.."
" Memangnya kita mau apa ??"
" Aku mau...." ( Menatap sangat dalam ).
Yuna masih saja terus menatap balik dua mata tajam itu. Dia mulai berpikiran buruk. Arkh !! Tidak boleh !!
" Tidak !!! Tidak boleh !!" ( Mendorong ).
Jian mundur, usai tenaga harimau itu mendorongnya dengan begitu keras.
" Dasar otak mesum !!! Kenapa kamu jadi seperti ini !!! Hhhh.. Aku tidak menyangka kalau otakmu sekarang sudah bergeser terlalu jauh.. Sepertinya itu efek dari koma yang berkepanjangan.."
Jian terkekeh. Wanita itu sangat membuatnya bahagia hari ini.. Hehh.. Dia bahkan lupa kalau dirinya dulu adalah pria yang arogan. Haha.. Rupanya cinta mengalahkan segalanya..
" Kamu sangat imut. Bahkan pipi itu terlihat bertambah gembul. Sepertinya dua hari bersamaku bisa membuat kamu lebih gendut.. Bagaimana jika selamanya denganku, aku akan pastikan kamar kita harus bertambah ukuran.."
" Pria gila !! Menikah saja belum, sudah memikirkan urusan ranjang.. Sepertinya otakmu perlu diperbaiki."
" Apa kamu tidak tahu, kalau sebenarnya kamu sendiri yang membuat kepalaku stres. Salah siapa dulu ingin berkenalan denganku. Kalau sudah mencoba mendekati aku, maka jangan salahkan aku kalau kamu tidak akan bisa lepas lagi.."
' Siapa juga yang mau kamu lepas.. Sudah cukup aku pergi dan kemudian merasa bersalah seperti ini.. Kamu pikir otakku tidak rumit ?? Bahkan rumus matematika saja sepertinya kalah dari rumus di otakku.'
" Yuna..." ( Membelai ).
Yuna kembali menatap pria itu.
Yuna memegang tangan kekar itu dengan penuh kelembutan.
" Penyesalan selalu datang di ujung cerita. Bisakah kamu tidak membahasnya, dan mari kita bahas masa depan kita ??"
" Apa kamu sedang mengisyaratkan aku untuk..."
Cklek.
Pintu terdengar dibuka dari luar.
" Oh. Maaf, aku tidak melihat apapun. Sepertinya kedatanganku sudah mengganggu, ya.."
' Kau memang datang disaat yang tidak tepat sobat..'
" Tapi ini waktunya pemeriksaan. Jadi, berikan aku waktu sebentar ya.."
" Silahkan saja dokter.. Anda tidak mengganggu kami sama sekali.."
Dokter Alta memeriksa luka dipipi Yuna. Dia lalu memastikan kalau luka itu sudah tidak apa-apa.
" Lukanya sudah membaik. Kalau begitu, tinggal bertemu dengan dokter Widya saja sore ini." ( Melihat jam tangan ), " dia akan datang sekitar dua jam lagi. Kau bisa mendaftar lebih dulu sambil menunggu beliau datang."
" Baiklah, terima kasih, dokter.."
" Sama-sama.. Kalau begitu, aku pergi dulu.." ( Berjalan keluar ).
" Pergi saja sana !!"
" Rupanya dengan orang lain, kamu masih bersikap sama.."
__ADS_1
" Hanya dengan Yunaku saja aku berubah. Apa tidak boleh menjadi romantis sedikit pada kekasih kita.."
" Apa kamu lupa, aku baru saja bercerai !! Bagaimana bisa kamu langsung menganggapku sebagai kekasihmu.."
" Apa kamu pikir pertunangan kita sudah batal begitu ?? Aku rasa tidak ada yang membatalkannya di antara kita selama ini.."
" Memang iya, tapi.. kan.."
" Sudahlah, kamu mengaku saja. kamu sebenarnya hanya sedang merasa malu saja bukan.."
' Hhh. Pria ini, berubah sedemikian rupa.. Sepertinya dia sangat merindukan aku..'
..........
" Saudara Demy, ada tamu untuk anda.."
Seorang petugas membuka kunci sel, dan kemudian mempersilahkan Demy untuk keluar menemui orang yang dimaksud.
" Bagaimana ?? Apa sudah selesai ??"
" Sudah, Tuan. Nona Yuna sudah menandatangani surat cerai itu.."
" Kerja yang bagus.. Bagaimana keadaannya sekarang ?? Apa dia tidak cedera parah ??"
" Tidak, Tuan.. Hanya luka memar saja dipipi kirinya.. Itu bekas pukulan Tuan kemarin.."
" Syukurlah kalau begitu.."
" Em.. Tuan, ada Tuan Jian juga disana.."
" Hhh.. Memang itu yang aku harapkan. Aku senang sekali akhirnya mereka bisa kembali bersama.."
" Kenapa Tuan sengaja melakukan semua ini ?? Apa Tuan sudah bosan dengan Nona Yuna ??"
" Bosan ? Dengan Yuna ?? Berani sekali kamu mengatakannya.. Tidak ada yang akan bosan meskipun harus hidup bersamanya selama seribu tahun. Bahkan karena Yuna juga, ibuku memaksakan takdir supaya bisa mengangkatnya menjadi menantu. Apa kalian pikir Yuna seorang wanita biasa ??"
" Lalu, kenapa Tuan bersikeras menceraikan Nona Yuna ??"
" Terkadang memiliki berlian tidak bisa membuat kita bahagia."
" Maksud Tuan ??"
" Aku lebih bahagia melihat berlian itu dijaga oleh orang yang tepat. Dan orang itu bukanlah aku.."
" Baiklah, terserah anda saja.. Sidang akan dilakukan tiga hari lagi. Apa ada permintaan anda pada kami ??"
" Tidak ada. Lakukan secara hukum !! Penjarakan aku sesuai aturan, dan jangan minta keringanan hukuman sedikitpun untukku.."
" Baik, Tuan.."
......
" Sepertinya ibu harus segera pergi ke kota K untuk memastikan keadaan Yuna baik-baik saja.."
" Ibu, pikirkanlah baik-baik.. Ibu tidak bisa memutuskannya secepat itu bukan ??"
" Tapi Hani.. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Yuna ??"
" Ibu, tenang saja. Aku yakin dia baik-baik saja.."
Hani mengusap pundak Almira yang sedari tadi terlihat sangat resah.
Tiba-tiba ponsel Hani bergetar..
__ADS_1
Ada seseorang yang berusaha menghubunginya..