Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Jadilah Ayah yang Baik..


__ADS_3

" Kenapa kamu malah berusaha melawan mereka sendiri tadi ?? Tahukah kamu kalau hal seperti itu sungguh membahayakan nyawamu ??" ( mengecup kening ).


" Kenapa selalu memarahi aku sejak tadi, kamu membuat otakku depresi Jian.." ( wajah tertekan ).


Mendapati wanitanya sedang bersedih akibat mendengar ocehannya yang selalu menyudut, membuat Jian akhirnya merasa iba. Dia kembali memeluk tubuh yang sedang terluka akibat ulahnya itu. Dia merasa bersalah juga pada akhirnya.


" Kemarilah," ( memeluk dan mencium erat ), " maafkan aku ya.. sudah memarahi kamu, aku sudah salah.."


" Aku hanya berusaha membela diri, lagipula melibatkan pak Harry menurutku tidak membuat aku menjadi orang yang bertanggung jawab pada diri sendiri.."


" Iya, aku tahu.. tapi kamu juga tetap harus memperhatikan bayi kita lain kali, kamu sudah terlalu melawan kekuatan kamu kali ini, mengertilah.." ( mendekap ), " aku hanya cemas pada calon pengantin dan calon bayi mungilku.."


" Maafkan aku..." ( Sesal ).


" Iya, kita sama-sama salah disini.."


" Hukumlah aku untuk kesalahan kali ini, aku akan menerimanya, karena memang aku tidak memperhatikan bayi kita saat bertarung tadi.."


" Hemm, baiklah, sesuai permintaan kamu, aku akan menghukum kamu.."


Jian melonggarkan pelukannya, dan beralih mengambil ponsel di dalam saku.


Menghubungi seseorang.


" Hallo.."


' Hallo, tuan Jianan.. ada apa menghubungiku di jam kerja seperti ini ?? Oh iya, kenapa nona Yuna belum juga sampai ke tempat kerja ?? Apa dia baik-baik saja ??'


" Tuan Lu, hari ini Yuna izin tidak masuk kerja.."


' Kenapa ?? Apa ada masalah ??'


" Hhh.. ada sedikit masalah yang menyebabkan Yuna saat hendak bekerja, dan karena itulah dia harus terhambat datang, dan sepertinya dia masih harus menenangkan diri, jadi mohon izinkan dia untuk mengambil cuti.."


' Iya, tuan.. tidak masalah.. jika masih dalam keadaan tertentu, maka tidak perlu berangkat kerja terlebih dulu..'


" Baik, terima kasih atas kebaikan tuan.."


Jian menutup panggilannya. Dia kemudian mengalihkan perhatian pada si sopir muda miliknya yang sedang asik menyetir.


" Putar arah !!"


" Apa ??"


" Lakukan sesuai perintah.."


" Baik.."


Hhhh.. mau bagaimana lagi ?? Tuan majikan memang selalu berada beberapa tingkat dibanding dirinya. Sopir yang bernama lengkap Shen Shuo itu hanya bisa menurut saja, tanpa mampu mengelak. Maklum saja, gaji yang diberikan Jian kepadanya termasuk sangat besar untuk seseorang yang berprofesi sebagai supir. Jika dia berani membantah satu kali saja, maka gaji sebesar itu pastilah akan melayang bukan.


Ciiitttt..

__ADS_1


Tak berselang lama, mereka akhirnya berhenti di sebuah tempat makan. Iya.. itu restoran sejarah yang menjadi saksi bisu saat Yuna dengan segala perjuangannya menunggu Jian bangun dari komanya. Inilah tempat yang setia menemani Yuna saat harus melalui berbagai macam pahitnya kehidupan kala itu.


" Rumah makan ini.." ( mengingat ).


" Kamu masih ingat ??"


" Tentu saja, ini yang menjadi saksi saat aku terus bersedih selama tiga tahun karena terus menanti kamu bangun.." ( menitihkan air mata ), " hhh.. sedih sekali jika mengingatnya.."


" Jangan menangis lagi, sekarang, aku akan membayar penantian Yunaku yang begitu lama. Aku harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi padamu kala itu.."


" Kalau begitu, lakukan tugasmu.."


Mereka turun dari mobil, dan masuk ke dalam restoran yang semakin hari semakin terlihat ramai saja. Dia ingat betul, sang pelayan wanita yang selalu melihatnya dengan iba di setiap harinya, karena dia selalu menangis dan mencurahkan segala keluh kesahnya di tempat ini. Mungkinkah pelayan itu masih mengingatnya ??


" Ayo kita masuk.."


" Pelayan, berikan aku dua mangkuk bakmi spesial disini.."


" Nona ??" ( ingat ), " mungkinkah ini benar nona ??"


" Kamu... pelayan itu.."


" Apa nona juga masih ingat ??"


Mereka terlihat berbincang meski sudah sekian lama tidak bertemu.


" Tentu saja, hal pertama yang aku ingat saat melihat tempat ini adalah kamu.."


" Tentu saja, aku harus menebus tiga tahun kekosongan hidupnya di masa lalu.."


" Baguslah, itu yang sangat saya harapkan, saya begitu sedih saat setiap hari harus melihat nona Yuna duduk berdiam diri di kursi paling ujung hanya untuk menangisi keadaan tuan Jianan yang koma, sampai pada suatu hari, saya melihat sendiri nona Yuna benar-benar tidak bisa menahan air matanya saat itu, dan setelah itu, saya tidak melihat dia lagi.. saya pikir, nona sudah berjalan cukup jauh hanya untuk menempuh mimpi indah ini bersama tuan, jadi jagalah dia dengan baik.."


" Terima kasih kamu sudah memberitahu aku tentang masa lalu yang tidak sempat aku lihat."


" Kalau begitu, aku harus memberitahu koki tentang dua mangkuk bakminya.."


" Tunggu dulu, sepertinya bayiku tidak sama seperti aku, dia tidak ingin makan bakmi, cukup nasi dengan sayur saja ya.."


" Apa ?? Bayi ??"


" Iya.." ( senang ).


" Wahh.. aku akan segera punya keponakan rupanya.. kalau begitu, aku akan memberikan makanan terbaik untuk ibu hamil disini, khusus untuk nona.." ( senang juga ).


" Iya, keluarkan saja semuanya.."


" Tidak, Jian.. aku hanya ingin makan nasi dengan sayur saja, hanya itu yang bisa masuk ke dalam perutku untuk saat ini.."


" Masa awal kehamilan memang susah makan, tapi kalau kamu tidak memaksakan diri, anak kita juga akan terlantar.."


" Tapi.."

__ADS_1


" Menurutlah. Ini hukuman untuk kamu.."


" Hemm, baiklah.."


" Kalau begitu, akan saya siapkan dengan segera.."


Satu jam kemudian...


" Yakin tidak mau menghabiskan ??"


" Jian, perutku benar-benar sudah tidak muat, kamu jangan memaksaku lagi.." ( bersandar dengan lemas ).


" Hh.. kamu hanya makan satu piring saja, sedangkan aku yang harus menghabiskan delapan piring ini, kasihanilah aku, sayang.."


" Salah sendiri, kenapa tidak mau mendengar apa kataku.."


" Kalau begitu, satu piring terakhir ini harus kamu habiskan.."


" Aku tidak mau !!"


" Demi bayi kita, ya.."


" Tidak mau !!"


" Jangan sia-siakan malaikat kecil pertama kita, Yuna.. dia juga harus makan.."


Mendengar permintaan Jian yang teramat dalam itu, membuat Yuna hanya bisa mengalah saja. Memang benar juga si apa yang Jian katakan. Jika tidak mau makan, artinya dia tidak menyayangi anak di dalam perutnya ini. Hhh.. laki-laki ini sungguh sangat perhatian..


" Baiklah.. Ini demi si mungil milikku.."


" Apa katamu ?? apa dia bukan milikku juga ??"


Ya ampun..


Hanya karena salah panggilan saja, dia bisa seemosi ini. Apakah yang dikatakan semua orang tentang kehamilan yang membuat perubahan pada suaminya itu memang benar ?? Wahh.. Sepertinya kali ini suami yang terlalu terpengaruh hormonnya di banding Yuna sendiri..


" Iya, baiklah.. Demi si mungil milik Tuan Jianan Arkana, aku siap menghabiskan satu piring lagi..."


Jian tersenyum tanpa dosa. Menggemaskan..


....


" Apa ?? Gagal lagi ??" ( beranjak dari kursi ).


" Bagaimana bisa gagal ?? Hahh ?? Apa kamu mengerahkan anak buah yang masih duduk di sekolah dasar ?? Bodoh sekali ?!! Bisa-bisanya menghamburkan uang hanya untuk orang-orang seperti kalian ini."


Tiansha mengusap keningnya dengan kasar.


" Turun tangan sendiri untuk menghadapi wanita itu, jangan biarkan dia hidup, aku ingin dia mati sebelum acara pernikahan itu dilaksanakan..."


" Mengapa nyonya begitu gusar dengan tuan dan nona kami ??"

__ADS_1


Deg !!!


__ADS_2