Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Diberi Kepercayaan


__ADS_3

Pukul 20.04


Malam itu Yuna dan Demy pulang dengan saling diam. Mereka tak saling bicara dan hanya larut dalam pikiran mereka masing-masing. Demy langsung merebahkan dirinya di sofa ruang tengah. Dia mencoba acuh saja dengan ocehan Yuna siang ini. Dia hanya memejamkan mata, lalu mulai mencoba melupakan kata-kata istrinya yang sangat menyakitkan itu.


Berbeda dengan Demy yang tidak mampu menyembunyikan rasa sakitnya, Yuna malah tampak biasa saja. Dia masih bisa tersenyum seperti tidak terjadi apapun. Memang sepertinya wanita ini begitu acuh pada suaminya. Dia bahkan tidak peduli apapun tentang suaminya itu.


" Hallo sayang.. Kamu sudah pulang rupanya.."


Bergerak mendekat ke arah Daniah, membuat Yuna sedikit merasa lega. Akhirnya dia bisa terbebas dari pandangan Demy. Iya.. Laki-laki itu sudah berhasil membuatnya merasa kesal hari ini. Dia harus menghindarinya sekarang juga..


" Hallo, ibu.. Apa ada yang bisa aku bantu ?" Melihat Daniah di ruang dapur, dia berpikir mungkin wanita itu sedang membutuhkan bantuannya.


" Tidak perlu.. Kau sudah terlambat satu menit. Sekarang tugasmu hanyalah membawa makanan ini keluar dan menyiapkannya di meja makan saja.."


" Baiklah.. Mari aku bantu.."


Skip..


Meja makan..


" Bagaimana masakan ibu ? Rasanya juga enak bukan ? Tidak kalah dengan masakanmu.." Tersenyum ke arah Yuna.


" Iya, ibu.. Seperti masakan koki terkenal saja.."


" Tapi tetap saja kau lebih pandai.. Ibu juga sebenarnya hanya melihat buku resep masakan milikmu sebelum memasak tadi.."


" Pantas saja rasanya tidak asing.. Aku tahu ini masakan Yuna.."


" Aku lihat sebuah buku di atas meja.. Awalnya ibu hanya melihat-lihat saja, rupanya ibu juga tertarik untuk mencoba.. Apa rasanya memang enak ?"


" Iya, tentu saja.."


Daniah melirik anaknya, Demy. Sedari tadi lelaki itu hanya diam membisu dengan tangan yang terus memainkan garpu di tangannya.


" Kenapa anak ibu ?" ( Berbisik pada Yuna ).


" Aku tidak tahu.." ( Pura-pura tidak mengerti apapun ).


" Heyy.. Demy !!"


Demy terbangun dari lamunannya.


" Kenapa kau ini ?"


" Ehemm.. Tidak apa-apa.."


" Ibu ingin bicara pada kalian berdua.."


" Soal apa ?" ( Demy mulai penasaran ).


" Begini, ayahmu sudah membeli perusahaan milik Nyonya Tiansha siang ini.."


" Perusahaan yang mana ?"


" Itu.. Yang letaknya di bagian barat kota.."


" Maksud ibu perusahaan Nyonya Tiansha yang terbesar kedua di kota ini ?" ( Wajahnya lumayan tidak yakin ).


" Iya. Awalnya ibu juga tidak percaya pada ayahmu, lalu setelah itu, pihak Nyonya Tiansha tiba-tiba saja memberi ibu kabar untuk bertemu dengan mereka besok.."


" Aneh sekali.. Padahal perusahaan itu tidak pernah mengalami penurunan dari segi manapun selama ini. Bagaimana bisa Nyonya Tiansha berniat menjualnya pada Ayah.." ( Wajah bingung ).


" Itulah yang membuat ibu bingung pada awalnya.. Tapi setelah ibu pikir-pikir, ya.. Memang tidak terlalu heran juga.. Ayah kamu kam rekan bisnisnya.. Wanita itu juga pemegang saham tertinggi dalam perusahaan Ayah.. Mereka berdua memang sangat dekat dan saling percaya satu sama lain.. Jadi.. Mungkin saja Nyonya Tiansha tidak menyulitkan ayahmu saat dia menawarnya.."


" Ouh.. Jadi begitu.." ( Lanjut makan ).


" Terus, ayah kamu minta.. Supaya perusahaan itu di kelola Yuna.. Sebagai hadiah pernikahan katanya.."


" Apa ??" Sontak saja Yuna terkejut.


" Iya.. Dulu, kan, waktu kalian menikah, kami belum memberi hadiah apapun.. Jadi ayah Demy minta sama ibu untuk memberimu hadiah perusahaan ini.."


Demy tersenyum.


" Tidak, ibu.. Apa kalian sedang bergurau ?"


" Tidak sayang.. Ini adalah pesan dari ayah Demy.. Lagipula, semenjak kamu menghilang dari dunia hiburan, kamu tidak punya penghasilan apapun bukan.. Ini permintaan ayah Demy.. Jadi Ibu minta kau jangan sampai menolaknya, ya.."


" Tapi, ibu.. Aku tidak bisa mengelola perusahaan.. Lagipula aku tidak pandai dalam bisnis, bagaimana jika nanti malah terjadi masalah ?"


" Kenapa kau begitu cemas ? Apa kau lupa ada aku disini ? Aku siap membantumu kapanpun kau membutuhkan aku.." ( Tersenyum ).


Yuna acuh saja. Dia hanya sedang berpikir. Bagaimana bisa wanita ini memberikan perusahaan padanya dengan percuma ? Apa dia memang sangat menyayanginya sebagai menantu, atau ada alasan lain di belakangnya ?


" Tapi.."


" Demy benar.." ( Menggapai tangan Yuna ), " tidak ada yang perlu kau takutkan selama ada Demy disini.."


" Kau setuju ?" ( Tanya Demy ).

__ADS_1


Menolak juga tidak ada pilihan. Dua orang ini sangat berharap padanya. Huhh.


" Baiklah, ibu.. Aku setuju.."


" Bagus kalau begitu.. Ibu akan mengambil minuman untuk merayakan ini.."


Bergegas mengambil minuman dari arah dapur, dan menuangkannya dalam gelas kosong.


Dia memberikan satu gelas untuk Yuna, dan satu gelas lagi untuk Demy.. Sementara dia hanya minum air putih saja dengan dalih sia sedang sakit perut dan tidak bisa minum seperti mereka.


" Mari kita minum !!"


Gluk!!.


Yuna menenggaknya, juga Demy. Dengan sekejap minuman dalam gelas mereka ludes tiada tersisa. Yuna merasa aneh setelah meminumnya. Rasa ini sangatlah asing baginya. Sebenarnya apa yang sudah dia tenggak ini ?


" Ibu.. Minuman apa ini ? Kenapa rasanya seperti ini ?"


" Apa kau tidak pernah minum anggur ? Ini minuman yang sering ibu beli saat keluar rumah.."


" Apa kau baru pertama kali minum ini ?"


" Anggur ? Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal ?"


" Kenapa memangnya ? Apa ada masalah ?"


" Tidak juga.. Aku hanya belum pernah minum sebelumnya.."


" Apa ??"


" Jadi, kau belum pernah minum anggur ?"


Yuna menggeleng saja. Apa dia terlihat cupu karena memang dia belum pernah mencicipi minuman seperti itu selama ini. Mendadak dia merasa pusing.. kepalanya seperti berputar-putar dan terus saja tanpa berhenti..


" Yuna ?? Kau baik-baik saja ?"


" Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pusing.."


" Kalau begitu, aku antar kamu ke kamar.."


Demy memapah wanita itu dengan hati-hati. Dia masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu.


' Hmmm.. Aku akan buat kalian punya anak.. Hi hi hi..'


.......


" Yuna !!"


" Jangan mendekat !!" ( Memegangi kepalanya yang pusing ).


' Tadi diluar dia sangat ramah, tapi saat hanya berdua, aku bisa lihat seperti apa watak aslinya..'


" Baiklah.." Ia hendak bangun, namun Yuna mencegatnya..


" Kenapa kau menyetujui perkataan ibu tadi ?"


Demy menatap mata Yuna yang terlihat begitu marah. Ada api di dalamnya.


" Katakan padaku ! Kenapa kau masih saja peduli ?? Bukankah aku sudah bilang, kau tidak perlu mencemaskan aku.."


" Aku hanya ingin kamu terbang bebas seperti dulu.."


" Hehh !! Aku tidak butuh semua itu !!"


Demy hanya tersenyum menghadapi perilaku Yuna.


" Aku hanya ingin membahagiakanmu saja.. Mungkin itu juga yang dipikirkan ayahku.."


Mendadak tubuh mereka sangat panas. Ada sesuatu yang membuat mereka semakin merasa aneh. Entah apa yang terjadi pada mereka berdua, yang pasti, Yuna dan Demy sama-sama tidak bisa mengendalikan tubuhnya.


' Apa yang terjadi padaku ? Bagaimana bisa aku menjadi seperti ini ? Oh.. Tidak.. Rasanya ada yang tidak beres..'


" Demy ?? Aku.. Tubuhku.. Kenapa rasanya seperti ini ? Rasanya.. Huhh."


' Apa ? Apa mungkin, Yuna juga merasakan hal yang sama seperti aku ?'


" Demy.. Aku.. Arkh !!"


" Yuna ??"


Tidak !! Mereka rupanya terkena pengaruh dari dari obat yang di tuangkan oleh Daniah dalam minuman mereka.


' Hi hi hi.. Apa ronde pertama baru saja dimulai..' ( Wanita licik ini ).


Sementara di dalam kamar, dua orang itu tengah berusaha saling menjaga diri. Entahlah. Rasa itu semakin menusuk jauh ke dalam tubuh mereka, membuat semuanya terasa begitu membara. Mereka sudah terjebak.


Keringat Demy bercucuran, mencoba menahan gejolak dalam dirinya. Tidak !! Ini bukan waktu yang tepat.


' Ibu telah mencampurkan sesuatu dalam minuman kami.. Ini pasti ulah ibu.. Tidak Demy, kau harus menahannya.. Ini tidak akan lama..'

__ADS_1


" Demy.. Aku merasa.. Mmmm.." ( Menggeliat seperti ulat bulu ).


Demy berusaha menenangkan dirinya, dan seluruh hasratnya. Tapi sekuat apapun dia mencoba, pada akhirnya dia tidak tahan.


" Yuna.. Maafkan aku.."


Lelaki itu beralih pada Yuna yang juga sedang merasakan hal yang sama seperti dirinya. Dia mendekat lalu mencium sekilas bibir manis itu, tapi.


Plakk !!


Tamparan keras itu mendarat di pipinya seketika..


" Jangan sentuh aku !!"


" Yuna.. Aku mohon.. Untuk kali ini saja.. Biarkan aku.."


" Mimpi saja kamu !! Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan kamu melakukannya padaku.." Yuna sadar, lalu terbangun dari kasur.


" Yuna.." Wajahnya begitu merah.


" Menjauh lah dariku..!!"


" Yuna .."


" Menjauh lah !! Jangan dekati aku !!"


Demy mundur beberapa langkah. Dia akhirnya mengalah. Dia tahu betapa kerasnya hati nurani istrinya ini, obat yang seharusnya berhasil meluluhkannya itu pun, tetap saja tiada hasil. Iya.. Mungkin memang karena obat, atau apa, dia juga sebenarnya tidak tahu apapun mengenai itu.


" Aku tahu kita berdua sedang dijebak.."


' Apa ? Apa Yuna tahu ?'


" Aku merasa sangat aneh setelah minum minuman itu.. Jadi aku mohon.. Menjauhlah dariku dan cobalah untuk tenangkan dirimu.."


Demy menurut saja. Dia mencoba menahan hasratnya, yang sebenarnya begitu ingin dia puaskan.. Entahlah.. Tidak ada keberanian saat berhadapan dengan wanita ini.. Yuna bahkan berhasil menaklukkannya.


.........


Sementara, hujan di kota K, membuat Jian merasa was-was. Dia masih saja duduk di atas kursi kerjanya, meski dia tahu malam sudah semakin larut saja. Bahkan hujan deras disertai petir di luar sana sama sekali tidak mempengaruhinya. Dia tetap saja duduk dan memainkan bolpoin di tangannya. Apa mungkin dia juga tahu kasihnya sedang dalam masalah malam ini ?


' Tok Tok Tok'


Suara pintu diketuk. Ada orang yang mengisyaratkan kedatangannya untuk menemui Jian. Hal itu sukses membuat Jian terbangun dari lamunannya.


" Masuk !"


Seorang pria dengan pakaian Jaz hitam pekatnya yang rapi terlihat memasuki ruangan.


' Tap Tap.'


" Ada apa ?"


" Mr, kami sudah tahu siapa pemilik taman hiburan dan beberapa aset termahal di kota tersebut.."


" Siapa ?"


" Kami sudah mencari tahu, dan rupanya pemilik perusahaan terbesar di kota itu adalah seorang wanita.. Namanya Nyonya Tiansha.."


" Siapa namanya ?" ( Wajahnya terlihat terkejut ).


" Nyonya Tiansha.."


Jian melamun. Terbersit suatu memori dalam ingatannya saat mendengar nama itu disebut.


" Dia tidak tinggal di kota itu, Mr.. Yang kami tahu, dia sudah lama menetap di luar negeri.. Dia juga punya bisnis di Amerika.. Jadi dia hanya mengelola bisnisnya dari jauh saja.."


" Jadi begitu.."


" Iya.. Dan kami juga baru saja mendapat berita, kalau salah satu perusahaan terbesarnya di kota M, sudah dia jual siang ini.. Dan pembelinya tidak lain adalah rekan bisnis wanita itu, Tuan Zumi.."


Rupanya kabar ini sampai di telinga Jian lebih cepat.


" Tuan Zumi ? Siapa dia ?"


" Dia adalah ayah kandung Tuan Demy yang juga sudah lama menetap di Amerika untuk menjalankan bisnisnya dengan Nyonya Tiansha.."


' Oww.. Apa mungkin Tuan Zumi sengaja membeli sebuah perusahaan di kota itu untuk dikelola Demy ?'


" Kami mendengar kabar kalau Nyonya Daniah hendak menjual semua aset dan perusahaannya disini, dia akan menetap di kota itu mulai sekarang.."


' Hmm. Berarti kemungkinan besar, Yuna memang tinggal disana..'


" Baguslah !! Cari tahu lebih banyak informasi mengenai mereka, termasuk Nyonya Tiansha yang kau maksud. Cobalah hubungi dia, dan katakan kalau perusahaan J Company ingin mengadakan kerja sama tiga perusahaan.. Hubungi Sanni untuk mengurus semuanya. Jangan katakan aku yang minta kerja sama ini.. Aku tidak ingin mereka tahu tentang aku lebih dulu.."


" Baik, Mr.."


Lelaki itu beranjak pergi beberapa detik kemudian, meninggalkan Jian yang tengah terdiam dan bermain dengan pikirannya.


" Nyonya Tiansha ?" ( Wajah penasaran ).

__ADS_1


__ADS_2