Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
Kecelakaan.


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir dua bulan aku tinggal dirumah bu Maria, dan sudah jadi kebiasaan setiap senin sampai kamis aku berangkat dan pulang kerja bareng mas Vano, awalnya sih karena permintaan bu Maria pada


anaknya tapi lama kelamaan seperti ada sesuatu yang berbeda jika kami tidak berangkat dan pulang bersama. Kamipun sudah lebih akrab, seperti kakak dan adik. Teman-teman kerja yang sering melihat kami pulang bersama suka meledek kalau kami pacaran, tapi aku bilang pada mereka kalau kami masih dalam batas pertemanan saja.


Begitu juga hari ini, tadi pagi mas Vano udah bilang akan menjemputku, harusnya sih jam segini dia sudah sampai, mungkin lagi di kantin, lagi ngopi biar ga bosan.


Tapi entah kenapa sejak siang tadi perasaanku tidak enak. Kadang jantungku deg.degan. “huhhhhh,” aku menarik nafas panjang dan menghembuskan kembali, kulakukan beberapa kali sampai aku sedikit tenang.


“Tring..tring..” telepon di ruanganku berbunyi.


“Selamat sore, dengan rara.” jawabku


“Ra. Bisa ke UGD sebentar,” kata perawat UGD yang meneleponku.


“Ya. Lima belas menit lagi rara kesitu.” Jawabku, karena kami harus aplusan sore, lalu aku bisa pulang. Sebelum aku nunggu mas Vano aku akan mampir ke UGD.


Sesampainya aku di UGD, aku melihat seorang pria terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur ruangan itu. Badannya penuh luka, sepertinya telah terjadi kecelakaan yang menimpanya.


“Ra. Coba lihat kesini, kamu kenal pasien ini kan? Kata linda perawat yang meneleponku tadi, sambil linda menarikku melihat pasien yang kecelakaan itu.


Deghhh. Spontan aku menutup mulutku, tubuhku kaku, rasanya ngilu melihat kepala dan tangannya  dan kaki nya yang penuh luka. Bagaimana ini terjadi? Aku menitikkan air mataku yang kucoba tahan dari tadi.


“Ra..” linda menyentuh bahuku. Menyadarkanku dari keterkejutanku.


Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tak bisa berkata apa-apa.


“Ra, duduk disini dulu.” linda menuntunku le tempat duduk yang ada, kemudian mengambilkan air minum untukku.


“Ra, minum dulu, wajahmu pucat, tenang dulu ya ra.” Linda menenangkanku, sementara dokter dan perawat yang lain sedang membersihkan luka-luka pada kepala, tangan dan kaki pria itu. Dia adalah mas Vano. Mereka mulai


menjahit lukanya. Namun mas Vano belum sadar.


“Aku harus bagaimana lin?” Tanyaku pada linda. Aku masih menangis melihat mas Vano dari jauh, aku tak sanggup melihatnya luka-luka begitu. Aku sudah biasa mendapati kasus kecelakaan di UGD dan ruang operasi, tapi saat itu terjadi pada orang yang dekat denganku aku merasa sangat sedih dan ngilu melihatnya. Hatiku sangat sakit melihatnya terluka.


“Ra, kamu kenal dengan keluarganya kan?” Coba hubungi keluarganya.


“Keadaannya bagaimana lin? Agar aku bisa memberitahu keluarganya.” Tanyaku masih sambil menangis.


“Dari hasil pemeriksaan dokter dan tadi sudah di MRI, tidak ada luka dibagian dalam yang serius, hanya luka robek yang kamu lihat itu dan ada memar akibat benturan. Tapia da pergeseran sedikit pada tulang bahu sebelah kanan, dan lutut sebelah kanan.” Linda menjelaskan


“Tapi mengapa dia belum sadar lin?” Tanyaku masih meneteskan air mata.


“Itu hanya shock akibat kecelakaan tadi.”


“Baiknya aku memberitahu kak Rika dulu ya lin? Aku akan memberitahu bu Maria jika mas Vano sudah sadar. Aku takut bu Maria ikut shock kalau mendengar kabar ini secara tiba-tiba, apalagi kalau mas Vano dalam keadaan tidak sadar.”

__ADS_1


“Itu baik juga. Tapi kamu tenang dulu agar bisa memberitahu kak Rika pelan-pelan.” Linda menenangkanku sambil mengelus punggungku dengan lembut.


“Tut.tut.. Rika disini.” Kak Rika menjawab telepon.


“Kakak dengan mas bima ra, mas bima baru aja pulang. Ada apa?” Suara rara kok tampak sedih.


“Kakak jangan kaget ya kak?”


“Ada apa ra?”


“Mas Vano ada dirumah sakit kak, tadi kecelakaan, tapi kata dokter ga ada yang serius kok kak, sebentar lagi akan dipindahkan dari UGD ke ruang perawatan kak.”


“Hah.. mas.. tampak kak Rika terkejut juga mendengar kabar itu. Kok bisa ra?”


“Rara juga belum tau bagaimana detail ceritanya kak dan rara belum kasi tau ibu, nanti rara beritahu ibu saat dirumah saja, kalau lewat telephone takutnya ibu shock dengar beritanya.”


“Ya betul ra, kakak liat dulu kondisi Vano, baru nanti kita beritahu ibu. Kakak segera kesitu ya ra.”


*****


Rara menungguin Vano yang belum siuman. Rara duduk dikursi disamping tempat tidurnya, sambil membersihkan wajah Vano dari sisa-sisa noda darah yang sudah mulai mengering. Dipandanginya wajah pria yang hampir setiap


hari bersamanya pulang dan pergi bekerja. Sesekali dia masih menitikkan air mata.


Baru kali ini rara benar-benar memperhatikan wajah pria itu, wajah yang lembut namun memiliki guratan ketegasan disana. Selama ini dia hanya sesekali meliriknya, karena rara sangat malu kalau bertatapan dengannya.


Diberanikannya memegang tangan kekar pria itu. “Bangunlah mas Vano, rara ga tau harus bilang apa ke ibu kalau mas Vano belum bangun.” Lirihnya sambil mengusap air matanya dengan tangan kirinya.


Karena lelah menangis, rara pun tertidur. Posisi kepalanya berada dekat tangannya yang masih menggenggam tangan Vano.


Sejam berlalu, Vano perlahan-lahan membuka matanya, dia merasa dalam tidur yang sangat melelahkan sampai terdengar sayup-sayup ada yang membangunkannya. Dipandangnya langit-langit diatas tempat tidur, dimana ini


batinnya. Dirasakannya seperti ada seseorang yang memegang tangannya. Vano melihat kesebelahnya dan menatap gadis yang tertidur disebelahnya.


Pasti dia sangat lelah dan harus menjagaku disini. Vano melepaskan genggaman tangan gadis itu dan membelai rambutnya, yang sudah digerai mungkin setelah berganti seragam tadi.


“Deg…deg.. apa aku sudah mulai menyukainya, dan apakah aku sudah jatuh cinta padanya?” Batin Vano. Perlahan tangannya turun kewajah rara dan mengusap pipi gadis itu dengan lembut. Terasa ditangannya air mata yang


sudah mengering. Ditatapnya wajah sembab gadis itu. “Apa dia menangisiku tadi, apa dia begitu khawatirnya?” Tanya Vano pada dirinya sendiri.


Draggggh. Tiba-tiba pintu kamar Vano dibuka dengan sedikit keras, sontak Vano menarik tangannya dari wajah rara, takut ketauan gadis itu. Dan rara pun terbangun mendengar suara itu.


Vano melihat yang masuk kak Rika dengan mas Vano.


“Vano…..,” teriak kak Rika dan langsung memeluk Vano sambil menangis.

__ADS_1


“Ehh. Mas Vano sudah siuman? Maaf tadi rara tertidur.” Kata rara yang baru menyadari kalau Vano sudah bangun.


“Auch.. uh.. sakit kak rika.” Vano meringis kesakitan karena bahunya yang diperban tertekan akibat pelukan kak Rika.


“Hhhh, mana yang sakit dek. Bagaimana keadaanmu dek? Kok bisa begini? Kamu ngebut ya?”


“Kakak, pertanyaannya satu-satu dong. Vano udah ga apa-apa, hanya luka yang diperban ini terasa sakit kalau digerakin. Udah yang lainnya ntar aja Vano certain, yang penting kakak ga usah khawatir, kakak kan lagi hamil kasian calon ponakan Vano ikutan stress di dalam.” Jawab Vano sambil menyunggingkan senyumnya dan senyum itu berpindah sebentar ke rara seakan menyiratkan agar gadis itu juga jangan khawatir.


“apa mama sudah tau juga kak?” Tanya Vano


“Belum, tadi rara Cuma telepon kakak aja. Ntar mama kakak saja yang kasi tau sepulang dari sini, biar mama ga panik.” Jawab kak Rika.


“Ra, kakak bisa minta tolong jagain Vano? Dia pasti ga bisangapa-ngapain ini, lihat aja bahu dan kakinya saja masih diperban dan pasti badannya masih pada sakit ini.” Sambil mengitari pandangannya ke badan adiknya, Rika bertanya pada rara.


“Heh.eh. iya kak, jawab rara sedikit ragu.” Membayangkan dia yang akan menemani Vano semalaman, dan mereka akan berdua di ruangan itu hanya berdua saja.


“Ga usah kak, sela Vano. Ntar Vano minta Damar aja kesini.”


“Kamu ini ya, Damar itu kan istrinya sedang hamil. Jangan mentang-mentang kamu atasannya trus suka-suka kamu. Bagaimana kalau kakak yang begitu, pasti ga mau mas Bisma nemanin orang lain ketimbang istrinya.


Sudah..sudah, kamu ga usah ikut campur, ini urusan perempuan.”


“Huhhhh, dasar cerewet. Yang sakit siapa, yang ngomel siapa.” Gerutu Vano yang merasa lucu juga kalau melihat kakaknya itu mengomel.


“Sayang biar Vano saja yang nentuin, kenapa jadi kamu yang gregetan begini.” kata mas bisma sambil menuntun Rika untuk duduk di sofa.


“Kamu juga mas, ikut-ikutan belain Vano.”


“Hahaha. Putri salju udah marah itu mas.” Ledek Vano melihat kakaknya yang melotot pada suaminya. “Terserah kakak aja dech, nampaknya udah dua ini yang lagi ngomel, kak Rika dan calon ponakan Vano yang didalam,


jangan-jangan calon ponakan aku ntar putri salju juga mas.” Ledek Vano. “Putri salju tapi yang es nya keras kayak batu.” Ledek Vano.


“Hahaha.” Merekapun sama-sama tertawa mendengar candaan Vano.


“Tuh Vano udah bisa bercanda, jadi kamu jangan khawatir lagi sayang.” Kata mas Bisma ke kak Rika. “Sekarang kita kerumah mama saja, kita beritahu ibu pelan-pelan. Trus ntar malam kita nginap dirumah mama saja, biar mama ada temannya.”


“Kamu benar mas. Ya udah kakak dan mas bisma kerumah mama dulu ya van.” kata Rika sambil memeluk adiknya pelan, takut Vano kesakitan lagi seperti tadi.


“Nitip Vano ya ra” kalau nakal disuntik aja..


“Hahaha. Iya kak.”


“Kak Rikaaaaa, emangnya Vano anak kecil..”


Rika tak menghiraukan dan merekapun beranjak pergi meninggalkan rumah sakit itu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2