
Jian terpaku di depan pintu. Sementara adiknya juga sama. Mereka seakan tertembak senapan Laras panjang yang begitu menyakitkan. Ibunya telah membuat mereka harus mendengar kabar menyedihkan ini. Tahukah kalian bagaimana rasanya ?? Sakit sekali.. lebih baik kiranya tidak pernah mengenali wanita seperti itu.. itulah perasaan mereka sekarang.
" Apa ?? Ibu tidak akan bisa bicara lagi ??"
" Entahlah Yuna.. dokter bilang, dia masih bisa bicara asalkan terus diimbangi obat dan penyedotan racun secara teratur, mungkin masih ada kesempatan baginya untuk sembuh.." ( Azof menjelaskan ).
Sementara, Almira masih sama. Diam dan tidak bisa bergerak walaupun hanya satu inci. Dia tetap terbaring di ranjang sambil terus mendengarkan kedua anaknya meratap. Dia bisa apa ?? Wanita itu sudah membuatnya kehilangan masa depan yang baik..
" Lakukan pengobatan secara teratur mungkin bisa menyembuhkan kondisinya, jika dokter menyarankan untuk melakukan penyedotan racun, kita bisa menjalaninya juga... kamu jangan risau Yuna, ini tidak akan berbahaya.."
" Kakak ipar, mohon jaga ibuku dengan baik, aku hanya bisa mengandalkan semuanya padamu.."
" Yuna, jangan seperti itu, ibu kalian adalah ibuku juga.."
Sementara Jian merasa tersentak mendengar pernyataan dari Yuna yang sangat menusuk hatinya itu. Maaf saja Yuna kalau perasaan Jian menjadi semakin rumit. Dia merasa bersalah dan paling merasa disalahkan dalam situasi ini..
" Jian, tolong jaga Yuna.. aku pasrahkan dia di tangan kamu, jangan buat kandungan Yuna menjadi lemah.. lebih baik kalian pergi dari sini, aku tidak mau mendengar apapun terjadi pada Yuna.." ( pinta Azof ).
Sayangnya.. Jian hanya terpaku saja.
" Jian, dengarkan aku.." ( menepuk pundak Jian ), " kami tidak pernah menyalahkan kamu atas semua ini, kami hanya berharap agar ibu kami cepat sembuh, dan Yuna juga tidak terguncang mendengar kenyataan ini.."
Azof menjelaskan panjang lebar kepada Jian seolah dia tahu apa yang sedang Jian pikirkan saat ini..
Jian mendongak. Ditatapnya dengan penuh sorot mata Azof yang begitu menyayangi adik dan juga ibunya. Ini tandanya, Jian juga tidak bisa menolak permohonan sang kakak ipar..
" Apa kalian.. tidak menyalahkan kami ?"
" Apa maksud kamu ?? Kami tidak pernah menyalahkan kalian berdua, sudah.. jangan banyak bicara lagi, bawa pulang istrimu dan jaga dia jangan sampai dia merasa tertekan karena masalah ini.."
" Azof... aku janji, dia akan selalu bahagia bersamaku.."
" Aku tahu kamu bisa membuatnya bahagia.."
Puk puk !!
Menepuk pundak Jian lagi..
" Pulanglah Yuna.. istirahat, kasihan anak kalian berdua yang tidak berdosa.. masalah ini, biarkan kami yang mengurusnya.."
Yuna menyeka air matanya yang terus menetes. Dia begitu sedih pun senang juga. Disaat seperti ini, masih banyak orang yang peduli dengan dirinya dan juga anak ini. Dia tidak punya jalan lain lagi selain pulang menuruti kata mereka semua..
" Kalau begitu, aku akan pulang.. jaga ibu, maaf aku tidak bisa berlama-lama.."
" Jangan cemas Yuna.. ada kami semua disini, akan kami kabari jika terjadi apa-apa nanti.."
" Baiklah, kakak ipar.. terima kasih.."
Jian menuntun Yuna untuk keluar dari sana, dan disusul pula oleh Alishia dan Sanni. Mereka berempat memasuki dua mobil yang berbeda.
__ADS_1
Vroooooommmmmm..
Akhirnya mereka semua pergi dari rumah sakit itu. Sepanjang perjalanan, Yuna selalu memeluk dengan erat tubuh pria yang saat ini sudah sah menjadi suaminya itu. Dia ingin sekali berkeluh kesah dengan Jian, ya.. memang hanya laki-laki itu yang enak diajak bicara.
" Belikan sesuatu untuk nona Yuna.." ( sambil mengusap rambut ).
" Baik tuan.."
Mobil ditepikan. Sopir muda yang setia itu turun dari sana, dan membeli sesuatu di luar..
Sambil menunggu, sesekali Jian melirik wanita dalam dekapannya itu. Dia mencoba menerka bagaimana perasaan wanitanya itu. Rasanya pasti sakit sekali bukan ?! Sama seperti dirinya sekarang, atau mungkin bahkan jauh lebih dari itu.. Entahlah, dia saja tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya sendiri..
" Jian..." ( suara lirih ).
" Iya.." ( Menyambut dengan gembira ), " kamu butuh sesuatu ??"
" Aku ingin tidur.."
" Kalau begitu, tidurlah..."
" Dalam pangkuan kamu ?? Apa boleh ??" ( mendongak ).
Arkh !! Kenapa rasanya menggemaskan sekali. Mata itu, wajah mungil itu, dan semua yang sedang Yuna lakukan.. kenapa begitu menggemaskan ?? Hhh.. Jian.. tahanlah, di dalam perut Yuna masih ada tanggung jawab yang harus dijaga, jadi jangan main-main, ya..
" Baiklah, asal jangan menggodaku ya.."
" Tapi semuanya tidak berjalan sesuai rencana.. kamu malah lebih dulu berbadan dua, jadi ya... harus mengesampingkan hasrat dulu.."
" Baiklah.."
Yuna naik ke dalam pangkuan Jian..
Haduhh..
Padahal ini malam pertama.. sialnya, sudah ada Dede bayi yang memang harus dijaga. Apa menurut kalian mereka berdua bisa menahan keinginan itu ??
" Sudah.. tidurlah.."
Zzzzz..
Sang sopir kemudian masuk ke dalam mobil usai beberapa saat dia keluar mencari makanan.
" Ini tuan.."
" Taruh saja di jok depan, Yunaku sudah tertidur lebih dulu.."
" Baik.. apa kita akan langsung pulang ??"
" Iya, aku mau pulang saja, Yunaku dan calon bayiku harus menenangkan diri dulu.."
__ADS_1
" Baik..."
........
Brugg !!
Jian membaringkan Yuna dengan penuh hati-hati usai mereka tiba di rumah Jian yang mewah ini. Siapa sangka, pernikahan yang sudah dirancang sekian rupa, hanya agar bisa membuat Yuna senang dan bahagia, tapi nyatanya semua ini hancur dalam sekejap. Yuna yang harusnya bahagia mendadak berlinang air mata..
Tiansha !!
Wanita itu harus mendapat balasan yang setimpal..
Jian memandangi wanita yang tengah tertidur pulas di kasurnya kini. Dia ingin sekali bersujud di depannya, dan mengatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya pada wanita ini. Rasanya sangat berdosa tiap kali memandangi wajah itu, lalu teringat bagaimana kesedihan keluarganya saat di rumah sakit. Hancur sekali..
Dia mengelus rambut Yuna yang tergerai indah, lalu beralih kepipinya yang manis, wanita itu masih saja tertidur pulas. Dan akhirnya.. dia mulai terganggu..
Jian menurunkan tangannya.. dia tahu kalau Yuna bisa terusik karena itu. Jadi dia lebih memilih untuk membiarkan Yuna tidur dengan tenang.
Perlahan Jian mulai beranjak dari ranjang, dan ingin meninggalkan wanita itu. Tapi..
Grep !!
Tangannya berhasil digapai oleh Yuna..
" Kamu mau kemana ??"
Jian menoleh. Dia melihat Yuna sudah membuka matanya dengan lebar.
" Kenapa bangun ?? Kamu harus istirahat..."
" Peluk dari belakang, ya.."
" Tapi Yuna.."
" Aku tidak akan Menggodamu.."
" Janji ya.."
" Aku janji.."
Jian hanya pasrah saja. Tidak salah juga istrinya minta dipeluk. Memangnya apa yang salah ??
Dia berbaring di sisi istrinya, dan memeluk wanita itu dari belakang. Sesekali tangannya menyentuh perut Yuna yang masih rata. Perut itu sudah mengandung bayi usia satu bulan, tapi ternyata masih tidak ada rasanya juga..
Sambil terus meratapi kesedihan dan dan rasa bersalah dihatinya, dia terus mengelus perut itu. Dia akhirnya mendapati kalau Yuna sudah tertidur kembali dengan pulas. Tapi dia sendiri bahkan tidak bisa memejamkan kedua matanya. Dia hanya terus mengelus dengan pikiran runyam yang tidak bisa dia atasi.
Bagaimana rasanya ?? Bukankah menyedihkan Jian ?? Saat kekasih kamu akhirnya menjadi wanita yang pertama kamu sakiti, bukankah rasanya lebih baik mati ditembak oleh Yuna sendiri, daripada harus menanggung rasa bersalah yang amat dalam ini ??
' Maafkan suami kamu ini Yuna.. salahkan aku atas semua kejadian ini, aku pantas untuk dihukum..'
__ADS_1