Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Pikiran yang kacau


__ADS_3

Suara adzan dhuhur mulai terdengar, semua mahasiswa baru diizinkan untuk melakukan sholat dhuhur di mushola. Mereka semua hanya di beri waktu sekitar 20 menit lepas dari pengawasan para senior, karena setiap saat mereka selalu di awasi, bahkan saat waktu makan.


"Alia!"


Teriak Afi menghampiri Alia yang sedang mengantri untuk wudhu. Karena mereka berdua berbeda kelompok, jadi sehari kemarin mereka sama sekali tidak bisa bertemu hanya untuk sekedar mengobrol atau menyapa satu sama lain.


"Eh Afi, kenapa?" tanya Alia.


"Kamu hari ini baik?"


"Alhamdulillah baik, kenapa?"


"Ngga papa, syukurlah kalau baik, sebenarnya kamu kemarin kenapa?"


"Oh ngga papa kok, mungkin cuma kecapekan aja lah"


Afi dan Alia memang sudah bersahabat lama, namun Alia terkadang masih tidak mau menceritakan apa yang ia alami pada Afi, dan Afi pun juga sangat paham dengan sifat Alia, Afi merasa Alia punya alasan sendiri kenapa ia memendamnya.


"Al, aku satu kelompok sama temen MA kamu" ucap Afi.


"Oh siapa?" tanya Alia penasaran.


"Itu loh anak cowok yang waktu itu ketemu di dekat pohon Cherry" jelas Afi.


"Oh Arrafi, terus kenapa?"


"Namanya kan Azam? kamu punya panggilan sendiri buat dia, jangan-jangan beneran ada hubungan kamu sama dia ya?" Afi mulai meledek.


"Apaan si ya nggak lah! namanya kan Abdul Azam Arrafi dan di MA dulu dia terkenal dengan sebutan ustadz Arrafi jadi ya ngga papa dong kalau aku panggil dia Arrafi, yang penting masih namanya dia! lagian kamu apaan si, nama aja jadi masalah, udah ah males ngomongin dia!"


"Jadi kemarin pas kamu di gotong pakai tandu, dia itu lihatin tanpa berkedip sambil kaya komat-kamit gitu, aneh banget deh!"


Alia kaget mendengar penjelasan Afi, dia terdiam dan mulai menatap Afi dengan serius.


"Serius kamu?" ucap Alia dengan sangat pelan.


"Ya ngga lucu lah kalau aku bohong, buat apa juga? dan hari ini sejak pagi dia juga kaya merhatiin kamu terus, tapi anehnya tatapannya itu bikin aku ngeri deh"


"Ngeri gimana maksudnya?"

__ADS_1


"Yah tadinya aku pikir dia beneran suka sama kamu dilihat dari tatapannya waktu itu, tapi kemarin itu aku sadar kalau pikiran aku salah"


Alia menjadi penasaran kenapa Azam bersikap seperti itu, dia meminta Afi untuk tidak lagi membicarakannya.


Alia meninggalkan Afi dan bergegas untuk berwudhu karena takut tertinggal untuk sholat berjamaah.


Setelah selesai sholat, Alia berjalan kembali menuju ke ruang auditorium. Di jalan tanpa sengaja ia berpapasan dengan Azam yang juga menuju ke tempat yang sama. Alia hanya diam dan mencoba untuk menghindar darinya, apalagi saat ia mengingat ucapan Afi bahwa Azam berperilaku aneh.


"Kamu sudah baikan?" tanya Azam mencoba menyapa sembari menghentikan langkahnya.


"Alhamdulillah baik" Alia menjawab dengan singkat dan tidak mau menghentikan langkahnya walaupun sebentar. Dia terus berjalan dan meninggalkan Azam.


"Dia kenapa yah? kok rasanya kaya ada yang terjadi sama dia" ucap Alia dalam hati.


Alia masih bingung dengan Azam, karena tadi saat mereka berpapasan Alia merasakan hawa yang aneh, tidak seperti biasanya. Wajah Azam juga terlihat agak pucat dan seperti sedang menahan sakit dari dalam, namun ia mencoba untuk tetap tersenyum dan menutupi.


"Sebenarnya dia itu kenapa? eh kok aku malah jadi mikirin dia si? masa bodoh lah dia mau kenapa, bukan urusan aku juga!" Alia masih bergumam dalam hatinya.


**********


Hari ini semua berjalan dengan lancar, Alia juga tidak mengalami hal aneh lagi.


"Huh ini lama banget si! udah sore juga!" gerutu Alia dalam hati.


Alia melihat ke arah jam tangannya, dan waktu sudah menunjukkan jam setengah enam lebih.


"Ya ampun ngga penting banget si itu! udah molor setengah jam lebih juga! ngga sadar apa sebentar lagi Maghrib!" Alia terus menggerutu dalam hati karena langit sudah mulai gelap dan acara masih belum juga di tutup.


Tak lama kemudian mulai terdengar suara adzan Maghrib, para senior masih saja teriak-teriak dan belum ada tanda-tanda acara akan di tutup.


"Ya Allah! udah adzan, ini mau sampai kapan si!" Alia mulai berucap karena semakin kesal. Perasaannya sudah sangat tidak nyaman dan ingin segera masuk ke dalam ruangan, karena sejak kecil Alia selalu di ajarkan bahwa sebelum adzan Maghrib ia harus sudah berada di dalam rumah atau ruangan, tidak boleh berada di luar ruangan.


"Aaaaaaaaaaaaaa"


Tak lama kemudian terdengar suara seorang mahasiswa perempuan yang berteriak seperti orang kesurupan. Para senior sadar akan hal itu, jadi semua junior segera di bubarkan bahkan tanpa upacara penutup. Semua junior sibuk berlarian dan meninggalkan tempat itu saat melihat salah satu junior perempuan ada yang kerasukan.


Sementara itu Alia masih berdiri di tengah-tengah para junior yang sibuk berlarian karena ketakutan, dia merasa bingung dengan keadaannya.


Alia lalu tersenyum pahit sambil berkata "Sukur! salah sendiri ngga lihat waktu!"

__ADS_1


Tak lama kemudian ada seseorang yang menarik tangan Alia dan membawanya pergi dari tempat itu.


"Eh lepasin! kamu siapa! apa-apaan kamu narik tangan saya!" Alia berteriak.


Azam melihat Alia yang sedang di tarik oleh seseorang dan mencoba untuk mengikuti mereka berdua, namun karena mereka berjalan terlalu cepat akhirnya Azam kehilangan jejak.


Langit sudah cukup gelap jadi Alia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu, karena suasana di dekat lapangan utama di penuhi banyak pohon dan minim penerangan, jadi keadaan saat malam cukup gelap.


"Hei lepasin! lepasin tangan aku!"


Alia mencoba melepaskan tangannya, namun tidak mudah, karena orang itu memegang tangan Alia dengan cukup erat.


Setelah agak jauh dari lapangan utama, orang itu akhirnya melepaskan tangan Alia.


"Apa si maksudnya ini! ngapain coba kamu menarik-narik tangan aku!" ucap Alia kesal.


"Cuma mau menjauhkan kamu dari sana aja"


Alia merasa bahwa suara itu sangat familiar, dan Alia pun menjadi sangat kaget saat orang itu membalikkan badannya.


"Ka...kamu! kamu ngapain di sini! ngapain kamu bawa aku ke sini!" Alia bicara dengan nada yang sangat ketakutan karena dia masih ingat betul kejadian yang terjadi pada ranjang nya dulu.


Ya. Orang itu adalah Irfan, orang yang dulu ia kagumi, bahkan mungkin sampai sekarang. Namun Alia juga tidak bisa melupakan kejadian yang membuatnya sangat kecewa.


Alia mencoba untuk pergi meninggalkan Irfan dan menjauh darinya, namun Irfan kembali memegang tangan Alia dan mencegahnya.


"Lepasin aku! lepasin ngga, kalau ngga aku teriak!" ucap Alia yang terlihat masih sangat ketakutan.


"Kamu kenapa si, aku ini Irfan bukan hantu!"


"Aku tau, tapi aku ngga mau lagi berurusan sama kamu!" masih mencoba untuk melepaskan tangannya.


"Kenapa? apa kamu masih marah sama aku gara-gara masalah Dista waktu itu?"


Alia hanya terdiam, dia tidak bisa lagi berkata-kata, di satu sisi ia merasa senang karena bisa bertemu lagi dengan orang yang ia kagumi, tapi di sisi lain rasa kecewanya masih belum hilang.


"Denger ya aku ngga ada niat jahat di sini, aku cuma mau bawa kamu menjauh dari tempat tadi, dan kamu juga tau kan tadi ada anak yang kerasukan?" jelas Irfan.


"Lepasin tangan aku dulu"

__ADS_1


Irfan akhirnya melepaskan tangan Alia, dan Alia mulai bersedia untuk mendengarkan penjelasan dari Irfan. Setelah suasana hatinya mulai tenang, Alia berkata ingin ke mushola untuk melaksanakan sholat Maghrib, dan Irfan pun mengantarnya. Mereka berdua berjalan bersama menuju ke Mushola terdekat di kampus.


__ADS_2