
Sementara disisi lain, Azof juga tengah merasa bimbang. Hatinya bergejolak merasakan cinta yang semakin membara. Di depannya ia tengah memandangi foto seorang wanita. Tentu saja itu Hani. Hani terlihat semakin cantik saja dengan penampilan terbarunya. Ia sengaja memangkas rambut menjadi sebatas punggung. Menambah manis dan dewasa sesuai dengan usianya yang sudah hampir berusia 38 tahun itu.
Hani memang menjadi sahabat Yuna semenjak ia mulai kuliah. Saat itu Yuna baru masuk di salah satu Universitas terkenal di kotanya. Sementara Hani sudah melangkah di semester 2. Meski begitu persahabatan mereka semakin baik. Mereka tidak memandang usia dalam berteman.
Hani terlihat menuju dapur untuk mengambil minuman. Ini di rumah Azof. Iya. Akhir-akhir ini keadaan Almira dan Syiana semakin membaik. Mereka bahkan membentuk kembali grup arisan yang dulu sempat berhenti. Entah apa yang mereka pikirkan. Aneh.
Syiana mengajak putrinya untuk berkunjung ke rumah mantan istri dari suaminya tersebut. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar. Mengingat lagi surat perceraian Almira dan Sam yang sebenarnya belum dilayangkan.
Hani bersandar di meja dapur dan meminum segelas air putih. Dan tiba-tiba saja Azof keluar dari kamar dan hendak mengambil minuman juga di sana. Lelaki itu hanya datang dengan mengenakan kaos dan celana pendek. Maklum saja. Ia sudah bersiap untuk tidur tadinya. Tapi karena mendengar kebisingan di luar, ia pun memilih bangun dan mengambil minuman. Mereka pun berpapasan disana. Canggung sekali rasanya.
"Kenapa kau ada disini?"
"Ibumu mengundang kami untuk makan malam. Aku datang bersama ibuku dan juga Ayah."
Azof mengangguk saja dan berlalu mengambil air minum. Tapi sayang teko yang berisi air putih yang sedang dicarinya berada di belakang Hani. Sementara wanita itu sedang menikmati tegukan demi tegukan air putih dalam gelasnya. Azof hanya menanti Hani selesai dengan minumannya.
Azof memberi kode pada Hani bahwa dia hendak mengambil teko di belakangnya. Namun sepertinya Hani tidak menyadari itu. Dia terus saja menenggak air putih dalam gelasnya hingga habis.
"Akh!!"
"Apa kau sangat kehausan?"
"Sejujurnya, iya. Di depan hanya ada kopi dan terus terang saja aku tak bisa menikmatinya."
Hani melirik Azof dan tak sengaja melihat gelas yang di pegang laki-laki itu kosong.
"Apa kau mau minum?"
"Iya."
"Kalau begitu mari aku tuangkan."
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri."
"Baiklah."
Hani menyingkir dari tempat mulanya. Tapi Azof malah begitu cekatan menangkap tubuhnya. Dua insan itupun kini bertatapan dalam dekapan yang begitu lama.
Wajah Hani mendadak merah merona. Bibirnya bergetar hebat. Seluruh tubuhnya diam mematung. Lelaki itu meletakkan gelasnya di atas meja, dan mulai mendekatkan wajahnya yang tampan secara perlahan-lahan. Sepertinya status saudara tiri tak lagi berlaku antara mereka. Sontak saja Hani terkejut. Bibir itu semakin dekat saja dengan bibir manisnya. Dia mencoba memejamkan kedua matanya. Sejujurnya hatinya pun agak berharap ciuman itu nyata.
Tapi....
"Hani!!!"
Teriak Syiana telah mengejutkan mereka berdua. Membuat ciuman itu gagal sebelum waktunya. Sayang sekali.
Mereka berdua bertatapan lagi. Melihat usaha kali ini gagal, mereka hanya diam. Mereka masih saling mendekap.
"Jujur saja, Hani. Aku sangat merindukan dirimu."
Hani tak berkutik sama sekali. Lidahnya begitu kelu dan tak mampu untuk menjawab.
"Aku masih mencintaimu."
"Hani!! Apa yang sedang kau lakukan disana? Kita harus pulang sekarang."
Hani melepaskan pelukan dari Azof. Dia hanya tersenyum kaku. Apalagi mengingat lagi bahwa mereka sudah berstatus saudara tiri. Apa kau tidak sadar akan hal itu, Azof?
__ADS_1
Hani membenarkan rambut dan bajunya lalu melenggang jauh dari sana. Meninggalkan Azof di sana dengan pikiran kacaunya. Sementara pria itu hanya memandang wanita itu penuh kerinduan. Memang sepeninggal Hani yang begitu lama membuatnya jatuh dalam lautan rindu yang amat dalam. Karena itulah dia tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
.......
Yuna menggenggam tangan Jian. Kali ini tidak ada tangis di sana. Melainkan senyum yang ia tarik dengan terpaksa. Dia selalu menangis setiap hari. Namun hari itu, ingin membuktikan bahwa dia mampu menghadapi semuanya. Dia tidak ingin Jian mendengar kesedihan yang dia alami semenjak koma.
Disampingnya, Demy juga sedang duduk dan tersenyum. Tapi senyumnya berbeda. Bukan karena ia berusaha tegar. Tapi memang ia tengah menari-nari dalam pikirannya. Ia sudah kelewat jatuh cinta. Hingga dia terlihat amat gila. Bahkan pria berusia 30 tahun itu semakin sering kali berbuat hal yang aneh.
"Yuna! Apa kau tidak mau berbelanja hari ini? Maksudku mumpung hari kau tidak terlalu sibuk. Kau bisa menyempatkan waktumu untuk merawat dirimu."
"Apa?"
"Bukan begitu maksudku. Kau sudah terlalu lelah menjalani hari-hari yang melelahkan. Kau harus menikmati hari ini untuk melegakan pikiranmu."
"Aku tak pernah lega meski kau membawaku berbelanja ataupun bersenang-senang."
"Ayolah, Yuna! Jangan siksa dirimu dengan sadis seperti ini. Kau juga harus memikirkan dirimu sendiri."
"Kau tahu? Tidak ada yang kupikirkan dalam otakku selain kesembuhan Jian."
Laki-laki itu terdiam. Harus dengan alasan apalagi supaya dia jatuh dalam pelukan Demy. Nyatanya kesetiaan yang dia emban begitu besar dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.
"Kali ini aku akan tersenyum. Berusaha tersenyum untuk hari ini, esok dan selamanya. Biar saja jika hatiku sedih. Aku tetap akan tersenyum di depan Jian. Aku tidak mau terlihat lemah saat disampingnya. Itu hanya akan memberatkan dirinya saja."
"Syukurlah jika kau berpikir begitu."
Demy berpikir dalam.
"Bagaimana jika kita merawat wajahmu agar terlihat lebih cantik? Kurasa kau juga membutuhkannya untuk membuat dirimu lebih baik."
"Aku sudah melakukan perawatan seminggu yang lalu."
"Kenapa kau sangat memaksa? Baiklah. Aku akan ikut denganmu."
Mereka pun akhirnya berlalu juga. Meninggalkan Jian dengan sejuta kerinduan. Kau mungkin tak bisa merasakannya Yuna. Tapi andai saja kau tahu bahwa kaulah yang selalu membayang dalam ingatan Jian selama dia koma.
Beberapa waktu kemudian sampailah mereka di sebuah tempat perbelanjaan. Rasanya agak berbeda. Tidak seperti biasanya jika ia sedang berbelanja di sana. Banyak barang yang selalu dia ambil meski dengan harga fantastis. Tapi kali ini tidak. Ada rasa ragu meski Demy sudah berkata dia yang akan melunasinya. Dan akhirnya hanya satu baju saja yang menarik matanya. Itu pun karena Demy begitu memaksa.
Perjalanan di lanjut di bagian perawatan. Dia melakukan perawatan di seluruh tubuhnya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa terkecuali. Demy setia menantinya meski waktu sudah hampir petang. Seharian penuh Demy berusaha membuat hati Yuna merasa senang. Tapi aku rasa hal itu sama sekali tidak berhasil.
Usai perawatan, mereka beralih mengisi perut. Dengan hidangan mewah dan romantis. Apa? Apa ini ada hubungannya dengan perlakuan manis Demy terhadap Yuna sedari tadi?
Yuna memasuki Restoran yang sepi. Sepertinya ada yang janggal dengan suasana ini. Pikirannya terpaku pada nuansa romantis dan penuh dengan harum bunga. Terlebih lagi, tidak ada satu pelanggan pun yang hadir di sana. Apa mungkin Demy sengaja menyewa Restoran ini untuk mereka berdua?
Yuna yang sudah cantik dengan paduan dress merah marun yang ia padu padankan dengan sepatu hitam itu hanya terdiam di ambang pintu. Ia bimbang antara harus lanjut melangkah atau berhenti saja di sana. Mengingat suasana yang sudah membuat hatinya sama sekali tidak nyaman. Semoga saja kegundahan hatinya tidak sepenuhnya benar.
"Untuk apa kau membawaku kemari, Demy?"
"Masuk saja dulu."
"Tidak!" Tolaknya begitu cepat.
"Kenapa?"
"Kau harus menjelaskan padaku lebih dulu."
"Apa aku harus menjelaskannya disini?"
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu."
Demy mempersilahkan Yuna untuk masuk lebih dulu. Demy.. Semoga saja kau tidak melakukan hal yang aneh padanya.
Dia pun terduduk dengan ekspresi yang bingung. Tak lama setelah itu makanan pun datang. Aneh saja. Mereka belum memesan makanan apapun. Dan pelayan sudah siap dengan hidangan mereka. Ada apa Demy?
"Makanlah! Kau harus mengisi tubuhmu agar kau merasa lebih baik."
"Sudah aku katakan padamu tidak ada yang lebih baik dari pada kesembuhan Jian."
"Lupakan dulu masalahmu. Kau harus lebih meluangkan waktumu untuk dirimu sendiri."
"Katakan saja apa maksud kamu membawaku kemari." Nadanya mulai terdengar kesal. Ia bahkan belum menyantap makanan di hadapannya sedikitpun.
"Yuna.."
Dia berlutut di hadapan wanita itu. Di tunjukkanlah cincin dengan ukiran cantik bernama Yuna di sana. Apa kau akan melamarnya, Demy?
"Apa maksud kamu?"
"Apa kau mau menikah denganku?"
Yuna sudah bisa menebaknya. Ia mengusap dahinya. Sepertinya gadis itu sangat kesal. Dia memalingkan muka. Terlihat enggan saja menatap mata Demy.
"Jawab aku!"
"Kau sudah tahu jawabanku."
Demy menurunkan cincin yang dipegangnya.
"Ayolah, Yuna! Kau bisa memberi aku kesempatan."
"Tidak! Kau tidak akan mendapatkan kesempatan itu, Demy!"
Mata itu menatapnya tajam. Menghancurkan seluruh harapan yang tumbuh di dalam hati Demy.
"Apa Jian lagi?"
"Apa maksud ucapanmu?"
"Lupakan dia! Apa kau pikir dia akan terbangun dan bisa bersamamu lagi seperti dulu? Tidak, Yuna!"
Yuna menggeleng merasa heran. Rupanya inilah wajah asli sahabatnya.
"Semua yang ada dalam hidupku memang tentang Jian. Lalu apa masalahmu, Demy?"
"Kau tak pernah melihatku meski aku begitu tulus mencintai kamu."
"Aku hanya menganggapmu sahabat! Tidak lebih dari itu. Apa kau sama sekali tidak mengerti?"
"Yuna, setidaknya kau bisa mencobanya dulu bersamaku."
"Itu tak akan merubah apapun."
Yuna bangkit dari kursinya.
"Berpikirlah dengan jernih sebelum kau hendak melakukan sesuatu."
__ADS_1
Yuna meninggalkan pria itu sendirian disana. Dan itu sukses membuat pikiran dan hatinya lebih kacau. Kau sudah mengambil keputusan yang tepat Yuna. Semoga saja Demy mengerti dengan keputusan yang sudah kau ambil.
Iya. Semoga saja.