Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Bertemu Saat Sidang


__ADS_3

Yuna sedang bersiap di dalam kamarnya. Menghadap meja rias, dan memoles wajahnya dengan make up sederhana. Cantik sekali. Sejak menitah karier di dunia bisnis, dia memang lebih sering memperhatikan penampilan.


Tapi di balik semua itu, ada cemas juga yang dia rasakan. Yuna tahu kalau kabar tentang dirinya sudah terdengar di seluruh penjuru. Tapi setidaknya belum ada yang tahu kunjungannya kali ini ke kota M. Semoga saja dia tidak bertemu langsung dengan media. Yuna pikir, penggemar Jian pasti akan langsung menyerangnya kalau sampai ada yang menyadari kedatangannya dalam sidang Azof hari ini. Huff.


Cklek !


Pintu dibuka dari luar..


" Ibu ?"


Almira mendekat ke arahnya, dan memeluk Yuna dari belakang.


"Ibu ? Ada apa denganmu ?? Apa kau baik-baik saja ?"


Almira hanya menggeleng. Dilepaslah pelukan darinya dengan wajah yang tidak bisa dimengerti.


Yuna bangun setelah selesai memoles wajahnya, dan beralihlah kepada Almira.


" Apa ibu sedih ?"


Almira menatap Yuna begitu dalam. Setidaknya saat dia sedang menghadapi masalah Azof, dia masih punya Yuna untuk berpegangan.


" Ibu, hanya.. Merasa sedih. Dua anak ibu sama-sama punya nasib yang buruk seperti ini.."


" Ibu, Yuna minta maaf. Seharusnya Kak Azof tidak berada dalam penjara sekarang.. Itu semua karena kesalahan Yuna waktu itu."


Almira memegang tangan Yuna dan mengusap pipinya lembut.


" Jangan salahkan dirimu, Yuna.. Justru ibu merasa senang, karena kalian adalah anak-anak yang mau bertanggung jawab.. Ibu bangga punya anak seperti kalian.." ( Memeluk ).


Yuna mengusap punggung ibunya lembut.


" Maafkan kami, ibu.. Seharusnya setelah apa yang ibu perjuangkan untuk kami, kami bisa membalasnya dengan hal yang baik.. Tapi.. Kami malah terus membuat ibu bersedih.."


" Tidak.. Kamu selalu membuat ibu tersenyum. Orang-orang itu yang selalu menghancurkan hidup kalian."


" Kalau begitu, kita perbaiki nama baik keluarga kita sekarang. Aku akan mencoba membela Kak Azof sebisaku nanti.. Aku akan membuka identitas ku di depan media, dan mencoba menyelamatkan nama baik keluarga kita pada dunia. Kau patut bangga pada orang yang memang seharusnya kau banggakan. Jika aku dan Kak Azof diam seperti patung, maka ibu tidak perlu bangga pada kami berdua.." ( Seperti perkataan motivator saja ).


" Iya.. Datanglah dan bela kakakmu sebisa mungkin. Pulanglah dengan membawa nama baik kita, dan setelah itu, hiduplah dengan bebas, tanpa takut sorotan dari dunia luar. Kalian anakku yang paling hebat !!"


...........


Hari ini sidang pertama Azof setelah penangkapan yang terjadi tiga hari lalu di kediamannya. Dia tidak melawan sama sekali saat dikeluarkan paksa oleh para petugas. Dia hanya terdiam mengikuti arahan para petugas untuk menuju mobil yang akan mengantarnya sampai ke pengadilan.


Vroooooommmmmm


Mobil melaju dengan cepat. Sesaat jantungnya berhenti berdetak jika mengingat akan ada berapa banyak orang yang menyaksikan kasusnya kali ini. Kasus yang memang sudah terlanjur mendunia karena menyangkut nama dua artis besar di dalamnya.


...........


'Tap! Tap! Tap!'


Derap langkah kaki Yuna dan kedua wanita di sampingnya terdengar yakin. Apapun keputusan yang didapat hari ini, semoga saja itu hal terbaik untuk Azof.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju ruang persidangan, dan kemudian berhenti. Benar saja. Ada banyak wartawan yang sedang menunggu persidangan itu di mulai. Dia terlihat ragu. Saat ini wajahnya masih ditutup rapat oleh masker dan topi untuk menutupi identitasnya. Tapi ia juga ingin mengungkapkan semuanya pada media..


Srakk !!!


Masker dan topi terlepas.


Dia membuka seluruh penutup di wajah cantiknya, membiarkan semua orang melihat kehadirannya di sidang ini.


" Yuna, kenapa kau membuka maskermu ?? Semua orang akan tahu siapa kamu nanti.." ( Hani cemas ).


" Tidak apa-apa. Aku sudah berani membuka kebenaran di depan mereka. Lagipula malas juga terus bersembunyi dari media. Aku juga ingin membersihkan nama baik keluargaku."


Mendadak, seorang wanita menyadari kehadiran mereka bertiga.


" Itu Yuna.... Itu aktris yang terkenal waktu itu.. Potret dia.."


Sontak semua orang beralih menatapnya dan berusaha mengambil poteretnya sebanyak mungkin.


" Benar.. Itu Yuna.. Dia sudah kembali kesini.. Kapan dia pulang kesini, ya ?? Nanti kita tanyakan saja padanya.."


Yuna melangkah dengan pasti menuju tempat tujuannya. Dia tidak memperdulikan puluhan wartawan yang hendak mencegatnya. Untunglah beberapa petugas terlihat mengamankan lokasi. Dia bisa lewat ke dalam dengan aman dan tidak tercegat sama sekali.


" Yuna, temui kami dulu sebentar.. Berikan penjelasan tentang masalah ini."


" Benar, Yuna.. Berikan kami penjelasan sedikit saja.."


Yuna tidak menggubris. Mungkin ia akan menemui mereka nanti, atau bahkan tidak sama sekali, dia tidak tahu. Yang jelas, dia akan membuka semuanya pada mereka kapanpun itu.


" Apa kita bisa menemui Azof nanti setelah persidangan ?"


" Kabar gembira apa yang kalian maksud ??"


" Ibu.. Semalam Hani mencoba untuk melakukan test kehamilan.. Dan hasilnya positif.."


" Apa ?? Jadi kau hamil ?? Apa itu benar sayang ??"


Hani mengangguk melihat ekspresi ibu mertuanya yang terlihat sangat senang.


" Kalau begitu, mulai sekarang, ibu yang akan menjagamu dan calon cucu ibu.. Ibu sudah pernah berjanji pada kedua orang tuamu untuk selalu menjagamu, dan kini ibu akan menepati janji ibu.."


" Iya ibu.."


Sementara diluar, kembali terlihat ricuh. Entah siapa yang datang lagi. Sepertinya orang yang sangat penting datang dalam persidangan itu. Yuna tidak mengetahui kedatangan orang tersebut.


" Itu mobil mewah milik Mr Jianan. Dia juga datang.."


" Aku dengar dia yang akan menjadi saksi dalam persidangan hari ini.."


" Kalau begitu dia akan bertemu dengan Yuna.. Aku penasaran bagaimana ekspresi mereka saat bertemu nanti.."


" Jangan banyak bicara.. Cepat potret dia juga.."


Semua orang memotret mobil mewah milik Jian. Disertai dengan keluarnya Jian dari dalam mobil. Semua orang terpana melihat ketampanan dan wibawanya itu.

__ADS_1


" Mr Jian. Bisakah anda menemui kami sebentar saja ??"


" Mr Jian, jelaskan pada kami apa tujuan anda datang kesini ?? Untuk menjadi saksi atau bagaimana ??'


Beberapa pertanyaan dari para wartawan yang berusaha mencegatnya diluar. Tapi nampaknya hal itu tidak berhasil sama sekali. Beberapa petugas dan pengawal Jian terlihat mengamankan lokasi saat itu juga, membuat para wartawan akhirnya mengaku mundur.


Jian melangkah menuju ruang persidangan dimana Yuna dan dua keluarganya juga sudah sampai disana lebih dulu. Dia membuka pintu, dan..


Kreeekk..


Yuna berbalik. Menatapi seorang pria yang selalu berhasil membuatnya berbinar. Dia tidak menyapa Jian. Rasanya kaku sekali jika harus berbincang dengan orang yang pernah dia kecewakan.


Jian pun sama. Dia tidak menatap Yuna sedikitpun. Meski sebenarnya ia ingin sekali merengkuh tubuh itu erat dalam pelukannya. Arkh !! Kau ini.. Dia istri orang. Mana mungkin mau kau ambil..


Dia hanya mencoba duduk agak jauh dari tempat Yuna. Tepatnya agak jauh dibelakang. Sesekali dia melirik ke arah kekasihnya, yang memang sebenarnya belum resmi menjadi mantan itu secara diam-diam. Lebih tepatnya mencuri pandang. Hufff. Susah sekali hidup seperti ini. Kenapa terlalu banyak rintangan yang menghalangi percintaan mereka..


Tiga orang berbaju kejaksaan terlihat masuk dan menduduki tempatnya masing-masing. Kemudian acara dibuka. Pertama-tama adalah sambutan dari tiga orang tadi, lalu setelah itu Yuna tidak terlalu memperhatikan omongan mereka.


Beberapa saat kemudian, datanglah Azof dengan pakaian khas tahanan yang dia pakai, terlihat berjalan di dampingi dua petugas bersenjata lengkap. Dia digiring menuju kursi duduknya, dan ditinggalkan begitu saja oleh dua petugas tadi. Sementara empat bawahan Jian juga ikut disidang disana. Mereka menyusul Azof yang sudah lebih dulu duduk.


Kemudian acara persidangan dimulai..


Skip.


Setelah persidangan..


Hani terlihat mencegat suaminya Azof saat hendak dibawa keluar oleh dua petugas.


" Azof, tunggu !!"


Dua petugas tadi memberi waktu pada mereka untuk berbincang.


" Sayang.. Kau juga datang.."


" Aku ingin memberimu kabar.."


" Apa itu ? Kabar bahagia, atau kabar duka ??"


" Azof, aku.. Aku hamil.."


" Apa ? Kau, kau hamil.."


" Iya, sayang.. Hani sedang mengandung cucu ibu.."


Azof terlihat sangat senang. Meski mungkin dia tidak bisa menemani Hani dalam perjuangannya..


" Selamat sayangku.. Jaga dan lindungi anak kita, ya.. Maaf saja aku tidak bisa menemani kamu.."


" Sudah selesai !! Cepat pergi !!"


Dua petugas tadi memaksanya keluar ruangan. Perbincangan yang singkat, namun penuh kegembiraan. Hani melihat suaminya yang dipaksa keluar dari ruangan dan didampingi oleh para petugas. Sedih sekali rasanya melihat kondisi Azof seperti ini.


Tapi tidak juga. Sidang kali ini agak melegakan. Meskipun belum ada hasil yang pasti, tapi Hani lega karena kedatangan Jian yang memberi kesaksian. Sepertinya lelaki itu juga ingin membebaskan suaminya. Semoga saja hal itu berhasil.

__ADS_1


Hani dan Almira keluar dari tempat persidangan tanpa di dampingi Yuna. Dia memang keluar lebih dulu dengan minta pengawalan dari para petugas. Dia ingin lari dari Jian yang terus membuatnya merasa bersalah.


" Aku tidak sanggup jika harus bertemu denganmu kali ini.."


__ADS_2