Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Kejutan Saat Sidang


__ADS_3

Tap tap tap..


Suara langkah kaki Yuna yang terdengar keluar dari ruang persidangan. Wajahnya senang, namun masih juga merasa sangat ganjil. Dia terus berjalan dengan pandangan kosong. Jian sedang menerima telepon dari klien pentingnya, dan sekarang, Yuna hanya bisa berdiri dan menunggu Jian di sisi mobil.


Persidangan memang baru saja selesai sekitar lima belas menit yang lalu. Dengan hasil yang memuaskan dan sangat diluar dugaan..


Ada kejutan yang tidak terduga saat sidang tadi..


" Saudara Munnia yang tidak lain adalah ibu kandung dari saudara almarhum Aldi resmi mencabut laporan atas saudara Azof.."


Keputusan sidang yang sangat memuaskan bukan ?? Tapi bagaimana bisa ?? Bagaimana mungkin dengan tiba-tiba datang seorang wanita tua yang tidak jelas asal-usulnya, mendadak mengaku menjadi ibu kandung Aldi, dan berhasil mencabut tuntutan atas dokter muda itu ?? Apa ini tidak terdengar aneh ??


" Hei.." ( merangkul ).


" Jian.." ( menepis ).


" Kenapa ?? Wajah kamu sangat jelek. Pasti ada yang membuatnya menjadi seperti ini, ya.."


" Kamu yang sudah melakukan semua ini, bukan ?"


" Melakukan apa ??" ( menyalakan korek api ).


Yuna merebut korek api yang hendak disulutkan ke ujung rokok yang sedang dijepit oleh Jian di antara dua jarinya..


" Kenapa diambil ?"


" Aku sedang bicara dengan serius.." ( dia memang terlihat sangat serius ).


" Kalau begitu, kita bicara di mobil saja.."


" Baik.."


Mereka membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.


Krebb !!


" Ada apa ??"


" Kamu tidak usah berpura-pura, aku tahu kalau kamu yang sudah melakukan sesuatu untuk kak Azof, bukan ??"


" Sesuatu bagaimana ??"


" Jujur saja Jian.. Kenapa harus terus berbohong.."


" Berikan koreknya dulu.."


Yuna dengan wajah yang kesal terlihat memberikan sebatang korek api kepada Jian. Wajahnya malah semakin ditekuk.


Woshh...


Asap rokok kemudian menyala beberapa detik kemudian, setelah Jian berhasil menyulutnya dengan sebatang korek api.


" Kalau begitu katakan.."


" Apa yang sedang kamu pikirkan ??"


" Aku merasa aneh, Jian.. Aku tahu kamu sudah melakukan sesuatu untuk kakakku.. Jelaskan padaku.."


" Baiklah, aku akan jelaskan.."

__ADS_1


Wosshh..


Sekali lagi dia membuang asap rokoknya.


" Aku mencari data pribadi milik keluarga Aldi, dan aku menemukan sebuah fakta yang sangat menarik.."


" Um ??"


" Rupanya dia adalah penopang hidup ibunya, dan semenjak dia meninggal, seharusnya ibunya tidak punya kemasukan sama sekali.."


" Jadi kamu mengancam ibunya Aldi dengan uang ??"


" Dia butuh uang untuk melunasi semua hutang anak semata wayangnya.. Jadi orang suruhanku menawarkan sebuah bantuan.."


" Hh. Jadi begitu ?? Apa menurut kamu kedepannya tidak akan ada masalah lagi ??"


" Aku rasa tidak, wanita itu pada mulanya memang orang yang baik. Dia bahkan tidak tahu menahu soal hutang anaknya pada rentenir.. Aldi selalu berhasil menyembunyikan semua masalahnya dari dia. Bahkan wanita itu tidak tahu kalau anaknya mati karena berusaha melindungi orang yang salah.."


" Dan kamu memanfaatkan situasi ini ??"


" Tidak, tidak bisa juga kalau bicaranya seperti itu.. Aku bukan memanfaatkan situasi, lebih tepatnya aku hanya menyelamatkan dia disaat aku juga butuh bantuannya.."


" Apa bedanya Jian.."


" Tentu saja berbeda, memangnya apa yang sedang kamu permasalahkan disini ??"


" Aku tidak senang atas keputusan kamu yang sepertinya memaksa secara sepihak.."


" Hehe.. Aku tidak bermaksud seperti itu, lagipula dia memang sangat membutuhkan pertolonganku, dan aku juga sama seperti dia.."


" Tapi tetap saja, kamu sudah menggunakan situasi sulit ini untuk membebaskan kakakku.. Sepertinya hal itu tidak adil bagi ibunya Aldi. Bukankah orang yang kehilangan anaknya karena di bunuh, tetap saja sampai kapanpun akan tetap membenci pelaku pembunuhan anaknya itu ??"


" Menurut aku, itu sangat berlebihan.."


" Yuna, aku hanya ingin membuat keluarga kalian tenang, dan tidak sendirian menghadapi masalah. Karena itulah aku berani mengambil langkah ini.."


" Tapi tetap saja, kamu tidak bertanya padaku dulu sebelum mengambil keputusan.." ( wajah kesal ).


" Aku tahu, kalau aku mengatakan semua ini dari awal, aku tidak akan mendapat persetujuan darimu, bagimu hukum tetaplah harus dihukum, bukankah pemikiran kamu selalu seperti itu ??"


" Hhh.. Sudah tahu ya sudah.." ( semakin kesal ).


" Jangan marah Yunaku sayang.. Aku juga melakukan semua ini demi Hani, meskipun kamu tidak terlalu membutuhkan Azof, tapi tidak dengan Hani, wanita itu sedang membutuhkan dukungan yang besar dari keluarga, dan terutama suaminya.." ( mengusap rambut Yuna ).


" Iya, aku mengerti.. Lagipula kesal juga tidak tahu pantas apa tidak, aku memang selalu ingin menaati hukum, tapi kalau bisa ada jalan lain, maka ya sudah, lalui saja jalan itu.."


" Yunaku memang semakin pintar saja.."


......


" Hh.. Gara-gara dia anakku mati !! Kalian pikir bisa hidup bebas setelah aku mencabut tuntutan ini ?? Kalau bukan karena butuh uang, aku juga tidak mau mematuhi kalian semua !!"


.......


' Sepertinya, aku punya kawan baru, musuh dari musuhku, adalah teman...'


.......


Azof akhirnya berhasil keluar dari sangkar yang selama dua bulan ini telah membelenggunya. Dia menunduk saat dua petugas mendorongnya keluar dari sel. Mereka memang sudah terbiasa mengucapkan selamat pada para tahanan yang berhasil keluar dengan cara seperti itu. Rasanya tidak terlalu terkejut.

__ADS_1


Azof pergi ke sisi jalan yang memang sangat sepi. Dia juga merasa bingung pada keputusan sidang keduanya ini. Kenapa begitu mudahnya keluarga Aldi memaafkannya dan yang lebih membuat dirinya terpaku begitu lama adalah, pilihan wanita itu untuk mencabut seluruh gugatan yang dituduhkan kepadanya. Dia tidak tahu, harus senang atau merasa tidak pantas ?? Hhh.. Dia bahkan tidak bisa berpikir maksimal saat itu.


Dia memutuskan untuk berjalan menyusuri jalanan yang hampir ditutup rapat oleh rumput-rumput liar. Dia bahkan tidak menemukan satu rumah penduduk pun di tempat itu, bahkan setelah berjalan selama beberapa jam. Ternyata selama ini dia dikurung cukup jauh dari kerumunan dan aktivitas perkotaan pada umumnya.


Tetapi Azof tetap saja berjalan, sambil terus menerus mencari dan mencoba menggali sesuatu mengenai wanita tadi. Dia juga merasa curiga dengan kejadian dalam sidang tadi. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal dibenaknya. Tapi dia yakin, apapun itu, sudah pasti ada Jian juga di dalamnya..


Tin tin..


Ciiitttt.


Bunyi klakson yang begitu memekakkan telinga membuat lelaki itu tersadar dari lamunan. Disusul bunyi rem yang sangat mendadak, membuat jantungnya berdetak begitu cepat. Dia terkejut setengah mati saat sebuah bus besar hampir menabrak dirinya. Ternyata dia sudah sampai di jalan yang lebih ramai.


" Mau cari mati rupanya !!!?? Awas minggir !!!!" ( teriak seorang supir ).


Bus yang membawa banyak penumpang itu berhenti dan melakukan rem mendadak setelah mendapati seorang laki-laki yang menyeberang tanpa melihat kanan kiri. Mereka terpaksa berbenturan karena kejadian mengejutkan ini.


" Dia benar-benar sedang cari mati !!"


Umpat beberapa orang di dalam bus seakan mewakili amarah sang sopir kepada Azof. Mereka bahkan terlihat sama kesalnya seperti pak sopir itu.


" Maaf, pak.. Maaf..."


Hanya kata itu saja yang bisa keluar dari mulut Azof sambil menunduk beberapa kali. Dia merasa kalah saat melihat mata sopir itu memerah menatapnya dengan sangat tajam. Dia tahu kali ini memang dirinyalah yang salah..


" Awas !!! Minggir !!! Ini jalan yang sangat ramai, jangan berjalan sambil melamun, bahaya ??!!!"


Sopir itu terlihat marah, namun anehnya dia malah melontarkan nasehat pada Azof.


Beberapa saat kemudian, bus itu kembali melaju meninggalkan Azof di pinggir jalan. Dan sekarang, dia hanya sendirian, sambil terus menatapi jalanan ramai, namun baginya terasa sepi.


Arkh !! Kenapa harus galau seperti itu ?! Bukankah permasalahan sidang tadi tidak ada yang perlu dicemaskan ?! Jadi kenapa sekarang harus berpikir secara kacau ??


Baiklah, sekarang sudah waktunya terus memikirkan masalah persidangan. Tapi kali ini dia harus menemui masa depannya. Hani.. Dia harus memberi kejutan pada Hani. Entah kenapa sidang kedua kali ini istrinya tidak menunjukkan sedikitpun batang hidungnya. Mungkinkah ada suatu hal yang terjadi tanpa sepengetahuan Azof ??


Ciiitttt


Tin tin..


Sebuah mobil berwarna hitam mengkilat terlihat berhenti didepannya setelah membunyikan klakson dua kali. Azof terus memandangi mobil itu sampai pada akhirnya seseorang terlihat membuka pintu mobil dan keluar menemuinya.


" Selamat siang, Tuan.."


Mereka berjabat tangan.


" Siang, kenapa, ya ?? Apa saya mengenal anda ??"


" Saya rasa tidak, tapi anda sudah pasti kenal dengan Mr Jianan.."


" Jianan ?! Ada apalagi dengan dia ??"


" Dia ingin anda menemui istri anda di rumah sakit sekarang juga.."


" Apa ? Rumah sakit ??" ( sangat terkejut ).


" Iya, Nona Hani sudah berada di rumah sakit sejak kemarin, sementara Mr Jianan ingin memberi anda kabar gembira. Anda bisa langsung berkenan menuju kesana untuk mendapat dua berita tersebut.."


" Baiklah, cepat bawa aku pergi.." ( wajah cemas ).


Azof naik ke dalam mobil beserta satu tas berisi beberapa pakaiannya selama di penjara. Sementara lelaki berpakaian rapi itu juga terlihat masuk dan menutup pintu pada beberapa saat kemudian. Dia mulai menyalakan mesin, dan akhirnya pergi juga dari tempat itu..

__ADS_1


Vroooooommmmmm..


__ADS_2