
Jian membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. Tapi matanya membulat sempurna saat melihat Yuna yang ternyata sedang memandanginya.
" Maaf, aku, aku hanya.. Ingin memastikan kondisimu saja.."
" Kenapa kamu begitu kikuk ? Jika ingin masuk, masuk saja.. Aku tidak merasa terganggu sama sekali." ( Menarik senyum ).
Jian hanya terdiam sembari menutup pintu, dan menguncinya.
" Apa sudah lebih baik ?"
" Sejujurnya aku belum pernah merasa sebaik ini sebelumnya.."
" Apa ?"
" Kau tidak pernah tahu apa yang aku rasakan selama ini.."
" Kalau begitu ceritakan padaku, aku juga ingin dengar pengalaman hidupmu selama aku tiada."
" Untuk apa ? Apa untungnya ?"
Jian memandangi wanita itu sambil tersenyum. Dia mendudukkan dirinya di ranjang, membuat jarak antara mereka terlihat semakin dekat.
Dug! Dug! Dug!
Jantung mereka berpacu, seperti perlombaan lari. Terdengar begitu keras dan bahkan membuat wajah kedua orang itu terlihat memerah. Canggung sekali rasanya..
" Apa kamu tidak merindukan aku ?"
" Apa ??"
" Aku bertanya, apa selama ini kamu tidak merindukan aku ??"
" Jian.."
Sreetttt !!!
Jian menarik tubuh itu ke dalam pelukannya. Inilah hal yang paling dia rindukan darimu Yuna..
" Jian.." ( Mencoba lepas ).
" Biarkan aku meluapkan rinduku yang terlalu dalam ini Yuna.. Kamu tidak pernah tahu betapa kecewanya aku saat mendengar kabar pernikahanmu dengan Demy.. Dan sekarang, aku juga harus melihat Demy memukulmu didepanku.. Itu sangatlah menyakitkan.. Aku benar-benar tidak bisa mengampuni pria itu.."
Yuna terdiam, meresapi puluhan kata yang terlontar langsung dari mulut Jian.. Hatinya semakin teriris, menyesali perbuatan yang dia lakukan selama ini.. Dia mendadak menjadi wanita yang bisu, dan tidak bisa memberontak. Perkataan Jian kepadanya membuat Yuna terasa lumpuh.
" Maaf.."
Jian berhenti dari isaknya, dan melepas pelukannya. Dia tatap dua mata berwarna coklat agak gelap itu dengan seksama. Dia juga melihat dengan jelas betapa besarnya penyesalan Yuna atas semua kejadian ini.
" Maafkan aku.. Aku tidak bisa berpikir jernih.. Maaf.."
Jian semakin lekat menatap Yuna. Dicengkeramlah dengan erat kedua tangan Yuna dalam genggamannya, lalu..
Cup !!!
Sebuah kecupan singkat mendarat dibibir Yuna, membuat gairah diantara mereka semakin panas. Tapi Jian tidak mau seperti Demy. Memanfaatkan kesempatan saat ada celah. Dia melepas pegangan tangannya, dan hendak pergi meninggalkan Yuna.
" Tunggu !!"
Jian menoleh. Wanita yang sedang bermata muram itu terlihat menatapnya penuh penyesalan.
" Apa masih ada pintu maaf untukku ?"
Jian kembali membenarkan posisi duduknya. Dia ingin menjawab dengan lugas tentang pertanyaan Yuna barusan..
" Aku tahu kamu tidak pernah salah.."
__ADS_1
" Kenapa kamu tidak mau melanjutkannya ?"
" Seperti kamu yang punya prinsip, aku juga sama.. Hanya saja, prinsip yang kamu pegang tidak harus kamu ambil sebagai pilihan, tapi aku.. selama kamu masih di dalam ikatan itu, aku tidak bisa menjadikan kamu sebagai hakku.."
" Aku terlalu banyak mengecewakan kamu.. Begitu bodohnya aku yang berharap bisa kembali seperti dulu lagi," tersenyum.
" Asal kamu tahu saja, saat aku mendengar tentang pernikahan itu, saat itulah aku merasa amat kecewa.. Dan selebihnya, kamu tetaplah Yuna yang aku cintai.."
" Lalu bagaimana jika aku bilang, kalau Demy sudah pernah..."
Sssstttt !!!!
Jian memberi tanda pada Yuna untuk berhenti bicara..
" Aku tidak percaya sama sekali.. Setahuku, wanita bernama Yuna hanya mencintai satu orang seumur hidupnya, mana mungkin kamu dan Demy.."
Yuna meraih tubuh tinggi dan tegap itu ke dalam pelukannya. Disanalah pada akhirnya Yuna menumpahkan seluruh kesedihannya..
" Aku tidak akan melepaskan kamu lagi, aku akan bercerai dengan pria itu, dan aku tidak mau hidup dalam penderitaan seperti ini.. Aku ingin lepas dari seluruh perasaan iba ini.. Aku ingin bahagia untuk diriku sendiri.. Aku ingin kembali mengejar cinta yang pernah hilang... Kau adalah cintaku, Jian.. Jangan pernah melarangku untuk membuktikan cintaku.. Jangan pergi lagi, aku takut saat harus hidup tanpa kamu.."
Jian mengusap punggung si wanita dengan lembut. Dia memeluk erat tubuh kurus itu sama seperti Yuna yang begitu erat memeluknya..
" Kamu akan selamanya menjadi milikku, Yuna.. Saat ada orang yang datang dalam hidupku, dia tidak bisa lari lagi, apapun alasannya.."
Mereka berpelukan, melepas rindu, dan mencoba membuka hati mereka untuk saling menerima takdir. Meskipun harus selalu berliku-liku perjalanan cinta yang rumit ini, tapi sejujurnya sejak awal, dua hati itu tidak pernah berkhianat. Sama sekali tidak.
'Tok! Tok! Tok!'
Mendadak seseorang terdengar mengetuk pintunya dari luar, mengejutkan mereka berdua yang sedang menikmati indahnya meluapkan perasaan rindu.
" Nona, Nona Yuna.. Apa anda di dalam ?"
Jian menoleh, begitupun Yuna. Sepertinya suara itu dari pelayan Yuna yang juga dirawat disini, dan belum diizinkan pulang.
Jian menatap wajah Yuna dengan tatapan penuh makna. Sekali lagi dia mengecup lembut bibir itu. Bibir yang selalu membayanginya semenjak awal perjumpaan. Yang membuatnya akhirnya jatuh dalam buaian asmara dengan perkenalan cukup singkat. Yuna segalanya darimu adalah candu bagi Jian.. Kamu terlalu menggoda. Bahkan saat wajahmu layu dan muram, Jian selalu melihatmu bagaikan anggur yang selalu ingin dia tenggak. Manis sekali.
Jian melepas ciumannya dengan wajah penuh kebahagiaan.
" Tunggu sebentar.." ( Mengusap pipi Yuna ), " aku akan memukul wanita itu nanti.."
" Itu terlalu berlebihan.."
Jian melepas tangan Yuna begitu saja. Dia beralih ke arah pintu, dan membuka kancingnya..
Cklek.
Pintu dibuka oleh Jian.
Brakk ?!!
" Nona, apa Nona baik-baik saja ??" ( Berlari ke arah Yuna ), " aku sangat mencemaskan mu !! Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini ?? Bagaimana kondisi wajahmu ?? Begitu aku dengar anda masuk rumah sakit ini, rasanya lukaku terasa sembuh lebih cepat, anda sudah berhasil membuat saya secemas ini.."
" Ayolah, Kalina.. Kau tidak perlu cemas, lukaku bahkan tidak ada separuhnya dengan luka ditubuhmu.."
Jian menatapi pertemuan antara asisten dan majikan itu.
' Mereka mengabaikan aku..'
Sang asisten menoleh ke arah Jian. Wanita yang masih mengenakan pakaian rumah sakit itu terlihat kebingungan dengan kehadiran Jian disana.
" Kenapa anda bisa disini ? Bukankah Anda Tuan muda yang berasal dari kota M.. Bagaimana bisa anda disini dan bersama Nona.."
" Pertanyaan yang terlalu banyak. Bagaimana aku bisa menjelaskan padamu ?" ( Wajah acuh ).
' Enak saja.. Dia sudah mengganggu waktuku dengan Yuna. Bagaimana aku akan bersikap ramah denganmu.. Hehh !! Mimpi saja..'
__ADS_1
" Oh iya.. Nona, anda harus melihat apa yang baru saja saya lihat.."
" Apa itu ?"
Kalina mengambil remote di atas meja, lalu mulai menyalakan televisi. Disaat yang bersamaan, Jian juga mendapat kabar dari ponselnya.
' Berita terbaru, belum selesai permasalahan pencemaran nama baik dan dugaan penyebaran berita palsu yang dilakukan oleh keluarga Demy, sekarang kabar baru kembali mencuat ke publik usai pengusaha muda yang diduga menikahi aktris kenamaan Yunaira hanya sebuah kontrak saja, mendadak menyerahkan diri ke kepolisian dan mengaku sudah melakukan kekerasan pada aktris cantik itu.. Kabarnya, aktris Yunaira sekarang sedang melakukan visum dan dirawat di salah satu Rumah Sakit ternama di kota K..'
' Anda sudah mendengar berita baru Mr..'
' Sudah. Bagaimana bisa dia begitu mudah menyerahkan diri ?'
' Saya merasa ada yang janggal disini, apa anda mengizinkan saya untuk mencari tahu ?'
' Tidak perlu ! Jangan ikut campur kalau sudah masuk ke ranah hukum.'
' Baiklah, sesuai perintah anda..'
Jian menutup ponselnya setelah tanda centang terpampang jelas dalam ponselnya. Dia kemudian memutuskan untuk beralih pada Yuna.
" Jian, apa kamu melihat itu ? Bagaimana menurutmu ??"
" Aku hanya sangat senang, pada akhirnya dia mendapatkan hukuman yang setimpal."
" Jian.. Apa kau tidak merasa aneh ??"
" Aneh kenapa ??"
" Secepat itu Demy menyerahkan diri ke polisi. Apa itu tidak aneh.."
" Mungkin dia memang merasa bersalah setelah melakukan kekerasan itu. Dia pantas menerimanya Yuna. Bahkan jika dia tidak mau menyerahkan diri, aku berinisiatif untuk memenjarakan dia tadinya.."
' Tok! Tok! Tok!'
" Permisi.."
" Silahkan masuk !"
Rupanya dari dua orang berbaju dinas dengan penampilan yang begitu rapi.
" Siapa anda ?"
" Bisa persilahkan kami untuk duduk ?"
" Silahkan duduk !!"
Dua orang itu membawa sebuah tas berisi beberapa berkas. Salah satu dari mereka mengambil berkas itu dari tasnya, dan meletakkannya di atas meja.
" Apa ini ?"
" Ini sebuah surat yang dititipkan Tuan Demy untuk Nona Yuna.."
" Surat dari Demy ?" ( Yuna mencoba turun, tapi Kalina mencegatnya ).
" Iya.. Beliau sudah menyerahkan diri kepada polisi, dan tidak akan mengelak atas semua perbuatan yang dia lakukan.."
" Lalu ?"
" Dia menitipkan dua surat ini. Satu surat pribadi, dan satu lagi surat dari kantor agama.."
" Apa ?"
' Apa dia yang lebih dulu menggugat cerai ?' ( Wajah Yuna berubah bingung ).
" Sebaiknya anda baca sendiri saja, Nona.. Kami hanya menyampaikan amanat."
__ADS_1
Jian memberikan selembar surat yang pertama, dan kemudian membiarkan Yuna membacanya..