Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Hari Baru


__ADS_3

Pagi itu adalah pagi pertama mereka berdua di tempat barunya. Yuna yang tidak bisa tidur semalaman terlihat begitu lelah. Dia memutuskan untuk membuat sarapan saja. Dia melihat jam di ponselnya. Ternyata masih jam lima pagi. Dia menatapi suaminya yang tidur diluar. Hhh.


Menyesal juga dengan pertengkaran semalam. Kenapa dia begitu tega menyakiti pria ini. Bahkan dia tahu jika dia keterlaluan pun Demy akan tetap menerimanya sampai kapanpun. Tapi maaf Demy, kau tidak akan mendapat cinta Yuna sedikitpun. Rasanya cinta itu sudah habis ia tumpahkan pada Jian. Kau tidak ada sebandingnya dengan lelaki itu. Asal kau tahu saja.


Yuna mencoba memasak masakan kesukaannya. Tentu saja bakmi. Apalagi kalau bukan itu. Dia sudah mahir sekarang. Sejujurnya dia belajar memasak dengan alasan Jian. Ia punya mimpi suatu hari nanti akan membangun rumah tangga dengan lelaki itu dan tentunya dia harus memasak masakan yang enak untuk suaminya. Tapi ia sama sekali tidak menduga bahwa ia akan memasak untuk Demy, suaminya yang sah di mata hukum dan agama. Hhh.


Yuna terlihat acuh saja. Ia berpikir mungkin Demy begitu lelah tadi malam hingga dia tidak bisa mengontrol emosinya. Ia melanjutkan tugasnya untuk memasak. Lalu setelah selesai, ia membereskan seluruh barang-barang mereka yang belum sempat mereka kemas.


Yuna melihat lagi. Demy masih dalam posisi yang sama. Dia melihat lagi jam di ponselnya. Sudah pukul delapan pagi. Apa Demy belum mulai bekerja? Dia mulai bingung. Apa dia harus membangunkan suaminya itu? Hh. Kasihan juga jika sedang tidur pulas lalu ia datang mengganggunya. Akh!! Biarkan saja. Lagipula dia kan bossnya. Jika terlambat pun tidak akan ada yang berani menghardiknya.


Yuna memilih melanjutkan aktivitasnya. Rumah sudah bersih dan rapi. Sarapan juga sudah tersedia di meja. Kini hanya tinggal mandi saja untuk menenangkan diri. Dia menyambar handuk dan melangkah menuju kamar mandi. Tapi sebelum itu, ia kembali melirik Demy yang belum berubah posisi. Sebenarnya kasihan juga melihatnya.


Satu jam kemudian...


Yuna keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuknya saja. Dia terkejut mendapati Demy yang sudah duduk di atas kasur.


"Kau? Kapan kau terbangun?"


"Baru saja."


Lelaki itu tersenyum.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?"


Yuna menutupi bagian dadanya yang setengah terbuka.


"Kenapa kau tutup bagian itu? Aku sedang memandangnya. Kenapa kau menghalangi aku??"


"Kau jangan macam-macam!!"


"Macam-macam bagaimana? Aku sudah sah menjadi suamimu. Apa aku salah jika menginginkan itu?"


"Kau jangan memulai pertengkaran lagi Demy. Aku sudah lelah menangisimu sepanjang malam ini."


"Memangnya aku menyuruhmu untuk menangis?"


"Ish.. Kenapa kau sangat menyebalkan?? Keluar sana!! Jangan ganggu aku!!"


Demy mendekat lagi. Kali ini otaknya semakin panas. Dia hanya mau Yuna. Tubuh itu harus menjadi miliknya.


"Demy... Jangan mendekat! Kumohon!!"


Demy tidak peduli. Dia terus saja mendekat. Dia benar-benar sudah kehilangan akal.

__ADS_1


"Demy.. Aku sudah mengatakan padamu.. Jadi tolong mengertilah!!"


"Kenapa aku harus berusaha mengerti dirimu, jika kau saja tidak pernah mengerti perasaanku."


Yuna terdiam. Dia melepas tangannya dari area dadanya dan terdiam pasrah. Tidak ada gunanya dia menyadarkan Demy. Matanya sudah buta karena cinta.


"Lakukan saja apa yang kau mau. Aku tidak akan melawan."


Demy tersenyum manis. Dia menyambar selimut dan meletakkannya di area dada Yuna. Yuna hanya terdiam membisu.


"Jika kau takut, aku tidak akan pernah memaksamu.."


Lalu pergi meninggalkan Yuna disana sendirian. Hhhh. Ada apa dengan pria ini ? Terkadang dia seperti monster yang menakutkan. Tapi adakalanya dia berubah menjadi malaikat. Aneh sekali.


..........


Sementara di sisi lain, Azof sedang meminum kopi di atas meja yang sudah disiapkan pelayan di Rumah Sakit. Dia benar-benar bingung dengan situasi hatinya. Bukan karena apa. Rasanya ada yang aneh saja dari Jian. Mengapa dia koma sebegitu lamanya. Sudah dua tahun lebih ia terbaring di ranjang Rumah Sakit.


Sebenarnya ia kesal juga. Seharusnya disaat-saat seperti ini laki-laki itu adalah orang pertama yang menyelamatkan Yuna dari bencana. Tapi apa mau dikata, lelaki itu bahkan belum menggerakkan satupun anggota tubuhnya. Sebenarnya memang hal itu lumrah terjadi pada seseorang yang sudah mengalami operasi. Tapi kali ini rasanya agak jenuh saja. Dia sungguh berharap Jian mampu menolongnya untuk membebaskan adiknya dari penderitaan. Tapi malah sebaliknya, lelaki itulah yang membuat Yuna mengorbankan kebahagiaannya.


Tunggu!! Dia ingat saat Yuna mengatakan padanya untuk menjaga Jian. Apa maksudnya ? Bukankah Jian selama ini berada di Rumah Sakit? Apa maksud ucapan Yuna itu ?


Azof berusaha menghubungi Hani untuk mengetahui lebih jelas tentang permasalahan itu.


" Hallo.. Hani !! Aku ingin tahu tentang masalah Yuna kemarin.. Kenapa dia bilang kalau aku harus menjaga Jian untuk dia ? Apa yang sebenarnya terjadi ?"


" Maksudmu ?"


' Hhh. Kakak macam apa kau ini ? Adiknya punya masalah seberat itu, tapi kau malah tidak tahu apapun..'


" Aku pikir, Yuna menikahi Demy karena dia ingin lepas dari bayang-bayang Jian.. Memangnya ada masalah apa ?"


' Ada seseorang yang berusaha mengancam Yuna dengan sebuah video. Sebelumnya, foto Yuna yang sedang tidur dengan Demy tersebar di media sosial. Tapi saat Yuna ingin mengklarifikasi gosip tersebut, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengancamnya menggunakan Jian..'


" Maksudnya ?"


' Iya. Orang itu mengancam akan membunuh Jian kalau Yuna tidak mau menikah dengan Demy.. Dia bahkan mengirim videonya saat dia sedang di Rumah Sakit. Apa kau tidak tahu apapun ?'


Azof terdiam. Dia memikirkan masalah yang sama sekali tidak dia duga sebelumnya. Memang dari awal Yuna tidak berterus terang pada kakaknya ini. Yuna juga tahu kalau Azof sedang menghadapi masalahnya sendiri. Bagaimana mungkin Yuna akan menambah beban lagi padanya.


Azof menutup sambungan dengan Hani. Dia tidak menyangka. Betapa bodohnya dia selama ini hingga dia tidak menyadari kalau adiknya sudah melalui masa-masa yang sangat sulit ini.


Lalu Hani bilang orang itu mengancam akan membunuh Jian dalam video. Dan orang itu mengancam Yuna di Rumah Sakit ini. Dia baru sadar, kalau kecerobohannya sudah merugikan banyak hal.

__ADS_1


Mendadak dia ingat suatu hal. Ada kamera cctv di ruangan itu. Mungkin saja dia bisa menemukan bukti apapun disana. Lelaki itu meninggalkan kopinya yang tinggal setengah dan berjalan keluar ruangan. Tapi baru saja dia melangkah, dua petugas laki-laki datang menghampirinya.


" Permisi, pak."


" Ada apa ?"


" Maaf, pak. Kami ingin menunjukkan sesuatu pada anda."


Dua pria itu mengarahkan Azof menuju ruangan berisi rekaman cctv dari berbagai ruangan.


Mereka menunjukkan sebuah rekaman yang disimpan secara rahasia oleh mereka. Azof menatap mereka berdua dengan bingung.


" Kami ingin menunjukkan rekaman cctv beberapa minggu yang lalu."


" Cepat lakukan !!"


Dua orang itu menurut saja. Mereka memutar sebuah rekaman yang berisi insiden pengancaman yang dilakukan dalam ruang rawat Jian. Matanya membulat sempurna. Dia sudah menemukan sebuah bukti.


" Apa ini rekaman saat tiga orang itu mengancam Yuna ?"


" Kami tidak tahu pasti.. Tapi kami melihat tiga orang ini terlihat mencurigakan. Kami mengawasi mereka bertiga dari sini. Dan kami melihat salah satu perempuan mengeluarkan sebuah pisau dari tasnya.."


Azof juga melihatnya. Wanita itu terlihat asing.


" Kenapa kalian membiarkan kejadian ini ?"


" Kami juga mendatangi ruangan itu sesaat setelah melihat ada keganjilan disana.. Tapi saat kami datang, sudah banyak pria bertubuh kekar yang juga tersungkur di lantai. Aku pikir sebelumnya sudah ada aksi perlawanan. Aku melihat mereka membawa empat pria dan satu wanita itu melalui lorong tersembunyi di Rumah Sakit. Tapi kami tidak tahu kemana mereka membawanya."


" Iya, pak. Kami tidak tahu apapun mengenai itu.. Sesaat setelah kami minta mereka untuk keluar dari sana, salah satu laki-laki di sana menodongkan pistol ke arah kepala kami. Dia minta kami untuk mengantarnya kesini. Lalu setelah itu, dia menyuruh kami untuk menghapus rekaman cctv nya."


Azof melihat lagi rekaman itu. Kesaksian dua orang ini memang tepat seperti yang dia lihat dalam rekaman.


" Untung saja kami masih bisa memulihkan data yang terhapus ini. Maafkan kami yang terlambat memberikan bukti ini pak.. Kami seharusnya lebih dulu menghubungi petugas keamanan untuk menuju kesana.."


" Tidak apa-apa. Bukti ini sudah cukup membantuku."


Azof melihat waktu terjadinya insiden itu. Ia merasa heran saja. Kenapa dia bisa lalai dan tidak tahu apapun saat itu. Padahal Jian tidak pernah luput dari pengawasannya.


Rupanya kejadian itu terjadi sekitar pukul sepuluh sampai dua belas siang. Itulah mengapa dia tidak menyadarinya.


Dia melihat lagi. Dia ingat, waktu itu jadwalnya kerja siang, sekitar jam dua belas lebih. Pantas saja dia tidak mengetahui apapun.


Kejadian berakhir sekitar jam dua belas kurang beberapa menit saja. Dua wanita dengan postur tubuh yang tinggi, dan sepertinya hampir seumuran itu terlihat mengemas barang-barang mereka dan mencoba merapikan lagi kasur dan benda-benda di ruangan tersebut seperti semula, lalu beranjak pergi. Sebenarnya mereka siapa?

__ADS_1


Azof berpikir keras. Apa mereka orang terkenal? Sepertinya dia pernah melihat salah satu wanita itu sebelumnya? Tapi dimana? Azof memutar otaknya. Mencoba mengingat lagi wajah tiga orang itu. Dia beranjak dan mengucapkan terima kasih pada para petugas. Dia tetap menghimbau para petugas untuk tetap diam sebelum dia sendiri yang mengangkat kasus ini kepada pihak yang berwajib. Dua petugas itu hanya menurut.


Dia memang memutuskan untuk menyelidiki kasus ini tanpa sepengetahuan adiknya, Yuna. Sudah cukup bagi adiknya menghadapi berbagai macam masalah beberapa bulan ini.


__ADS_2