Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Mata batin


__ADS_3

Pagi itu saat Alia bangun tidur, ternyata sosok Mawar itu sudah duduk di samping tempat tidur nya, dia melihat Alia sambil tersenyum seolah sedang menyapanya.


" Astaghfirullah... bangun tidur udah ada yang nyambut aja!" ucap Alia dengan kagetnya.


Sosok itu terus menatap Alia seolah ingin memberitahu sesuatu. Dia menatap tajam mata Alia sampai tidak bisa berkata apapun, dan di situ Alia melihat semuanya. Karena seperti itulah cara mereka berkomunikasi.


Setelah mengetahui semuanya, Alia langsung bangun dan mencari papanya.


" Paa Papaaa..." teriak Alia.


"Kamu kenapa nyariin Papa kamu sayang?" kata Bu Mia yang penasaran melihat anaknya seperti kebingungan.


"Mah emang bener kalo Papa mau pergi ke luar kota?" tanya Alia.


Bu Mia langsung kaget mendengar pertanyaan anaknya itu.


"Loh kamu tahu dari mana? Papa aja baru ngomong sama Mama tadi pagi" kata Bu Mia yang masih penasaran.


"Hehe enggak dari mana mana mah" Alia salah tingkah.


"Kamu nyari Papa ya Lia?" Pak Aji tiba-tiba datang.


"Iya Pah, Papa beneran mau ke luar kota?" tanya Alia.


"Ya. Papa akan kerja di sana selama beberapa bulan, tapi setiap bulan Papa akan pulang" jawab Pak Aji.


Alia berjalan ke luar rumah dan duduk di teras,, kemudian Pak Aji menghampiri nya.


"Kamu kenapa?" tanya Pak Aji sambil menepuk bahu Alia.


"Pah, kok akhir-akhir ini aku kayak di kasih tahu sesuatu gitu yah?" ucap Alia dengan gelisah.


"Maksudnya?" Pak Aji tidak paham.


" Ya itu, Papa mau pergi aku udah tahu duluan sebelum dikasih tahu, terus kemarin aku lihat temen aku kaya kecelakaan gitu, dan besoknya dia beneran kecelakaan." jelas Alia.


"Nak, kan kemarin Papa sudah bilang, anggap itu sebagai anugerah, jadi ini bisa jadi sebuah kelebihan kan?" Pak Aji mencoba menenangkan Alia.


"Kalo ini iya si Pa tapi kalo yang itu...."


"Segala sesuatu pasti ada kekurangan dan kelebihan nya, dan itu tergantung bagaimana kamu menyikapi nya," jelas Pak Aji.


"jadi penglihatan itu..."

__ADS_1


"Itu namanya mata batin, karena punyamu sudah terbuka, jadi kamu bisa melihat hal yang orang biasa tidak bisa lihat,,," kata Pak Aji.


" Tapi kalau aku tahu apa yang akan terjadi, dan aku bilang ke semua orang apa mereka akan percaya sama aku?" tanya Alia.


"Nak, kamu mungkin bisa tahu apa yang akan terjadi, tapi jangan pernah sekalipun kamu mengatakan kepada siapapun! karena itu bisa membuat mu mendahului takdir!" ucap Pak Aji dengan tegas.


"Jadi maksud Papa, kalau aku tau ada orang yang bakal celaka, aku harus diam aja gitu Pa?" Alia masih belum paham.


"Kalau kamu bicara dengan orang yang sama-sama mengerti, itu tidak masalah. Tapi kalau kamu bicara dengan orang biasa, apa lagi orang yang tidak suka sama kamu, itu akan jadi masalah!"


"Maksudnya?"


"Sekarang misalnya kamu tahu kalau teman kamu akan mengalami kecelakaan, dan sebelum itu terjadi kamu bilang sama temen kamu, kalau dia nggak suka sama kamu, apa dia akan percaya!? bahkan bisa-bisa dia menuduh kamu yang jadi penyebab nya!" jelas Pak Aji.


"Iya juga si Pa" Alia mulai paham.


Setelah bicara panjang lebar dengan Papanya, Alia kemudian bersiap untuk berangkat ke sekolah. Dia berjalan kaki sampai ke jalan raya untuk menunggu bus yang akan ia naikin.


Saat sedang duduk di pinggir jalan, ia kembali melihat sekuntum bunga mawar merah yang baru mekar, ia terus memandangi nya dan ingin memetik bunga itu. Namun saat ia hendak memetik nya, tiba-tiba bus nya datang dan ia langsung pergi naik bus.


"Yah padahal itu bunga tadi kelihatan nya enak banget deh" ucap Alia dalam hati.


Sesampainya di sekolah, sebelum masuk kelas dia bertemu dengan Aldi, Alia mencoba menghindar namun Aldi menghentikan nya.


" Kamu kenapa!?" tanya Aldi.


"Aku punya sesuatu buat kamu!"


"Apa!?"


Aldi mengeluarkan tangannya yang memegang sekuntum bunga mawar Merah.


"Ini buat kamu, tadi nggak sengaja lihat ini dan langsung ingat sama kamu" Aldi bicara agak gugup.


"Maksudnya apa nih!?" tanya Alia agak sewot.


"Kamu suka Mawar kan? kemarin aku lihat kamu lagi megang bunga mawar, jadi aku pikir kamu akan senang kalau aku kasih ini" Aldi mulai resah, takut pemberian nya tidak diterima.


Alia langsung mengambil bunga di tangan Aldi dan beranjak pergi "makasih yah" sambil tersenyum dan berjalan menjauhi.


"Yes! akhirnya bunganya diterima!" Aldi melompat kegirangan.


Sesampainya dikelas, ternyata Afi sudah duduk dan sedang menunggu Alia.

__ADS_1


"Tumben kamu siangan!" ucap Afi sambil terus fokus ke buku nya.


"Ngga kok! tadi dijalan ketemu fans, biasa lah!"


"Dih! pedenya! eh apaan tuh?" Afi melirik dan penasaran dengan apa yang di pegang Alia.


"Bukan apa-apa!" mencoba menyembunyikan.


"Serius! sini aku lihat!" mencoba merebut sesuatu yang ada di tangan Alia.


"What! mawar merah!? ini dari fans kamu!?" berhasil merebut dan mengangkat nya tinggi-tinggi.


"Eh Afi apaan si! sini nggak! kamu tu jahil banget deh!" Alia mencoba merebut kembali namun tak kunjung dapat.


"Dari siapa coba!? atau jangan-jangan dari Aldi yah!" Afi masih penasaran.


Alia hanya terdiam sambil tersenyum, dia tidak berani mengatakan kalau bunga itu dari Aldi.


"Ciye senyum-senyum! beneran dari Aldi!? wah wah ada yang lagi kasmaran nih!" Afi mulai menggoda Alia.


Alia menengok ke sekeliling dan dia memastikan bahwa di kelas ternyata hanya ada mereka berdua. Dia merebut bunga itu dari tangan Afi dan langsung melahap nya.


"Hmmm lumayan juga" ucap Alia sambil menikmati bunga mawar tersebut.


Sementara Afi hanya terdiam dan heran melihat kelakuan sahabat nya itu, karena kemarin ia hanya mendengar saja kalau Alia makan bunga, dan sekarang ia melihat nya langsung.


"Eh kamu beneran makan bunga yah!?" Afi masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Hehehe jangan kaget yah! oiya Fi, mulai hari ini kamu jaga kesehatan yah!" Alia mengalihkan topik.


"Eits tunggu dulu, jangan bilang kamu lihat aku bakal kecelakaan lagi!?" Afi mulai khawatir.


"Ngga kok, kamu cuma bakal sakit kalo nggak jaga kesehatan, oh ya jangan lupa minum jus seledri yah!" Alia bicara tanpa sadar.


"What! jus seledri!? yang bener aja kamu!" Afi masih tidak percaya.


"Terserah mau percaya atau nggak, yang penting aku udah kasih tahu!" ucap Alia singkat.


"Kamu sekarang udah kaya dukun yah! bisa meramal gitu yah" Afi mencoba menghilangkan kekhawatiran nya.


"Bukan dukun! tapi indigo! dan bukan ramalan, tapi mata batin!" celetuk Alia.


"Eh ngarang dari mana tuh" tanya Afi.

__ADS_1


"Papa ku yang bilang" ucap Alia.


Tak lama kemudian bell masuk kelas berbunyi, para siswa bergegas masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran, sementara Alia sibuk menghabiskan bunga mawar nya agar tidak ada orang yang melihat nya.


__ADS_2