
" Kamu mau sesuatu ??"
" Makanan lagi ? Aku sudah menghabiskan satu porsi makanan cepat saji yang kamu belikan untukku. Dan sekarang kamu sedang menawarkan aku makanan lagi ?? Apa menurut kamu perutku sudah kembali mengecil ??"
" Bukankah penyimpanan di dalam perutmu ini sangat besar ? Aku selalu risau saat sedetik saja tidak melihatmu makan, rasanya seperti sedang menghadapi permasalahan besar.."
" Apa kamu pikir saat aku tidak makan itu artinya aku sedang tidak baik-baik saja ??"
" Bukankah seperti itu ?"
" Terkadang tidak juga, aku biasa melampiaskan permasalahan dengan cara makan banyak.. menurut kamu apa itu sangat buruk ?"
Jian terkekeh, dilihatnya wajah itu nampak sangat serius dengan pertanyaannya..
" Kenapa tertawa ?? Apa aku kelihatan jelek saat mengatakan hal itu ??"
" Tidak !! Kenapa jelek ? Aku suka saat melihat kamu kembali konyol seperti ini.. Aku bahkan sangat merindukan kekonyolan kamu di masa lalu.."
" Jadi, kamu lebih suka aku yang dulu, bukan yang sekarang ??"
" Aku tidak bilang begitu.. Apa yang kamu lakukan, dimataku tidak ada yang salah.. Hanya saja terlihat lucu sekali saat melihat wajah itu.."
" Ah ??"
" Aku ingin sekali mencubitnya... Aku sudah tidak tahan, rasanya tanganku gatal sekali.."
" Kalau begitu cubit saja.. Asalkan kamu senang.." ( Tersenyum ).
Jian menanggapi Yuna dengan wajah yang berbinar. Apa sekarang dia mendapat izin untuk mencubit pipi Yuna ?? Kenapa rasanya senang sekali..
Dia mengambil ancang-ancang. Ditatapnya wajah itu yang bersiap dengan apa yang akan dihadapi nantinya. Tapi kelihatannya Yuna juga agak cemas.
" Tapi jangan terlalu keras.. Pipiku masih belum sembuh.."
Jian terkekeh. Dia menarik kembali tangannya, dan beralih mengelus rambut Yuna dengan penuh kasih sayang.
" Ah ?? Kenapa tidak jadi ??"
" Bagaimana aku bisa setega itu mencubit pipimu, sedangkan aku masih melihat luka lebam itu dengan jelas.. Apa aku sejahat itu ??"
" Aku tahu, kamu tidak akan tega.. Karena itulah aku berani menawarkannya padamu.." ( tersenyum ).
" Yunaku memang pandai.."
" Bukankah tadi kamu sedang menawarkan aku makanan ?? Sepertinya aku mulai kembali lapar. Lagipula aku lupa mengambil beberapa bungkus snack di dalam tasku tadi.."
" Untung saja aku selalu siaga.."
" Ah ??"
Jian mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat pada seorang pria berkacamata hitam yang duduk di belakang. Orang itu dengan cepat berdiri sambil menenteng satu plastik besar berisi camilan.
" Mr.. Sesuai pesanan.."
" Bagus.." ( menyibakkan tangan sebagai isyarat ).
Lelaki itu pergi setelah mendapat perintah dari Jian dengan menggunakan bahasa tangan. Dia kembali duduk dan terlihat terus mengawasi situasi di dalam pesawat.
" Apa yang kamu bawa?"
" Camilan.. Untuk kamu.." ( Tersenyum ).
" Waaahhhh..." ( Mata berbinar ).
" Ambillah.."
" Terima kasih.. Kamu memang sangat baik.." ( Mengambil ), " tapi Jian, ini terlalu banyak.. Apa aku harus menghabiskan semua ini ??"
" Terserah Yunaku saja, yang aku tahu, camilan sebanyak ini pasti akan habis dimakan kamu.."
" Apa aku sangat rakus ??"
" Baguslah kalau kamu sadar diri.."
__ADS_1
" Apa ?? Kau sedang mengejek aku, ya ??"
" Tidak !! Aku tidak seperti itu.."
" Mau alasan apapun, kamu tetap saja sedang berusaha mengejek aku.." ( membuka satu bungkus ).
" Tapi Yunaku sayang tidak pernah seburuk itu dimataku.." ( mulai menggoda ).
" Itu karena aku bisa menjaga diriku untuk tetap kurus. Walaupun aku makan banyak, tetap saja badanku kecil dan pendek.." ( mulai memakan ).
" Karena itulah aku selalu ingin membawamu kemanapun aku pergi di dalam tas kecilku.."
" Kamu pikir aku ini apa ?? Camilan yang bisa kamu bawa dan kamu makan dimana pun kamu pergi ?"
" Aku rasa hampir seperti itu.."
Jian sangat pandai dalam hal menggoda. Meledek Yuna adalah hobi barunya sekarang setelah sekian lama dia hidup dalam kesunyian. Dia selalu merasa puas tiap kali melihat wajah Yuna yang kesal kepadanya.
" Kamu ini sangat jahat.."
" Aku tidak lebih jahat dari ciumanku, bukan ??"
Cup !!?
" Umh..."
Heyy !! Apa semua pasangan kekasih yang sedang merindu harus selalu melakukan hal itu ?? Kalian sadarlah !!! Ini masih di dalam pesawat !!!??
......
Sekitar jam sembilan malam, rombongan mereka tiba di bandara kota M. Sejenak Yuna berhenti, dan memandangi kota lama yang dulu sempat dia tinggalkan. Banyak yang Yuna tinggalkan saat dia memilih untuk meninggalkan kota ini. Meninggalkan berjuta kenangan manis, meninggalkan masa-masa bahagia yang terlalu dipenuhi oleh keindahan yang tidak dapat terlupakan. Sedetik terbersit senyum tipis di bibir manisnya. Dia tidak bisa berbohong. Kembali kesini dengan Jian adalah impian dan harapannya selama ini. Dan pada akhirnya, Jian menepati janjinya untuk terus bersama Yuna kembali ke kota ini..
" Kenapa berhenti ?"
" Ah ?? Tidak !! Ayo kita jalan, aku sudah tidak sabar ingin memberi kejutan pada ibu dan kakak iparku.."
" Tapi sebelum itu, aku juga harus membelikan kamu baju.. Tidak mungkin juga kamu akan pulang dalam keadaan pakaian yang seperti ini.. Nanti mereka akan mengira kalau aku tidak menjagamu dengan baik.."
Yuna tersenyum, " bukankah aku terlihat cantik ?"
" Kamu memang selalu terlihat cantik, tapi bagaimana jika mereka berdua tidak menyukai pakaian ini ?"
" Mereka akan suka apapun yang aku pakai.."
" Sudahlah !! Jangan mengelak lagi, biarkan aku memberi kepuasan untukmu hari ini.." ( mendekat ke telinga ), " termasuk kepuasan batin.."
" Apa ??"
" Kenapa wajahmu begitu terkejut ? Bukankah sore tadi kamu yang berinisiatif ?"
" Tapi itu tadi.. Sekarang.."
" Sekarang apa ?? Apa kita akan melakukannya lagi ?"
" Tunggu setelah resmi menikah. Lagipula kejadian sore tadi tidak sepenuhnya kita rencanakan bukan..."
" Jadi menurut Yunaku begitu, ya.. Bagaimana jika buat anak dulu baru menikah ?"
" Apa ??!!!"
" Sssssttttt... Jangan terlalu keras !! Lihatlah, semua orang menatap kita.."
Yuna melepas tangan Jian yang berusaha menutupi mulutnya.
" Kamu ini memang sudah gila !! Bagaimana jika nanti aku panggilkan saja petugas RSJ untuk menjemputmu.." Cekikikan.
" Yunaku ternyata sangat pandai meledek, ya.. Sepertinya kamu sudah belajar banyak dariku walaupun baru sebentar kita bersama.."
" Entahlah... Setiap aku bersamamu, rasanya jiwa konyolku meronta-ronta, rasanya ingin kembali dibangkitkan lagi.."
Kedua orang itu terlihat tertawa dengan santai. Mereka semakin jauh berjalan, dan tanpa sadar sudah berhenti di depan mobil yang sengaja menjemput mereka.
" Silahkan, Tuan.."
__ADS_1
Jian membukakan pintu mobil untuk Yuna. Mereka masuk ke dalam, dan beberapa saat kemudian mereka akhirnya pergi dari sana.
..
Mobil berhenti tepat di depan pusat perbelanjaan. Jian mengajak Yuna kemari hanya untuk membeli beberapa pasang baju untuknya. Maklum saja, Yuna sudah membuang semua benda yang dia miliki di kota K saat bersama Demy. Dia bahkan merelakan ponselnya tetap di rumah itu daripada harus kembali dan mengambilnya dari sana.
" Tolong berikan berbagai model baju wanita yang bagus. Biarkan kekasihku yang memilihnya sendiri.."
" Baik, Tuan.." ( menunduk ).
Semua orang terlihat berbisik-bisik dibelakang mereka. Meskipun wajah Yuna ditutupi masker, tapi semua orang masih sangat mengenal Yuna. Aktris yang baru saja bebas dari gosip dan menjadi bahan perbincangan masyarakat umum.
" Lihatlah, itu Yuna.. Kasihan sekali dia, ternyata selama ini dia sudah dijebak oleh mantan ibu mertuanya.."
" Iya, terlebih lagi setelah suaminya tega memukul wajahnya, dia pasti terluka parah, sampai-sampai harus menutup wajahnya dengan masker seperti itu.."
" Iya, untunglah dia punya kekasih yang sangat baik, dan percaya kepadanya, jika tidak, siapa lagi yang bisa menolongnya sekarang ??"
Semua orang terdengar menaruh rasa iba terhadap Yuna. Mereka sudah tahu persis kalau Yuna sebenarnya tidak pernah salah. Meski begitu, para penggemar Jian tentu saja tidak merasa demikian. Mereka sama sekali sudah tidak percaya pada Yuna.
" Hahhh... Menyebalkan sekali harus melihat motivator kita berjalan dengan wanita murahan ini.. Lihat saja gayanya, bahkan dia sengaja memakai kemeja milik Jian.. Itu pasti hanya sebuah pencitraan saja.."
Dan berbagai komentar pedas dan terdengar menyakitkan lagi yang lainnya. Tapi Jian memilih untuk diam. Meski begitu, bukan berarti dia tidak melakukan apapun.
" Sayangku, apa kamu tidak lelah memilih terus seperti ini ??"
" Ah ? Apa maksud kamu kita sudahi saja belanjanya ??"
" Hihihi... Lihatlah, sepertinya Tuan Jianan juga tidak terlalu menyukai wanita ini.."
" Iya, kamu benar.."
Yuna menunduk saja. Dia begitu meresapi setiap perkataan para hatersnya barusan.
" Apa kamu sedih Yuna ?? Maksudku, bukan sudahi belanjanya, tapi aku ingin memborong semua yang ada disini untuk kamu, supaya kamu tidak lelah memilih seperti ini.."
" Apa ??" ( Bingung ), " Jian.. Tapi.."
" Apa ?? Memborong semuanya ?? Bagaimana kalau aku pilih satu untukku ?? Tuan izinkan aku memilih..." ( memohon ).
" Iya, Tuan.. Kami akan sangat berterima kasih atas kebaikan Tuan.."
" Hehh !! Yang benar saja, siapa juga yang akan membayar barang-barang kalian ?? Jaga dulu mulut kalian yang kotor itu, lalu setelah itu pikirkan apa aku pantas memberi barang-barang disini secara percuma kepada kalian, setelah penghinaan yang kalian lakukan kepada kekasihku.."
" Apa ?? Maaf tuan, saya tidak bermaksud seperti itu, maafkan kami tuan." ( menunduk beberapa kali ).
" Maafkan kami, Tuan.. Maaf.."
' Ternyata Jian sebegitu baiknya terhadap aku..'
" Kalau begitu, belikan aku semua baju yang ada disini, dan berikan juga untuk mereka berdua masing-masing lima style yang berbeda. Aku juga tidak mau menikmatinya sendirian.."
" Yuna ??"
" Aku juga tidak pantas menggunakan uangmu seperti itu. Akan lebih baik jika kamu juga memberikan barang percuma pada mereka berdua.."
" Hemm... Yunaku ini memang berhati mulia.." ( beralih pandangan ), " seharusnya kalian merasa malu, sudah menghina Yunaku semena-mena, dan sekarang malah minta barang percuma kepada kami.."
" Tuan, tadi bukanlah unsur kesengajaan. Kami hanya merasa iri terhadap kemesraan kalian.."
" Cihh." ( melempar sebuah kartu pada bawahannya ), " urus semua pembayarannya, dan segeralah pulang.." ( pergi ).
" Terima kasih Tuan, terima kasih, Nona.. Kami menyesal sudah menghina Nona.." ( masih terus menunduk ).
Jian dan Yuna terlihat pergi dari sana dengan perasaan senang. Dua orang yang menghina sudah berhasil dilumpuhkan hanya dengan uang.
" Sepertinya Yunaku punya cara tersendiri untuk menggait orang.."
" Sama seperti aku yang kehausan akan cinta, mereka juga sama. Hanya saja, mereka memilih untuk mencintai materi, bukan orang yang tulus.."
" Kamu terlalu baik, padahal mereka berdua yang sudah menjatuhkan kamu, tapi dengan mudahnya kamu tersenyum di depan mereka. Aku mulai merasa bangga yang berlebihan kepadamu.."
" Hhhhhhh...... Ternyata aku sudah datang terlambat !!! Sepertinya selama ini Jian memang tidak pernah melihatku.."
__ADS_1