
Alia masih berdiri terdiam di depan gubuk kecil itu. Dia mencoba untuk melihat ke bagian belakang gubuk karena penasaran, namun tiba\-tiba Fahmi keluar lalu mengajak Alia untuk masuk dan ikut berdoa.
Alia duduk di bagian paling belakang dan dekat dengan pintu, sementara kakek tua itu berada di bagian paling depan. Alia sangat penasaran dengan ruangan itu karena di dalamnya terdapat dua ruangan. Satu ruangan tempat di mana semua orang sedang duduk dan berdoa sekarang sedangkan satunya lagi adalah ruangan di bagian dalam yang terlihat di kunci dan hanya bisa melihat bagian dalamnya dengan mengintip melalui jendela kecil di samping pintu yang terkunci itu.
Alia berusaha untuk khusyuk berdoa namun ia berdoa dengan caranya sendiri dan tidak mengikuti kakek tua itu, karena menurutnya cara berdoa yang digunakan oleh kakek itu tidak sama dengan caranya berdoa.
Saat Alia baru saja memulai doanya, ternyata kakek itu sudah selesai dan semua orang mulai keluar dari ruangan kecil itu. Alia masih duduk sendirian di ruangan itu dan menyelesaikan doanya.
Setelah selesai berdoa Alia berdiri sambil terdiam. Dia sangat penasaran dengan apa yang ada dalam ruangan tertutup itu, ia berjalan perlahan dan mengintip bagian dalam dari sebuah jendela kecil yang ada di samping pintu.
Ekspresinya sangat datar saat mengetahui apa yang ada di dalamnya. Itu adalah dua buah peti mati yang tertutup rapat, namun satu peti itu di kelilingi oleh kain putih yang di gantung seperti tirai untuk menutupi, sedangkan satunya lagi berada di luar tirai itu.
Setelah itu Alia keluar dan duduk di samping gubuk, dia beristirahat karena masih merasa lelah karena telah berlari saat naik tangga tadi.
Semua orang sudah turun dan duduk di halaman mushola untuk beristirahat namun Alia masih duduk sendirian di samping gubuk, dia juga penasaran karena kakek tua itu kembali masuk ke dalam.
Tiba-tiba angin berhembus kencang, suasana menjadi hening dan dingin, pandangan Alia teralihkan pada sosok laki-laki yang berdiri di bawah pohon besar.
Laki-laki itu memakai set jangkep (pakaian adat pria Jawa) dengan motif lurik berwarna coklat lengkap dengan kemben jarik dan juga blangkon di kepalanya.
Dia tersenyum kepada Alia, tak lama lalu menghilang bersama dengan hembusan angin yang kembali normal. Rasanya laki-laki itu seperti ingin menyampaikan sesuatu kepada Alia lewat senyuman itu.
Tak lama setelah sosok itu menghilang, tiba-tiba sosok bayangan dengan jubah hitam berserta beberapa pengawalnya itu kembali muncul dan juga berdiri di bawah pohon besar. Mereka seperti mengawal kedatangan laki-laki tadi.
Perasaan aneh menghampiri Alia, dia pun segera turun dan menghampiri teman-teman yang lain. Alia duduk di serambi mushola sambil meneguk air putih yang ia ambil dari sumber mata air tadi. Ia melihat ke arah jam tangannya dan ternyata sudah jam satu siang.
"Fahmi, jadi sekarang kita turun kan? udah siang nih takut kesorean nyampe sekolah"
"Aku pamit sama bapak itu dulu yah"
Alia mengangguk dan Fahmi kembali naik ke atas untuk menemui kakek tua itu untuk berpamitan, namun perasaan Alia tiba-tiba berubah menjadi tidak enak.
Tak lama kemudian Fahmi turun dan menemui Alia dengan wajah kusutnya.
"Kamu kenapa kok gitu mukanya?"
"Aku bingung Al"
"Kenapa?"
"Jadi pas aku sowan pertama kan udah kasih amplop buat syaratnya, dan sekarang orangnya minta tambahan"
__ADS_1
"Tambahan berapa?"
"Dia bilang katanya masing-masing orang 50 ribu"
"What? 50 kali 30, 1500 dong? mahal amat! kan kita disini nggak minta yang aneh-aneh, cuma niat jalan-jalan sama doa di petilasan aja, dan kita sowan sama dia kan cuma buat penunjuk jalan sama mimpin doa aja, apa sampai semahal itu?"
"Aku juga nggak tahu, tapi dia bilang kalau yang dia minta nggak akan sebanding dengan yang kita dapat nantinya"
"Kok aneh sih, jangan-jangan dia emang udah salah paham sama kita, dan lagi uang 50 ribu kalau buat siswa SMA kaya mereka kan ya lumayan besar!"
Alia terus mengumpat karena kesal dengan tingkah kakek tua itu, namun Fahmi mencoba untuk menenangkan Alia, dia berkata bahwa masih ada sisa anggaran dari acara dan sudah memberikannya kepada bapak itu meskipun tidak sesuai dengan jumlah yang diminta.
"Jadi sekarang kita bisa pulang kan?" tanya Alia yang masih kesal.
"Ya! yang penting tadi aku udah bilang kalau nggak bisa ngasih sesuai yang diminta sama bapak itu karena terlalu banyak, aku cuma bisa ngasih seadanya aja dari sisa anggaran, dan aku lihat wajah bapak itu emang terlihat nggak senang"
"Alah ya udahlah biarkan, yang penting sekarang kita pulang!"
Fahmi meminta seluruh peserta dan yang lainnya untuk mulai berjalan menuruni gunung. Seperti biasa Alia dan Fahmi berjalan paling belakang. Rasa kesalnya terhadap kakek itu belum hilang, dia berjalan sambil terus mengoceh kesal, sementara Fahmi hanya diam saja.
Cuaca saat itu sangatlah panas, sama seperti saat mereka naik tadi, langit sangatlah cerah namun tiba-tiba langit yang cerah itu berubah menjadi gelap. Seketika petir mulai menyambar dan hujan lebat pun turun. Semua orang panik termasuk Alia dan Fahmi.
"Nggak ada pilihan lain, kita harus terus jalan!"
Sementara itu Alia masih saja berjalan dengan satai di belakang tanpa panik sedikitpun dan membuat Fahmi merasa geram.
"Kamu bisa cepetan nggak jalannya?"
"Kenapa? santai aja kali! aku tahu kok ini ulah siapa!"
"Maksudnya apa?"
"Kakek tua itu pasti marah karena kita nggak ngasih uang sesuai yang dia minta, dan bikin hujan petir kaya sekarang"
"Kok kamu mikirnya gitu si?"
"Kamu nggak nyadar? tadi kan masih panas banget, dan tiba-tiba jadi gelap lalu hujan petir"
Fahmi hanya terdiam dan mencoba untuk terus melanjutkan perjalanannya.
Setelah kurang lebih dua jam akhirnya mereka semua sampai di pintu masuk pendakian, dan semua orang sedang berteduh di sana. Sudah sepuluh menit mereka berteduh namun belum juga melihat Alia sampai, Dista panik dan memberitahu Fahmi bahwa Alia masih belum sampai.
__ADS_1
"Ya udah kita tunggu lima menit lagi yah, kalau nggak datang juga nanti biar aku yang susulin" ucap Fahmi.
Tak lama kemudian Alia terlihat, dia masih berjalan dengan santai disaat semua orang mengkhawatirkan.
"Kalian ngapain masih disini? nggak langsung naik ke bus aja!"
"Mereka semua nungguin kamu, dan lagian juga masih hujan, biarlah mereka berteduh dulu di sini" jawab Fahmi.
Alia berjalan ke luar, dia berdiri di teras pos pintu masuk dan mengulurkan tangannya menghadap ke atas, mengenai air hujan.
"Jalan aja ke bus, biar kita berteduh di sana sekalian!" ucap Alia dengan santainya.
Semua orang terdiam menatap Alia, tak lama kemudian Alia berjalan meninggalkan mereka semua yang masih duduk dan berteduh.
Begitu keluar dari lokasi itu dan sampai di perumahan warga, hujan langsung berhenti, cuaca kembali menjadi cerah. Baju yang dikenakan Alia bahkan sampai kering lagi padahal tadi masih basah kuyup karena hujan-hujanan.
Alia duduk di pinggir jalan untuk beristirahat sejenak, Fahmi menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Kamu nggak papa Al?"
"Besok-besok jangan diulangi lagi!"
"Ya maaf"
Fahmi merasa bersalah, dia juga bercerita pada Alia bahwa dirinya tadi bertemu dengan bapak yang dulu menjadi penunjuk jalan saat datang kemari bersama temannya.
"Apa dia juga tua kayak kakek itu?" tanya Alia.
"Nggak, dia masih muda, dan kemarin emang salah aku pas tanya rumahnya penunjuk jalan ke warga, karena warga emang taunya ya bapak tua tadi, jadi aku datang ke sana"
"Dan ternyata kakek tua itu yang biasa di datangi orang mau datang ke petilasan itu buat minta pesugihan, hahaha!"
Tanpa sengaja Alia bicara dengan gamblang apa yang sudah dipikirkan nya sejak awal. Karena meskipun sejak awal Fahmi sudah menjelaskan jika mereka tidak memiliki niat apapun, namun dalam pikiran kakek itu jelas berbeda.
"Abis ini nggak usah lagi nemuin atau datang ke rumah kakek itu! apalagi sampai bawa ayam kampung!"
"Kenapa?" tanya Fahmi heran.
"Kalau dalam istilah orang jawa, ayam kampung itu keluarga dekat! jadi kalau kamu datang untuk minta sesuatu dan dimintai syarat ayam kampung, itu sudah jelas kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau, entah itu kekayaan, jabatan, atau apapun tapi salah satu keluarga dekatmu akan mati, sama seperti ayam kampung yang kamu korbankan itu!"
"Maksudnya tumbal?"
__ADS_1
Alia tersenyum dan mengangguk. Fahmi memang tidak terlalu paham dengan hal-hal seperti itu karena dia bukanlah berasal dari Jawa, dia merupakan orang Jakarta yang bersekolah di MA sambil tinggal di pesantren dan sampai sekarang.