
Acara pembukaan pentas seni sudah di mulai. Semua peserta sudah berkumpul di lapangan utama dan di depan panggung. Mereka semua begitu antusias untuk mengikuti acara yang segera di mulai tersebut.
Sementara di pintu masuk Buper, Putri terus saja mengoceh karena tidak bisa menyaksikan acara pembukaan pentas seni di lapangan utama. Putri terus berbicara pada Alia, namun Alia hanya diam sambil memikirkan apa yang sebenarnya tadi ia lihat.
Begitu acara pembukaan di mulai, keadaan di sekitar menjadi sangat sepi karena hampir semua orang berkumpul di lapangan utama. Begitu juga keadaan di pintu masuk, hampir tidak ada satu orangpun yang keluar masuk lagi.
******
Putri tiba-tiba menarik tangan Alia dan mengajaknya untuk pergi ke lapangan utama.
"Bukannya kita tugas jaga di sini?" tanya Alia yang bingung karena Putri tiba-tiba menarik tangannya.
"Kamu tu yang lupa! ini kan udah jam 9! sekarang tugas kita jaga di lapangan utama dekat panggung panitia! ah kamu kebanyakan ngelamun si!"
Putri terus menggerutu sambil terus menarik tangan Alia dan berjalan menuju lapangan utama. Sementara Alia hanya terdiam dan mengikuti Putri, dia merasa seperti orang yang kebingungan karena masih tidak fokus.
Begitu sampai di lapangan utama, Putri menjadi semakin heboh karena junior mereka mulai naik ke atas panggung untuk menunjukkan pentas seni mereka. Tanpa sadar Putri sudah bergabung dengan junior lainnya yang berada di depan panggung untuk menyemangati.
Sementara itu Alia memilih untuk mundur dan mencari tempat yang tidak terlalu ramai di pinggir lapangan bagian belakang.
Pikirannya masih di penuhi oleh bayangan tangan yang sempat ia lihat dari bangunan rusak itu.
Tak lama kemudian Alia pun memutuskan untuk pergi ke toilet dan membasuh wajahnya agar lebih segar.
Alia sampai di depan toilet yang berada di samping masjid, suasana di sana kini menjadi sangat sunyi karena tidak ada seorangpun.
Alia menghentikan langkahnya dan berdiri di depan pintu toilet, pikirannya kembali menjadi kosong dan bingung. Ia kembali mendengar suara tangisan perempuan itu.
Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan mendekati bangunan bekas toilet tersebut.
Jarak bangunan itu dengan toilet yang masih digunakan sebenarnya tidak terlalu jauh, kurang lebih hanya 10m saja. Namun karena bentuk tanahnya yang berada di bawah membuatnya terlihat jauh. Terlebih lagi jalan setapak untuk menuju bangunan itu sudah di penuhi dengan rumput ilalang yang cukup tinggi.
Bangunan bekas toilet itu sudah tidak beratap dan tidak memiliki pintu, hanya tersisa sebuah petak tembok yang masih berdiri dengan dipenuhi tumbuhan lumut di sekelilingnya.
Keadaan disana sangatlah gelap, karena lampu penerangan hanya berada di bagian depan toilet yang berada di samping masjid saja.
"Srak.. srakk"
Terdengar suara pelan langkah kaki Alia yang menabrak pohon ilalang di depannya. Matanya hanya tertuju pada bangunan itu sehingga ia tidak sadar bahwa kakinya berjalan ke tempat yang sudah lama tidak terjamah oleh orang lain.
__ADS_1
Semakin mendekati bangunan itu, suara tangisannya pun menjadi semakin jelas di telinga Alia. Matanya terus terfokus untuk melihat siapa sebenarnya yang ada di dalamnya dan mengapa dia terus saja menangis.
Tak lama kemudian mulai terlihat sesosok perempuan yang terduduk lemas bersandar pada tembok yang dipenuhi lumut, tanpa sengaja air mata Alia mulai menetes ketika ia melihat dengan jelas keadaan perempuan itu.
Perempuan itu terduduk dengan kaki lurus dan terlihat pisau tertancap di perutnya yang penuh dengan darah.
Yang membuat Alia meneteskan air mata adalah ketika ia tahu bahwa pisau yang tertancap di perut wanita itu juga telah membunuh sebuah nyawa yang bahkan masih sangat kecil.
Satu pisau yang merenggut dua nyawa, itulah yang membuat Alia begitu iba hingga meneteskan air matanya.
"Astaghfirullah..."
Alia terus berdiri di sana sejenak, dia merasa sangat terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa, pikirannya berubah seperti orang yang linglung.
Namun akhirnya Alia memutuskan untuk meneruskan langkahnya mendekat ke bangunan itu.
Tapi tiba-tiba seseorang datang dan langsung menarik tangan Alia dan membawanya menjauh dari tempat itu.
"Kamu gila yah!? ngapain kamu sendirian di sana? ngga adaa kerjaan lain!?"
Orang itu terus mengomel sembari masih memegangi tangan Alia dengan kencang.
"Bisa lepasin tangan aku ngga?"
"Oh maaf, tadi aku refleks"
Amar pun melepaskan tangan Alia, sikapnya berubah menjadi sangat gugup dan terlihat malu.
"Kamu kenapa?" tanya Alia heran.
"Kamu yang kenapa! ngapain coba kamu sendirian di tempat itu!?"
"Oh aku cuma penasaran aja kok"
"Penasaran? Alia kamu ngga berubah yah! kamu lupa? terakhir kali rasa penasaran kamu itu udah bikin heboh satu yayasan, buat kamu ngga bisa masuk sekolah hampir satu bulan dan juga kamu hampir gila?"
Alia hanya diam mendengarkan ocehan Amar yang begitu panjang. Dia malah merasa heran kepada Amar, karena selama tiga tahun mereka satu kelas, baru kali ini Alia melihat Amar memperlihatkan emosi dirinya pada orang lain.
Selama ini yang ia lihat hanyalah sikap Amar yang selalu bijaksana dalam memimpin, dia bahkan tidak pernah bicara masalah pribadi kepada siapapun dan tidak pernah menunjukkan ekspresi wajah yang akan menunjukkan perasaan yang sedang dirasakannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa hanya diam saja?" Amar mulai merasakan kalau dia sama sekali tidak dihiraukan oleh Alia dan mulai sedikit kesal.
"Amar kamu kenapa? atau jangan-jangan kamu kesurupan ya gara-gara tadi datang ke tempat itu?"
"Alia aku serius!"
Ekspresi wajah Amar berubah jari sangat serius, dia menatap dalam Alia hingga membuatnya menjadi takut karena sebelumnya Alia tidak pernah melihat sikap Amar yang seperti itu.
Alia hanya terdiam seolah ingin mendapatkan penjelasan lebih dari Amar mengenai sikapnya.
"Aku khawatir sama kamu!" ucap Amar pelan.
Alia masih terdiam mendengar ucapan Amar. Dia berjalan ke arah pinggir lapangan dan duduk untuk menenangkan pikirannya dari hal aneh yang tadi ia alami.
"Kamu tau ngga kenapa tadi aku mau ke tempat itu?"
"Alia! aku tahu kamu bisa melihat mereka, tapi ngga harus bahayakan diri kamu juga!"
"Dia itu kasihan banget, nasibnya benar-benar tragis"
Alia bicara dengan tatapan mata yang kosong, pikirannya kembali teringat saat ia melihat perempuan yang tergeletak di sebuah bangunan rusak yang sudah dipenuhi dengan lumut.
"Aku tahu kamu bisa melihat mereka, tapi meskipun begitu kamu tidak bisa merubah nasib mereka"
Deg! Alia tiba-tiba teringat dengan nasib Mayra, kata-kata Amar barusan benar-benar membuat Alia kembali tersadar bahwa ia sungguh tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah takdir.
"Maaf Alia, aku ngga bermaksud menyinggung perasaan kamu"
"Ngga papa kok, aku juga tahu kalau aku emang ngga bakalan bisa melakukan apapun, dan itu satu-satunya hal yang membuat aku ngerasa bahwa kelebihan ini adalah sebuah kekurangan besar"
"Tapi paling tidak kamu bisa mendoakan mereka agar bisa tenang" ucap Amar sambil tersenyum ke arah Alia.
"Kamu hari ini aneh!"
Alia masih saja penasaran dengan sikap Amar yang berbeda dari biasanya. Dia terus saja bertanya apa alasan di balik semua itu sampai akhirnya Amar pun bicara.
"Aku suka sama kamu!"
Amar berucap dengan cepat karena merasa malu dan juga takut kata-katanya akan membuat sikap Alia berubah kepadanya.
__ADS_1