
"Hey Alia! bengong lagi! ayo siap\-siap! eskulnya udah mau mulai nanti telat!" Nida kembali berteriak.
Tanpa menjawab Alia langsung bersiap dan pergi meninggalkan Pesantren bersama Nida, sementara mba Lila masih menatap Alia yang mulai pergi menjauh.
"Semoga saja tidak ada yang menjadi korban" mba Lila berucap dalam hati.
Di sekolahnya ternyata Sifa sudah lama menunggu Alia dan Nida, mereka berdua pun menghampiri Sifa yang sudah duduk dan mulai mengikuti kegiatan.
Hari ini adalah hari pembentukan anggota dan pengurus baru di organisasi PMR sekolah Alia.
Beberapa siswa mulai mencalonkan dirinya untuk menjadi pengurus.
Saat itu Alia sebenarnya tidak ingin ikut dalam kepengurusan, namun ternyata Sifa diam-diam sudah mencalonkan Alia sebagai ketuanya.
Pemilihan ketua dilakukan dengan cara voting atau yang mendapat sura terbanyak maka dia yang akan menjadi ketua. Tidak disangka ternyata banyak yang mendukung Alia untuk menjadi ketua.
Meskipun Alia terlihat cuek pada orang lain, namun begitu melihat ada orang yang sakit ia langsung tanggap dan membantu, dia juga banyak tahu soal obat-obatan karena rajin membaca buku, jadi semua sepakat untuk menjadikan Alia sebagai ketua PMR ditahun ini.
Tadinya Alia menolak, namun setelah teman\-teman yang lain membujuknya, akhirnya dia setuju.
"Wah selamat ya Al, kamu akhirnya terpilih sebagai ketuanya" ucap Sifa sambil mengulurkan tangannya.
Alia hanya tersenyum dan membalas uluran tangan Sifa.
Selain PMR, ada banyak organisasi lain di sekolah itu, termasuk juga organisasi keagamaan. Namun Alia hanya tertarik dengan PMR, karena sejak kecil ia ingin sekali membantu orang yang sakit.
Setelah kegiatan selesai, guru meminta seluruh ketua dari organisasi yang ada disekolah untuk berkumpul di satu ruangan. Ada tujuh siswa yang datang dan masing-masing adalah ketua yang baru saja dipilih oleh para anggotanya. Satu-satu dari mereka memperkenalkan diri beserta jabatan, dan yang terakhir maju ke depan adalah Azam.
Namanya Abdul azam arrafi, dia siswa kelas XI IPA dan telah terpilih menjadi ketua dari organisasi keagamaan. Azam adalah anak dari seorang kyai, sikapnya sangat lembut dan bijaksana, dia juga sangat santun dan berwibawa, banyak siswi dan santri putri yang mengagumi sosok Azam. Alia merasa kaget melihat itu, dia menjadi lebih tidak nyaman karena merasa terus terawasi. Pembina organisasi berniat mengumpulkan mereka untuk lebih mengenal satu sama lain karena kedepannya mereka harus bekerjasama untuk membuat sekolah mereka menjadi lebih baik lagi, pembina juga memberikan beberapa berkas yang harus dipelajari oleh para ketua organisasi yang harus dijalankan pada saat pelantikan mereka.
"Ah sial! dia di sini juga" Alia menggerutu dalam hati.
Pertemuan selesai dan semuanya keluar ruangan, Alia masih duduk menunggu semua orang keluar. Dia juga melihat Azam sudah keluar, ia masih duduk berharap agar si Azam itu sudah pergi jauh.
Setelah beberapa saat Alia akhirnya bangun dari tempat duduk dan meninggalkan ruangan itu.
Saat ia belum jauh dari ruangan tiba-tiba ada sesuatu yang membuatnya kaget.
"Hey Ragasy!"
Suara yang begitu lembut dan nada yang sangat tenang, membuat Alia menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Sial! dia belum pergi juga!" Alia kembali menggerutu dan tanpa menengok atau menghiraukan suara itu.
Merasa tidak dihiraukan, akhirnya orang itu berjalan mendekati Alia dan menepuk pundaknya dari belakang. Namun tiba\-tiba...
"Agh!!"
Alia kaget mendengar teriakan itu dan langsung berbalik badan, dia melihat Azam ternyata sedang memegang tangannya seperti kesakitan.
"Kamu kan yang selama ini ngawasin aku!?" tanpa basa-basi Alia langsung mengatakan hal yang ingin dia katakan.
"Boleh ngobrol sebentar?" suara itu terdengar sangat lembut dan tenang meskipun dia bicara sambil memegang tangannya yang kesakitan.
Alia hanya terdiam, dan melihat kearah tangan Azam.
"Kenapa tanganmu?" dengan nada cuek Alia bertanya, karena ia melihat Azam seperti sangat kesakitan.
"Oh maaf, ini harusnya tadi aku ngga sembarangan buat menepuk pundakmu, maaf aku cuma mau menyapa" Azam segera menyembunyikan tangannya.
Alia terdiam, dia berjalan mendekat kearah Azam dengan tatapan yang sangat dingin. Dia menarik tangan Azam yang disembunyikan.
"Agghhh!! tolong jangan!" Azam kembali berteriak kesakitan.
"Apa!? apa yang sebenarnya terjadi? kenapa tanganmu bisa terbakar seperti itu!?" Alia mulai panik.
"Kamu tenang,, ini ngga papa kok, maaf aku tadi bener-bener ngga sengaja" Azam masih berucap dengan nada yang sangat tenang tanpa ada rasa khawatir sedikitpun.
Sementara Alia merasa semakin bingung karena dia terus saja minta maaf.
"Maksud kamu apa si aku ngga ngerti!"
"Maaf, tadi pas aku menepuk pundakmu, ngga sengaja aku menyentuh sehelai rambutmu"
Alia menjadi semakin bingung dengan perkataan Azam. Dia menggelengkan kepalanya dan meminta Azam untuk menjelaskan.
"Rambutmu memiliki aura yang sangat kuat, meskipun aku tidak melihatnya tapi aku bisa merasakan, bahkan dari jauh" jelas Azam.
"Oh jadi karena itu selama ini kamu terus ngawasin aku!?" Alia mulai bicara dengan nada kesal.
__ADS_1
"Maaf, bukan maksudku, tapi dengan aura sekuat itu, semuanya pasti bisa merasakan"
"Maksud kamu apa?"
"Bukan hanya aku, semua yang mampu dan mengerti hal itu pasti bisa merasakan, termasuk mereka yang tak terlihat"
Alia tiba-tiba teringat tentang beberapa orang yang pernah menatapnya dengan sangat aneh, dan beberapa hal aneh yang ia alami beberapa waktu terakhir.
"Jadi mereka benar-benar tahu identitas ku?" ucap Alia dalam hatinya.
"Auramu itu sangat kuat, tapi kulihat kamu seperti kurang mampu untuk mengendalikan" imbuh Azam.
"Aku bukan tidak mampu! tapi tidak ingin!" Alia mulai berteriak.
"Tapi aku khawatir kamu akan.." Azam tidak berani menyelesaikan perkataannya.
"Hey! urus saja dirimu sendiri! tidak usah pedulikan aku apalagi khawatir padaku!" Alia berkata sambil berbalik hendak meninggalkan tempat itu namun Azam berusaha menghentikan.
"Tunggu dulu.. aghhh!!!" teriakan Azam kembali terdengar saat ia tidak sengaja memegang tangan Alia.
Sementara itu Alia hanya menatap dengan dingin seolah bukan Alia yang melakukan nya, ia pun pergi meninggalkan Azam yang masih kesakitan.
"Itu menjadi lebih mengerikan saat ia marah" Azam bicara sendiri sambil terus memegang tangannya yang melepuh dan berusaha untuk kembali ke pesantren.
Sementara itu Alia sampai dirumah nenek Mida dan langsung masuk kamar.
"Hari ini orang pada aneh semua si! ngga jelas banget deh!" Alia terus mengumpat di kamarnya.
"Kamu kenapa Al? pulang kok marah-marah!" ucap Sifa sambil menyapu lantai.
"Ngga papa, tadi ketemu orang aneh aja"
"Orang aneh? oh apa dia yang bikin kamu jadi pulang telat yah?"
"Ya gitu deh"
"Wah jangan-jangan dia naksir kamu lagi"
"Apaan si, ngga lah! ngga mau juga ditaksir orang kaya dia!"
Sifa terus saja menggoda Alia, mereka berdua bercanda dan mengobrol sampai tak terasa hari sudah mulai malam.
__ADS_1