
Alia masih terduduk diam, air matanya tidak bisa berhenti mengalir, pikirannya masih dipenuhi dengan bayangan kematian Mayra yang sangat tragis.
"Alia..."
Tiba-tiba Alia mendengar suara pelan yang melintas di telinganya, dia melihat ke sekeliling kamar namun tidak ada siapapun di sana dan hanya ada dirinya sendiri.
"*Siapa yang memanggilku? atau aku sedang berhalusinasi*?"
Alia kembali menunduk dan bersedih, dia melihat ke arah lantai dengan tatapan putus asa. Samar-samar dia mulai melihat sebuah kain putih menjuntai di lantai tepat berada di depannya.
Alia mulai menengok ke atas dan melihat dari mana kain itu berasal.
Lalu mulai terlihat sosok perempuan cantik dengan wajah bersinar dan tersenyum ke arah Alia, dia berdiri tepat di depan Alia lalu duduk dan menemaninya.
"Kakak?"
Alia sangat terkejut, dia masih tidak yakin bahwa sosok perempuan itu adalah kakaknya yang sudah lama meninggal.
Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum kearahnya, senyuman itu sangat dalam dan mampu menenangkan hati Alia yang sedang bersedih.
"Kakak!!"
Alia berniat ingin memeluk kakaknya, namun ia sadar bahwa yang berada di depannya sekarang hanyalah sebuah bayangan yang tidak akan pernah bisa ia sentuh.
"Kakak, sudah lama sekali kau tidak datang, aku sangat merindukanmu!"
Alia mencurahkan semua rasa rindunya kepada sang kakak, dia bicara banyak dan mulai sedikit melupakan tentang Mayra, kesedihan itu sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi rasa senang karena ia bisa bicara dengan kakaknya.
"Kakak, andai saja kau masih hidup!"
Perempuan itu menggelengkan kepalanya sambil menatap Alia seolah berkata supaya Alia jangan bersedih lagi.
Tiba-tiba Alia kembali teringat tentang Mayra, dan perasaannya kembali seperti tadi.
Alia mencoba menceritakan tentang kepergian sahabatnya yang tidak pernah ia duga sebelumnya, cara dia pergi itu sungguh sangat menyakitkan bagi siapapun, dan Alia merasa sangat menyesal karena itu.
"Andai saja hari itu aku tetap mengajaknya berangkat bersama seperti biasa, mungkin kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi, ini semua salahku!"
Alia terus bicara dan menyalahkan dirinya, lalu perempuan itu mencoba memegang tangan Alia dam tersenyum kepadanya.
"Kakak! kamu bisa memegang tanganku?"
Alia kaget karena tangannya bisa bersentuhan dengan bayangan kakaknya, yang sebelumnya tidak pernah bisa terjadi.
__ADS_1
"jangan menyalahkan dirimu lagi!"
"Kakak! kamu juga bicara padaku?"
Baru pertama kali Alia mendengar suara kakaknya yang sudah meninggal, jadi dia masih merasa terkejut, dia juga heran kenapa baru sekarang kakaknya mau bicara dan memegang tangannya.
"Kamu kenapa? apa kamu sedih?"
"Ya, sahabatku baru saja meninggal tadi pagi"
Alia bicara dengan wajah sedihnya, di juga tidak bisa menahan air matanya, awalnya dia ingin menceritakan kesedihan itu dengan mamanya, namun suasana hatinya sangat tidak ingin bicara dengan siapapun, jadi dia memilih untuk bersedia memberitahu kakaknya.
Perempuan itu mulai bicara banyak, dia mencoba untuk menangkan Alia dengan berkata bahwa hidup dan mati sudah di atur oleh yang kuasa. Dia juga berkata bahwa Alia tidak seharusnya menyalahkan diri atas kematian orang lain, karena jika Tuhan sudah berkehendak maka tidak ada yang bisa mengubahnya.
"Lalu apa gunanya aku melihat pertanda itu?"
Alia kembali bicara soal keanehan yang ia lihat pada Mayra beberapa hari sebelum kematiannya.
Perempuan itu pun kembali bicara bahwa itu memang suatu kelebihan bagi Alia, dan sangat jarang orang yang mempunyai kelebihan itu, sungguh Alia sangatlah beruntung memiliki kelebihan itu.
.
Alia terus saja bicara dengan nada negatif, namun kakaknya kembali menjelaskan semuanya dan berusaha membuat Alia paham dengan sebuah keadaan.
"Tuhan itu maha tahu, lebih tahu dari siapapun. Dia juga maha berkehendak, apapun yang Dia inginkan maka akan Dia akan melakukannya. Dia bisa saja memberikanmu penglihatan untuk bisa tahu hal yang akan terjadi besok, tapi dia juga bisa membuatmu tidak bisa melakukan apa\-apa"
Alia terdiam mendengar kata-kata itu, dia berpikir dan terus berpikir, apa yang membuatnya salah sehingga Tuhan begitu kejam karena tidak mengijinkannya melakukan sesuatu untuk menyelamatkan sahabatnya.
"Dia tidak kejam, tapi Dia maha adil!"
Alia hanya terdiam mendengar kata-kata dari kakaknya, dia juga tidak heran jika kakaknya bisa menjawab pernyataan Alia yang ia ucapakan hanya dalam hati saja.
"Alia kamu harus bisa mengendalikan diri! latihlah emosi kamu supaya bisa menjadi lebih baik, cobalah untuk selalu berpikir tentang sebuah sebab dan akibat, maka kamu akan benar\-benar bersyukur atas kelebihan itu!"
Alia masih terdiam dan tidak bisa membalas kata-kata itu, dia akhirnya berpikir bahwa selama ini memang tidak ada satupun yang membimbing dirinya untuk mengerti dan bisa memahami atas kelebihan yang ia miliki, sehingga itu jadi menguasai pikiran nya dan membuat nya menjadi sulit mengontrol emosi.
"Jadi aku harus bagaimana kak?"
"Jadilah lebih tenang, renungkan tentang dirimu, penglihatanmu, dan semua yang terjadi padamu maka kamu akan tahu"
__ADS_1
"*Jadi aku harus menerima semua yang terjadi dengan ikhlas*?"
Alia berguman dalam hati, namun tanpa ia berkata pun kakaknya tentu tau apa yang sedang diucapkan Alia dalam hatinya.
Perempuan itu pun tersenyum, dia merasa senang karena dapat menenangkan hati dan pikiran adiknya.
"Alia, bukankah kamu tahu tentang takdir?"
"Ya! aku tahu, ada yang bisa diubah dan ada yang tidak, tapi tentunya untuk hidup dan matinya seseorang, manusia tentu tidak dapat mengubahnya"
Perempuan itu kembali tersenyum, dia sangat senang karena akhirnya Alia sudah bisa berfikir dengan jernih dan tidak lagi terpuruk akan kesedihannya.
"Jadi kamu sadar itu?"
"Yah aku selalu sadar, maaf kakak! aku berpikiran sempit dan tidak bisa menerima kenyataan, tapi sekarang aku sadar"
Alia memeluk kakaknya dengan erat, dia merasa sangat senang akhirnya bisa memeluk kakaknya yang bahkan belum pernah ia lihat selama hidupnya, karena kakaknya sudah meninggal 3 tahun sebelum Alia lahir.
"Allah mungkin tidak mempertemukan kita dalam keadaan hidup, tapi aku sangat senang bisa bertemu dan memeluk kakak meskipun dunia kita sudah berbeda"
"Terkadang kita tidak tahu maksud baik yang diberikan Tuhan dan menganggapnya buruk. Alia kamu harus selalu ingat, Tuhan mungkin mengizinkan kamu untuk bisa melihat takdir, tapi belum tentu dia mengizinkan kamu untuk merubah takdir. Jadi jangan salahkan diri kamu ketika tidak bisa mengubah takdir sahabatmu, mungkin itu yang terbaik!"
Alia menjadi semakin sadar setelah mendengar kata-kata itu. Dia memeluk kakaknya semakin erat, namun perlahan-lahan sosok perempuan itu mulai memudar dan hilang.
"Kakak! kakak!!"
Alia terus berteriak karena kakaknya pergi begitu saja tanpa bicara lagi. Dia membuka matanya dan tersadar. Alia lalu melihat sekeliling dan tidak ada siapapun kecuali dirinya di kamar itu.
"Ah ternyata hanya mimpi! tapi mimpi itu sungguh terasa sangat nyata sekali!"
Alia terus bergumam dan masih tidak percaya jika itu semua hanyalah mimpi. Alia akhirnya teringat sudah lama ia tidak mengunjungi makam kakaknya, dan iapun memutuskan untuk pergi ke makam kakaknya saat itu juga.
Begitu sampai di makam Alia langsung membacakan doa lalu menaburkan bunga mawar merah yang ia bawa. Dia juga membersihkan beberapa daun kering yang mengotori makam kakaknya itu.
"Kakak... maafkan aku karena lama tidak mengunjungi mu"
Setelah selesai membersihkan daun kering, dia pun bangun lalu berjalan pulang, sementara itu dari kejauhan ada sosok perempuan yang berdiri menatap kepergian Alia sambil tersenyum.
__ADS_1
Note: Tuhan mungkin memberikan kelebihan pada mereka yang bisa tahu hal apa yang akan terjadi di masa depan, tapi Tuhan juga bisa memberikan kekurangan ketika orang itu tidak bisa melakukan apapun untuk merubah hal yang akan terjadi di masa depan. Jadi jangan pernah bilang Tuhan itu tidak adil! Sebesar apapun Tuhan memberi kelebihan pada seseorang dan membuatnya hebat, dibalik itu pasti Tuhan juga memberikan sebuah kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna, kata-kata itu berlaku bagi semua manusia, termasuk orang dengan kelebihan tinggi tentunya. Jadi orang yang sangat hebat sekalipun pasti juga punya kekurangan.