
" Baru-baru ini publik kembali dibuat geger, oleh berita tertangkapnya tiga orang tersangka, atas kasus penyebaran berita palsu, yang berhubungan dengan aktris kenamaan tanah air satu tahun lalu.. Tiga orang tersangka ini sama sekali tidak pernah diduga sebelumnya, mengingat dua diantara mereka adalah orang terdekat korban. Masih ingatkah anda dengan aktris multi talenta yang dimaksud ??"
Yuna tengah fokus menyimak berita di siaran televisi pada pagi harinya..
" Iya, aktris cantik bernama Yuna.. Siapa yang tak kenal dengan artis yang satu ini ? Wajahnya yang anggun, dengan bakatnya yang luar biasa di dunia entertainment, membuat nama wanita ini sangat mudah diingat."
Dia menyandarkan tubuhnya di sofa.
" Apalagi setelah ditimpa berita miring beberapa tahun lalu, namanya mendadak menjadi trending topik dan berhasil menempati tempat tertinggi dalam pemberitaan di negara kita. Dia menikah dengan seorang pengusaha dari keluarga ternama bernama Tuan Demy sekitar delapan atau sembilan bulan yang lalu. Masih ingat dalam pikiran kita bagaimana pernikahan itu.. Menurut berita, Yuna melakukan perbuatan yang tercela dengan tidur dengan Tuan Demy, saat dirinya sudah resmi menjadi tunangan dari Mr Jianan saat itu."
Yuna mendengar berita itu dengan sabar. Dia tahu wanita pembawa acara itu terlalu bertele-tele.
" Dan berita terbaru ini akan membuat kalian semua terkejut. Diduga wanita terkenal itu sudah dijebak oleh ibu mertuanya sendiri dan rekan artisnya, Aurel. Pernyataan itu sudah dilontarkan oleh seorang wanita bernama Annie yang diduga juga berperan penting dalam peristiwa ini.. Apa motif mereka sebenarnya ?? Pihak berwenang belum tahu pasti tentang motif terselubung di dalam kasus ini..."
Yuna mematikan siaran televisi. Dia terdiam cukup lama sambil meresapi pernyataan mengenai dirinya sekarang.
Dia punya pemikiran sulit kali ini. Seluruh dunia sudah tahu kalau dia menikah dengan Demy karena sebuah fitnah dan ancaman. Tapi rasanya akan sangat menyakitkan jika dia harus pergi meninggalkan Demy di tengah-tengah berita ini. Apa yang harus ia lakukan ?? Apa keputusannya tadi malam sudah sangat baik ?
" Yuna.."
Seseorang mengejutkan lamunannya.
" A ?" ( Menoleh ).
Di atas tangga, Demy sudah berdiri tegak menghadap kearahnya. Mata itu masih sayup karena efek minuman semalam.
Demy mencoba menuruni tangga, dan akhirnya sampai di depan Yuna. Dia langsung duduk di samping wanita itu, seperti yang Yuna lakukan semalam kepadanya.
" Ada apa ?"
"......"
Yuna menatap wajah Demy yang terlihat lelah dan muram. Dia sangat mengetahui laki-laki ini. Masalah sedikit saja sudah membuat Demy gila setengah mati, apalagi dengan masalah yang seperti ini ? Untunglah laki-laki itu tidak berpikir untuk bunuh diri.
" Kau bilang akan melanjutkan pembicaraan kita pagi ini.."
Matanya masih terlihat ciut, meski dia sudah mencuci wajahnya tadi di lantai atas.
" Apa kau sudah sepenuhnya sadar ?"
" Aku memang sudah sadar sejak tadi malam. Meski aku minum banyak tadi malam, tapi aku sama sekali tidak mabuk.."
' Tuh kan.. Dia sudah sedepresi ini.. Hh.. bagaimana aku bisa meninggalkannya kalau sikapnya saja masih seperti ini..'
" Apa yang ingin kau bicarakan ??"
" Aku sudah mengatakan padamu, kalau Jian akan terbang dalam tiga hari ini.."
" Lalu, kenapa kau masih belum mengemas barang-barangmu juga ? Bukankah seharusnya kau sudah pergi dari sini ?"
" Apa kau sungguh berniat untuk mengusirku dari sini ?"
"......"
" Apa kau pikir aku tidak memikirkan pernikahan kita ??"
"???"
__ADS_1
" Aku sudah tidak peduli bagaimana aku akan hidup.. Prinsipku adalah, aku tidak akan bercerai saat keadaanmu seperti ini.."
' Kau benar, kau hanya sedang menunggu waktu aku pulih dari segala permasalahan ini, dan setelah itu kau tetap akan pergi.. Kau sangat baik padaku.. Menungguku bangkit dari keterpurukan, karena kau tidak akan merasa tega saat harus meninggalkan aku disaat-saat seperti ini..'
" Kau hanya sedang merasa kasihan terhadap diriku.."
" Lalu apa masalahnya ? Bukankah cinta memang berawal dari rasa iba ?"
" Kau sudah berjanji untuk mencintai Jian seumur hidupmu.."
Yuna tertunduk. Baginya janji tetaplah janji. Bagaimanapun juga dia juga harus memikirkan janjinya kala itu..
" Aku memang tidak akan bisa melupakan Jian.. Tapi setidaknya, aku sadar aku sudah bukan miliknya lagi.."
" Lalu apa keputusanmu ?"
Yuna menatap sepasang mata milik Demy dengan serius.
" Bagaimana jika kita mencoba untuk terus berlanjut ?"
Deg !!!
Demy tidak mampu berkata-kata. Wanita ini sendiri yang menawarkannya.
Tapi sejenak dia kembali sadar. Tidak akan mungkin bagi Yuna untuk melupakan cintanya pada Jian begitu saja. Dia tahu selamanya hati Yuna pastilah hanya untuk Jian.
" Kau hanya merasa sedih dengan keadaanku.."
" Kenapa kau terus bicara soal itu ?? Aku sudah mengatakan padamu, cinta memang butuh waktu.." ( mencoba tetap tersenyum ), " walau begitu, tidak ada salahnya untuk mencoba bukan ?" ( Senyumnya berkembang ).
" Yuna..."
Dia terhenti. Dia tahu kalau Yuna hanya tidak mau meninggalkan dirinya disaat terpuruk seperti ini. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan perkataannya.
" Demy.. Aku hanya perlu waktu untuk melupakan Jian, dan berusaha untuk mencintai kamu, itu saja.."
Sangat aneh. Apa secepat itu Yuna mengambil keputusan ? Ini sungguh tidak mengesankan sama sekali. Justru hal ini semakin sukses menambah perasaan Demy menjadi penuh dengan tanda tanya.
Dia tahu, Yuna hanya merasa jahat kalau meninggalkannya saat kondisinya seburuk ini.. Karena sebenarnya yang ada dalam perasaan Yuna hanya simpati sebagai seorang sahabat saja, tidak lebih dari itu..
..........
Tiga hari kemudian....
Bandara nasional kota M...
Pukul 08.23.
Jianan sedang duduk di dalam mobilnya. Meski para pengawal sudah memperingatkan nya bahwa penerbangan akan dilakukan setengah jam lagi, tapi dia masih tidak berkutik sama sekali. Dia masih duduk dan setia menanti Yuna disana. Dia ingat pesan Yuna petang itu saat dia menemuinya di rumah Demy..
Flashback on!!!
" Kau.." ( ingin memeluk tapi ragu ).
Jian hanya berdiam diri di sisi mobilnya. Wanita pujaannya terlihat berdiri tepat dimuka pintu saat dia datang.
" Aku tidak ingin mengatakan apapun.. Lagipula Demy yang menyuruhku untuk datang kemari.."
__ADS_1
" Aku tahu.. Jadi kau tidak akan memaksaku untuk ikut denganmu.."
" Iya.. Aku juga harus tahu batasanku. Aku tidak ingin timbul kesalahpahaman antara kita.."
" Lalu, apa tujuanmu kemari ??"
" Aku hanya ingin mengatakan padamu kalau aku tidak akan mengganggu pernikahan kalian."
Yuna menahan air mata kesedihannya, dan berusaha untuk tersenyum sebisa mungkin.
" Kau benar. Kita tidak seharusnya bertemu.. Dalam situasi seperti ini.."
" Aku akan terbang kembali ke kota K tiga hari lagi.. Aku akan menunggumu selama setengah jam di bandara. Jika kau datang sebelum waktu itu berakhir, berarti kamu sudah selesai mengurus masalahmu. Tapi jika selama lebih dari setengah jam kamu belum juga datang, itu tandanya, kamu sudah memilih untuk bertahan.." ( Tersenyum dan berlalu membuka pintu mobil ).
" Jian..."
Jian menoleh menatap sepasang mata sayup itu dari kejauhan..
" Kenapa ?"
" Aku hanya ingin berterima kasih, karena kau sudah membantuku mengungkap fakta pada media.. Kalau bukan karena kau.."
" Sudah !! Sudah !! Kau terlalu memujiku.. Itu sudah menjadi tugasku.."
" Baiklah.." ( wajah tidak senang ), " kalau begitu, aku minta maaf sudah merepotkan kamu.."
Jian tidak menjawab permintaan maaf yang keluar dari mulut Yuna. Dia hanya tersenyum dan kembali ke dalam mobil mewah miliknya, lalu melesat pergi.
Vroooooommmmmm.
" Sudah lebih dari setengah jam anda menunggu disini, kalau kau menunda waktu lagi, kita akan ketinggalan pesawat.." ( Sanni ).
Jian memandangi sekelilingnya. Dia agak kecewa saat matanya tidak menemukan keberadaan orang yang sedang dia tunggu disana. Dia tahu wanita itu akan memilih harga dirinya. Sakit sekali rasanya. Tapi dia juga tidak boleh egois. Mengajak Yuna pulang bersamanya sama saja dia sudah menghancurkan rumah tangga Yuna dengan Demy. Dan dia tidak mau hal itu..
" Ayo kita berangkat !!"
Dua orang di dalam terlihat menganggukkan kepalanya. Mereka turun dari mobil dan bergegas memasuki bandara.
......
Yuna memandangi jendela sambil berdiri dengan tatapan kosong. Dia menunggu sebuah pesawat yang hendak lepas landas meninggalkan kota ini..
Pukul 08.52.
Seharusnya penerbangan itu sebentar lagi..
Dia menilik jam tangannya lagi, untuk yang kesekian kalinya. Waktu sudah semakin mepet. Dua menit lagi, dan akhirnya..
Wosshhhh!!!
Pesawat itu terbang meninggalkan kota M dengan cepat. Juga meninggalkan dirinya dengan penuh kesedihan yang mendalam.
Matanya menatap pesawat itu dengan sayup. Mengantar kepergian kasih yang dicintainya sepenuh hati dengan jeritan tangis didalam hati kecilnya. Meski begitu, dia tetap harus menahan air matanya disaat itu. Tidak akan mungkin dia akan menumpahkan kesedihannya saat berada di depan suami sahnya, Demy..
' Maaf Jian.. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk setia denganmu.. Aku juga harus menyelamatkan pernikahanku dengan Demy..'
Sementara di belakang Yuna, Demy terlihat sedang memperhatikan istri cantiknya dengan raut wajah penuh kesedihan. Dia sudah salah karena telah menjerumuskan Yuna sampai sejauh ini..
__ADS_1