Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Bunuh Diri


__ADS_3

" Kamu bohong !!!" ( mulai menangis ).


" Tidak, aku tidak bohong.." ( menggenggam tangan Hani erat ), " aku tidak berbohong sayangku.."


" Tapi.. kenapa ?? Hiks hiks .."


" Karena, saat operasi itu, kami menemukan rahim kamu yang sudah tidak mungkin untuk dipertahankan lagi, jadi.. kami.. terpaksa mengambilnya.."


" Hiks hiks.. kamu.." ( bangkit ), " Kamu jahat !!!!?" ( pergi ).


" Hani ?? Sayang !?" ( berlari menyusul ).


Dia dengan bergegas melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan are pantai dengan pakaian yang masih terbilang minim. Dia hanya menutupi tubuhnya dengan selembar jaket tipis dan kemudian, dengan suasana hati yang tidak baik, mencoba mengemudi sendiri menuju tengah kota..


' Kenapa ?? Kenapa aku tidak bisa hamil ?? Kenapa dia begitu tega mengambil kebahagiaanku tanpa seizinku ?? Apa aku memang tidak ditakdirkan menjadi wanita sempurna meskipun hanya satu kali saja ??"


Kecepatan 175 km per jam..


Hiks Hiks..


...****************...


" Jian ??!! Aku butuh bantuan kamu !!!"


...****************...


" Periksa semua cctv di jalanan, dan temukan mobil kakak iparku, dia datang dari arah pantai.."


" Baik tuan.."


" Apa yang terjadi sebenarnya.."


" Jian ?? Ada apa ??"


" Hani pergi membawa mobil sendiri.."


" Apa ?? Bukankah dia sedang liburan dengan kak Azof ??"


" Kita sedang berusaha mencari keberadaan dia sekarang.."


" Kalau begitu, aku akan langsung pulang ke rumah ibu, takutnya dia tidak ada yang menjaga.."


" Baik.."


Yuna bergegas mengambil tas dan ponselnya yang kemudian tidak lama setelah itu, dia menuruni lift untuk bisa sampai ke lantai bawah.


" Aku harus ke rumah ibu.."


" Baik.."


Vrooommmmm


...****************...


Ciiittt...


Mobil berhenti.


" Ah ??! Bukankah ini mobil kakak ?? Apa kak Hani sudah pulang ??"


Yuna segera membuka pintu mobil, dan mencoba memasuki rumah ibunya. Tapi tiba-tiba..


Brakk !!???


" Tolong !!???? Tolong !!????"


" Ah ??" ( matanya terbelalak ).


Seorang pelayan menghampiri dirinya, dengan nafas terpenggal-penggal..


" Nyonya.. nyonya.. Nona Hani..."


" Apa ???"


Dengan segera Yuna berlari mengikuti arahan sang perawat. Dia menunjukkan kamar nona Hani yang berserakan dan lagi, menunjukkan sesuatu di luar dugaan..

__ADS_1


" Hani !!!!??"


" Ada apa ???"


" Angkat dia ke mobil, jantungnya masih berdetak, cepat bawa dia !!!"


Dua pengawal Jian yang selalu sigap mengawal kemanapun Yuna pergi, akhirnya mengangkat tubuh Hani ke dalam mobil. Darah terus mengalir dari pergelangan tangan wanita itu, sementara wajahnya sudah mulai pucat. Yuna menilik ibunya sebentar, memastikan kalau ibunya baik-baik saja.


" Ibu, maaf aku harus pergi dulu," ( menatap suster ), " suster, tolong jaga ibu saya.."


" Baik nona.. aku akan menjaga dia.."


Setelah mendapat persetujuan dari sang perawat, Yuna akhirnya bergegas memasuki mobil dan kemudian pergi menuju rumah sakit.


" Halo, Jian.."


' Bagaimana kabarnya ?? Apa ibu baik-baik saja??'


" Ibu baik, tapi kak Hani mencoba bunuh diri, dia melukai nadinya dengan benda tajam, dan aku sedang perjalanan menuju rumah sakit.."


' Apa ?? Baiklah, aku akan menghubungi Azof dan menyusul kamu ke rumah sakit..'


" Baik.."


...****************...


" Bagaimana keadaannya ??"


" Dia sedang ditangani.. Aku tidak menyangka dia bisa berbuat senekad ini, apa yang sebenarnya terjadi pada kakak dan kakak ipar ??"


" Aku tidak tahu, lebih baik tanyakan saja langsung pada Azof.."


" Dimana dia ?? Apa dia belum juga tiba ??"


" Mungkin sebentar lagi, lagipula perjalanan dari lantai menuju kemari tidaklah sebentar.."


Cklek.


" Bagaimana dokter ?? Apa dia baik-baik saja ??"


" Dia sangat lemah, tidak tahu bisa selamat atau tidak, nadinya terluka begitu parah, dan darahnya juga keluar begitu banyak, kami akan berusaha semaksimal mungkin.."


" Baik, terima kasih dokter.."


Dokter berusia sekitar lima puluh tahunan lebih itu terlihat berjalan menjauh.


" Hh.. aku mau ke dalam.."


" Ayo.."


" Hani ??? Dimana kamu ???"


Yuna dan Jian yang mulanya ingin melihat keadaan Hani, mendadak harus tertahan karena hadirnya Azof yang secara tiba-tiba mengejutkan mereka.


" Kak Azof ??"


" Azof ??"


" Dimana dia ?? Dimana Hani ??"


" Dia di dalam, keadaannya kritis.."


" Apa ??" ( merasa bersalah ), " ini semua salahku ??!! Ini semua adalah salahku, bagaimana aku bisa membiarkan dia seperti ini.. ini semua salahku.."


Bruk !!


Terjatuh di atas lantai, dan tertunduk..


" Kak Azof.." ( meraih ).


" Aku bahkan sudah membunuh semua impiannya, dan sekarang, aku hampir membunuhnya juga.."


Azof meremas kepalanya dan sesekali menjambak rambutnya. Pria itu benar-benar merasa bersalah..


" Azof, kalau kamu masih punya prinsip dokter, maka masuklah, dan lihatlah apa yang bisa kamu lakukan di dalam sana, siapa tahu kamu bisa menolongnya.." ( sang motivator bicara ).

__ADS_1


" Iya, kamu benar, aku bisa menyelamatkan dia.. aku bisa menyelamatkan nyawa istriku.. Aku seorang dokter . Iya.."


" Kalau begitu sembuhkan dia.."


Azof membangunkan tubuhnya dan mencoba masuk melihat keadaan istrinya. Dua orang itu hanya berdiam diri di luar. Mereka ingin membiarkan Azof menggunakan waktu berdua dengan berharga..


' Hani...'


Wanita itu.. wanita yang pagi ini dia ajak berpiknik, dan tersenyum seakan menyiratkan kebahagiaan yang begitu lama dia tidak merasakan, dan sekarang, wanita itu sedang sekarat di atas ranjang rumah sakit. Dan itu semua.. gara-gara kamu Azof !!!


" Hiks hiks hiks.. Aku salah !! Aku sudah salah.. seharusnya aku katakan semua dari awal, supaya kamu tidak harus mengalami nasib buruk semacam ini, aku yang salah.." ( tertunduk di sisi ranjang ).


Bip Bip Bip !!?


Suara itu terus terdengar memekakkan telinga, dan sesekali membuat Azof harus menoleh karena terganggu. Entah kenapa, disaat-saat seperti ini, rasanya dia tidak punya lagi status dokter yang handal, atau semacamnya..


" Dokter, biarkan kami memeriksa suhu tubuhnya.."


" Silahkan.." ( hanya bisa pasrah ).


Dokter yang menjadi rekan Azof, akhirnya mendekat dan memeriksa suhu tubuh Hani. Dingin..


" Suhu tubuhnya berubah menjadi sangat dingin. Lakukan transfusi darah segera, darahnya turun begitu drastis, jantungnya.."


Bip Bip Bip Bip Bip !!??


" Melemah !?!? Alat pacu jantung !!!!"


" Baik dokter.."


Sementara menghadapi situasi seperti ini, membuat darah Azof seakan ikut membeku. Berulang kali melakukan operasi pada puluhan bahkan mungkin ratusan pasien, tapi rasanya bahkan tidak seperti ini. Ini terasa sangat.. menakutkan..


" Hiks Hiks hiks.. Hani.." ( hanya terdiam ).


" Satu dua tiga !!!??"


Dug dug !!!?


Tidak ada perubahan..


" Hani.. aku mohon.. maafkan aku.. Hani.. maafkan aku, bangunlah.." ( mulai kacau balau ).


" Lagi ??"


" Naikkan lagi !?"


" Baik.."


" Hani.."


Pria itu sudah tersungkur begitu dalam dan tidak bisa lagi berbuat apa-apa.. Dia hanya bisa menangisi sebuah tragedi. Menangisi sebuah nasib yang entah kenapa bisa menjadi semalang ini. Hani.. mungkinkah dia.. selamat ??


...****************...


" Bagaimana di dalam ya ??"


Mondar-mandir...


" Jangan cemas, tenangkan dirimu.. Yakinlah kalau dia akan baik-baik saja.."


Yuna berhenti dari aksinya yang jujur saja, begitu membuat Jian pusing. Bagaimana tidak ?? Sejak dokter masuk, sampai memakan waktu setengah jam, Yuna sudah pergi kesana kemari, dan bahkan sampai tidak bisa dihitung. Akhirnya dengan segera Jian menangkap tubuh yang walaupun sudah pernah melahirkan itu masih tetap mungil, ke dalam pelukannya..


Rasanya memang sangat geram.


Memeluk..


Salah tingkah...


" Bisa diam tidak ??"


" Ah ?? Baiklah, aku akan diam.."


Cklek..


Mendadak....

__ADS_1


__ADS_2