
Hari mulai malam, langit mulai gelap, bulan purnama terbentuk begitu sempurna malam itu. Alia duduk di depan rumah sembari menatap ke atas langit, dia mencoba menenangkan hati dan pikirannya dengan menikmati hembusan angin malam yang terasa dingin.
Beberapa hari berjalan seperti biasa, saat itu Mayra mulai bercerita kepada Alia bahwa dirinya sudah mempunyai pacar, dan sudah berhubungan selama lebih dari setahun tapi Mayra tidak pernah menceritakan kepada siapapun.
Pacarnya itu sudah kuliah, dia kuliah di kota sebelah. Mayra dan pacarnya itu bahkan sangat jarang sekali bertemu, karena masing-masing memang sangat sibuk dengan sekolahnya, hanya menjalin komunikasi lewat ponsel saja, mereka hanya bertemu dua atau tiga bulan sekali.
Hari itu Mayra bercerita kepada Alia bahwa pacarnya itu sedang libur semester dan tidak ada kegiatan. Mereka berencana untuk bertemu akhir pekan.
Alia melihat Mayra dengan pandangan yang kosong, entah kenapa menurutnya beberapa hari terakhir Mayra terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Wajahnya terlihat lebih bersinar dari hari-hari sebelumnya.
Saat itu pelajaran sedang berlangsung, dan Alia masih saja melirik ke arah Mayra, mengamati perbedaan yang ia lihat beberapa hari terakhir.
"Da, kamu lihat ada yang beda ngga si sama Mayra?" tanya Alia.
"Beda apanya? biasa aja kok!" jawab Nida dengan singkat.
"Ah kamu mah,, ngga ngerti deh"
"Ya aku emang ngga ngerti, kalau kamu baru ngerti!"
Alia terdiam dan kembali menaruh pandangannya di buku pelajaran dan mencoba untuk fokus, namun perasaan itu terus saja mengganggu pikirannya.
"*Sebenarnya Mayra kenapa si*?" gumam Alia.
_____------_____
Saat itu Alia dan Mayra sedang dalam perjalanan pulang, mereka berdua saling diam dan tak banyak bicara.
"Ra kamu kenapa si?"
"Kenapa? emang aku kenapa?"
"Akhir\-akhir ini aku lihat aura kamu beda".
"Ah kamu ngelindur kali, orang aku biasa aja kok"
Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Mayra, Alia pun menghentikan motornya dan menurunkan Mayra, lalu ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, bayangan wajah Mayra masih saja melintasi pikirannya, membuatnya merasa sangat tidak tenang, entah hal apa yang akan terjadi.
Hari semakin malam, Alia mencoba untuk membuka buku dan mengerjakan tugas rumah.
Klunting... (Satu pesan baru)
Ponsel Alia berbunyi, Alia langsung meraihnya dan membuka isi pesan tersebut.
\("*Al besok kamu ngga usah mampir ke rumahku yah, kamu berangkat sendiri aja, aku mau berangkat sama dia, kebetulan dia lagi ada kegiatan di dekat sini jadi sekalian antar aku ke sekolah oke*!"\)
Pesan tersebut ternyata di kirim oleh Mayra dan entah kenapa hati Alia menjadi semakin tidak tenang.
Hari sudah semakin larut, dan Alia bekum juga bisa tidur, berulang kali ia mencoba memejamkan mata namun masih belum terlelap.
Alia terus berusaha untuk tidur namun tiba-tiba seseorang menghampirinya.
"Mayra? kamu?"
Alia kaget ketika Mayra berdiri di depannya mengenakan baju serba putih dan dengan wajah yang sangat pucat. Dia tersenyum, auranya begitu bersinar bahkan sangat menyilaukan.
"Alia... terimakasih sudah menjadi temanku"
Wajah itu terus tersenyum dan perlahan-lahan mulai memudar lalu hilang.
"Eh May! Mayra!"
Alia memanggil nya bahkan sampai berteriak, sampai ia terbangun dari tidurnya.
**********
Keesokan harinya Alia berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali, ia melewati rumah Mayra dan menjemput nya, namun ibunya berkata bahwa Mayra sudah berangkat sekitar sepuluh menit yang lalu.
Alia akhirnya meneruskan perjalanannya, pikirannya kembali tidak tenang. Setelah beberapa ratus meter ia melaju, tiba-tiba ada banyak orang berkumpul di pinggir jalan, Alia terus melewati kerumunan itu namun pelan.
"Astaghfirullahaladzim... apa itu?"
Alia terkejut ketika melihat ada begitu banyak darah kental yang masih segar menggenang di tengah jalan aspal yang ia lewati, dan hampir saja Alia melewati darah itu, namun ia langsung berjalan di pinggir sehingga ban motornya tidak terkena noda darah itu.
Alia terus melihat ke sekeliling, di pinggir jalan sebelah kanan terlihat seorang lelaki duduk tergeletak dengan baju yang koyak dan bernoda darah. Pemuda itu dikerumuni banyak orang dan terlihat wajahnya sangat sedih dan menyesal.
"Oh pasti anak lelaki itu yang kecelakaan"
Alia bergumam sambil melanjutkan perjalanannya, sepanjang perjalanan Alia masih teringat tentang kecelakaan yang tadi ia lewati, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
"*Tadi aku lihat darah yang dijalan itu beneran banyak banget, tapi kok orang yang di pinggir jalan itu kayaknya luka ngga terlalu parah*"
Alia sampai di sekolah dan menuju ke kelasnya, dia melihat ke arah kursinya Mayra dan ternyata Mayra belum ada di dalam kelasnya.
"Alia! kenapa kamu diem gitu?"
__ADS_1
"Nida, kamu belum lihat Mayra?"
"Belum datang dia, ngga biasanya juga"
Alia duduk di kursinya dan terus terdiam, hatinya terasa semakin khawatir memikirkan kemana Mayra. Dia juga masih penasaran dengan mimpinya semalam tentang Mayra., entah kenapa Alia merasa bahwa mimpi itu adalah suatu pertanda buruk.
Alia terus melihat ke arah jam dinding, waktu pelajaran sudah hampir di mulai namun Mayra belum juga terlihat. Sampai bell masuk kelas berbunyi, Mayra belum juga datang, Alia menjadi semakin gelisah karena jelas tadi ibunya bilang bahwa Mayra sudah berangkat ke sekolah, bahkan sebelum Alia datang.
"Da kok Mayra belum datang juga yah?"
"Mungkin ada halangan, positif thinking aja"
Nida merasa sikap Alia terlalu berlebihan dan dia menasehati Alia untuk tidak berpikir macam-macam.
"Tapi dari tadi aku coba telfon nomornya ngga aktif"
"Mungkin di matikan, Mayra kan memang ngga terlalu suka main ponsel"
Alia terus bicara dengan nada khawatir, namun Nida masih bersikap tenang dan tidak berfikir macam-macam.
("Alia... terimakasih sudah menjadi temanku")
"*Agh!! kenapa ucapan itu selalu terdengar di telingaku? kenapa bayangan wajah yang pucat itu selalu ada di pikiranku*!"
"Alia! kamu mendingan fokus sama pelajaran, tu guru udah mulai merhatiin kamu loh"
Nida kembali mengingatkan Alia agar tetap fokus ke pelajaran yang sedang di sampaikan oleh guru, namun Alia masih saja tidak bisa fokus, pikirannya kembali dipenuhi oleh bayangan Mayra.
Alia menengok kearah pintu kelas, tak lama kemudian dia melihat sosok Mayra yang mengenakan baju serba putih berdiri di depan pintu, dia menatap ke arah Alia.
"Mayra!?"
Alia menatap sosok itu, dia mencoba memastikan dengan mengedipkan mata beberapa kali, namun sosok itupun menghilang.
"Ah ternyata hanya hayalanku saja!"
"Alia fokus!"
Nida kembali mengingatkan Alia ketika melihat dia terus memandang ke arah pintu. Alia pun akhirnya menyerah dan tertunduk, dia mencoba untuk tetap fokus terhadap pelajaran yang sedang berlangsung.
Pelajaran pertama saat itu menjadi terasa sangat lama bagi Alia, karena pikirannya tidak bisa berdiam di sana dan terus pergi kemana-mana. Yang dinantikan Alia sekarang adalah bunyi bell istirahat.
__ADS_1