
"Alia...." teriak Bu Mia dari luar kamarnya.
Alia langsung kaget dan agak takut jika Mama nya akan memarahinya karena ia mewarnai rambut.
"Nak kamu lagi ngapain?" Bu Mia langsung masuk ke kamar Alia dan terdiam ketika dia melihat putrinya sudah mengganti warna rambut.
Alia terdiam dan tertunduk merasa takut.
"Nak kamu kenapa?" tanya Bu Mia pelan-pelan.
"Maaf Mah,,, Alia cuma agak takut aja kalo ngaca" jawab Alia dengan suara gemetar.
Bu Mia tahu betul apa yang ingin di sampaikan putrinya itu. Dia mencoba mendekati Alia dan berusaha untuk menenangkan nya.
"Kamu mau nggak coba cara lain?" ucap Bu Mia sambil memegang tangan Alia.
"Maksud Mama?" tanya Alia.
"Ini kan baru bagian bawahnya aja yang diwarnai, gimana kalau kamu potong rambut aja, biar jadi lebih pendek gitu?" jelas Bu Mia.
Alia terdiam sambil berfikir. Rambut Alia memang sangat panjang, hampir melebihi pinggangnya karena sudah hampir 3 tahun lebih ia tidak pernah memotong rambut nya.
Alia sangat menyukai rambut panjang, karena ia senang melihat boneka Tiara nya yang berambut panjang, jadi ia selalu memanjangkan rambutnya.
"Oh iya ya Mah, boleh juga ya" ucap Alia dengan cepat. Sementara Bu Mia tersenyum melihat putrinya menerima saran darinya.
"Mama mau potongin rambut aku mah? tapi jangan jadi pendek banget yah"
Bu Mia mengangguk sambil tersenyum. "Ya sudah Mama ambil gunting nya dulu yah" seraya pergi mengambil gunting.
"**** juga yah aku! kenapa nggak kepikiran coba!" ucap Alia pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian Bu Mia kembali sambil membawa gunting. Dia mulai memotong rambut Alia dari ujung bawah. Memang rambut Alia menjadi lebih pendek, namun tidak terlalu pendek karena rambutnya kini hanya panjang sebahu.
Rambut Alia pun kembali tersisa dengan warna hitam, karena tadi Alia hanya mewarnai rambut separuh bagian bawahnya saja.
"Wah lumayan juga nih" Alia tersenyum sambil melihat bayangan dirinya di cermin dengan rambut hitam yang lebih pendek.
"Kamu jadi lebih segar kan, dan rambut mu juga nggak terlalu panjang" ucap Bu Mia sambil tersenyum.
"Iya Mah!" Alia masih terus memandangi penampilan barunya di cermin.
Alia senang dengan penampilan barunya, ia juga merasa tidak takut lagi dengan bayangan wajah nya di cermin.
Malam harinya....
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa nak" Bu Mia panik ketika melihat Alia terbaring kaku di tempat tidurnya. Badannya demam tinggi, wajahnya juga sangat pucat.
"Alia dingin Mah, kepalanya juga pusing" ucap Alia dengan keadaan menggigil.
Pak Aji langsung memanggil dokter untuk segera datang kerumahnya.
"Sudah berapa lama panas nya Ibu?" tanya Pak Dokter.
"Tadi sore masih sehat-sehat saja dok, ini saya baru mau manggil dia buat makan malam tapi sudah begini" ucap Bu Mia dengan nada khawatir.
"Kenapa bisa tiba-tiba begitu ya dok?" imbuh Pak Aji.
Dokter hanya menggelengkan kepalanya, dia juga keheranan kenapa bisa demam tinggi dalam waktu yang begitu singkat.
"Ini saya kasih turun panas sama anti nyeri ya, kalau sampai besok pagi demamnya masih belum turun juga, terpaksa harus di rujuk ke rumah sakit bu" jelas Pak Dokter.
"Iya dok, terimakasih" jawab Bu Mia.
Dokter pun berpamitan untuk pulang.
Setelah memberikan Alia obat, Bu Mia menunggu dan tidur di kamar Alia.
Pagi harinya....
"Loh Alia kok nggak ada, kemana ini?" Bu Mia panik karena saat ia terbangun Alia tidak ada di sampingnya.
"Eh Mama kenapa? kok panik gitu?" tanya Alia.
Bu Mia memegang kening Alia "kamu sudah sembuh nak?" kata Bu Mia yang masih keheranan.
"Emang aku kenapa mah?' tanya Alia seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ya Allah... kamu itu semalam demam tinggi!"
"Masa sih mah?" Alia seolah tidak mengingat hal yang terjadi padanya semalam.
"Kok aneh yah? kenapa Alia juga nggak ingat kalau semalam dia sakit, padahal dia juga merengek kesakitan" kata Bu Mia dalam hati.
"Mah, kok diem si?" Alia mencoba menyadarkan Bu Mia dari lamunannya.
"Ah nggak kok nggak papa, ya sudah Mama mau masak dulu yah" Bu Mia bergegas pergi ke dapur untuk memasak.
Sementara Alia bersiap untuk berangkat ke sekolahnya.
"Nak kamu beneran mau pergi sekolah?" tanya Bu Mia yang masih ragu.
__ADS_1
"Iya lah mah, udah siang nih aku berangkat dulu yah" Alia pergi ke sekolah.
Di sekolah....
"Eh Al mana coba lihat rambutnya! udah di warnai belum?" tanya Afi sambil menyingkap kerudung bagian belakang Alia.
Sekolah mereka memang berkerudung, jadi Alia merasa tidak masalah ketika ia ingin mewarnai rambutnya, karena tertutup oleh kerudung jadi dia tidak akan kena hukuman oleh pihak sekolah.
"loh kok masih hitam sih!?" ucap Afi agak kecewa, karena dia sudah sangat ingin melihat hasil rambut yang sudah diwarnai itu.
"Udah ku warnai kemarin, tapi cuma separuh kebawah aja" kata Alia dengan santai.
"Lah ini masih hitam kok" ucap Afi dengan nada keras.
"Udah di potong!" jawab Alia singkat.
"Oh gitu! sukur!!" Afi mengejek Alia.
"Eh kok gitu?" Alia heran dengan tingkah sahabatnya itu.
"Kamu pasti dimarahi sama orang tua kamu kan? hahahaha!" Afi tertawa lepas.
" Idih! seneng banget lihat orang susah yah!?" Alia mulai sewot.
"Ya abis kamunya kebanyakan tingkah!"
"Nggak lah, eh tapi aku udah potong rambut" ucap Alia berbisik.
"Serius? wah akhirnya kamu potong rambut juga, risih aku lihatnya rambut panjang banget!"
"Iya, tapi malamnya langsung demam tinggi"
"Hahaha bohong banget si kamu!" Afi tidak percaya dengan ucapan Alia,
"Serius aku nggak bohong"
"Lah buktinya sekarang kamu baik-baik aja?"
"Ya tadi pagi aku udah nggak demam, malah sempat lupa kalau semalam aku demam tinggi" jelas Alia.
Afi hanya keheranan mendengar apa yang dialami oleh sahabat nya itu.
"Kamu tuh yah makin hari ceritanya makin aneh!" ucap Afi.
"Yeee malah bilang aneh lagi, tapi emang aneh si" ucap Alia dengan polosnya. Afi hanya tertawa mendengar ucapan Alia tersebut.
__ADS_1
Mereka berdua asik bercanda sampai tak terasa bell masuk kelas berbunyi.